Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 17



"Kau cukup membuatku puas hari ini." ujar Tomy sambil mengenakan pakaiannya.


"...." aku hanya tertunduk diam setelah apa yang ia lakukan padaku, penampilanku tidak karuan olehnya terlihat dari pakaian yang bersobekan ditubuh ini.


"Dan sekarang saatnya yang aku tunggu-tunggu," Tomy mengeluarkan sebuah kapsul tabung transparan seukuran ibu jari orang dewasa, di dalamnya terlihat ada sesuatu yang menggeliat hitam layaknya cacing.


"A-apalagi yang kau ingin lakukan!?" geramku ketika melihat Tomy yang sepertinya belum puas mempermainkan diriku.


"Tidak usah banyak bicara," Tomy membuka kapsul tersebut mencoba untuk memasukan isi kapsul itu ke dalam mulutku.


"Hmm..h-hentikan...," aku meronta dan melakukan perlawanan sebisaku dengan memalingkan kepala ke segala arah.


"Diam!!!" Tomy langsung melayangkan pukulan keras ke mukaku, tentu saja hal itu cukup membuatku lemas dan pada saat itu pula Tomy mengambil kesempatan untuk memasukan isi kapsul itu ke dalam mulutku dan memaksaku untuk menelannya.


"uhukk...uhukk," aku terbatuk dan muntah ingin mengeluarkan sesuatu yang mirip dengan cacing tadi, namun usahaku sepertinya tidak berhasil.


"A-apa itu tadi, uhuk... apa yang sudah kau lakukan."


"Ahh, itu merupakan cacing kok, yang membuat pertumbuhan janin menjadi lebih cepat. Yang biasanya usia kandungan 9 bulan baru bisa bersalin, berbeda hasilnya jika menggunakan cacing itu," jelas Tomy dengan tersenyum.


"Apa tujuan sebenarnya? Jadi kau menginginkan anak dariku!!?" kembali aku menatap tajam ke arah Tomy dengan kondisi yang lemas.


"Kau pikir aku memperkosamu tanpa alasan dan tujuan," Tomy balik badan dan melangkah keluar dari penjara, "besok anak kita sudah melahirkan, hahaha, jadi tidak sabar menunggu," Tomy mengunci pintu penjara tempatku sembari melangkah menjauh dari sel.


"Kurang ajar, lepask-" tiba-tiba perutku terasa mual.


"Tidak mungkin, apa aku benar-benar hamil?" aku shock mengalami kenyataan seperti ini. Aku bahkan tidak akan menyangka bahwa akan menderita dan membusuk di sini menjadi budak **** dari laki-laki bejat itu.


Merenungi nasib yang aku alami saat ini, cukup menguras tenaga, hingga secara tidak sadar mataku mulai terasa berat dan mengalami ngantuk yang cukup berat, dan seketika aku pun tertidur.


***


Perlahan-lahan aku membuka mata dengan penuh keputusasaan, dan rasa tubuh yang begitu lemah dan tak berdaya. Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak aku terkurung ditempat mengerikan seperti ini. Dan seiringnya berjalannya waktu, kandungan yang ada dalam perut ini pun ikut membesar, mengingat cacing itu membuat pertumbuhan kandungan ini jauh lebih cepat dari keadaan normal.


Tidak berselang lama aku mendengarkan suara riuh pikuk yang datangnya dari luar ruangan, walaupun tidak tidak terdengar begitu jelas, tetapi aku yakin kalau suara itu berasal dari luar dan seperti sesuatu hal sedang terjadinya kekacauan yang cukup besar, karena keributan tersebut berasal dari langkah kaki dan teriakan orang-orang banyak. Akan tetapi, suara yang seharusnya membuat terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi, aku tidak menghiraukannya karena yang aku pedulikan sekarang ialah situasiku saat ini. Aku terlalu lelah untuk memikirkan hal di luar dari keadaanku sekarang. Sehingga ada terlintas dalam pikiranku untuk lebih baik mati saja daripada tersiksa seperti ini.


"Kiriko, di sini kau rupanya!" suara tadi semakin jelas, dan terdengar mirip seperti suara Wendy.


Seketika, sesosok yang aku yakini adalah Wendy itu memaksa menerobos masuk ke dalam sel tahanan.


"K-Kau tidak apa-apa? kau terlihat berantakan sekali," Wendy langsung saja menghampiriku dan melepaskan ikatan yang membeleguku.


"Wendy...b-bagaimana kau bisa..." sangat sulit bagiku untuk berbicara kembali dengan normal.


"Sudah, sekarang kau tidak perlu banyak bicara dulu," Suara lain ikut dalam pembicaraan kami berdua Wendy, yang juga tidak terdengar asing bagiku. Untuk memastikannya, aku mengalihkan pandanganku ke arah suara tadi dan.


"L-lucius..," tidak percaya apa yang aku lihat, entah mengapa aku langsung bergerak secara reflek karena merasa bahwa Lucius adalah ancaman, "ahhhh...," tiba-tiba saja bagian perutku terasa sakit yang tak tertahankan.


"Gawat kita terlambat!" Wendy dengan sigap langsung memeriksa keadaanku, "sudah ada kontraksi yang ada dalam janin kandungannya, tidak ada cara lain selain melalukan persalinan sekarang juga," ucap Wendy sambil menoleh ke arahku dan Lucius.


Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan yang Wendy ingin lakukan padaku, yang aku pikirkan saat ini hanyalah ingin segera mengakhiri penderitaan dan rasa sakit dari proses kehamilan ini. 


"oeeee...oeeee!!!" terdengar suara isak tangis bayi setelah melalui proses persalinan yang cukup panjang dan rasa sakit yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya, itulah suara anakku.


"Selamat, Kiriko, anakmu cantik seperti ibunya," Wendy sambil memperlihatkan anak yang baru saja aku lahirkan, aku yang dalam kondisi masih sangat lemah hanya bisa tersenyum dan sedikit meneteskan air mata. Walaupun anak ini bukanlah hasil dari hubungan yang tidak aku inginkan, tetapi tetap saja dia anakku yang sudah aku lahirkan susah payah.


"Kiriko, apa kau masih sanggup untuk berjalan?" Lucius langsung memotong momen antara aku dan anakku.


"Kau tidak lihat, kondisinya sekarang dalam keadaan lemah begini kau..."


"Kita tidak punya waktu banyak sekarang, akan berbahaya jika mereka tahu kalau Kiriko sudah melahirkan!" Lucius memotong ucapan Wendy, namun ada berbeda dengan ekspresi Lucius dari biasanya, Ia terlihat gelisah dan penuh kekhawatiran.


"A-aku sanggup dan mampu pergi sekarang, tapi aku tidak ingin pergi bersama denganmu sampai kau menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi," ucapku kepada Lucius


"Baiklah, aku harap penjelasanku dapat meyakinkanmu." 


Lucius sepertinya paham apa yang aku maksud. Aku tidak mengerti setelah apa yang dilakukan Lucius selama ini padaku bahkan teman-temanku. Yang dulunya dia dipihak musuh, tiba-tiba saja ia berada dipihak kami bahkan untuk menolongku. Apa yang sebenarnya telah terjadi???