
"Dasar peremouan gila! Pasti kamu sengaja menabrak mobilku, 'kan!" teriak Rani dengan napas memburu.
Lily hanya bisa menelan semua omelan dari Rani. Dia mencoba bersabar. Sampai akhirnya perempuan itu mengancamnya akan melapor kepada sang putra, yaitu Boby.
Lily yang ingin semuanya tampak natural tanpa disengaja, memutuskan untuk mencegah bertemu dengan Boby di awal rencana. Dia ingin diperkenalkan langsung oleh Rani sebagai gadis yang baik. Dia pun meraih lengan Rani dan menariknya pelan.
"Jangan, Nyonya. Saya mengakui kalau saya bersalah. Saya akan membayar semua biaya perbaikan mobil Anda. Jadi, saya mohon jangan panggil siapa pun untuk saat ini." Lily menangkupkan kedua telapak tangan sambil terus memohon kepada perempuan tersebut agar tidak menghubungi Boby.
"Memangnya kamu sanggup membayar biaya perbaikan mobilku?" Rani melipat lengan di depan dada seraya menyipitkan mata.
"Sial! Dia meremehkan aku!" umpat Lily dalam hati.
Lily menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia mengambil ponsel dari dalam saku rok, kemudian membuka aplikasi mobile banking untuk mengecek saldo di tabungannya. Setelah memastikan jumlah uang cukup untuk perbaikan, dia pun kembali menatap lawan bicaranya.
"Apa sepuluh juta Won cukup?" tanya Lily seraya menunjukkan layar ponselnya kepada Rani, yang sudah ada di posisi hendak mentransfer uang.
Pupil perempuan itu langsung melebar. Lily pun tersenyum miring ketika melihat ekspresi ibu dari Boby tersebut. Sesuai dengan informasi yang sudah diberikan Jay, perempuan di hadapannya itu memang mata duitan. Jadi, Lily menggunakan uangnya untuk memikat hati Rani.
"Ba-baiklah kalau begitu. Ini nomor rekeningku." Rani menunjukkan kode bar akun banknya kepada Lily.
Dalam hitungan detik, saldo Lily pun berpindah ke akun Rani. Sebuah senyum lebar kini terukir di bibir perempuan itu. Lily langsung berdeham untuk kembali mendapat perhatian Rani.
"Ehm, baiklah. Uangnya sudah masuk. Ayo kita pergi ke bengkel, Pak!" ajak Rani pada sang sopir.
"Tunggu dulu!" cegah Lily.
Rani pun menghentikan langkah. Kini dia menoleh ke arah Lily seraya menautkan kedua alisnya. Lily tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati perempuan itu.
"Kita belum berkenalan, Nyonya. Perkenalkan saya, Lily Kim. Sebagai permintaan maaf, apakah Anda mau ikut dengan saya untuk melakukan pijat relaksasi dan SPA? Kebetulan saya bekerja di salon yang menyediakan pelayanan tersebut."
Rani terdiam seraya menatap Liky penuh curiga. Dia berpikir bahwa nantinya Lily akan meminta biaya untuk pelayanan yang ditawarkannya. Lily yang paham betul dengan sifat Rani pun langsung tersenyum tipis.
"Tenang saja, Nyonya. Saya akan membayar semua biayanya. Jika Anda berkenan, saya akan mendaftarkan nama Anda menjadi pelanggan VVIP salon kami selama satu tahun dengan pelayanan tanpa batas yang terbaik. Bagaimana?"
"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku tidak bisa menolaknya." Rani pun langsung berjalan ke arah mobil Lily.
Lily tersenyum lebar seraya menyipitkan mata. Rencananya kembali berjalan lancar kali ini. Dia tinggal pandai-pandai mengatur langkah selanjutnya untuk mengambil hati Rani.
Kali ini Lily membutuhkan lebih banyak dana untuk melancarkan rencananya kali ini. Demi membalas semua dendamnya, dia pun harus merogoh kantongnya semakin dalam. Akan tetapi, selain dengan uang Lily akan menggunakan keahliannya dalam bidang kecantikan untuk meluluhkan hati Rani.
Mereka pun langsung menuju salon Sara. Ketika sampai di salon, Lily langsung meminta salah seorang karyawan terbaik dalam hal memijat untuk melayaninya. Rekan kerja Lily tersenyum ramah kepada Rani.
Ruangan SPA khusus pelanggan VVIP hanya diperuntukkan bagi satu orang. Jadi, di dalam ruangan tersebut hanya ada satu ranjang dan juga bak mandi. Aroma bunga Lavender yang keluar dari lilin menguar memenuhi ruangan bernuansa redup itu.
Rani diminta untuk berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, perempuan itu pun berbaring di atas ranjang. Sang karyawan langsung memberikan pijatan lembut ke seluruh tubuh Rani sampai-sampai dia tertidur pulas.
Setelah selesai mendapatkan pijatan, Rani pun berendam di bak mandi yang sudah diberi beberapa beberapa jenis cairan yang baik untuk kulit. Di dalam ruangan itu Rani benar-benar merasa nyaman dan segar setelah selesai melakukan SPA.
"Bagaimana, Nyonya? Sudah lebih baik perasaan Anda?" tanya Lily ramah saat melihat Rani keluar dari ruang SPA.
"Terima kasih sudah mengenalkanku dengan tempat sebagus ini. Aku benar-benar puas dengan pelayanan di tempat ini!" Rani tersenyum lebar.
Bahkan perempuan sombong itu, kini tidak segan-segan menggandeng Lily. Lily pun meladeninya. Dia mengajak Rani duduk di depan meja rias.
"Kulit Anda terlihat tampak terawat meski sudah tidak muda. Kalau boleh tahu, apa rahasianya?" tanya Lily basa-basi.
"Ah, aku hanya rajin minum air putih, mengonsumsi makanan yang mengandung kolagen, dan menggunakan rangkaian produk perawatan kulit dari dokter kecantikan langgananku!" ungkap Rani bangga.
"Wah, pantas saja! Kulit Anda terlihat dua puluh tahun lebih muda! Hampir tidak terlihat kerutan!" puji Lily jujur dengan mata tak berkedip.
"Aku sampai merasa jauh lebih tua dari Anda setelah melihat kondisi kulit Anda yang benar-benar sehat!" Lily meraba wajahnya sendiri seraya mengerucutkan bibir untuk mendramatisir suasana.
"Aigoo ... kamu bisa saja!" Rani menyenggol pelan lengan Lily seraya tertawa kecil.
Lily terkekeh ketika melihat Rani salah tingkah. Setelah dia memujinya habis-habisan, perempuan itu terus tersenyum di depan cermin. Lily pun menawari Rani untuk memberi riasan kepada wajahnya. Rani pun menerimanya dengan senang hati, karena kebetulan siang itu ada perkumpulan bersama ibu-ibu hedonis lainnya.
"Wah, kamu memang bertangan emas! Aku jadi terlihat jauh lebih segar setelah mendapatkan pulasan riasan wajahmu! Tidak terlalu mencolok dan cocok untukku." Rani kembali menatap cermin yang ada di depannya itu.
"Terima kasih, Nyonya. Ah, boleh saya meminjam kartu identitas Anda? Saya akan mendaftarkan Anda menjadi pelanggan VVIP salon kami."
"Baiklah, ini." Rani menyodorkan kartu identitasnya kepada Lily.
Lily pun meraih kartu tersebut, kemudian berjalan ke arah meja layanan pelanggan. Dia mendaftarkan nama Rani dan langsung membayar biaya langganan VVIP untuk setahun ke depan sesuai janji. Setelah semua proses selesai, Lily pun kembali ke arah Rani.
"Pendaftaran sudah selesai. Ini setruknya, Nyonya." Lily mengembalikan kartu identitas Rani dan langsung menyerahkan kartu anggota serta setruk yang mencetak total biaya perawatan Rani siang itu.
Rani pun menerima semuanya seraya tersenyum lebar. Perempuan yang memiliki sifat sangat perhitungan masalah uang itu pun langsung mengintip total biaya perawatan di sana. Mata Rani langsung membola.
"Sepertinya perempuan ini sangat kaya!" gumam Rani sembari menatap Lily penuh arti.
Sebuah senyum licik kini terukir di bibir Rani. Niat buruk untuk memanfaatkan Lily pun terlintas di kepala Rani. Dia bahkan berpikir untuk menjodohkan Lily dengan sang putra.