Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 46. Lilac Kim



Lilac merupakan putri pertama keluarga Kim. Dia memiliki adik kembar yang berusia lima menit lebih muda darinya yaitu Lily. Ya, dia gadis itu merupakan saudara kembar dengan sifat yang saling bertolak belakang.


Lilac memiliki sifat pemberani, mudah bergaul, dan sangat cerdas. Lain halnya dengan Lily yang terlihat jauh lebih pendiam, introvert, serta memiliki kemampuan akademis yang biasa saja. Meski begitu, sebenarnya mereka berdua terlahir sebagai putri yang sama-sama cantik.


Ketika masih kecil, keduanya memang seperti pinang dibelah dua. Bahkan Lupin, sang ayah kesulitan dalam membedakan kedua putri kesayangannya itu. Namun, semua berubah ketika Lily beranjak remaja. Hormon pertumbuhan membuat Lily bertubuh gendut dan wajahnya mulai dipenuhi dengan jerawat.


"Ibu, Lily tadi di sekolah dihukum karena tidak mengerjakan PR." Lilac yang kala itu masih berusia dua belas tahun mengadukan kejadian buruk yang menimpa sang adik.


Mendengar hal itu, tentu saja membuat sang ibu naik pitam. Setiap Lily melakukan kesalahan, dia akan mengurungnya di ruang bawah tanah. Hal itu dia lakukan karena mendapat tekanan dari mertuanya yang kejam.


Safron akan mendapatkan hukuman dari mertuanya juga ketika mereka tahu Lily atau Lilac melakukan kesalahan. Bagi mertua Safron nama baik keluarga harus dijaga. Lupin menikah dengan Safron sebenarnya sebuah momok bagi sang mertua.


Akan tetapi, mereka tetap mengizinkan sang putra menikahi Safron karena Lupin merupakan pewaris tunggal perusahaan kosmetik terbesar milik mereka. Melihat Lily dihukum setiap melakukan kesalahan, sontak membuat Lilac terus berusaha melaporkan semuanya kepada sang ibu.


Hal itu menjadi sebuah kebiasaan yang menyenangkan bagi Lilac. Setelah Lily mendapat hukuman, biasanya pujian akan dia dapatkan karena terus berusaha menjadi anak yang penurut dan pintar. Dia pun berusaha menjadi dewi penolong agar Lily tidak tahu bahwa Semakin dewasa niat Lilac semakin besar.


"Aku harus menjadi penerus tunggal keluarga ini!" seru Lilac ketika menemukan laporan penghasilan bulanan perusahaan sang ayah.


Harta membuat Lilac gelap mata. Dia terus berusaha menyingkirkan Lily dengan sengaja membuat gadis itu tampak selalu melakukan kesalahan. Sampai akhirnya hari kelulusan itu menjadi puncak kemarahan Safron.


Lily pun diusir dari rumah. Lilac yang mengetahui hal itu tentu saja senang luar biasa. Akan tetapi, kebahagiaan Lilac tidak berlangsung lama ketika bertemu dengan Lily secara tidak sengaja.


"Aku akan kembali menghancurkanmu!" seru Lilac seraya mengepalkan tangan kuat setelah berpisah dari Lily yang sudah berubah menjadi sangat cantik.


Sejak hari pemutaran film dari buku Amy, Lilac diam-diam menyelidiki Lily. Setelah mengetahui alasan kenapa Lily memutuskan untuk mengubah diri menjadi cantik, dia pun merencanakan sebuah kejahatan untuk menghilangkan nyawa sang adik kembar. Dia memberitahukan rencana bahwa Lily akan menghancurkan konser pertama Sena kepada ayah penyanyi top tersebut.


Oleh sebab itu, Lily sempat gagal di awal konser berlangsung. Ketika Lily berhasil mengatasi halangan yang dibuat oleh ayah Sena, justru membuat Rafael murka. Dia pun merencanakan penculikan Lily.


Memang dasar Lily selalu diikuti dengan keberuntungan, dia berhasil lolos dan selamat dari tindakan Sena yang hampir membunuhnya. Selamatnya Lily dari kejadian itu tentu saja membuat Lilac merasa sangat marah. Sampai akhirnya dia merencanakan hal buruk kepada sang adik. Dia ingin membunuh adik kembarnya itu dengan tangannya sendiri.


"Aku akan benar-benar melenyapkanmu kali ini, Lily!"


Siang itu, Lilac terus mengawasi Lily yang mulai kembali bekerja. Perempuan itu berusaha mencari celah untuk melancarkan kejahatan. Setelah menunggu hingga Lily pulang, akhirnya kesempatan itu datang.


"Kamu siapa?" tanya Lily seraya mengerutkan dahi.


Lilac melepas maskernya kemudian menatap dingin ke arah Lily. Mengetahui siapa yang ada di hadapannya, Lily berniat untuk tersenyum lebar. Akan tetapi, belum sampai senyuman terukir di bibir tipisnya, Lilac langsung menghunjam perut Lily dengan sebilah pisau belati.


Lily terbelalak dengan bibir menganga lebar. Rasa nyeri luar biasa kini dirasakan oleh Lily. Ketika Lilac mencabut pisau dari perutnya, darah langsung mengucur dan mengotori jaket milik Lilac.


"Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkanmu, kenapa selalu selamat?" Lilac tersenyum miring seraya menatap Lily yang langsung ambruk ke atas jalan.


"Aku berusaha memainkan dua peran dalam satu waktu. Menjadi protagonis yang menolongmu ketika dihukum ibu atau dirundung oleh mereka yang sebenarnya sengaja aku suruh, sekaligus menjadi antagonis yang ingin melenyapkanmu! Astaga Lily, aku lelah memainkan dua peran sekaligus!"


"Ka-Kakak, kau ...." Lily sudah kehabisan tenaga.


Perempuan itu bahkan tidak sanggup lagi hanya untuk sekedar mengucapkan satu kalimat. Dia akhirnya memilih untuk menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia terus mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir Lilac.


Semua kebencian kepada Lily akhirnya keluar semua dari bibir manis Lilac. Dia mengungkapkan semua kejahatan yang dia lakukan kepada Lily dengan meminjam tangan orang lain. Lily mulai kehilangan kesadaran ketika Lilac selesai mengungkapkan semua fakta yang dia pendam selama ini.


Menyadari Lily tak lagi berdaya, Lilac langsung kabur menggunakan motor yang dia sewa dari seorang siswa sekolah menengah atas. Dia terus memutar tuas gas meninggalkan Lily yang tergeletak lemas di dekat halte.


"Semoga kali ini aku berhasil melenyapkannya!" Lilac tertawa lepas seraya membelah jalanan.


Sesampainya di rumah, perempuan itu mengendap-endap menuju ruang bawah tanah. Dia melucuti semua pakaian, kemudian memasukkannya ke kantong sampah. Selain itu, Lilac juga memasukkan belati yang dia gunakan untuk menusuk Lily ke dalam kantong plastik juga.


Setelahnya Lilac mandi. Usai mandi, dia membawa kantong sampah itu ke perapian kecil yang ada di ruangan gelap tersebut. Lilac langsung membakar semua barang bukti seraya tersenyum miring.


"Kalian pasti akan kesulitan mencariku!"


Namun, dugaan Lilac meleset. Berkat bantuan Jay, polisi dapat menemukan pelaku penusukan Lily dengan cepat. Lilac diringkus ketika baru saja hendak keliar rumah untuk mengembalikan motor kepada siswa SMA.


Akibat perbuatannya, Lilac dijatuhi hukuman seumur hidup. Mengetahui putri yang selama ini dia bangga-banggakan melakukan hal keji membuat Safron depresi. Dia kecewa terhadap Lilac, dan menyesal telah memperlakukan Lily sangat buruk ketika masih hidup.


Tidak hanya Safron yang merasa depresi, Lupin pun mengalami hal sama. Dia merasa gagal menjadi seorang ayah dan kepala keluarga. Boleh jadi, perusahaan yang dia pimpin maju dan berkembang pesat. Namun, apalah arti kesuksesan itu jika kedua putrinya mengalami nasib buruk karena dua merasa gagal dalam mendidik mereka.