Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 9



"huhh...huhh...," aku perlahan mengatur pernafasanku yang tersengal-sengal akibat kemampuanku yang menguras banyak tenaga.


"S-sampai juga," aku menghapus keringatku di kening dengan menggunakan punggung tangan kananku.


Kota Albatros, ketika aku mulai memasuki kota ini, kota ini terbilang sedikit lebih kecil dari pada Celestial. Namun, dagangan para penduduknya terbilang lebih banyak dan lengkap. Jadi tidak diragukan lagi bahwa orang-orang di kota ini lebih ramai daripada Celestial. Kota ini juga tidak terlalu banyak prajurit atau tentara yang berjaga di posnya masing-masing, mungkin karena predikat kota aman itu menjadikan penjagaannya di sini tidak terlalu ketat.


"Ahh, bagaimana caraku menemukan Wolf dan teman-teman, kalau kotanya seramai ini," keluhku sambil terus berjalan ditengah keramaian.


Karena perjalanan yang cukup panjang itu membuatku kelelahan, aku mampir sebentar ke toko Mie untuk beristirahat sejenak dan mengisi perutku yang kosong.


"Paman, Mie nya satu," pesanku sembari duduk mengambil tempat makan.


"Oke, tunggu sebentar."


"Ahh, megazine terakhir ini hanya menyisakan beberapa peluru saja," keluhku sambil mengeluarkan megazine dari pistol.


"Paman, kira-kira benda ini ada yang menjualnya tidak di kota ini?" tanyaku kepada paman penjual mie sambil memegang megazine itu untuk memberikan contoh benda yang inginkan.


"Ohh, benda itu ada banyak orang jualnya, kau teruskan saja jalan setapak di depan toko ini, nanti kau akan menemukannya," jelas paman itu, "ini mienya anak muda," paman menyodorkan mienya kepadaku.


"Terima kasih," aku menyimpan senjataku kembali dan menikmati makanan yang sudah disiapkan.


"Kau sepertinya bukan penduduk di kota ini ya?" tanya paman toko sambil memperhatikan aku yang sedang makan.


"I-iya, aku berasal dari desa, ada beberapa hal yang membuatku datang kemari," perhatianku teralihkan kepada paman itu.


"Begitu ya, kenapa akhir-akhir ini ada banyak orang-orang luar yang datang kemari ya?" gumam paman.


"Maksud paman?" penasaranku membuat aku bertanya kepada paman.


"Yah, soalnya sejak tadi pagi ada dua kelompok yang berbeda datang ke kota ini."


"J-jangan-jangan, Kalau boleh tahu, berapa banyak anggota dari kelompok itu, paman?"


"Hmm, kelompok yang pertama kali datang itu kalau tidak salah ada 3-4 orang anggotanya, dan mereka kelihatannya orang-orang yang tidak ramah."


"kalau satunya lagi mereka beranggotakan 5 orang. Dan salah satu dari mereka menggunakan pakaian lengkap, seperti prajurit kerajaan."


"Kapan mereka sampai dikota ini? dan satu kelompok ini aku pikir pasti X-Heart."


"Baru saja, bahkan mereka sempat mampir makan di tokoku, tidak lama setelah kau datang kemari."


"Ada kesempatan untukku memperingati X-Heart kalau Archidia mendahului mereka, walaupun 2 kelompok ada dalam kota yang sama, namun tidak menimbulkan kekacauan, berarti mereka belum bertemu satu dengan yang lain. X-Heart tidak mengetahui kehadiran dari Archidia, namun sebaliknya Archidia mengetahui kedatangan X-Heart. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi Archidia, ini gawat," aku langsung menghabiskan dengan cepat makananku.


"H-hei, kalau tidak pelan-pelan nanti kau tersedak."


"pwahhh, terimakasih makanannya paman, ini bayarannya," pergi dengan meninggalkan uang di meja makan dengan tergesa-gesa.


"Heii! uangmu masih ada kembaliannya," tidak aku hiraukan suara paman.


*Duaarrrr* suara ledakan yang tidak terlalu jauh jaraknya terdengar ketika aku di depan toko mie, bersamaan dengan berlarinya orang-orang dari arah berlawanan denganku.


"Sial, aku terlambat," aku mencoba menghampiri sumber ledakan, namun sedikit kesulitan karena harus berjalan berlawanan dengan orang-orang yang mencoba menyelamatkan diri.


Karena kesulitan melewati kerumunan, aku melompat ke atas atap rumah yang tidak terlalu tinggi, dengan begitu aku dapat berlari dengan leluasa untuk menghampiri sumber suara ledakan itu.


*Duarr* ledakan ini berbeda, kali ini ledakan itu hampir mengenaiku, yang mana ledakan itu hanya beberapa centimeter saja dari tempatku berdiri, beruntung aku dapat merasakan kedatangan serangan itu. Yang mana ledakan itu berasal dari benturan batu sebesar kepalan tangan yang seperti dilemparkan oleh seseorang dengan kerasnya ke tanah sehingga menimbulkan ledakan yang cukup besar.


"I-ini, kekuatan ini!?" gumamku sambil mencari sumber lemparan batu itu.


"Owhh, tidak aku sangka kau mengetahui kekuatanku," terdengar suara laki-laki dari balik debu dan asap yang ditimbulkan oleh ledakan tadi, tepatnya di depanku.


"Haha, tidak perlu memujiku begitu, lagipula aku tidak sangka kalian mengetahui tujuan Wolf dan teman-teman kemari," ucapku sambil mempersiapkan diri untuk serangan yang ada dengan senjataku.


"Tidak aku sangka bocah seperti kau bisa melukai Lucius, aku jadi penasaran ingin membunuhmu jadinya," terlihat dengan jelas mukanya yang teramat haus akan darah segar dariku, senyumannya yang menyeringai itu membuat siapa saja yang melihatnya menjadi ngeri.


"Tidak aku sangka harus berhadapan dengan dia, Tomy dengan kekuatan Telekinesisnya yang merepotkan itu."