Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 11



"Sayonara Kiriko-Chan~" dengan tatapan ngerinya, Tomy mengucapkan hal itu kepadaku, seolah-olah itu merupakan kalimat perpisahan antara kami berdua.


Dengan keadaan panik, aku memikirkan cara untuk bisa menyelamatkan diriku dari situasi yang mengancam ini.


"B-bagaimana ini, jangkauan telekinesisnya luas sekali, kalau aku bergerak, pasti dia menurunkan bebatuan tajam itu ke bawah. Dan kalau aku membunuhnya, bebatuan itu sama saja akan turun ke bawah akibat hukum gravitasi yang menariknya---," ketika sedang memikirkan berbagai cara, aku melihat Tomy yang awalnya menyeringai seketika berubah menjadi kaget, "ekspresinya berubah, jangan-jangan."


Aku langsung berdiri dan langsung bergerak cepat ke tempat yang lebih aman, "ini adalah kesempatanku, pasti ada sesuatu hal yang berubah sampai dia menunjukan ekspresi tadi."


"Dia menyadarinya!! jangan kau pikir bisa kabur," langsung saja Tomy menurunkan bebatuan tajam itu bagaikan hujan ke arahku.


Aku terus bergerak dan menghindari bebatuan itu, kecepatan bebatuan itu hampir sama dengan kecepatanku, jadi kapan saja benda itu mengenaiku. Benturan benda itu ke tanah menghasilkan debu asap yang cukup tebal karena diturunkan secara bersamaan. Sudah banyak serangan yang berhasil aku lewati, akan tetapi salah satu benturan bebatuan itu membuat aku terjatuh ke tanah, yang lebih sialnya lagi masih ada satu bebatuan yang berada tepat di atas kepalaku siap untuk menyerangku.


"Mati kau!!" teriak Tomy bersamaan dengan meluncurnya batu berbentuk duri itu.


Aku pikir saat itu adalah akhir dari segalanya, akan tetapi bersamaan dengan itu juga, ada sesuatu yang menarik diriku begitu cepat dari tempatku terjatuh itu.


Belum sempat apa-apa, mulutku terasa ditutupi oleh tangan seseorang, namun tidak terlihat. Dan lebih mengagetkannya lagi, tubuhku juga ikut menghilang dan tidak terlihat oleh mataku sendiri.


"Kekuatan ini, Jayden," aku teringat peristiwa di mana Jayden tiba-tiba menghilang ketika di depan toko bir di Celestial, yang mana seperti dijelaskan oleh Wolf, kekuatannya ini adalah Stealth.


Tiba-tiba pandanganku teralihkan kepada Tomy yang sepertinya sangat marah dan kesal di tempat di mana terakhir aku terlihat terjatuh olehnya.


"Argghhh!!! Aku pikir aku berhasil membunuhnya," Tidak butuh waktu lama, ia pun pergi dari tempat itu dan menjauh dari kami.


"Ahh, sepertinya sudah aman," ucap Jayden lega dan melepaskan genggamannya sekaligus mengnonaktifkan kekuatannya.


"Terimakasih bantuannya," ucapku dengan sedikit kelelahan.


"Sekarang kau mau apa? kabur lagi?"


"Mana mungkin aku kabur dengan kondisi seperti ini!!? l-lagipula siapa yang kabur!? aku hanya pergi sendiri saja ke Celestial tadi pagi," ucapku kesal karena paham maksud dari perkataan Jayden.


"Kalau begitu, ada titipan dari Wolf untukmu," Jayden memberikan beberapa megazine baru untukku.


"Terimakasih, kebetulan aku sangat membutuhkannya."


"Aku pergi sekarang, ada beberapa hal yang perlu aku lakukan. Dan aku pikir, kau sebaiknya bergerak ke arah pelabuhan sana," Jayden mengatakan itu sambil memberikan arahnya menggunakan tangannya.


"Memangnya ada apa disa--" aku melihat arah yang ia berikan setelah aku ingin kembali melihat Jayden, ia menghilang begitu saja, "dasar tidak sopan," gerutuku.


Aku pun bergerak cepat ke arah pelabuhan, dan yang terlihat di sana ada dua orang sedang berhadapan seperti sedang membicarakan sesuatu.


Dan yang terlihat di sana ialah ternyata Wendy, dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah di sana ada Lucius.


"Owhh, sejak kapan kau tidak sopan begini?" ucap Lucius yang sepertinya aku mengganggu pembicaraan mereka.


"K-Kiriko-chan," disusul oleh suara Wendy yang kaget atas kehadiranku yang tiba-tiba ini.


"Tenang saja, selagi ada aku di sini, aku akan melindungi tuan Putri," ucapku sambil tersenyum kepada Wendy yang ada di belakangku.


"Tuan Putri, seperti yang aku katakan tadi, kau hanya perlu ikut denganku sekarang. Tidakkah kau dengar tuan Puteri? jeritan teman-temanmu yg sedang menuju kematian? bukan kah kau ingin mereka selamat? Ikutlah denganku dan aku janji teman-temanmu takkan terluka," ucap Lucius.


"Hah!? apa maksudmu?" kaget mendengar apa yang diucapkan Lucius.


"Tidak, aku tidak akan pernah ikut dengan kalian, aku tidak akan mensia-siakan mereka yang sudah mau mempertaruhkan nyawa untuk melindungi diriku," tegas Wendy.


Tiba-tiba sekelebat bayangan melewati di atas kepala kami, seketika aku melihat ke arah atas dan terlihat seseorang wanita terbang melewati pelabuhan ini.


"Ahh, sepertinya aku harus kembali," ucap Lucius melihat bayangan itu yang mungkin saja rekannya dan perlahan melayang.


"Mau kemana kau!!?" aku menodongkan Pistol langsung ke arahnya.


"J-jangan-jangan, mereka sudah...," ucap Wendy terbata-bata.


"Sangat disayangkan sekali tuan Puteri, sepertinya salah satu temanmu sudah mencapai garis akhirnya."


"A-apa!?" kagetku.


"Setiap keputusan memiliki konsekwensinya sendiri, dan itu kau sendiri yang menentukannya tuan Puteri, sehingga semuanya itu merupakan tanggungjawabmu sebagai pemegang keputusan, " dan Lucius terbang lebih tinggi dan menjauh mengikuti bayangan tadi, "anggap saja itu sebuah peringatan," tambah Lucius sebelum benar-benar ia menghilang.


Tidak lama setelah itu, Hikari datang menghampiri kami yang berada di pelabuhan.


"T-tuan puteri...," ucap Hikari sembari kelelahan.


"A-ada apa?" jawab Wendy seolah-olah tahu apa yang akan disampaikan oleh Hikari.


"huuhhh..., " Hikari menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Hikari.


Akupun sebenarnya shock mendengar perbincangan antara Wendy dengan Lucius, sehingga akupun ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Wendy, seperti seolah-olah mengetahui apa yang akan di katakan Hikari, dan ini membuat aku tegang dan gugup.


"S-salah satu teman kita telah dibunuh, dan orang itu adalah.... Wolf."


Tubuhku kaku dan bergetar mendengar apa yang di ucapkan oleh Hikari, sepertinya dunia tidak memberikan sedikitpun harapan pada diriku, yang mana harapanku bahwa Wolf tetap hidup, malah takdir berkata lain atas harapanku ini.