Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 24



"Argghhh...," Kiriko mencabut pisau kecil yang telah menembus bagian perut kirinya. Kiriko mengeluarkan nafas yang berat melalui mulutnya dan mengeluarkan keringat yang begitu banyak akibat. Tidak seperti biasanya Kiriko selelah begini, ini semua akibat dari kekuatan yang baru saja ia gunakan, menguras banyak tenaga dan membuat semua anggota tubuh terasa terkoyak-koyak karena melalukan gerakan yang begitu cepat, dan membuat tubuhnya bergerak cepat itulah yang memberikan tekanan yang begitu berat pula bagi semua anggota tubuhnya.


Ia merobekkan bagian lengan bajunya untuk menutup luka dibagian perutnya. Walaupun tertusuk, tapi tidak begitu dalam luka yang ia terima sehingga tidak begitu parah luka yang ia terima, namun mengeluarkan darah yang cukup banyak sehingga ia memperban bagian perutnya dengan kain bajunya sendiri.


Kiriko mencoba berdiri, namun agak sulit karena badannya yang begitu lelah dan sepertinya perlu istirahat yang cukup untuk memulihkannya. Akan tetapi tidak ada waktu baginya untuk beristirahat, sehingga ia terus berusaha untuk berdiri bagaimana pun caranya dibantu dengan kedua tangannya.


Sekali lagi ia menatap tubuh kaku Tomy yang terbaring ditanah. Kiriko hanya bisa menatapnya saja, tanpa memberikan pemakaman yang layak baginya karena kondisi tubuh dan waktu yang tidak memungkinkan. Dan entah kenapa Kiriko hanya bisa memberikan tatapan yang sedih, padahal Tomy adalah orang sudah berbuat jahat padanya.


"Aku tidak begitu mengerti... padahal kau bisa saja membunuhku waktu itu," yang Kiriko maksud adalah pisau yang sudah menusuknya. Lukanya tidak begitu dalam seolah-olah Tomy memang dengan sengaja tidak


mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menusuk Kiriko. Padahal mudah sekali baginya untuk bisa memberikan luka yang fatal dengan memberikan tusukan yang dalam dan mengenai bagian vital Kiriko dan membuatnya mati. Seakan-akan Tomy tidak ingin membunuh Kiriko.


Menyadari waktu yang ia miliki tidak begitu banyak, Kiriko kembali melanjutkan perjalananya dengan berbagai luka dan rasa sakit yang ia terima.


***


Lucius dan Wendy yang menggendong anak dari Kiriko akhirnya sampai pada suatu desa kecil di dalam hutan.


Di desa itu sudah menunggu beberapa anggota X-Heart lainnya.


"Di mana Kiriko?" tanya Alkasa ketika mereka berdua menghampiri mereka.


"A..ano, Kiriko-chan..," Wendy ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sendiri bingung untuk mencari kata-kata tepat untuk mengatakannya.


"J-jangan, Kiriko sudah...," Hikari nyerocos.


"Jangan menarik kesimpulan sembarangan sampai orang mengatakan yang sebenarnya," pukul Star pelan kepala Hikari. Hikari hanya memonyongkan bibirnya tanda kesal.


"Ia pergi meninggalkan kami," jawab singkat Lucius.


"Apa!? Bukannya kau sudah berjanji untuk membawanya kembali?" Alkasa sedikit kesal, karena Lucius yang berjanji membawa kembali Kiriko itu gagal membawanya.


"Tenang saja, aku tidak akan mengingkar janjiku, ada beberapa alasan kenapa kami tidak bisa membawanya kembali."


"Mau sampai kapan-"


"Sttt! Jangan ribut, kalian akan membuatnya terbangun kalau kalian ribut," Wendy berusaha menenangkan anak Kiriko yang mulai gelisah dari tidurnya karena keributan yang dibuat Lucius dan Alkasa.


"Ehh? Itu anak siapa?" bingung Alkasa.


"Ini anak Kiriko," ujar Wendy pelan.


"Ehh!!?" serentak Alkasa dan Hikari terkejut.


"Baiklah, mungkin ini sangat mengejutkan sekaligus membingungkan bagi kalian, tapi dengarkan dulu penjelasan kami," Lucius dan Wendy menjelaskan berbagai alasan mengapa mereka tidak bisa membawa Kiriko kembali dan mengapa sampai Kiriko sudah bisa memiliki anak.


"Hmm..., aku mengerti sekarang alasan mengapa kalian tidak bisa membawanya kembali sekarang," ucap Alkasa.


"Uuuhhh~, manis sekali..., siapa namanya?" pandang Hikari gemas melihat anak Kiriko yang ditimang Wendy.


"Umm... benar juga ya. Kiriko belum memberikan nama anaknya sendiri ngomong-ngomong," Wendy mengalihkan pembicaraannya dan menatap Lucius.


"Nama, ya?" gumam Lucius.


"Kenapa tidak diberi nama Himiko saja?" tiba-tiba muncul suara pria tua yang tidak asing lagi didengar, dan sosok itu muncul dari dalam rumah.


"K-kakek?" kaget Lucius.


Ya, pada saat ini mereka sedang berada di desa Raefus, asal dan tempat di mana Lucius dan Kiriko dibesarkan dahulu.


"Bukankah kalian dua Kiriko dulu pernah membicarakannya?" ucap pria yang sudah mengasuh mereka sejak kecil dulu.


***


"Lucius-kun?"


"Apa?"


"Gimana ya rasanya menjadi orang tua dan mempunyai anak?"


"Hah?" bingung Lucius dengan pertanyaan Kiriko.


"Habisnya, kenapa orang tuaku meninggalkanku dan tidak mau merawatku. Apakah segitu sulitnya ya punya anak?"


Lucius merasa sedih dan hanya bisa diam mendengar pemikiran polos Kiriko tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.


"Ahh, kalau aku punya anak perempuan nanti, akan aku kasih nama Himiko. Kalau cowok namanya Himeji," ucap enteng Kiriko dengan senyuman polosnya.


"Kau ini," seperti biasa, Lucius tidak banyak bicara dengan Kiriko, hanya saja ia begitu menyayangi Kiriko seperti adik sendiri.


"Haha, ada-ada saja kalian berdua," gumam pria yang mereka panggil kakek sekaligus kepala desa yang tidak jauh dari tempat mereka berduduk sedang berjalan-jalan.


***


"Ehh, kalian pernah berpikir punya anak bersama," pemikiran pendek itu terlontar dalam pikiran Hikari.


"Bodoh, tidak mungkin mereka berpikir seperti itu sebagai adik kaka," lagi Star menegur Hikari.


Lucius tidak mengindahkan perkataan Hikari dan berpikir. "Himiko, ya? Boleh juga."


"Kau yakin?" tanya Wendy.


Lucius hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang ia katakan.


"Himiko Minami, itulah namanya. Aku pikir ini tidak ada salahnyakan? Kiriko."


"Umm, nama yang cantik," Wendy memuji nama Himiko, anak yang sedang digendongnya.


"Dan kau sekarang ingin pergi sendiri menyelamatkannya ke Celestial?" Alkasa mengalihkan pembicaraan dan memastikan rencana Lucius, dan Lucius pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Alkasa.


"Bukankah lebih baik kita pergi bersama-sama, lagi pula tujuan kita sama untuk pergi ke Celestial?" ujar Star.


Tidak beberapa lama, terdengar derapan kaki yang berat dalam jumlah yang banyak. Layaknya puluhan pasukan yang mengenakan zirah. Dan suara itu terdengar jelas dan dekat.


"Ahh!! Lari!! ada pasukan Celestial sedang kemari," salah satu penduduk yang kembali dari dalam hutan berteriak memperingatkan penduduk desa lainnya yang ada di Raemar.


"Bagaimana bisa mereka menemukan desa tersembunyi seperti ini?" bingung Wendy.


"Kecuali mereka mengintai dan membuntuti kita ketika kembali dari Celestial. Tapi siapa orangnya, orang yang mengintai itu paling tidak yang bisa mengimbangi bahkan melampaui kekuatan kami berdua Wendy kalau ia dalam kondisi ketahuan. Apa jangan-jangan," Lucius menerka-nerka dengan wajah sedikit marah.


"Ahh~, sangat disayangkan sekali orang seperti ternyata adalah seorang pengkhianat," suara seorang wanita, namun begitu lembut terdengar dari salah satu atap rumah penduduk. Sungguh hebat, bahkan keberadaannya tidak dapat mereka sadari ketika ada orang yang mencurigakan tiba-tiba muncul begitu saja.


"Kenapa, apa kau merindukan aku?" ujar Lucius.


"Tidak, lagipula sebentar lagi kau dan teman-teman barumu itu akan merasakan bagaimana rasanya kematian," Mystogirl mendikriminasi mereka.


"S-sejak kapan dia di sana?" kaget Hikari. Sejak keberadaannya muncul, mereka langsung mengambil posisi bersiap untuk kemungkinan terburuk, yaitu bertempur.


Seketika itu pula keributan terjadi di desa tersebut, sebagian penduduk ada yang mengevakuasi diri dan sebagian lainnya mempersiapkan diri untuk bertempur.


"Ahh, aku juga tidak lupa membawakan oleh-oleh dari Celestial untuk kalian penduduk desa ini. Karena kalian adalah penjahat dan pembangkang bagi kerajaan Celestial," teriak Mystogirl memperingatkan penduduk Raemar, bersamaan dengan munculnya puluhan pasukan Celestial lengkap dengan zirahnya.


Seketika itu pula, kondisi di desa sekarang menjadi mencengkam, disatu sisi mereka harus menghadapi Mystogirl. Satu sisi pula mereka harus membantu dan menolong penduduk desa dari pasukan kerajaan Celestial.