
"Menyerah sajalah Lucius-kun," pintaku sambil menodongkan katanaku tepat dibelakang lehernya untuk menyudutkannya.
"Sayang sekali, tidak ada kata 'menyerah' dalam kamusku," Lucius langsung membuat pedang yang terbuat dari es ditangan.
*tingggg* terdengar suara benturan antara pedang es milik Lucius dan katana milikku, ia melakukan serangan tiba-tiba setelah membentuk pedang es, serangan itu bisa saja membunuhku kapan saja, tidak keraguan darinya untuk menyerang.
"D-dia serius ingin melukaiku!?" karena belum siap, akupun terpukul mundur akibat benturan tadi.
Akupun terdiam sejenak, karena aku tidak pernah berpikir bahwa pertemuan yang aku nanti-nantikan akan berakhir seperti ini, semua harapan dan tujuanku sirna begitu saja oleh perbuatan yang sudah dilakukan Lucius, kenyataan yang begitu pahit bagiku, dan sulit bagiku untuk menerimanya. Tidak sadar aku sudah membasahi kedua pipiku dengan air mata, tidak dapat aku bendung lagi air mata ini untuk menangisi kenyataan ini. Dengan keadaanku yang belum bisa sepenuhnya melihat realita yang aku hadapi saat ini, mau tidak mau aku harus menghadapinya dengan nyawaku sebagai taruhannya.
"Hahaha..."
"Kenapa kau ketawa?" Lucius heran.
"Sudah lama aku tidak menangis seperti ini, apalagi ini semua ulahmu," sambilku mengusap air mata dengan punggung tangan.
"Apakah kau berubah pikiran untuk berhenti mengejarku lagi? baguslah kalau begitu, jadi kau tidak..."
"Tidak, aku tidak merubah pikiran," potongku perkataan Lucius, "air mata ini bukanlah air mata kesedihan dan ketakutanku, melainkan ini air mata kebahagiaanku karena aku sudah bisa bertemu denganmu sejak sekian lamanya," selesai aku menghapus air mata.
"Dan sepertinya, mulai dari sekarang tidak akan ada lagi air mata!!" tatapku tajam Lucius dan bersiap untuk menyerang.
*wushh* aku melesat ke arah Lucius dan melakukan serangan dengan menebaskan katana secara diagonal.
*tingggg* bunyi nyaring kembali bergema akibat benturan kedua senjata, Lucius menahan seranganku.
"Kau selalu saja keras kepala," ucap Lucius santai.
Tanpa menunggu lama aku melesatkan kembali serangan fisik dengan menendang ke arah bawah kaki Lucius yang membuatnya terjatuh.
Secara beruntun aku terus melancarkan serangan, ketika Lucius terjatuh, ketika itu aku menghunuskan katanaku ke arah kepalanya. Namun, ia berguling untuk menghindar serangan. Ia kembali berdiri dan sedikit menjauh 10 meteran.
"Ahh, kau lumayan kuat sekarang," ujar Lucius sambil meregangkan lehernya, "tapi, akan lebih kuat bila kau bertarung dengan serius."
"Diam kau!!!" teriakku sambil melesatkan seranganku kembali, namun secara membabi buta.
Dengan mudahnya Lucius menangkis seranganku yang tidak beraturan itu, dan melakukan serangan balik dengan menendang bagian perutku.
"Ughhh!!" aku terlempar cukup jauh akibat tendangan itu.
Aku tertunduk menahan rasa sakitnya, *duarrr...duarrr* secara bersamaan terdengar suara beberapa ledakan dari kejauhan.
"Owhh, sepertinya mereka sudah mulai menyerang," gumam Lucius, walaupun aku tidak mengerti apa maksud dari kata-katanya.
Aku mencoba berdiri dengan sulitnya, karena rasa sakit itu membuat aku sulit menopang seluruh badanku.
"Kau masih belum menyerah juga ya?" tanya Lucius.
Dalam diam, aku mengarahkan pistolku kepada Lucius dan, *dorr...dorr* 2 tembakan mengarahnya. *tupp...tupp* bunyi terdengar dari Shield yang menahan proyektil peluru pistol, yang dibuat Lucius dari es untuk menangkisnya.
"Arghhh!!" Lucius mengerang kesakitan, akibat terkena tebasanku yang mengenai punggung belakangnya yang berbentuk diagonal .
"B-bagaimana bisa!?" kaget Lucius melihat aku yang sudah berada di belakangnya tanpa sepengetahuannya.
Aku memang sudah merencanakan serangan kombinasi antara handgun dan katanaku ini, awalnya aku menembakkan pistolku untuk mengecoh Lucius dengan menangkis tembakan itu, disaat fokusnya teralih pada tembakan itu aku dengan Fast Moveku melesat ke arah belakang Lucius dan berhasil melakukan serangan itu.
"Aku bisa saja membunuhmu kalau aku mau tadi, namun aku ingin membawamu kembali dengan selamat, jadi menyerah sajalah ka,." ucapku dengan yakin.
"Argghhhhh!!!!!" teriak Lucius kencang sampai mengeluarkan sesuatu yang besar berbentuk tulang manusia setengah badan dari kepala sampai dada bentuknya yang muncul begitu saja dibelakang Lucius.
"A-apa yang kau...," belum selesai aku berbicara, *duarrr* tangan besar berbentuk tulang memukul ke arahku secara cepat, "Kyaaa!!"aku sempat menghindar namun serangan yang menimbulkan ledakan itu membuat aku terpental.
Ketika terpental aku disambut oleh seseorang sebelum membentur tanah, "Bertahanlah!" ucap seseorang yang belum sambil menggendongku menjauh dari Lucius.
Sebelum kesadaranku benar-benar hilang akibat serangan tadi, aku melihat Lucius membiarkan kami pergi begitu saja, "L-lucius...," gumamku sampai pada akhirnya kesadaranku benar-benar hilang dan pingsan.