Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 4



"Persiapkan dirimu, sudah saatnya kau keluar dari zona nyamanmu, Jayden," perintah Wolf kepada pemuda yang bernama Jayden.


"Ahh, merepotkan sekali...," ucap Jayden dengan malas.


"Buat apa kemari, kalau hanya datang untuk orang mabuk seperti dia!?" kesalku kepada Wolf.


"Siapa kau yang dengan seenaknya bilang kalau aku mabuk hah, lagipula kau ini siapa, bocah!?" sahut Jayden karena merasa tersinggung.


"Siapa lagi kalau bukan kau!! Kau sebut dirimu tidak mabuk? lalu apa yang kau pegang itu hah!?" aku menunjuk minuman berwarna biru di dalam botol kaca yang ia pegang.


"Ini Pe*si bodoh, ini minuman berkarbonasi yang tidak memabukan," Jayden meneguk minuman itu sampai habis, "puahh, lagian aku masih ingat dosa, mana mungkin aku mabuk."


"Sudah-sudah, tidak ada waktu untuk kalian bertengkar, " Wolf menyudahinya, "Jayden, aku ingin kau datang ke kediaman Putri Wendy. Untuk menunggu perintah langsung dari Putri Wendy dan teman-teman lainnya yang mengawal Putri. Dengan keadaan seperti sekarang ini, pasti mereka telah sudah memikirkan perintah apa yang akan diberikan kepada kita."


"Ahh, mau bagaimanapun aku tidak bisa menolaknya. Dan apa yang ingin kalian lakukan sekarang?" tanya Jayden kepada kami berdua Wolf.


"Kami berdua akan pergi ke gerbang utama, untuk melihat situasi di sana."


"Kau membawa bocah cerewet ini, bisa apa dia? yang ada dia akan menjadi beban nanti."


Belum aku menjawab, Wolf sudah mencegahku terlebih dahulu untuk tidak menjawabnya, "Namanya Kiriko, ia akan menjadi tanggung jawabku selama peperangan yang akan terjadi."


Aku kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Wolf, ia mempercayaiku untuk ikut pertempuran ini. Sebagai seorang wanita, naluriku wanitaku membuatku tersipu malu mendengarnya. "Y-yah, aku tidak keberatan jadi bagian dari tanggungjawabnya, asalkan aku bertemu Lucius."


"Baiklah kalau kau berkata begitu," Jayden berdiri untuk bersiap-siap untuk pergi, "kalau begitu aku pergi," Jayden melangkah keluar toko, lalu ketika berpapasan denganku, ia membisikan sesuatu kepadaku, "aku harap kau berhati-hati kepada Wolf."


"Ehh, kenapa?" tanyaku balik dengan sedikit kaget.


"Karena ia orangnya mesum."


"Ehhhh, B-benarkah!!?" teriakku kaget sehingga terdengar oleh Wolf.


"Hahaha, aku bercanda, dasar bocah," Jayden meneruskan langkahnya.


"K-kau!?" belum aku melesatkan pukulanku ke arah Jayden karena kesal, ia sudah menghilang begitu saja, tanpa jejak sedikit pun, "ke mana orang brengsek itu!?"


"Kau tidak bisa menemukannya, ia menggunakan Stealth Modenya maka ia tidak terlihat sama sekali," jelas Wolf sambil melangkah keluar toko, "lagi pula kalian membicarakan soal apa tadi?"


"Sebaiknya kau tidak perlu tahu."


"Hmm, baiklah... ayo kita ke gerbang utama."


Kami melanjutkan langkah kami menuju gerbang utama, belum sampai kami sudah menemukan pemandangan yang mengerikan, rumah-rumah hancur berantakan dan sebagiannya terbakar. Dan sementara itu muncul sesosok seseorang yang terlihat berdiri dari kejauhan di tengah jalan, sehingga tidak terlihat jelas bentuk dan rupanya.


"Kau melihatnya?" tanyaku kepada Wolf untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat.


"Ya, aku melihatnya."


"Apa kau mengenalnya?" aku pun mengambil pistol dari pinggang untuk bersiap.


"Kalau begitu, tidak ada salahnya aku melakukan ini."


*Dor* aku pun menembakan handgun ke arah orang itu, namun ia menangkisnya dengan cara menerbangkan bongkahan bangunan yang hancur.


"A-apa? bagaimana ia bisa melakukan itu?" kagetku.


"Kemampuan ini, tidak salah lagi, ini adalah Tomy. Ia menggunakan kemampuan Telekinesis, yang mana ia mampu menggerakkan benda mati ke mana pun ia mau."


"Hooo, rupanya aku cukup dikenal oleh orang di sini ya," ucap Tomy yang melangkahkan kakinya mendekat, sehingga jarak kami kurang lebih 50 meter, sehingga terlihat jelas mukanya yang bengis itu, sehingga terlihat sekali muka jahatnya.


Tak lama kemudian, suhu sekitarku berubah menjadi dingin, suhu dingin yang tiba-tiba ini tidaklah wajar.


"Suhu berubah menjadi dingin, tidak salah lagi...," Wolf mulai menduga-duga.


"Lucius!!?" Sambil berteriak, aku pergi mendekati sumber perubahan suhu itu.


"J-jangan pergi!!" teriak Wolf padaku, namun tidak dihiraukan olehku, sehingga mereka aku tinggalkan begitu saja.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan Lucius, ia sedang berdiri membelakangiku. Suasananya pada saat itu, area di sekitar yang digenangi air berubah menjadi es, juga tidak sedikit bangunan ikut membeku karenanya.


"A-akhirnya aku menemukanmu," dengan terengah-engah, aku berbicara dengannya.


Ia membalikan badannya menghadap diriku sejauh 20-30 meter, tidak salah lagi, ia tidak lain tidak bukan adalah Lucius yang aku cari selama ini. Dengan rambut hitamnya yang sedikit berdiri, baju yang serba hitam karena hitam adalah warna kesukaannya. Kornea mata yang hitam itu menatapku begitu santainya seolah-olah tidak mengenalku.


"Kiriko, lama tidak bertemu."


"Apa yang kau lakukan di sini, ayo kita pulang, orang-orang di desa sudah menunggu," pintaku dengan Lucius dengan seolah-olah tidak memperdulikan kekacauan yang ia dan kelompoknya lakukan.


"Pulang? Aku tidak ada punya waktu untuk pulang.”


"K-kenapa? apa kau tidak rindu dengan kami orang-orang di desa?"


"Aku tidak punya waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu, sebaiknya kau saja yang pulang. Akan berbahaya bila kau berlama-lama di sini," Lucius balik kanan dari hadapanku dan melangkah pelan menjauhiku.


"Setelah semua yang kita lewati, semua kenangan yang ada telah kita buat bersama-sama selama bertahun-tahun, dengan mudahnya kau pergi begitu saja dari desa dan meninggalkanku begini, kenapa!!!!??" teriakku kesal kepada Lucius.


"...." Lucius memberhentikan langkahnya namun tidak mengangkat bicaranya.


"Kau bahkan bergabung dengan Archidia, musuh dari kerajaan ini, apa maumu sebenarnya?"


"Aku bukanlah Lucius yang kau kenal dulu, pulanglah, Kiriko," Lucius melanjutkan langkah kakinya.


*dorr* aku menembak mengarah samping kepala Lucius, sehingga hal itu membuat Lucius menghentikan langkahnya. Bersamaan dengan itu aku sudah ada tepat dibelakang Lucius dan menodong dia dengan katanaku.


"Asal kau bisa dibawa pulang, aku tidak keberatan jika memang harus ada pertumpahan darah di antara kita," ucapku dengan menodong katanaku dengan tangan kananku.


"Jangan salahkan aku jika sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi," Ucap Lucius.