
"B-b-bagaimana ini? kita sama sekali tidak bisa bertempur kalau sihir saja tidak bisa digunakan di sini," tingkah panik Hikari mulai terlihat.
"T-tenang saja, lagipula mereka juga tidak bisa menggunakan kekuatan mereka di sini, sama seperti kita," Wendy menenangkan suasana.
"Aku tidak begitu yakin. Mereka tidak mungkin seceroboh ini datang kemari tanpa ada persiapan terlebih dahulu. Aku rasa kali ini kita dalam situasi yang dirugikan," ujar Alkasa sambil memperlihatkan ekspresi seperti seseorang yang tidak mempunyai pilihan lain.
Dua orang itu perlahan-lahan mendekatkan langkahnya menghampiri kami. Dan mereka menghentikan langkahnya, sekitar 20 meter jaraknya dari kami.
"Haloo, Kiriko, kita bertemu lagi ya~" Tomy akhirnya membuka bicara dengan senyuman liciknya dan dengan nada yang sedikit mengejek.
"Tcihh, apa kalian tidak cukup puas untuk membunuh teman-teman kami!?" balasku ucapan Tomy, yang mana sudah terlihat niat jahat yang terpampang diwajahnya itu.
"Heehh, aku tidak membunuh teman-temanmu kok, yang membunuh temanmu itu kan dia," sambil Tomy menunjuk ke arah Mystogirl yang ada disampingnya, "lagipula, akan lebih mengasikkan jika mangsa itu disiksa terlebih dahulu daripada dibunuh begitu saja."
"Hei kalian!!? pergi kalian dari desa ini, kalian telah membuat keributan di sini," tiba-tiba salah seorang warga ikut mendekati kami, dengan dalih ingin mengusir.
Tidak berselang lama, bongkahan batu yang cukup besar melesat ke arah warga tadi dan membentur rumah dengan keras, sehingga rumah itu mengalami kehancuran yang cukup parah.
"Ahh, dasar serangga penganggu," ujar Tomy, yang mana bongkahan tadi ternyata merupakan ulahnya.
"T-tunggu dulu, bagaimana bisa dia bisa menggunakan kekuatan itu?" kaget sekaligus bingung menyelimuti perasaanku, ketika kejadian itu tadi merupakan ulah Tomy, yang menggunakan kekuataan Telekinesisnya.
"Seperti yang sudah aku bilang, mereka tidak mungkin datang kemari tanpa ada suatu persiapan. Pasti mereka mempunyai potion penangkal, agar bisa tetap menggunakan kekuatan mereka. Dan itu hanya bisa didapatkan dari desa ini juga," jelas Alkasa.
"Mohh~, ayo kita cepat selesaikan pekerjaan kita ini, kalian terlalu banyak bicaranya saja," untuk pertama kalinya aku mendengar Mystogirl berbicara dengan nada yang terdengar begitu datar.
"Baiklah-baiklah, saatnya kita beraksi!!" seketika ada 2-3 bongkahan batu beterbangan dibelakang Tomy, yang mana siap menyerang kami kapan saja.
Seketika juga, para warga yang melihat ketegangan kami tadi, berhambur berlarian menjauh dari kami, sehingga hal tersebut menimbulkan kegaduhan di desa tersebut.
"Gawat, Semuanya berpencar!!" perintah Alkasa.
"Kiriko, bagaimanapun caranya aku ingin kita bisa menghancurkan Altar yang ada di sana, agar bisa memulihkan kekuataan kita dan menyerang balik mereka," tambah Alkasa.
"Aku mengerti," aku mengiyakan perintah Alkasa.
"Tidak aku biarkan!" langsung Tomy meluncurkan bongkahan batu ke arah aku dan Alkasa yang ada dibarisan paling depan, sontak kami menghindar ke arah yang berbeda.
"Sial, tidak pernah terpikirkan olehku akan bertarung tanpa kekuatan seperti ini akan terjadi," gumamku sambil berlari menuju altar yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
Aku pun tidak leluasa untuk berlari, akibat begitu banyak warga yang ikut berlari menjauh dari Archidia, sehingga pergerakanku melambat, ditambah kekuatanku yang tidak dapat digunakan. Sehingga mudah bagi mereka untuk mengejar. Sesekali aku melepaskan tembakan, walaupun aku tahu itu tidak akan melukainya, namun tembakan itu dapat memperlambat pergerakannya juga.
"Heh, tidak ada gunanya kau lari, lebih baik kau menyerah saja!" sekali lagi Tomy melemparkan bongkahan batu sebesar gerobak jerami, bahkan ia tidak peduli lemparan itu bisa mengenai warga setempat.
*duarr* bunyi benturan yang keras itu terdengar ketika batu rumah berbenturan, aku masih bisa menghindarinya, namun ada beberapa warga yang terkena serangan itu, tertindih batu dan mengeluarkan darah dikepalanya.
"Aku harus cepat-cepat ke Altar itu," gumamku dalam hati, dan berdiri lagi untuk berlari menerobos melalui kerumunan orang banyak itu.
Ketika sudah hampir sampai Altar, sekali lagi aku melepaskan tembakan ke arah Tomy.
"Sudahku bilang tidak ada gunanya!" dan lemparan batu itu kembali meluncur ke arahku.
Dan sesuai perkiraanku, Tomy akan kembali menyerang ketika aku memancingnya dengan tembakan, ketika ia melempar bongkahan batu itu, aku kembali menghindar ke samping. Dan sesuai dengan rencana, aku membuat lemparan batu itu mengenai Altar, sehingga batu itu menjadi alatku untuk menghancurkan Altar, yang mana Altar itu tadinya berada tepat dibelakangku dan sekarang tepat mengenai.
"Sekarang saatnya," akupun langsung berdiri untuk mempersiapkan diri untuk bertempur.
Namun, tanpa alasan yang jelas, Tomy menunjukan ekspresi yang tidak wajar. Seharusnya ia menyesali perbuatan yang ia lakukan karena membantuku untuk menghancurkan Altar. Tapi yang ada malah ia terlihat tersenyum puas. Dan aku baru menyadari, bahwa kenapa hanya aku yang ia serang, dan lagipula di mana Mystogirl.
"Sedang mencariku?" terdengar suara dari arah belakangku yang terdengar seperti suara Mystogirl dan bersamaan dengan itu pula aku merasakan pukulan keras dibelakang leherku. Seketika pandanganku berubah menjadi gelap dan tubuhku tidak dapat aku kendalikan sehingga aku terjatuh dalam tidurku yang aku rasakan tiba-tiba.
***
Perlahan-lahan aku terbangun dari tidur, aku membuka mataku secara perlahan dan hawa dinginpun mulai aku rasakan.
"D-dimana ini?" aku melihat keadaan sekitar, tempat gelap yang sedikit diterangi cahaya matahari. Dan tepat di depan pandanganku terlihat jeruji besi yang terlihat sudah berkarat.
"Tidak mungkin," ketika ingin menggerakan tubuh, aku baru menyadari bahwa kedua tanganku sudah tergantung terbelenggu oleh rantai yang mengikatkan kedua tanganku. Sehingga hal ini membuatku tidak bisa pergi dari tempat ini.
"Owhh, sepertinya kau sudah sadar ya," tiba-tiba orang yang sering berurusan denganku, muncul dibalik jeruji besi.
"Lepaskan aku!!" ucapku sambil menghentakan tangan yang terbelenggu.
"Wah-wah, bukannya kau sendiri yang ini kembali ke Celestial," Tomy membuka pintu sel dan perlahan masuk mendekat kepadaku.
"Tcihh, di mana teman-temanku!?"
"Tidak perlu berteriak begitu, kalau kau marah begitu, muka imutmu malah hilang," ucap Tomy sambil memegangi daguku.
"Jangan sentuh aku!" aku membuang mukaku, karena melihat Tomy saja membuatku muak.
Tomy tiba-tiba berdiri dan perlahan membuka pakaiannya.
"A-apa yang mau kau lakukan!? lepaskan aku!" aku kembali meronta-ronta karena mulai takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Tomy terhadap diriku.
"Percuma saja kau berteriak, karena tidak ada yang akan mendengar rintihanmu itu," dan kali ini benar-benar tidak ada sehelai kainpun yang menutupi tubuh Tomy, "dan sekarang, terimalah awal dari penderitaanmu Kiriko-chan."
"Tidak!!! Hentikan!!! aku tidak mau!!!" seketika Tomy pun datang menghampiri tubuhku. Dan...