
---19 Tahun yang lalu---
(Kerajaan Celestial)
*Brakkk!!!!*
Bunyi keras terdengar dari pintu yang baru saja dibuka dengan paksa oleh salah seorang lelaki, yang sekaligus menyeret wanita untuk masuk ke dalam suatu ruangan yang cukup gelap. Kemudian lelaki itu membanting wanita tadi ke dalam ruang kamar.
"Keluarkan aku dari sini!" wanita itu merintih memohon kepada lelaki itu sambil merangkak ke arah pintu ruangan.
"Tetaplah di situ, sampai kau benar-benar tidak aku butuhkan lagi," ucap lelaki itu sembari menutup pintu ruangan dan menguncinya rapat-rapat.
Wanita itu hanya terdiam dan membiarkan suasana gelap ruangan tersebut menyelimuti tangisannya, yang seperti mengalami suatu tekanan yang cukup berat, terlihat dari penampilannya, ramput yang tak teratur teracak, baju putih terusan polos yang ditutupi noda debu, serta sedikit lebam yang terdapat dari wajah wanita yang sebenarnya terlihat cantik itu, sekarang tertutup akibat dari tekanan tersebut.
"Nyonya Emilly?" tidak beberapa lama kemudian, terdengar suara lain dibalik pintu.
"Erina??"
"Apa yang Tuan lakukan pada Nyonya? Apakah Tuan melakukan itu lagi?"
"...." wanita yang dipanggil nyonya itu hanya terdiam.
"Aku akan menolong nyonya agar bisa keluar dari sini, tenang saja."
"K-kau tidak perlu..."
"Tidak apa-apa, nyonya sudah banyak membantu saya, jadi saya juga ingin membalas kebaikan nyonya selama saya bekerja di sini." potong Erina pembicaraan Emilly.
"T-tapi ini sangatlah beresiko," wanita itu berusaha meyakinkan Erina untuk tidak ikut campur.
"Nyonya.... aku tidak bermaksud lancang, tapi aku hanya tidak ingin melihat seseorang yang sudah banyak berbuat baik kepada saya dipermalukan dan di tindas oleh Tuan, jadi biarkan aku melalukan hal egois ini. Permisi," ucap Erina dan langsung pergi meninggalkan Emilly.
"Erina! tunggu!!! Erina!!!!" Emilly terus berusaha memanggil Erina, namun panggilan tersebut tetap saja tidak diindahkan.
Percakapan tersebut adalah percakapan antara seorang wanita yang sebenarnya Ratu Kerajaan yang diperlakukan tidak wajar oleh Raja, bisa dibilang pelecehan, untuk mendapatkan keturunan yang ia inginkan. Namun, Emilly merasa tidak tahan dengan perbuatan yang dilakukan oleh Raja Charlie kepadanya. Erina, seorang pengawal sekaligus pembantu yang sangat dekat sekali dengan Ratu Emilly merasa prihatin kepada Emilly dan kesal kepada Raja Charlie setelah beberapa kali melihatnya. Itulah sebabnya mengapa Erina memutuskan untuk membantu Emilly untuk keluar dan kabur dari kerajaan.
***
Sinar mentari pagi masuk ke dalam kamar Emilly, sehingga perlahan-lahan membangunkannya dari istirahat yang membuatnya tertekan.
*cklek...srettt* bunyi pintu terbuka mengawali pagi hari Emilly, dibalik pintu tersebut ternyata seorang prajurit kerajaan.
"Saya diperintahkan oleh Tuan untuk menjemput nyonya!"
"Apalagi yang ia inginkan!? aku menolak!" berontak Emilly.
"Kalau begitu, saya paksa nyonya untuk ikut kepada Tuan," prajurit tadi kemudian mulai menarik paksa Emilly untuk ikut keluar dari ruangan. Tentu saja Emilly melawan dengan sekuat tenaga.
*duakkk* bersamaan dengan suara pukulan yang cukup keras mendarat dileher belakang, prajurit tersebut langsung jatuh pingsan.
"A-apa yang kau lakukan, Erina?" ucap Emilly dengan kaget.
"Kita tidak punya banyak waktu, nyonya, ayo kita pergi," Erina pun menarik dan membawa pergi Emilly keluar dari kamar.
"Aku sudah mempersiapkan jalur pelarian kita, lewat sini."
Mereka terus belari melewati dapur basement yang memiliki jalur rahasia yang sudah dipersiapkan oleh Erina, jalur tersebut tembus langsung kehutan bagian luar dari Kerajaan melalui gorong-gorong tempat pembuangan limbah cair.
"Kita sepertinya sudah cukup jauh," akhirnya mereka berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat.
"S-sudah berapa lama kau mempersiapkan ini?" tanya Emilly sambil mengambil nafas terengah-engah kelelahan.
"Nyonya tidak perlu khawatirkan soal itu, yang terpenting adalah nyonya bisa keluar dari sana bukan?" dengan senyuman penuh kehangantan, Erina memberikan roti kukus dari tas yang mereka bawa tadi.
"Aku tidak menyangka kau bisa berbuat sejauh ini, bahkan mengorbankan dirimu sendiri," balas senyum Erina dan mengambil roti kukus tadi untuk ia makan.
Setelah beristirahat dan mengganti pakaian Emilly yang tentunya sudah dipersiapkan Erina agar lebih layak. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka melewati hutan agar tidak mudah ditemukan oleh.
Mataharipun mulai redup, yang menandakan sore hari telah tiba, namun hal yang aneh terjadi pada Emilly, ia merasakan mual namun tidak memuntahkan seisi perutnya.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Erina sambil sedikit mengurut-urut punggung Emilly.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa mual... atau jangan-jangan..."
Tiba-tiba terdengar suara beberapa ranting pohon kering bersahut-sahutan seperti di injak oleh banyak orang.
"Tchh... Mereka sudah dekat, ayo nyonya kita harus bergegas," Erina membantu Emilly untuk berdiri, karena Emilly terlihat cukup lemas.
"Ayo semuanya, cari dengan benar! Jangan sampai Tuan Charlie marah lagi," Teriak pemimpin prajurit untuk mencari keberadaan Erina dan Emilly.
"Nyonya, pergilah ke arah selatan, di sana ada seseorang yang bisa membantu nyonya."
"K-Kau mau kemana?"
"Selagi ada cara agar nyonya tidak ketahuan, mengapa tidak kita lakukan saja," Erina berjalan perlahan ke arah para prajurit kerajaan tadi.
"Tidak, jangan lakukan ini, Erina!"
"Daijobu, pergilah dengan selamat nyonya, aku titip Lucius kepadamu," Senyum Erina.
"Lucius, siapa dia..." belum habis Emilly berpikir, Erina pun berlari ke arah prajurit.
"Di sana!!!" teriak salah seorang dari prajurit tadi menyadari langkah Erina yang sebenarnya memancing itu.
Emilly hanya bisa kesal, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Erina, ia pun melanjutkan perjalanan ke tempat yang ditunjuk oleh Erina.