
"E-elantris, rencana gila apalagi ini!?" Hikari kembali panik mendengar rencana Alkasa.
"I-itukan desa tanpa sihir, ketika para pengguna sihir ketika berada di desa itu tidak bisa menggunakan sihir mereka sama sekali. Karena ada terdapat Pilar yang menyegel kekuatan sihir ditengah-tengah desa," lengkap Wendy.
"Itu berarti termasuk kita, sebagai pengguna sihir akan dirugikan jika kita berada di desa itu, karena tidak bisa menggunakan sihir kita bukan? Tapi kenapa kau malah berencana untuk ke sana?" kembali Jayden mempersoalkan masalah itu.
"Aku malah berpikir rute itu yang teraman bagi kita, karena bukan hanya kita yang pengguna sihir bukan, melainkan Archidia itu juga pengguna sihir. Lagipula rute itu merupakan rute lain agar bisa sampai Celestial. Dan bagian terpentingnya adalah jika Archidia terus mengikuti pergerakan kita, maka akan lebih menguntungkan bagi kita jika Archidia mengikuti sampai ke Elantris dan terjadinya pertempuran," jelas Alkasa.
"Bukannya kita sama-sama dirugikan sebagai sesama pengguna sihir?" Star memastikan.
"Tidak, ada salah satu anggota kita yang bukan merupakan pengguna sihir," ucap Alkasa sambil menatapku.
"Ehh!!?" serentak para anggota lain kaget mendengar pernyataan Alkasa.
"Memang benar yang dikatakannya, kekuataanku ini tidak ada unsur sihirnya sama sekali, sejauh yang aku ketahui kekuataanku ini mengandalkan kekuatan fisik semata, hanya saja kinerja fisikku ini jauh lebih cepat dari pada manusia normal," aku memberikan penjelasan mengenai kekuataanku.
"Woahh, begitu ya," Hikari terdecak kagum mendengarnya.
"Namun, tidak aku sangka kau memikirkan rencana seperti ini, Alkasa. Yang mana rencana ini akulah yang memiliki peran penting di dalamnya. Dan sebenarnya rencana ini tidak memiliki resiko yang cukup besar pada diriku. Namun, resiko yang akan kalian hadapi berbeda denganku," tambahku.
"A-aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Wendy.
"Yah, aku mengerti," jawab santai Alkasa, "dengan kata lain, nyawa kami ada dalam genggaman tanganmu. Karena kaulah yang sangat berpotensi untuk melindungi kami jika terjadi pertempuran."
"Kau yakin mempercayainya, lagipula ia pernah kabur dari kelompok ini seperti anak kecil," Jayden meyakinkan Alkasa sembari tiduran di sofa.
"Aku yakin ia sudah tidak melakukan hal bodoh seperti itu lagi, lagipula tujuan kita sama, dan aku pikir walaupun Kiriko pergi sendirian, pasti ia akan pergi ke sana juga karena itu akan menguntungkan baginya. Lagipula apakah kau memiliki rencana lain untuk memikirkan rute lain selain yang aku rencanakan ini?"
"Ahh, apa boleh buat, lagipula aku malas untuk berpikir," ucap Jayden sambil menguap.
"Apa yang lain ada yang keberatan dengan rencana ini?" Alkasa kembali memastikan anggota lain.
Semuanya hanya terdiam, dan dengan kata lain, mereka menyetujui rencana yang sudah disusun oleh Alkasa.
"Yosh, semuanya setuju, aku pikir kau tidak keberatankan Kiriko-chan?" Alkasa menyengir kepadaku.
"Y-yah, aku tidak keberatan, dengan mudahnya mereka mempercayaiku untuk rencana ini. Ini merupakan beban terbesarku untuk melindungi teman-temanku dengan kekuatanku sendiri. Tapi, kenapa aku sendiri tidak mempercayai diriku sendiri, entah kenapa ada yang membuatku begitu meragukan kekuataanku sendiri."
"Kalau semuanya setuju, kita akan melakukan perjalanan besok pagi, untuk hari ini kita istirahat penuh, " perintah Alkasa, "dan kau Kiriko, ada yang ingin aku bicarakan denganmu setelah pertemuan ini."
"Ehh, B-baiklah," aku mengiyakan permintaan Alkasa.
***
Tidak lama setelah itu, aku dan Alkasa pergi ke dalam hutan, dan hutan itu lapang memanjang. Sepanjang perjalanan kami tidak membuka sedikitpun obrolan, hingga akhirnya.
"Kita sudah sampai," Alkasa membuka bicara sembari menghentikan langkahnya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan ditempat ini?" ucapku sambil melihat kondisi sekitar.
"Ahh, aku ingin kita berlomba," ucap Alkasa santai.
"Hah!? Kau jauh-jauh ke sini hanya ingin berlomba denganku?"
"Iya, aku hanya ingin test kecepatan larimu," Alkasa langsung melakukan posisi start jongkok.
"Untuk apa aku melakukannya, lagipula kau sudah tau bukan kecepatanku ini---"
"Maka dari itu, aku ingin mengetahui seberapa cepatkah kau berlari," potong Alkasa.
"Baiklah, finishnya ada pohon besar di ujung lapang hutan ini," tunjuk Alkasa mengarah pohon besar sana kira-kira 200 meter jauhnya.
"Ini cukup mudah bagiku," aku percaya diri dengan kekuatan ini.
"Oke, aku mulai hitung mundur, satu..." Alkasa mulai menghitung mundur.
"Dua..."
"Tiga..."
*Whushhh* tidak terdengar bunyi langkah, yang hanya hembusan angin yang lewat begitu cepat ketika aku mulai berlari. Dan hanya butuh beberapa detik saja aku sudah mencapai garis finish yang ditentukan oleh Alkasa tadi.
"Aku kasihan dengan dia yang menantang aku berlari, yang mana hasilnya sudah jelas aku menangkan begini," aku berbicara seolah diriku sudah memenangkan pertandingan, sembari bersandar dipohon besar yang menjadi garis finishnya.
"Owhh, kau sudah sampai rupanya."
"Ehh, t-tidak mungkin!?" terdengar suara Alkasa dibalik pohon, ketika ia sendiri keluar dari balik pohon itu.
"Yahh, baru finish ke dua saja mulutmu sudah sombong begitu ya," ucap Alkasa sambil mengorek telinganya.
"B-bagaimana kau bisa jauh lebih cepat dariku?" tanyaku.
"Ahh, kau belum tahu kekuataanku ya? Aku ini memiliki kekuatan Lightning Speed. Yah bisa dibilang kekuataan yang membuat aku bergerak secepat cahaya."
"S-sekali lagi, aku mau sekali lagi kita bertanding," aku langsung mengambil posisi start.
"Owhh, aku pikir kau sudah menyerah."
"Cepatlah, aku ingin pertandingan ulang."
"Baiklah-baiklah, ini yang benar-benar yang terakhir," Alkasa menyusul mengambil posisi start.
"Finishnya tempat awal kita melakukan start tadi."
"Baiklah, aku mulai hitung mundur, satu..."
"Bagaimana bisa ia bergerak lebih cepat dariku," Rasa penasaran terus menyelimuti diriku.
"dua..."
"Aku harus melihat pergerakannya."
"tiga..."
Ketika memulai start, aku mengalihkan fokus pandanganku kepada Alkasa, benar saja gerakannya jauh lebih cepat daripadaku. Dan aku bisa melihat dengan jelas pergerakannya. Namun, ketika aku menyesuaikan pengelihatanku dengan gerakan Alkasa, entah kenapa pergerakanku melambat, langkah-langkah kakiku terasa berat dari biasanya. Sehingga aku tidak bisa mengikuti pergerakan cepatnya dan tertinggal jauh dari Alkasa.
"Ahh, aku menang lagi," gumam Alkasa terdengar ketika aku menyusulnya digaris finish.
"..." aku hanya terdiam.
"Kenapa, kau kesal ya tidak bisa menang dariku?"
"Kenapa, kenapa aku tidak bisa menyesuaikan pergerakanku dengan pengelihatanku. Aku bisa melihat pergerakan cepatnya, tapi kenapa pergerakan cepatku malah melambat ketika menyesuaikan pengelihatanku dengan gerakannya. Aku tidak mempermasalahkan kekalahanku. Melainkan…" aku meneruskan langkahku untuk pulang, "ayo kita pulang," ujarku tanpa memandangi Alkasa.
"Hmm?" Alkasa hanya mengikutiku dari belakang dengan heran.
"Melainkan yang aku permasalahkan adalah Kekuatan Flash Moveku sendiri, ada yang aneh."