
Tubuh yang mulai melemah bersamaan dengan rasa sakit diseluruh bagian tubuh membuat Kiriko berjalan sempoyongan ke arah istana, tempat kediaman Raja dari kerajaan Celestial.
"Huhh...huhhh..., a..aku tidak boleh berhenti, aku harus kuat," dengan nafas berat sekaligus tersengal, keringat yang terus bercucuran, Kiriko terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri walaupun kondisi tubuhnya seharusnya perlu istirahat ia paksakan untuk mengikuti apa yang diinginkannya.
Langkah demi langkah Kiriko lewati, walaupun menyakitkan, sedikit demi sedikit Kiriko mulai memasuki Istana. Dengan kondisi tangan kanan memegangi perut bagian kanan yang tertusuk dan tangan kiri memegang Katana, ia terus masuk semakin ke dalam.
"Kenapa tidak ada yang menjaga istana ini selain Tomy. Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres," Kiriko menoleh ke sekitarnya sambil terus memegang Katananya kalau-kalau ada musuh yang secara mendadak menyerangnya.
Dengan perasaan yang penuh kewaspadaan, akhirnya langkah Kiriko berhenti dipintu kembar yang besar dan megah, dihiasi dengan patung kuda setinggi 2 meter terpajang rapi disisi kiri dan kanan pintu. Nampak pintu itu memperlihatkan bahwa tujuan Kiriko ada dibaliknya.
Perlahan Kiriko membuka pintu besar itu, dan di dalamnya nampak ruangan yang luas dan memanjang. Sepanjang ruangan tersebut terpajang patung prajurit lengkap dengan armor dan pedangnya ditiap tiang-tiang yang menyangga ruangan tersebut. Namun, perhatian Kiriko hanya terfokus pada satu titik, tepat berada lurus di depannya. Di sana terlihat kursi singasana yang begitu megah, tempat itu sudah selayaknya menjadi tempat bagi pemimpin kerajaan ini. Disana juga terlihat seseorang yang duduk dengan menyilangkan kakinya dan tangan kanannya yang berpangku pada kursi megah sedang menopang dagu. Penampilannya mengenakan jubah dihiasi dengan berbagai pernak pernik emas dan bebatuan murni lainnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang raja.
"Hoo..hoo, akhirnya kau datang juga," ucap orang itu dengan nada sedikit angkuh.
"Huh, maaf saja kalau aku dengan lancang kemari tanpa permisi," balas Kiriko dengan datar.
"Tidak perlu meminta maaf, lagi pula aku sudah menunggu datang kemari, Kiriko Minami," seseorang atau pria berambut kekuningan itu memberikan senyum tipis, namun senyuman itu seolah-olah menyimpan banyak makna lain.
"Haruskah aku memanggilmu ayah, raja Charlie?" kali ini ucapan Kiriko sedikit meninggi namun tetap ia tahan luapan emosinya karena banyak hal yang ingin ia ketahui dari orang yang ia sebut ayah.
"Hahaha, aku akan sangat senang kalau kau masih memanggilku dengan sebutan itu."
"Di mana ibu?" tanpa basa-basi Kiriko menanyakan ibunya.
"Maksudmu Emilly? untuk apa mencarinya, lagipula ia sendiri yang pergi meninggalkan kerajaan ini."
"A-apa maksudmu? bukannya pihak kerajaan mencari keberadaan ibu sehingga ibu pergi meninggalkan desa demi keamanan penduduk di sana?"
"Apa maksudnya ini? aku tidak mengerti apa yang ia katakan. Apa sebenarnya tujuan dia." Kiriko hanya terdiam dengan pikirannya sendiri.
"Kau ingin tahu apa yang aku inginkan? Sejak awal aku ingin menghancurkan kerajaan Celestial ini," raja Charlie menjawab seolah-olah tahu apa yang dipikirkan Kiriko.
"Setelah Emilly melarikan diri, secara tidak langsung kekuasaan penuh akan kerajaan itu berpindah tangan padaku. Perlahan-lahan aku mengikis sedikit demi sedikit kesejahteraan penduduk di sini dengan kenaikan pajak tersebut dan berhasil membuat kudeta dan melahirkan kelompok Archidia. Skenario sempurna ini membuat aku hampir melupakan keadaan Emilly yang aku dengar sudah melahirkan seorang anak, anakku sendiri," kali ini senyum raja Charlie sedikit melebar melihat bahwa anak itu tepat berada di depan matanya.
"Kurang ajar, kau hanyalah orang yang haus akan kekuasaan. Kau bahkan tidak memikirkan Wendy anakmu sendiri," emosi Kiriko semakin meninggi mendengar motivasi raja Charlie.
"Ahh, Wendy ya. Mereka semua hanyalah formalitas. Karena Emilly adalah anak tunggal, aku menikahi salah satu pelayan kerajaan Celestial dan menjadikannya ratu untuk menghindari kecurigaan dan kegaduhan kepemimpinan tunggalku tanpa adanya seorang pendamping. Lagipula dengan adanya Wendy, sebagai calon penerus kerajaan skenario yang aku inginkan menjadi lebih sempurna dengan menghadirkan keberadaan kelompok Archidia yang ingin menggulingkan kerajaan dan bermain dalam pemikiran mereka masyarakat yang mendukung Archidia bahwa Wendy tidak layak sebagai penerus kerajaan karena ia hanyalah wanita muda. Apalagi dengan adanya orang terdekat anakku sekaligus anak dari orang terdekat Emilly, Lucius yang tergabung dalam kelompok Archidia. Aku bisa menjadikannya motivasimu untuk keluar dari zona aman dan ikut bermain dalam skenarioku," dengan bangganya raja Charlie menjelaskan itu semunya.
"T-tidak mungkin, semua yang aku lakukan, semua yang aku tempuh bersama teman-teman selama ini merupakan bagian dari skenario oleh orang tua itu!? Berarti yang kami lakukan semua hanyalah sia-sia," lagi Kiriko terberanga mendengar semua rencana jahat raja Charlie.
"Sejak awal sudah ditentukan bahwa kerajaan Celestial ini akan hancur, menunggu waktu saja sampai benar-benar kerajaan ini menjadi bagian dari Raefus. Itu semua berkat kemampuanku prediksiku yang akurat dan tidak pernah meleset," tiba-tiba raja Charlie berdiri dan turun perlahan dari tangga kecil yang berada dibawah kursi singasananya, "Kiriko, anakku. Ikutlah bersama-sama denganku. Jika kau ikut denganku, maka akan ku pastikan kau tidak akan menderita."
"K..kau sudah gila, ya!? hanya orang-orang orang bodoh yang mau ikut bersama-sama denganmu. Lebih baik aku menderita daripda harus ikut bersama-sama denganmu dan menikmati hasil dari penderitaan orang lain dibalik rencana licikmu itu!!!" maki Kiriko keras kepada ayahnya.
"Licik katamu? Hahaha!!!" raja Charlie tertawa tenang sambil berjalan pelan ke arah pintu ganda yang ada disebelah kiri ruangan dan juga pintu itu mengarah ke selatan.
"Aku tidak licik, hanya saja kerajaan Celestial yang tidak pintar dalam mengatasi suatu kondisi di mana pada saat ini kekuasaanlah yang terutama. Aku merencanakan ini semua karena aku ingin seluruh masyarakat kerajaan Raefus mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Sudah seharusnya aku sebagai bagian dari kerajaan, sebagai perwakilan yang mewakili harapan masyarakatnya untuk mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran itu. Dan kebetulan terbesit dalam pikiranku rencana tersebut, bukannya itu adalah hal yang sempurna dengan rencana tersebut korban jiwa yang ditimbulkan tidak begitu besar," raja Charlie terhenti tepat di depan pintu.
"Kau tahu, semua manusia sejak ada di dunia ini terlahir egois, cepat atau lambat sifat itu akan muncul dalam diri seseorang. Hanya saja kami bergerak lebih cepat dari pihak Archidia. Jadi jangan pikir hanya kami saja yang ingin memiliki kekuasaan," raja Charlie membuka pintu tersebut dan bersamaan dengan itu terdengar hiruk pikuk dari masyarakat dari arah pintu yang dibuka oleh raja Charlie.
Kiriko hanya terdiam mendengarkan semua perkataan ayahnya itu. Perkataan itu membuat dirinya diperhadapkan pada tanda tanya yang besar. Apa yang harus ia lakukan sekarang.