
Mendengar jawaban Jiny membuat otak Lily bekerja lebih keras. Dia tidak menyangka Jiny memiliki pendirian yang sangat kuat. Padahal menurut informasi yang sudah dia kumpulkan, Jiny mendapatkan sejumlah kecil uang yang hanya bisa dipakai untuk membayar sewa bangunan untuk sekolah musiknya.
Lily mengembuskan napas kasar. Dia hampir saja menyerah dan hendak pergi. Namun, sedetik sebelum Lily beranjak dari sofa Jiny melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak mau tampil di atas panggung. Jika memang aku menghendakinya, aku sudah sejak dari dulu terkenal!" Jiny melipat lengan seraya mengangkat dagu sombong.
"Tapi, kali ini aku terharu dengan apa yang sudah Anda tawarkan Nona Kim. Jadi, apa yang bisa saya bantu?" Jiny menarik sertifikat serta selembar cek yang tadi disodorkan oleh Lily.
Mendengar ucapan Jiny membuat hati Lily seakan disiram air es. Dia benar-benar bersyukur karena ternyata Jiny mau memberikan bantuan. Akhirnya Lily pun menjelaskan semua rencananya kepada Jiny.
Setelah mengobrol hampir dua jam, akhirnya Lily berpamitan. Dia harus segera pulang dan istirahat karena akhir-akhir ini tenaga dan pikirannya tersita untuk mencari sisa informasi mengenai Sena. Jika biasanya pekerjaannya ringan karena Jay, kali ini berbeda.
Lily melakukan semua sendiri secara manual. Tidak seperti Jay yang bisa mengetahui banyak informasi dari ujung jari saja. Lily membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk menggali semua informasi.
"Ah, jadi rindu kamu, Jay!" ucap Lily lirih ketika sudah berada di dalam mobil.
Sejak Jay pergi, lelaki itu tidak pernah menghubungi Lily sekali pun. Lily juga tidak bisa menghubungi Jay karena ternyata dia mengganti nomor ponselnya. Semua akun sosial media Jay pun tidak aktif.
Lily akhirnya hanya bisa memendam rasa rindunya dengan menatap foto kebersamaannya dengan Jay yang tersisa di dalam ponsel. Meski Lily dan Jay sering bersama, mereka lebih suka menikmati momen berdua daripada sibuk berfoto.
Lily kembali mengembuskan napas kasar. Dia akhirnya melajukan mobil menuju apartemen. Sepanjang perjalanan perempuan cantik itu memutar beberapa lagu kesukaannya dan Jay.
"Aku pulang!" seru Lily ketika masuk ke apartemen.
Di ruang tengah tampak Amy yang sedang sibuk menatap layar televisi sambil memakan salad buah. Lily menyusul sahabatnya itu dan langsung menyadarkan punggung pada kepala sofa. Amy yang awalnya fokus dengan camilan sehat dan drama favoritnya pun kini menoleh ke arah Lily.
Any meletakkan mangkuk besar berisi salad buah tersebut ke atas meja. Dia mengerutkan dahi, lalu bertopang dagu menatap Lily yang tampak begitu lesu. Lily membalas tatapan Amy malas.
"Kenapa?"
"Apa Jay pernah menghubungimu?" tanya Lily tanpa basa-basi.
"Pernah katamu? Hei, hampir setiap waktu dia selalu mengabariku! Bahkan dia baru saja mengabari kalau sedang makan siang bersama teman-temannya." Amy mengangkat ponsel yang awalnya tergeletak di atas meja, kemudian menunjukkan foto Jay yang sedang tersenyum lebar sambil menikmati makan siang.
Melihat foto tersebut membuat Lily kesal. Dia ingin sekali berteriak untuk mengungkapkan rasa kecewanya kepada Jay. Akan tetapi, seakan ada batu besar yang menghalangi tenggorokannya.
Akhirnya Lily langsung beranjak dari kursi, kemudian masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, tubuh Lily merosot ke atas lantai. Dia terus memukul dada, berharap tangisnya segera keluar.
Sejujurnya Lily tidak terima saat mengetahui Jay malah sering menghubungi Amy daripada dirinya. Tangis Lily tertahan sehingga menimbulkan rasa sesak yang luar biasa di dalam dada. Air mata terus mengalir membasahi pipi, tetapi tidak ada isak tangis yang keluar dari sana.
"Berarti memang benar, waktu itu kamu hanya bercanda! Jahat sekali kamu Jay!" seru Lily sambil terus memukul dada.
Tangis Lily terus berulang setiap malam. Amy pun seperti sengaja menceritakan tentang Jay yang terus memberinya kabar. Akibat hal itu, Lily berubah dingin kepada Amy.
Rasa cemburu kini sudah membutakan hati Lily. Dia tidak lagi hangat seperti dulu kepada Amy. Bahkan Lily lebih memilih untuk menghindar. Dia akan berangkat ke salon lebih awal dan pulang larut malam ketika Amy sudah masuk ke kamarnya.
Tak terasa perang dingin itu berlangsung hampir satu bulan. Hari ini adalah hari pertama konser Sena. Konser perdana ini diadakan di distrik Gangnam.
"Iya, aku sedang menuju ke sana!" seru Lily seraya mengendarai mobil.
Lily sudah berada di jalanan menuju tempat konser Sena diadakan. Sesuai rencananya, Lily datang sebagai tim perias wajah untuk Sena. Sepanjang perjalanan Lily berusaha tenang.
Perempuan itu berusaha memikirkan cara untuk menyelinap ke bagian tim teknisi. Dia berencana menyalakan mikrofon yang digenggam Sena. Agar suara asli Sena terdengar oleh seluruh warga negara Korea Selatan.
Sesampainya di lokasi konser, Lily segera mengerjakan tugas utamanya. Dia mulai meriah wajah Sena sambil mengobrol ringan. Sena pun belum menyadari bahwa Lily adalah salah satu mahasiswi yang pernah dia tindas ketika kuliah.
"Sudah selesai!" seru Lily ketika tugasnya dapat selesai dengan baik.
Sena tampak puas dengan hasil kerja Lily. Dia terus tersenyum di depan cermin sembari sesekali mengambil gambar dirinya sendiri menggunakan ponsel. Beberapa kru lain pun berdecap kagum ketika melihat hasil kerja tangan dari seorang Lily.
"Wah, pantas saja julukan Lily si tangan emas diberikan kepadamu! Wajahku benar-bebar tampak lebih berkilau dari biasanya!" seru Sena kagum seraya terus mengaca di depan cermin.
"Ah, Anda bisa saja, Nona. Anda sudah cantik sejak lahir," puji Lily jujur.
"Tapi sayangnya kecantikan wajahmu berbanding terbalik dengan hatimu yang sangat jelek dan busuk!" Lily terus mengumpat dalam hati.
Sebenarnya Lily lelah harus menunjukkan senyum bahagia di hadapan para musuhnya itu. Akan tetapi, dia harus menekan ego untuk melancarkan aksi balas dendamnya. Tak lama kemudian, kru lain masuk.
Perempuan tersebut memberitahu Sena bahwa konser akan segera dimulai. Setelah Sena keluar dari ruangan rias. Lily segera membereskan perlengkapan make-upnya. Setelah semua tertata rapi, Lily bergegas mengganti bajunya dengan seragam dari tim teknis.
Lily sengaja menggantikan peran salah satu anggota tim. Dia bekerja sama dengan perempuan yang seharusnya bertugas. Perempuan itu diberikan imbalan besar oleh Lily jika diizinkan untuk mengambil alih posisinya sementara waktu.
"Tiga ... dua ... satu!" Lily menghitung mundur ketika Sena hendak menyanyi.
Perempuan itu membiarkan mikrofon tetap menyala, padahal seharusnya dimatikan. Lily tersenyum lebar, menantikan kehancuran Sena di atas panggung. Dia sudah tidak sabar, bagaimana berita besar itu akan tersebar ke seluruh penjuru kota Seoul dan negara Korea Selatan.