
Perjalanan yang aku dari peristirahatan kami sampai Celestial ternyata cukup memakan waktu yang lama, 3-4 jam perjalanan yang aku tempuh untuk bisa sampai Celestial, dan matahari pun sudah menunjukan rupanya dilangit biru.
"Ahh, sampai juga. Kalau dipikir-pikir lumayan jauh juga jaraknya, dan selama itu pula Wolf menggendongku, kenapa dia mau repot-repot menolong aku sejauh itu," pikiranku campur aduk, antara malu dan bingung atas perbuatan Wolf kepada diriku, sehingga itu membuat dadaku berdegup kencang, entah apa yang menyebabkannya, itu terjadi begitu saja.
Dari balik hutan, aku sudah melihat dengan jelas gerbang utama Celestial, untuk memastikan tidak ada penjagaan oleh prajurit di sana. Mengingat Celestial sudah dikuasai oleh Archidia.
"I-ini aneh, kenapa tidak ada prajurit yang berjaga?" gumamku dengan merapatkan diri dibalik pohon yang ada dihutan.
Akupun menutup diriku dengan jubah hitam, untuk menyembunyikan identitas, takut-takutnya nanti ada mereka yang mengenaliku. Dan akupun perlahan keluar dari hutan melewati jalan utama untuk masuk ke dalam Kota Celestial.
Dengan waspada aku mulai memasuki kawasan kota, tidak ada gelagat yang mencurigakan di kota itu, yang ada hanyalah bekas-bekas kerusakan yang diakibatkan pertarungan yang terjadi sebelumnya. Walaupun kota ini dikuasai Archidia, namun orang-orang tetap beraktivitas seperti biasanya.
Ketika sudah memasuki kawasan kota, aku berusaha untuk mencari informasi mengenai Archidia. Dan langkahku pun terhenti di depan toko Bir, tempat di mana pertama kali aku bertemu dengan Jayden.
Dengan perlahan, aku mulai melangkah masuk ke dalam toko, melihat yang ada di dalam, suasananya seperti pada toko minuman pada umumnya, ada banyak orang-orang yang datang untuk minum-minum. Aku pun ikut masuk ke dalam keramaian itu dan langsung menghampiri pegawai toko untuk mencari informasi mengenai keadaan kota sekarang, sebagai tahapan untuk menggali informasi mengenai Archidia.
"Cocktail dingin," pintaku singkat pada pegawai toko dan duduk dikursi tempat bar mini.
"Baiklah, tunggu sebentar."
"Aku dengar baru-baru ini ada kekacauan ya di kota ini?" aku mulai membuka pembicaraan selagi pegawai menyiapkan minuman.
"Yah, itu baru saja terjadi kemaren," jawabnya dengan terus berfokus pada pekerjaannya.
"Kekacauan apa yang dimaksud?" aku terus mencoba memancing pembicaraan.
"Benar yang dikatakan oleh Wolf, bahwa separu dari prajurit berkhianat, begitu ya... pasti mereka sedang menikmati kemenangan mereka di istana," pancingku lagi dengan hati-hati.
"Tidak, kau salah, mereka pergi sejak kemaren malam."
"Bingo, pergi? pergi kemana mereka? bukannya mereka lebih baik beristirahat atau merayakan kemenangan begitu?"
"Aku dengar, mereka pergi ke Albatros, entah apa yang mereka lakukan di kota itu."
"A-apa, itukan kota di mana yang menjadi tujuan perjalanan X-Heart selanjutnya. Kalau kemaren mereka sudah berangkat, berarti mereka sudah lebih dahulu sampai di kota Albatros. Dan kalau X-Heart sampai di sana, maka akan gawat bagi mereka dan Tuan Puteri Wendy," pikirku sambil sedikit mengigit bibir bawahku.
"Ngomong-ngomong...," heran pegawai itu.
"G-gawat, apa aku ketahuan!?"
"Kau belum minumannya, kalau tidak diminum segera, nanti enggak dingin lagi."
"A-ahh, iya, aku minum sekarang, hampir saja," akupun meminumnya dengan sekali teguk.
"Kalau begitu aku permisi dulu, ini bayarannya," aku berdiri dan memberikan uang koin di atas meja bar, dan berlalu begitu saja tanpa di curigai pegawai toko.
"Kalau dipikir-pikir lagi, benar sekali langkah yang dilakukan Archidia untuk pergi ke Albatros, yang mana kota itu dikenal aman dan penjagaan yang cukup ketat, juga tidak termasuk dalam kerajaan manapun. Dan Archidia pasti sudah memperkirakan tujuan selanjutnya dari X-Heart adalah kota itu, karena kota itu merupakan kota yang menjadi destinasi yang tepat bagi kelompok pelarian seperti kami. Dan alasan Archidia tidak melakukan penjagaan di Celestial, karena tidak mungkin bagi X-Heart untuk kembali ke Celestial, Archidia sudah berasumsi bahwa X-Heart pasti memperkirakan bahwa Archidia sudah menguasai Celestial dan melakukan penjagaan ketat. Dan semuanya itu salah, tidak aku sangka Archidia dengan mudahnya memperkirakan rencana yang kami buat, seperti ada yang salah," dengan gelisah aku berlari keluar dari kota Celestial.
Langkahku terhenti tepat di depan gerbang, "tidak akan sempat jika aku menyusul X-Heart, berarti aku akan langsung ke Albatros, mudahan masih sempat," aku lanjut berlari, kali ini aku lari menggunakan kemampuan Fast Moveku, berharap sempat mendahului X-Heart untuk memberitahukan bahwa Albatros sekarang tidak aman untuk disinggahi, "Wolf-kun, aku harap kalian baik-baik saja."