
"Humm...," kesadaranku berangsur kembali, perlahan tapi pasti aku membuka kedua mataku untuk mencoba kembali sadar.
"Ahh, syukurlah kau mulai sadar," suara wanita yang terdengar asing bagiku.
"D-di mana ini?" dengan duduk tersandar dipohon besar, aku melihat suasana hutan yang cukup lebat tepat di depan mataku.
"A-apa yang kau lakukan!?" kaget melihat wanita yang ada di sampingku mengeluarkan cahaya hijau dari telapak tangannya yang ditumpangkannya pada tubuhku, aku pun reflek mencoba untuk bangun, "arghh!" aku merasakan sakit pada bagian tubuhku karena serangan yang aku terima sebelumnya.
"Tenanglah, aku sedang mencoba untuk mengobati lukamu," ucap wanita asing yang mengeluarkan cahaya itu tadi.
"Bagaimana keadaannya, Putri Wendy?" terdengar suara laki-laki, yang ternyata adalah Wolf.
"Dia mengalami luka dalam yang cukup parah, beberapa tulak rusuknya mengalami retak. Tapi aku masih bisa memulihkannya dengan kemampuanku," ucap wanita yang dipanggil Wendy itu.
"Arghh,, di mana Lucius!? aku harus membawanya pulang!" dengan penuh amarah aku menanyakan keberadaan Lucius.
"Kau sedang terluka, kau harus banyak beristirahat sekarang," Wendy terus berusaha menenangkanku sebagai upaya penyembuhan.
"A-aku harus kembali, aku harus menepati janjiku...," aku berusaha berdiri walaupun rasa sakit masih ada namun itu tidak menghalangi keinginanku untuk kembali menghadapi Lucius, aku abaikan peringatan dari Wendy.
Wolf tiba-tiba ikut menghalangi langkahku untuk kembali ke Celestial, ia memegangi bahu kiriku dengan tangan kanannya, "Tidak mungkin bagi kita untuk kembali ke Celestial sekarang ini," terlihat wajah kesedihan yang ditunjukan Wolf kepadaku, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi yang belum aku ketahui.
"Kau tidak mengerti apa yang aku rasakan!!" teriakku kepada Wolf.
"Aku mengerti ap.."
"Jangan kau pikir seolah-olah kau mengerti apa yang aku rasakan!!!" belum habis Wolf berkata-kata aku sudah memotong pembicaraannya.
"Aku sudah lama menunggu hari di mana aku bisa bertemu dengan seseorang yang aku cari selama ini, aku pikir ketika bertemunya, kami bisa kembali bersenang-senang bersama, bergembira, bermain, dan banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya. Namun, semua harapan itu hilang begitu saja melihat kenyataan bahwa ia seorang Buronan, penjahat yang di cari-cari selama ini!! Mana kau mengerti perasaan ini!!" aku luapkan semua sakit hatiku kepada Wolf.
Namun, Wolf tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya dan memelukku. Tentu hal itu membuatku terkejut, namun bukannya aku menghindar, aku malah membiarkannya. Sepertinya saat ini, aku berada dikondisi di mana aku memerlukan seseorang untuk memberikan penguatan dalam menghadapi masalah yang aku hadapi saat ini, salah satu penguatan itu adalah pelukan yang diberikan Wolf kepadaku, tidak aku sangka Wolf dapat memberikan apa yang aku butuhkan saat ini. Sehingga pelukan ini dapat membuatku merasa lebih nyaman dan tenang.
"Kau benar, aku memang tidak mengerti apa yang kau rasakan. Tetapi aku mengerti apa yang kau butuhkan saat ini. Aku berjanji padamu, kita akan membawa Lucius itu kembali pulang ke rumah dan bersama-sama denganmu lagi," ucap Wolf sebagai bentuk penguatannya kepadaku.
"Wah-wah-wah, kau lihat itu Jayden, di saat seperti ini, Wolf sempat-sempatnya melakukan hal mesum kepada seorang gadis, apalagi kepada bocah," terdengar suara laki-laki dari dalam hutan.
Sontak aku dan Wolf menjauh karena omongan seseorang yang asalnya dari dalam hutan, dan benar saja terlihat 2 orang laki-laki. Satunya tidak lain tidak bukan adalah Jayden, dan satunya lagi aku tidak mengenalinya.
"Hentikan omong kosong kalian berdua!" ucap Wolf.
Aku hanya diam dalam maluku, dan duduk bersandar kembali di pohon.
"S-sudahlah, jangan sampai kalian bertengkar," ujar Wendy.
"Ahh, baiklah... jadi, apa yang kalian dapatkan di hutan?" tanya Wolf kepada Jayden dan laki-laki asing itu.
"Ada beberapa buah-buahan yang cukup aku dapatkan dalam hutan sana," sambil Jayden menaruh buah-buahan hutan itu di tengah-tengah tempat kami beristirahat. Yang mana kebetulan tempat kami di sini memiliki tanah yang cukup lapang.
"Dan kau, apa yang kau dapatkan, Alkasa?" tanya Wolf lagi kepada laki-laki yang bernama Alkasa itu.
"Tidak ada, sudah aku duga di sini tidak ada ikan Megalodon," keluh Alkasa sembari duduk bersandar di pohon.
"Dasar tidak berguna," gumam Wolf sambil menggaruk kepalanya.
"Haii, kami pulang!!" ucap seorang wanita membawa beberapa kayu bakar, yang ditemani seorang laki-laki disampingnya.
"Ahh, baguslah kalau kalian sudah kembali," ucap Wolf.
"Ahh, bagaimana keadaanmu? kau baik-baik sajakan?" perempuan yang baru datang tadi langsung menghampiriku.
"Hmm, aku baik-baik saja," anggukkanku menandakan bahwa aku baik-baik saja.
"Kau wanita yang kuat, semangat!" wanita yang memiliki sifat enerjik itu tersenyum padaku.
"Baiklah, seperti yang aku katakan sebelumnya, kita akan beristirahat untuk hari ini di sini untuk memulihkan tenaga kita. Archidia sudah menguasai Celestial untuk saat ini, tapi yang lebih penting adalah keselamatan Tuan Putri Wendy, yang merupakan keturunan Sah Kerajaan Celestial. Maka dari itu lebih baik kita tidak berkerja sendiri, melainkan ada kerjasama diantara kita. Untuk merebut kembali tahta milik tuan putri nantinya," jelas Wolf.
"Ehh, a-apakah itu benar?" aku tidak percaya apa yang aku dengar dari Wolf.
"iya, Archidia sudah menyudutkan kita," ujar Wendy yang ada berada di sampingku.
Tidak aku sangka, sudah sejauh ini perbuatan gerakan yang dilakukan Archidia kepada kerajaan Celestial. Yang menjadi pertanyaanku adalah, sekuat itukah Archidia ini sehingga dapat membuat kami tersudut seperti ini. Berarti jika aku ingin membawa kembali Lucius, secara tidak langsung aku juga akan menghadapi Archidia, yang sudah mengalahkan Tuan Putri beserta pasukannya ini.