Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 20



"Bagaimana keadaannya?" tanya pria itu kepada tenaga medis yang baru saja dibawa oleh wanita yang ternyata adalah istri dari pria tersebut.


Setelah melakukan tugasnya, tenaga medis itu membasuh keringatnya dan menghelakan nafasnya, "Ia sedang mengandung, untuk kondisi kandunganya saat ini cukup baik dan usianya aku tidak tahu pasti, hanya saja kau harus istirahat yang cukup untuk memulihkan dirimu, selamat ya kau sebentar lagi menjadi seorang ibu."


"Wahh, senangnya sebentar lagi jadi seorang ibu,"  ucapan bahagia dari wanita itu.


"A-apa tidak masalah kalau Nyonya ada di sini dalam keadaan seperti itu? apa tidak sebaiknya ia tetap di istana saja." berbeda dari istrinya, pria ini malah terkejut.


Emilly hanya terdiam ketika mendengarnya, menutup mulutnya seolah-olah sebagai cara ia mengekspersikan keadaannya saat ini. Perasaan senang, takut, dan sedih pun bercampur aduk dalam dirinya. Senang karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu, impian dari semua istri ketika mereka sudah menikah. Takut dengan apa yang terjadi dengan dirinya maupun anaknya nanti kalau raja atau suaminya mengetahui tentang kehamilannya. Sedih karena dalam keadaan hamil, ia tidak ditemani oleh sesosok suami pada umumnya, yang senantiasa selalu menemani seorang istri dan memanjakannya untuk mempersiapkan kelahiran buah hatinya, dan semuanya itu tidak ia dapatkan saat ini.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu." 


"Ahh, terimakasih kau sudah mau menolong kami," wanita itu ikut keluar untuk mengantar tenaga medis tadi kedepan pintu rumah.


"A…apa yang harus aku lakukan?" Emilly menutupi wajah dengan kedua tangannya, tidak sedikit ia meremas keras wajahnya menandakan ia tidak mampu lagi membendung rasa sedihnya, hal itu didukung oleh aliran air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipi manis Emilly.


Tidak mengetahui maksud dan hal apa yang menimpa Emilly, membuat sepasang suami istri ini kebingungan, namun mereka tetap menenangkan dan tidak lupa wanita itu memeluk Emilly untuk memberikan pelukan hangat yang menenangkan layaknya pelukan ibu kepada anaknya. Sampai pada akhirnya, Emilly menceritakan hal yang menimpa dirinya sehingga mengapa ia begitu sedih pada saat itu. Menghadapi kenyataan yang begitu berat bagi Emilly, membuat ia sedikit depresi. Sehingga Kepala Desa tersebut menawarkan Emilly untuk tinggal di desa tersebut untuk menenangkan dirinya demi kebaikan calon anaknya juga.


Seiring berjalannya waktu, perut Emilly kian lama kian membesar menandakan pertumbuhan janin yang dikandung oleh Emilly bertumbuh sehat. Emilly tinggal di rumah peninggalan Erina, tidak besar, tidak juga kecil. Namun, cukup baik bagi ia untuk bisa hidup dan tinggal di desa tersebut. Karena tempat tinggalnya merupakan peninggalan Erina, ia hidup tinggal bersama Lucius. Disamping Lucius memang sudah lama tinggal di rumah tersebut, ia juga sekaligus menjaga dan merawat Emilly pada masa-masa hamilnya tersebut. Lucius yang berumur 4-5 tahun memperlakukan baik Emilly dan merawatnya untuk memenuhi segala kebutuhan yang ada dibantu oleh Kepala Desa beserta Istrinya yang ikut turut membantu Lucius memenuhi kebutuhan tersebut. Emilly juga memberikan perhatian yang lebih kepada Lucius, bisa dikatakan hubungan mereka layaknya antara ibu dan anak melihat dari kedekatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.


Kehadiran Emilly yang disambut baik oleh kepala Desa tidak membuat semua penduduknya juga ikut menyambut baik kehadiran Emilly tersebut. Tidak sedikit dari penduduk desa menyindir, mencela, bahkan kadang mereka ingin mengusir ia, karena sebagian dari penduduk desa mengaitkan kebencian mereka terhadap pemerintah Celestial kepada Emilly, mengingat Emilly juga merupakan bagian dari kerajaan maka tidak heran mereka ikut membenci Emilly, dan kepala desa pun tidak bisa membantah pendapat penduduknya dan hanya meminta pengertian kepada penduduknya sekaligus memberikan nasihat kepada Emilly untuk tidak memikirkan apa yang mereka katakan kepadanya. Mau tidak mau Emilly hidup dalam tekanan itu.


***


"Lucius..." 


"Ya?" Sahut Lucius ketika Emilly memanggil namanya ketika Lucius sedang asik sendiri dengan mainan buatan tangannya sendiri dan Emilly tengah duduk kursi sedang hamil tua, sekitar umur kurang lebih 9 bulan.


"Kau sayang dengan aku tidak?"


"Hmm, tentu saja. Aku sayang sekali sama Bibi Emilly," balas Lucius dengan muka polosnya yang penuh dengan semangat.


"Kalau begitu kau mau berjanji buat bibi tidak?"


"Hee? Apa itu?" Lucius yang kebingungan mendekat kepada Emilly dan ikut duduk di sampingnya.


"Kalau anak bibi sudah lahir kau mau tidak menjaga, menyayangi, dan melindunginya sama seperti yang kau lakukan saat ini?" pinta Emilly sambil menunjukan senyum manisnya.


"Tentu saja, aku bahkan tidak sabar untuk bisa mempunyai teman dan bermain bersama dengan adikku nanti," Lucius memanggil anak dari Emilly dengan sebutan adik, merupakan panggilan yang sudah lama direncanakan oleh Lucius sendiri ketika ia mulai tinggal bersama Emilly.


"berjanjilah... walaupun aku tidak ada kau harus menjaganya," seketika senyum Emilly sedikit berubah menjadi kecut, ia seperti mempikirkan sesuatu hal yang membuat dirinya sedih.


"Maksud bibi?" sulit bagi Lucius untuk memahami penyampaian kata oleh Emilly yang memiliki pengertian luas.


"Ahh, sepertinya sudah larut malam. Lebih baik kita sekarang beristirahat," seketika Emilly mengubah suasana canggung tadi. Lucius tidak ambil pusing dengan perkataan abstrak Emilly tadi, yang ia pahami hanyalah agar ia bisa menyayangi calon adiknya nanti dengan baik.


Beberapa hari setelah perbincangan itu, Emilly melahirkan seorang bayi perempuan yang sama cantik dengan ibunya yang dibantu tentunya oleh kepala desa.  Dan anak tersebut diberi nama Kiriko Minami.


***


3 bulan berlalu, Kiriko menangis layaknya bayi pada umumnya dirumah mereka bertiga Lucius. Kebetulan pada saat itu, Emilly keluar ke rumah kepala desa dan Kiriko dititipkan kepada Lucius.


"Oeee...oee!!!!" tangisan Kiriko kian lama kian mengelegar.


"cup-cup-cup, adik jangan nangis... bibi lama sekali ya," Lucius mencoba menenangkan Kiriko namun tak kunjung berhenti tangisannya.


Karena Emilly tak kunjung balik, dengan kekhawatirannya Lucius menyusul Emilly ke tempat kepala desa dan meninggalkan Kiriko. Dari kejauhan Lucius mendengarkan suara orang sedang berbicara, keras namun tidak terlalu jelas apa yang dibicarakan, namun suara itu berasal dari tempat kepala desa. Karena rasa penasaran Lucius tinggi, ia menyelinap dan mengintip melalui jendela rumah kepala desa yang mengarah kepada ruang tengah. Di sana ada Emilly, kepala desa, dan istrinya sedang berbincang. Namun, situasi yang dirasakan oleh Lucius pada saat itu adalah ketegangan. 


"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?" tanya kepala desa kepada Emilly.


"Iya, aku sudah membulatkan tekadku," Emilly memancarkan wajah sedihnya.


Lucius yang mengintip menjadi kebingungan, "Bibi?" gumamnya.


"Mau bagaimana lagi!? Tidak ada cara lain bagiku selain pergi dari desa ini, keberadaan kalian jadi terancam akhir-akhir ini, karena adanya diriku di sini yang terus dicari oleh kerajaan Celestial. Aku tidak mau orang lain tersakiti bahkan menderita hanya karena keegoisanku semata, bahkan jika itu memang harus mengorbankan orang yang paling aku sayangi sedikitpun. Sudah cukup Erina menderita olehku, aku tidak mau lagi orang yang aku sayangi menderita hanya oleh diriku" ungkap Emilly penuh dengan kesedihan, sehingga secara tidak sadar ia membentak kedua orang tua yang sudah banyak membantunya selama tinggal di desa ini.


"Maafkan aku... aku tidak bermaksud..." pinta maaf Emilly.


"Kau tidak salah, kami mengerti situasimu saat ini. Memang benar tiba-tiba ada pergerakan agresif dari pihak kerajaan akhir-akhir ini yang membuat warga di sini menjadi resah. Hanya saja kami..."


*kreekk* terdengar bunyi suara ranting pohon yang terinjak dari luar. Bunyi tersebut berasal dari Lucius yang kembali ke rumah setelah mendengar perbincangan para orang tua tadi.


Tidak lama setelah Lucius kembali, Emilly pun datang.


"Ahh, maaf aku kelamaan," ucap Emilly seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan langsung menghampiri Kiriko yang sudah sejak dari tadi merengek.


"Iya," jawab ketus Lucius.


Malam itu suasana menjadi canggung, Lucius yang menjadi dingin membuat Emilly beberapa kali berusaha untuk mengajak berbicara Lucius walaupun hanya sekedar bercanda. Namun, jawabannya tetap saja dingin dan ketus. Emilly tahu kalau Lucius mendengar perbincangan mereka sehingga Emilly menjadi sedih karenanya. Sikapnya yang dingin terus saja sampai tidur malam pun mereka tetap dalam situasi seperti itu.


***


Pagi-pagi sekali Emilly bangun dari tidurnya dan berusaha agar tidak membangunkan Kiriko dan Lucius. Emilly sedang mempersiapkan sesuatu keperluan orang untuk perjalanan jauh. Ketika Emilly selesai mempersiapkan barangnya, ia kembali ke Kiriko yang sedang tertidur dikasur tempat ia tidur.


"Maafkan Ibu, suatu saat kau pasti mengerti," sambil meneteskan air mata, Emilly mencium kening Kiriko untuk terakhir kalinya.


Beranjak dari kasur, Emilly juga berniat untuk menghampiri Lucius di ruang lain. Akan tetapi Lucius ternyata sudah berdiri di ruang tengah, seperti sudah menunggu bahwa ia mengetahui Emilly akan ke kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Lucius dengan ketus.


"Lucius, aku..."


"Aku tanya kau mau kemana!?" tiba-tiba Lucius membentak Emilly.


Sesaat, Emilly sedih melihat Lucius yang tiba-tiba saja membentaknya, namun ia tidak bisa menunjukan wajah sedihnya berlama-lama dan ia mencoba untuk menenangkan Lucius.


"Lucius... Aku ada beberapa urusan penting di luar sana, jadi aku harus pergi sekarang."


"..." Lucius hanya diam dan membuang wajahnya dari hadapan Emilly.


"Kau tidak ingat dengan janji kita berdua?" Emilly mendekatkan dirinya dan sedikit membungkuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Lucius yang masih kecil.


Tiba-tiba, Lucius perlahan memperhadapkan wajahnya kepada Emilly.


"A… aku tidak lupa kok."


"Baguslah kalau begitu." 


"Tapi aku tidak mau Bibi pergi, aku ingin bibi selalu menemani kami di sini," Lucius dengan matanya yang berkaca-kaca akhirnya mengeluarkan beberapa tetesan air mata kesedihan karena ia tahu kalau Emilly akan pergi meninggalkan mereka.


"Lucius..." Emilly sedikit kaget.


"Aku tidak mau Bibi sama seperti ibuku. Ia pergi dan berjanji akan kembali lagi untuk menemui aku di sini. Aku merasa kesepian ketika ibuku tidak ada di rumah. Tapi ketika ada Bibi di rumah, rasa kesepian itu pergi menjauh dariku, bibi sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri. Pokoknya aku tidak mau bibi per-..." seketika Lucius pingsan.


"Maafkan aku Lucius, ini demi kebaikan kalian juga, demi kebaikan kita," Emillylah yang membuat Lucius jatuh pingsan dengan memukul bagian leher belakangnya. Dengan terpaksa ia lakukan karena ia tetap melakukan apa yang ia yakini itu benar.


Lucius dibaringkan dikursi ruang tengah rumah oleh Emilly, sesaat Emilly memandang sedih Lucius mengingat kedekatan mereka selama setahun lebih di desa tersebut.


"Aku harap kau jaga Kiriko dengan baik, Lucius," itu menjadi kata-kata terakhir yang disampaikan Emilly sebelum meninggalkan rumah itu dan pergi jauh meninggalkan desa tersebut tanpa tahu kemana ia akan pergi.