
Suasana menjadi hening sejenak, akibat rencana yang aku ajukan itu memang sudah sewajarnya akan mengejutkan mereka yang mendengarnya.
"K-k-kembali ke C-c-celestial? Jangan bercanda kau Kiriko-chan," dengan suaranya yang imut, dan gelagatnya seperti anak-anak, Hikari memastikan rencanaku yang terdengar begitu nekat.
"Menarik...," singkat Alkasa.
"Kau bilang ini menarik!?" kesal Hikari, "ini sama saja dengan bunuh diri," gerutu Hikari dengan menunjukan muka manyunnya.
"A-apa maksudmu kita kembali ke Celestial?" kali ini Wendy yang memastikan pernyataanku.
"Sudah pasti, untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliki kitakan?" jawabku dengan muka datar.
"Tapi, tindakan gegabah begitu yang ada sama saja dengan bunuh diri seperti yang dikatakan oleh Hikari tadi," Jin menanggapi.
"Huhhh," aku menarik nafas cukup dalam sebelum aku mengatakan sesuatu hal, "Jika kita terus menerus kabur begini, yang ada malah anggota kelompok kita kemungkinan besar akan terus berjatuhan, seperti halnya Wolf yang sudah gugur dalam pelarian kita ini. Kalau kita terus lari, kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dan itu semua malah merugikan diri kita sendiri, bukan hanya rugi dalam artian korban terus berjatuhan saja, melainkan kita juga dirugikan melalui tenaga, pikiran, dan waktu yang terbuang begitu saja karena pelarian yang tidak ada hasil begini. Mau sampai kapan kita jadi tikus buruan Archidia begini?" ku tatap serius mereka yang ada diruangan saat itu.
"Begitu ya, dengan kata lain kau ingin kita melawan arus?" Alkasa menangkap penjelasanku.
"Benar, kita akan kembali melawan balik mereka," Aku mengiyakan penjelasan Alkasa.
"T-tapi itu kan sama saja---" belum Hikari selesai bicara, aku potong duluan pembicaraannya.
"Bunuh diri? Bagaimana jika kau pada akhirnya akan tahu bahwa tindakan melarikan dirimu itu merupakan hal yang sia-sia dan bahkan bisa merengut nyawamu sendiri? Jika aku jadi kau lebih baik aku memilih tindakan yang kau katakan bunuh diri itu, karena akan lebih terhormat rasanya jika kita mati dengan melakukan perlawanan balik," jawab sinisku kepada Hikari.
"Hmm...," Hikari tertunduk sedih ketika menerima omongan tajamku padanya tadi.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Alkasa meminta pendapat teman yang lainnya mengenai rencanaku tadi.
"Jika tidak ada yang ingin ikut, tidak masalah, lagipula aku sudah biasa melakukan hal ini sendirian," ucapku langsung mengambil Katana yang aku sandarkan di dinding.
"Siapa bilang kami tidak ingin ikut?" ucap Star dengan santai.
"Aku sih tidak masalah, lagi pula aku siap mati kapan saja, haha," Ayumu kali ini membuka bicara.
"Enak sekali bicaramu, mentang-mentang kau tidak bisa mati," sindir Alkasa kepada Ayumu.
"Menurutmu bagaimana, Wendy?" Alkasa mengalihkan pandangannya ke Wendy untuk mendengar pendapatnya.
"Awalnya aku tidak mengerti kenapa Kiriko memikirkan tindakan sejauh itu, mungkin karena kondisi saat ini membuat aku tidak bisa berpikir dengan baik. Namun, jika dipikir baik-baik, benar apa yang ia katakan. Kita tidak ada pilihan lain selain melawan balik Archidia untuk merebut kembali Celestial," gagas Wendy.
"Terdengar seperti kau menyetujui rencana ini," tanggap Jin.
"Seperti yang kau dengar, kami semua akan mengikuti tindakan gilamu ini," ucap Alkasa dengan sedikit tersenyum kepadaku.
"Tapi, kita tidak mungkinkan untuk melakukan serangan gegabah begitu sajakan. Jadi apa kau punya rencana briliant untuk menyerang balik mereka?" tanya Jayden kepadaku sambil meneguk minumannya.
"Ahh, aku baru saja memikirkannya," ucapku santai sambil duduk kembali di kursi.
"Aihh, sudahku duga kau akan melakukan tindakan gegabah ini dengan tanpa rencana, " ucap Alkasa sambil memijit kerutan keningnya, "tapi aku memikirkan rencana kita ini."
"Wahh, kau sudah mempersiapkannya sebelumnya ya, keren," kagum Ayumu.
"Yah, rencana perjalanan kita kali ini adalah ke Elantris."
"D-desa itu kan!?" cengang Wendy.
"Desa tanpa sihir," ucapku melengkapi jawaban dari Wendy.
Apa yang sebenarnya di rencanakan Alkasa, sehingga ia memutuskan untuk membawa kami ke tempat itu?