
Pagi-pagi sekali, kami sudah pergi meninggalkan Albatros menuju desa Elantris seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dengan sisa anggota dari X-Heart yang ada, aku, Wendy, Alkasa, Hikari, Jin, Ayumu, dan Star. Kami menyusuri hutan untuk bisa sampai ke Elantris. Tak terkecuali Jayden, ia ditugaskan untuk memata-matai pergerakan Archidia, dengan kekuatan Kamuflasenya, maka tugas pengintaian itu akan cukup mudah untuk ia lakukan.
Sepanjang perjalanan, aku ada berada dibarisan paling belakang, sehingga ada sedikit jarak antara aku dan teman-temanku yang lainnya. Aku hanya terdiam karena ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, walaupun mereka teman-temanku yang lainnya terdengar asik mengobrol satu dengan yang lainnya. Tetapi aku tidak menghiraukannya bahkan tidak mengetahui apa yang sedang mereka perbincangkan, karena aku terlalu memikirkan sesuatu hal yang mengganggu pikiranku sendiri.
"Hei, kau kenapa?" Alkasa membuyarkan pikiranku, sehingga itu sedikit membuatku kaget.
"Ahh, t-tidak apa-apa," jawabku singkat.
"Kau bisa ditinggal teman-teman yang lainnya loh."
"Kau benar," aku membenarkan perkataan Alkasa, yang mana aku baru menyadari bahwa teman-teman yang lain semakin jauh jaraknya dari jarak awal perjalanan tadi.
"Apa kau masih kepikiran soal lomba kemaren? Walau kau kalah, jangan terlalu diambil hatilah."
"Kau benar, aku masih memikirkan soal lomba kemaren. Tapi aku tidak mempersoalkan kalah menangnya, melainkan ada sesuatu yang baru aku ketahui mengenai kekuataanku ketika lomba itu berlangsung. Dan bahkan, bisa saja sesuatu itu merupakan sebagian kecil yang aku ketahui tentang kekuataanku ini, hal ini membuat aku menyadari bahwa hanya sebagian kecil saja yang baru aku ketahui mengenai kekuatanku ini, " kembali aku memikirkan hal yang mengganggu pikiranku selama dalam perjalanan tadi, "hei, kalau boleh tahu, kenapa kau mengajak aku untuk berlomba lari kemaren?" tanyaku pada Alkasa tanpa mengubah pandangan ke depan.
"Hmm, kenapa ya? mungkin karena penasaran saja. Seberapa cepat kau bisa bergerak," jawabnya santai, seolah-olah tidak menganggap serius pertanyaanku.
"Haaa, kita sudah sampai!!" teriak Hikari dari barisan depan.
Setelah memakan waktu setengah hari perjalanan, akhirnya kami sudah melihat sebuah desa yang cukup kecil dari atas bukit. Kalau dilihat sekilas, mungkin ada 30-50 rumah saja yang terdapat dalam desa itu. Dan benar, ada Altar tinggi memanjang yang ada di tengah-tengah desa itu, sehingga rumah-rumah di desa ini berbentuk melingkar, melingkari Altar itu sebagai pusat desa ini sendiri.
"Baiklah, ayo kita bergegas untuk ke desa itu," ucap Alkasa sembari melanjutkan langkahnya untuk melanjutkan perjalanan menuju desa.
Baru memasuki desa, kami sudah disambut penduduk sekitar dengan tatapan asing mereka. Mungkin karena desa ini jarang sekali dikunjungi oleh orang asing, apalagi orang asing yang tergabung dalam kelompok seperti kami, yang membawa peralatan tempurnya masing-masing. Wajar saja para penduduk saling berbisik satu sama lain, karena penampilan kami yang memang terlihat jelas bahwa kami merupakan seorang petarung.
"P-perasaan apa ini!?" aku merasakan sesuatu yang berbeda, rasanya seperti energi dalam diriku ditarik keluar.
"Hei, apakah kalian merasakannya?" tanya Hikari.
"Aku pikir cuman aku saja yang merasakannya," balas Star.
"Itu adalah efek dari kita yang memiliki sihir maupun kekuatan supranatural. Dengan kata lain, sekarang kita tidak bisa menggunakan sihir sekarang, karena kemampuan kita sudah ditarik atau dihilangkan sementara oleh Altar itu," jelas Wendy.
"J-jangan bercanda, aku juga merasakan hal sama seperti yang mereka rasakan," gumamku dalam hati dengan gelisahnya
"Huuuuhhh," Hikari mencoba mengeluarkan kekuataannya, "k-kau benar, aku tidak bisa mengeluarkan magmaku," ucap Hikari seolah tidak percaya bahwa ia tidak bisa menggunakan kekuatannya.
*dorr* suara Pistol dari tanganku memecahkan suasana saat itu, yang mana aku arahkan tembakannya ke atas.
"A-apa yang kau lakukan Kiriko-chan? kau membuat kaget saja," semua pandangan orang-orang disekitar teralihkan kepadaku, yang membuat tembakan mendadak tanpa peringatan apapun.
"I-ini gawat," gumamku dengan setengah suara, sambil terus memperhatikan arah tembakku tadi.
"Hah!? suaramu yang kecil atau telingaku yang kurang mendengar akibat suara tembakanmu tadi?" ucap Alkasa sambil mengorek telinganya.
"Ada apa Kiriko-chan? kenapa kau terlihat pucat dan gelisah begitu? kau tidak enak badan, ya?" tanya Wendy yang mendekat padaku.
"Perhatian semuanya!!! kita sekarang keluar dari desa ini!!! sekarang!!!" teriakku kepada teman-teman semuanya.
"Ehh, kenapa tiba-tiba---"
"Sudahlah, tidak ada waktuku untuk menjelaskannya lagi, ayo sekarang kita tinggalkan desa ini!!" dengan tergesa-gesa aku terus mendesak mereka untuk mengikuti keinginanku, sampai-sampai perkataan Wendy pun aku potong.
"Hahhh, walaupun kau ingin pergi dari desa ini sekarang, sepertinya sudah terlambat," ucap Alkasa sambil memandang tajam ke arah yang berlainan denganku, lebih tepatnya di arah belakangku.
"Apa maksud---" alangkah terkejutnya ketika aku melihat ke arah yang sama dengan apa yang Alkasa lihat. Ternyata yang Alkasa lihat ada dua orang, laki-laki dan perempuan yang merupakan dari bagian Archidia, yaitu Tomy dan satu wanita asing yang tidak aku kenal.
"Siapa wanita itu?" tanyaku kepada Alkasa dengan suara setengah berbisik.
"Mystogirl, dialah yang membunuh Wolf, kemampuannya yang cukup merepotkan itu dengan mudah membunuh Wolf."
Mendengar hal itu, ada perasaan dendam yang muncul ketika mengetahui bahwa wanita itulah yang sudah membunuh Wolf, dan juga ada perasaan lainnya yang muncul secara bersamaan, yaitu perasaan takut.
"Tapi tidak ada yang perlu ditakutkan bukan, mengingat masih ada kau di sini yang bisa melindungi kami." ucap Alkasa santai.
"Aku tidak bisa menggunakan kekuataanku," dengan sedikit tertunduk aku, aku mengucapkan hal itu dengan berat hati, "maka dari itu aku bergegas untuk mengajak kalian pergi dari desa ini tadi."
"E-ehh!!!??" serentak teman-temanku terkejut mendengar pernyataanku.
"Jadi selama ini kekuatanmu adalah bagian dari sihir?" tanya Alkasa
"Iya, awalnya aku menyadari kalau kekuatanku merupakan salah satu kekuatan yang pantang dalam desa ini, ketika perasaan yang sama dirasakan oleh teman-teman lain yang menggunakan sihir, yang mana perasaan yang tidak wajar yang dirasakan saat itu, ikut aku rasakan juga. Namun, karena kurang begitu yakin, aku mencoba menembakkan Pistolku untuk lebih memastikannya lagi, dan benar saja, aku tidak bisa melihat proyektil yang dikeluarkan Pistol yang aku tembakkan tadi. Ini menandakan bahwa kekuatanku juga ikut menghilang karenanya. Dan satu hal lagi yang membuatku tidak habis pikir adalah, apa bentuk dari kekuatanku ini sebenarnya?" kerutan keningku terlihat karena berpikir terlalu keras.