Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 19



Berjam-jam waktu berlalu, Emilly terus menelurusi hutan yang belum pernah ia lalui ini dengan sedikit petunjuk yang Erina berikan untuk bisa sampai kesebuah desa. Hingga akhirnya, ia melihat sedikit salah satu bangunan rumah, dan bangunan tersebut merupakan tanda keberadaan desa yang ingin dituju oleh Emilly.


Dari kejauhan, kedatangan ia sudah menjadi perhatian bagi penduduk desa dan membuat mereka memandang heran, dengan keadaannya yang lusuh dan tidak karuan membuat mereka sudah sulit untuk mengenali wajah Emilly. Namun, warga desa juga merasa bahwa mereka tidak merasa asing dengan wajah wanita tersebut. 


"Seseorang, panggil kepala desa ke sini, cepat!!" pinta salah seorang penduduk.


Karena perjalanan yang dilalui Emilly sangatlah berat, membuat ia terjatuh pingsan tidak jauh dari kerumunan warga yang penasaran melihat kedatangan Emilly yang asing dimata mereka.


"Ada apa ini!?" tidak lama setelah itu, terdengar suara tidak lain ialah kepala desa dari belakang kerumunan warga.


"Dia..." Kepala desa sempat terdiam karena melihat Emilly yang pingsan, seolah-olah ia mengenali sosok tersebut, "kalian, tolong antarkan wanita ini ke rumahku, yang lainnya bubar! jangan membuat anak-anak kalian takut dengan adanya kerumunan ini," mendengar perintah tersebut, para wargapun balik arah dan kembali bekerja, walaupun mereka masih berbisik satu sama lain membicarakan kebingungan mereka atas peristiwa yang baru saja mereka lihat.


5 jam waktu berlalu, kesadaran Emilly berangsur membaik, ia kemudian perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.


"Ahh, di… di mana ini??" ia melihat situasi sekitar sambil menolehkan ke kiri dan ke kanan.


"Aku ada di mana?" ia semakin bingung, tidak perlu waktu lama ia untuk menyadari dirinya yang sekarang masih terbaring dalam sebuah kamar, dan sangat terlihat asing baginya.


"Syukurlah kau sudah sadar," terdengar seorang wanita ketika Emilly yang kelihatan separuh baya masuk ke dalam kamar tempat Emilly terbaring.


Emilly hanya melihat wanita kebingungan wanita tersebut, dan membiarkan ia mendekatinya sambil membawakan semangkuk makanan dan minuman.


"A-anu..."


"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganmu dan apa yang kau pikirkan sekarang," ia menaruhkan makanan tersebut di meja samping kasur, "tapi untuk sekarang jangan paksakan dirimu dan berisitirahatlah yang cukup," kemudian ia duduk di kursi kecil sambil menunjukkan senyum penuh kasih sayang layaknya seorang ibu yang mengasihi anaknya.


Emilly terdiam sejenak melihat perlakuan yang dilakukan oleh wanita tersebut, "Anu…, kalau boleh tahu, aku ada di mana sekarang?"


"Ahh, aku pikir kau kemari karena kau pernah atau mengetahui mengenai desa ini,” wanita tersebut sedikit terkejut dengan pertanyaan Emilly.


"Kau sekarang ada di Raemar, desa ini tepat berada di tengah-tengah hutan," terdengar kembali suara asing pria bagi Emilly yang datang dari arah pintu kamar.


"Raemar?" gumam Emilly yang kebingungan karena baru pertama kali mendengar nama desa tersebut.


"Wajar saja kau tidak mengetahuinya, karena hanya ada orang-orang tertentu dan memiliki hubungan langsung dengan desa ini saja yang mengetahui desa ini," sambil mendekat dan berdiri disamping wanita tersebut, "Apalagi karena kau, Nyonya Ratu kerajaan Celestial. Ratu Emilly."


Begitu mendengar perkataan pria tersebut, Emilly terkejut dan tersentak bangun dari tidurnya karena Emilly mengira bahwa orang-orang dirumah ini adalah orang-orang yang berhubungan dengan Celestial yang bisa saja menyerahkan Emilly kembali kekerajaan tersebut.


Karena pergerakan terkejut tadi, Emilly merasakan sakit dan mual dibagian perutnya, seketika ia menutup mulutnya dan memegangi perutnya.


"Sudah aku bilang, kau harus tenang," wanita itu kembali menenangkan dan membaringkan kembali Emilly.


"Aneh, padahal ketika aku merawat dan menggantikan pakaianmu aku tidak menemukan luka dibagianmu, dan kau juga tadi barusan merasakan mualkan?" tanya wanita tersebut.


"Kenapa kita panggil saja tenaga medis di desa ini, mungkin dia tahu sesuatu?"


"Baiklah, biar aku panggilkan dia kemari." wanita itu seolah mengetahui apa yang dimaksud oleh pria itu dan pergi mencari tenaga medis tersebut.


"B-bagaimana kau bisa mengetahui kalau aku Ratu dari kerajaan Celestial?" tidak berselang lama, Emilly kembali membuka pembicaraan.


"Dulu aku adalah mantan Jendral pasukan militer di kerajaan Celestial. Namun, tidak lama setelah pergantian dari Raja William ke Raja Charlie, kerajaan Celestial mengalami banyak perubahan. Pajak untuk penduduk kerjaan tersebut menjadi berkali-kali lipat banyaknya, dengan alasan bahwa kerajaan tersebut menaikkan pajak demi keamanan dan peningkatan kekuatan kerajaan dengan menyewa pasukan-pasukan yang memiliki kekuatan khusus. Tidak masalah bagi mereka yang mempunyai harta lebih, tapi bagi penduduk kalangan bawah, bahkan seperti kami yang ada di desa ini, kami tidak memiliki harta yang cukup untuk membayar pajak tersebut. Walaupun sebenarnya aku mampu untuk tetap tinggal di kerajaan Celestial, tetapi aku memilih ikut mereka yang diusir dari kerajaan karena tidak mampu membayar pajak tersebut. Karena aku merasa pemerintahan sekarang berada dijalan yang salah dan aku tidak ingin tunduk pada pemerintahan seperti itu. Jadi aku memilih untuk membangun desa ditempat yang baru, keluarga baru, lingkungan baru tanpa adanya tekanan dari pemerintah kerajaan yang tidak memperdulikan perasaan rakyatnya sendiri," terpancar sedikit amarah yang ditunjukan pria tersebut melalui kerutan kening wajahnya.


"M-maafkan aku, kalau saja aku tidak menerima tawaran ayahku untuk menikahi Raja Charlie dan menggantikan ayahku," terpasang raut sedih dari wajah Emilly.


"Tidak, ini bukan salahmu, lagipula aku yakin kau juga hanya diperalat oleh mereka. Karena aku begitu menghormati Ayahmu yang bijak dalam memimpin kerajaan Celestial," pria tersebut mencoba memberikan penguatan bagi Emilly, "Apalagi sampai Erina, menantu kami mau untuk tetap tinggal di kerajaan tersebut untuk bisa menjaga dan merawatmu. Pasti ia sangat menghormati dan menghargai dirimu karena Erina adalah orang yang bahkan rela berkorban bagi siapapun yang ia hormati dan sayangi."


"Erina..." seketika kembali terpasang raut wajah sedih Emilly ketika mendengar nama Erina yang disebutkan oleh pria tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah mertua Erina sendiri.


"Aku mengerti, sepertinya Erina yang menolongmu hingga Nyonya bisa sampai di desa ini."


"Ahh, ketemu, kakek di sini rupanya," terdengar suara anak-anak dan langkah kaki kecilnya memasuki kamar tempat Emilly beristirahat.


"Kau dari mana saja, Lucius."


"Lu…cius??" tidak terdengar asing bagi Emilly ketika mendengar nama Lucius.


"Ahh, Lucius ini adalah anak Erina, ayo perkenalkan dirimu sama Nyonya dan tunjukkan sopan santunmu," pria tersebut sekilas memperkenalkan Lucius kepada Emilly.


"Namaku Lucius, salam kenal," dengan muka yang lugu, Lucius memperkenalkan dirinya kepada Emilly.


"Erina...kau bodoh. Sudah membuatku merengut hidup penuh kebahagiaan dan masa depan yang terlihat begitu cerah dari dirimu sendiri. Sebenarnya apa yang kau pikirkan," Emilly seketika berusaha menahan raut wajah sedihnya, namun air matanya tidak dapat ia bendung lagi dan turun membasahi pipinya.