
Dengan keadaan yang shock akibat apa yang aku lihat sebelumnya, aku keluar kembali dari gerombolan orang di papan informasi.
"Y-yang benar saja, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat...," gumamku dengan perasaan shock, bingung sekaligus marah menyelimuti diriku.
"A-aku tidak percaya, aku tidak percaya ini," melihat kenyataan tersebut, aku pergi dengan perasaan marah untuk mencari tahu info lebih mendalam mengenai informasi di papan tadi.
Aku pun pergi mencari orang yang menempelkan daftar nama buron anggota Archidia, dan tidak butuh waktu lama, aku menemukan sekelompok prajurit kerajaan. 4-6 orang banyaknya sedang membawa beberapa lembar kertas, dan sedang menempelkan kertas di papan info lainnya di sudut toko-toko. Sehingga aku, tanpa ragu-ragu menghampiri kelompok prajurit itu untuk mencari tahu kepastian info yang mereka sebarkan itu.
"Heii kalian, darimana kalian mendapatkan informasi buronan ini!!??" tanyaku kepada salah satu prajurit yang sedang menempelkan info itu dengan nada sedikit marah.
"A-apa yang kau katakan anak kecil?" balik ucap salah satu prajurit menanyakan maksud dan tujuanku datang.
"Apa kalian tuli hah!? aku bilang dari mana kalian dapat informasi ini??," aku pun merobek salah satu kertas daftar buron milik Lucius, " terutama orang ini!? apa kalian yakin dia merupakan salah satu dari buronan yang kalian cari!?" aku memaki mereka sambil menunjukkan kertas itu ke diri mereka masing-masing.
"Heii, nak tenanglah!" salah satu prajurit ingin menenangkanku dengan menarik pundak kananku.
Dengan sigap aku menunduk, memutar badanku 180° kebelakang dan menendang kaki prajurit yang memegang pundakku tadi.
"Jangan macam-macam denganku orang tua!" tanpa aku sadari mengucapkan kata-kata yang aku anggap sedikit keras.
"Beraninya kau!!" prajurit yang lain bersiap untuk menyerangku.
"Hentikan!!!" belum prajurit itu melancarkan serangan, perintah yang cukup keras dan tegas terdengar berasal dari belakang prajurit. Sehingga sontak kami terdiam dan mencari sumber suara itu.
"Jendral Wolf!" para prajurit itu tanpa pikir panjang langsung berbaris untuk memberikan sikap diri hormat kepada orang yang mereka sebut Jendral Wolf.
Dengan pelan Wolf datang mendekat kepadaku, dengan rambut pendek kuning, muka yang cukup tampan dari Lucius disertai lengkap dengan penampilannya yang menggunakan baju zirah besi bercorak merah putih dan diperlengkapi oleh pedang dipinggang kanannya. Ia menghampiriku.
"Apa yang membuat kalian ribut dengan anak-anak seperti dia?" maki Wolf kepada prajurit-prajurit itu.
"Anak kecil kau bilang!?" belum prajurit itu menjawab, aku sudah mengungkapkan kesalku kepada Wolf.
"Hei, jaga ucapanmu!!" sahut salah satu prajurit atas ucapanku yang dianggap lancang terhadap seorang jendral.
"Owhh, lantang juga ya kau, kalau boleh tahu, siapa dan apa yang membuatmu sampai ribut-ribut ditempat ini?" tanya Wolf padaku.
"Itu semua berdasarkan info dari prajurit yang berhadapan langsung dengan anggota Archidia," jelas Wolf.
"Dari mana kau yakin kalau mereka anggota Archidia!!?" kesalku lagi.
Tanpa aku sadari atas kegaduhan yang aku buat membuat orang-orang melihat dan merasakan takut, resah dan penasaran atas apa yang terjadi dengan kegaduhan kami.
"Hmm, lebih baik kau ikut denganku, aku tidak ingin membuat orang-orang di sini menjadi lebih takut."
"B-baiklah, kali ini aku setuju denganmu," karena tidak mau menimbulkan kegaduhan, akupun mengikuti ke mana perginya Wolf beserta prajurit-prajurit tadi.
Akupun dibawa ke pos pangkalan yang menjadi tempat kerja Jendral Wolf, akupun dipersilahkan duduk dan disambut baik oleh Wolf.
"Jadi, bisa kau ceritakan, mengapa kau begitu tertarik dengan orang itu?" yang di maksud Wolf adalah Lucius.
Akupun menjelaskan panjang lebar alasan dan tujuanku, dengan harapan bahwa orang yang mereka yakini buronan ini bukanlah orang jahat.
"Hmm, begitu ya, sayang sekali. Mau bagaimanapun baiknya dia dahulu, sekarang dia bukanlah Lucius yang kau kenal dahulu."
"Apa maksudmu hah!?" aku menghempaskan meja sebagai tanda kekesalanku.
*tong-tong-tong* Bunyi lonceng kerajaan, merupakan suatu tanda pemberitahuan ada ancaman dari luar maupun dalam kerajaan.
"L-lapor Jendral, ada kelompok orang yang menerobos masuk dalam gerbang utama!!" prajurit datang memberikan laporan dari gerbang utama.
"Siapa mereka!?" tanya Wolf
"B-buronan kerajaan Jendral, Archidia telah menyerang kita!!"
"Tchh, lebih cepat dari yang kami duga..," kesal Wolf, "sekarang kau bisa melihat sendiri dengan mata kepalamu, apakah yang kau yakini itu benar atau salah," ucap Wolf padaku.
"Baiklah, aku akan ikut untuk melihat sendiri buronan kerjaan ini," akupun berdiri dan mempersiapkan diri untuk ikut bertarung bersama prajurit-prajurit kerajaan untuk melindungi kerajaan dari serangan buronan itu.