Revenge Of The Ugly Lily

Revenge Of The Ugly Lily
Bab 41. Jay Datang!



Tiga hari sudah Lily dikurung di ruang bawah tanah kediaman Tuan Kim. Namun, dia terlihat baik-baik saja. Jordan memberikan makanan serta banyak kudapan untuknya.


Lily bukan layaknya tawanan yang sedang disiksa karena memang diperlakukan sangat baik oleh Jordan. Namun, Lily tetap berusaha mencari celah agar bisa kabur dari ruangan itu. Dia diam-diam mencari cara untuk keluar dari ruang bawah tanah.


Siang itu, jadwal Lily makan siang. Seperti biasa Jordan mengantar sendiri makanan itu kepada Lily. Dia pun segera menyantapnya seraya mengobrol ringan bersama Jordan.


"Kamu sangat mirip dengan temanku!" ujar Lily sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut.


"Benarkah? Siapa?" Jordan tersenyum lebar sembari bertopang dagu.


"Namanya Jay. Dia sekarang ada di Amsterdam. Entah mengapa aku merasa kamu sangat mirip dengannya. Cara kamu bercanda dan berbicara sangat persis dengan Jay."


Mendengar ucapan Lily, mendadak raut wajah Jordan berubah. Senyum lebarnya seketika sirna. Jordan pun tampak sebal dan mulai tidak nyaman.


Lily yang menyadari perubahan sikap lawan bicaranya pun menghentikan obrolan tersebut. Lily menelan makanan yang ada di dalam mulut, kemudian menenggak air mineral.


"Apa aku salah bicara?"


"Tidak, aku harus pergi sekarang. Aku akan datang lagi nanti malam." Jordan tersenyum canggung kemudian beranjak dari kursi.


Lelaki itu pun melangkah keluar dari ruang bawah tanah. Lily yang gagal paham dengan sikap Jordan hanya mengedikkan bahu kemudian membereskan peralatan makannya.


Setelah selesai membersihkan mangkuk serta gelas, Lily langsung merebahkan tubuh ke atas ranjang. Rasa kantuk perlahan menyerang, sehingga mata Lily terpejam. Ketika sebagian dirinya sudah berada di alam mimpi, tiba-tiba pintu terbuka.


Terdengar suara langkah kaki yang dibalut dengan stiletto mendekat ke arah Lily. Ketika berada tepat di sampingnya, perempuan itu menarik lengan Lily sehingga dia tersungkur di atas lantai. Lily pun membuka mata lebar.


"Sialan, kenapa kamu menarikku!" seru Lily sambil berusaha bangkit dari atas lantai.


Ketika Lily hendak berdiri, tiba-tiba saja kepalanya diinjak oleh perempuan dengan sepatu hak tinggi tersebut. Lily berusaha bangkit. Akan tetapi, setiap dia berusaha mendongak perempuan tersebut semakin menekan kepala Lily.


"Jadi kamu yang membuat karierku berantakan? Siapa kamu?" tanya Sena dengan nada tinggi.


"Karier yang mana maksudmu? Memangnya kamu memiliki karier apa? Kamu tak lebih dari seorang penipu, yang memanfaatkan suara dan kelemahan orang lain untuk mencapai popularitas!" Lily tertawa geli karena mengingat bagaimana paniknya Sena tiga hari lalu ketika kebohongannya terbongkar di depan publik.


Mendengar tawa Lily yang sedang meledek tentu saja membuat Sena geram. Dia menekan kembali kepala Lily hingga perempuan itu meringis kesakitan. Lily kembali berontak.


Perempuan itu berusaha menggunakan tangannya sebagai tumpuan untuk berdiri. Akan tetapi, Sena justru menginjak jemari Lily berulang kali. Lily terus mengaduh dan meringis menahan sakit.


Namun, Sena menghiraukannya. Dia terus menginjak lengan Lily dan kepalanya secara bergantian. Jemari Lily mulai lecet dan mengeluarkan darah karena terkena hak sepatu Sena.


"Kamu harus membayar semuanya! Sekarang orang-orang menghinaku! Mereka mengejekku serta menuding bahwa aku tidak memiliki bakat!"


"Memang kenyataannya seperti itu, bukan? Kenapa kamu marah? Kenapa aku harus bertanggungjawab atas apa yang bukan menjadi kesalahanku?" Lily terus berdebat dengan Sena.


Sampai pada akhirnya sebuah tendangan keras mendarat di perut Lily. Nyeri luar biasa dirasakan oleh Lily hingga ulu hati. Dia sampai mengeluarkan sebagian isi perutnya melalui mulut.


"Aku muak mendengar ocehanmu! Kamu harus mati! Aku belum puas jika kamu belum mati di tanganku!"


Lily berusaha untuk terus bangkit dengan kekuatan yang tersisa. Setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya, meninggalkan rasa nyeri yang luar biasa. Akan tetapi, dia tidak mau menyerah.


Lily terus berusaha bangkit dan terus melawan. Kini luka lebam, dan darah memenuhi hampir sekujur tubuh Lily. Tenaganya sudah habis, sehingga dia hanya bisa tergeletak di atas lantai dengan badan yang sudah remuk redam.


"Aku akan jadi malaikat pencabut nyawamu hari ini!" teriak Sena seraya mengayunkan balok kalo ke arah kepala Lily.


Lily yang sudah tidak yakin dapat bertahan hanya bisa tersenyum getir. Dia memejamkan mata, bersiap untuk menerima pukulan terakhir dari sena yang mungkin akan mengantarkannya pada kematian.


Namun, sesaat sebelum balok kayu itu mendarat pada kepalanya, pintu ruang bawah tanah terbuka. Sena menoleh ke arah pintu dan melihat seorang lelaki muda sudah berdiri di sana seraya menodongkan senjata api.


"Polisi akan segera datang! Menjauh dari Lily atau aku yang akan menghabisimu?"


Suara yang terdengar sangat akrab di telinga Lily itu sontak membuatnya kembali membuka mata. Lily pun menoleh ke arah lelaki yang berdiri di ambang pintu kemudian tersenyum getir. Ya, laki-laki itu adalah Jay.


Sena tampak mundur beberapa langkah ketika Jay terus berjalan mendekatinya. Jay berusaha mengintimidasi Sena dan menyudutkannya hingga punggung gadis itu menempel pada dinding. Setelah itu, Jay mengikat tubuh Sena menggunakan tambang yang pernah membelenggu Lily.


"Berani-beraninya kamu melukai Lily! Kamu akan menerima akibatnya! Lihat saja nanti! Kamu akan menyesalinya seumur hidup!" geram Jay.


Lelaki itu pun segera berlari mendekati Lily. Lily sudah lemah tak berdaya dengan banyak luka yang diakibatkan oleh pukulan Sena. Perempuan itu menatap Jay penuh kerinduan.


Lily mengangkat lengannya dengan sisa kekuatan yang ada. Jemari lentiknya mengusap darah yang mengalir dari dahi Jay. Sebuah senyum tipis terukir di bibir perempuan cantik dengan wajah yang mulai pucat itu.


"Kamu ke mana saja, Jay? Jahat sekali tidak pernah menghubungiku sekali pun!"


"Maaf, aku datang terlambat." Mata Jay mulai berkaca-kaca.


Ada rasa sesal di hati lelaki itu karena terlambat menemukan Lily. Perlahan bulir air mata turun membasahi pipi lelaki yang selalu ceria itu. Lily terkekeh melihat ekspresi Jay.


Di sisi lain, hati Lily menghangat. Kali ini dia yakin bahwa Jay benar-benar tulus menyayanginya. Detik itu juga, Lily juga menyadari bahwa dia juga sangat menyayangi Jay.


"Hei, kenapa menangis? Seperti aku mau mati saja! Aku ini perempuan yang kuat! Mana mungkin hanya karena beberapa kali pukulan saja aku mati!" Suara Lily begitu lemah hampir tak terdengar.


"Jay, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku sangat menyukaimu, Jay. Selama kamu tidak ada di dekatku, rasanya aku seperti manusia yang kehilangan separuh nyawanya." Lily tersenyum getir seraya menatap Jay yang sudah dibanjiri air mata.


"Jay, aku sangat mencintaimu!"


"Lily, aku juga sangat mencintaimu! Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"


Lily mengangguk lemah. Jay pun segera menggendong Lily. Akan tetapi, tiba-tiba Sena sudah berdiri seraya memegang pistol yang awalnya dibawa Jay. Entah bagaimana Sena dapat lepas dari ikatan dengan mudah. Perempuan itu menodongkan senjata api tersebut ke arah Jay.


"Jay, awas!" teriak Lily.


Jay pun balik kanan, tetapi terlambat. Sena sudah menarik pelatuknya dan peluru sudah terlontar dari selongsong. Lily mempererat pelukannya untuk melindungi tubuh Jay.


Akhirnya, peluru pun bersarang di punggung Lily bagian atas yang dekat dengan bahu. Pandangan Lily mulai gelap. Dia hanya bisa mendengar teriakan Jay yang terus menyerukan namanya. Tak lama kemudian, kesadaran Lily menghilang.