
(5 Kilometer arah Barat kerajaan Celestial)
“Huhh…huhh.., a-aku sudah tidak kuat lagi,” dengan nafas yang terasa berat dan tersengal-sengal. Kiriko mulai berjalan dengan lunglai menyusuri hutan untuk bersembunyi menghindari buruan penduduk pasca matinya raja Charlie.
“A-aku tidak tahu lagi harus ke mana,” Kiriko terjatuh ditengah-tengah perjalanannya menyusuri hutan. Bagaimana tidak, ia memaksakan diri dengan keadaannya yang terluka menggunakan kekuatannya tersebut. Kini seluruh tubuhnya tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan mati rasa yang ia rasakan karena terlalu memaksakan kekuatannya.
“S-sial, a-aku harus…,” Kiriko mencoba membangitkan dirinya kembali, “Agrhh… percuma, tubuhku sudah mencapai batasnya,” namun tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk diajak kerjasama.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana? Apakah aku akan berakhir seperti ini…,” Kiriko menggaruk tanah dengan gemetar. Hal itu mengungkapkan ketidakinginanya untuk berakhir seperti itu.
“K-kenapa, kenapa aku terlahir dengan penuh penderitaan seperti ini!? Aku ingin hidup seperti gadis biasa pada umumnya yang hidup ditengah kebahagiaan bersama-sama dengan kedua orang tuanya tanpa memikirkan hal lain, hidup sebagai keluarga yang bahagia. Tapi kenapa aku harus menjalani kehidupan yang berat seperti ini. Kenapa aku harus berakhir seperti ini!? Ibu…Lucius…A-aku…” Kiriko hanya bisa meluapkan semua yang ia rasakan melalui gumaman yang tidak dapat didengar oleh siapapun. Luapan penuh air mata itu sudah begitu lama Kiriko pendam, namun tidak dapat ia bendung lagi dan pada akhirnya ia meluapkannya melalui kata-kata.
Bersamaan dengan luapan tersebut, Kiriko mulai merasakan berat, begitu berat dibagian matanya. Pada akhirnya tubuh Kiriko yang tertidur ditanah sudah mencapai puncaknya dan tubuhnya memaksa untuk mengharuskan dirinya untuk beristirahat.
Tidak berselang lama, muncul sesosok wanita berambut panjang sepinggang dari balik pohon. Warna rambutnya tidak terlihat begitu jelas karena tertutup bayangan pepohonan yang menutupi sinar matahari memasuki hutang tersebut. Nampaknya wanita itu sudah mengawasi Kiriko sejak ia jatuh ke tanah. Sosok tersebut menghampiri Kiriko yang sebentar lagi akan tertidur karena tubuhnya yang mulai melemah.
“K-kau…,” Kiriko melihat sesosok wanita tersebut sebelum akhirnya ia benar-benar pingsan. Sosok itu memberikan senyum tipis, tanpa menunjukkan niat sedikit pun untuk menyakiti Kiriko.
***
“L-lapor, ada kabar buruk, Yang Mulia,” seorang prajurit melapor diri pada seseorang yang tengah duduk dikursi disalah satu ruangan di istana, namun berbeda dari istana Celestial. Orang itu sedang duduk melihat ke arah luar jendela besar, jendela itu mengarah ke rumah-rumah penduduk dan juga ke arah luar kerajaan yang dipenuhi hutan yang begitu luas dan lebat.
“Apa?” tanpa mengubah padangannya dari jendela, pertanyaan singkat itu terucap dari mulut seseorang yang dipanggil Yang Mulia.
“A-ayahnda, Raja Charles, baru saja dibunuh, Yang Mulia.”
Seketika mata biru orang itu terbuka lebar karena begitu terkejut mendengar kabar dari salah satu prajuritnya. Ia berdiri, dan mengubah pandangannya ke arah prajurit itu. Tidak ada tangis yang ia rasakan, matanya berubah menjadi amarah yang penuh dendam dan kebencian.
“J-jadi apa tindakan selanjutnya, Yang Mulia, pangeran Shou?” dengan sedikit ragu, prajurit itu menanyakan pada orang yang dipanggil Shou.
“Tidak aku biarkan. Siapapun orangnya, di manapun ia berada akan ku bunuh dia. Pasti aku bunuh ia yang telah mengambil nyawa ayahku, bagaimanapun carinya!” Kata-katanya membuat prajurit itu gemetar sekaligus ketakutan, apalagi ia melihat secara langsung ekspresi yang diperlihatkan anak dari raja Charles itu.
***
12 Tahun pasca pemberontakan Archidia. Kekalahan kerajaan Celestial membuat pihak kerajaan Raefus akhirnya mengambil alih kerajaan Celestial dan sepenuhnya dibawah pimpinan anak kandung raja Charlie sebagai penerusnya. Kondisi para penduduk Celestial sendiri dibiarkan untuk tetap tinggal sesuai janji raja Charlie yang diteruskan anaknya, hanya saja mereka harus patuh terhadap pajak yang dikenakan pada para penduduk. Ada pula sebagian penduduk Raefus yang pindah ke Celestial untuk mengisi kekosongan para penduduk Celestial yang tidak menetap di Celestial. Sehingga dibuat akses antara Raefus dan Celestial untuk keperluan dagang maupun mobilitas para penduduk untuk kepentingan masing-masing.
Para pedagang sering menggunakan akses yang dibuat oleh kerajaan ini untuk berdagang, mengingat bahwa sumber daya yang dihasilkan setiap kota berbeda-beda.
“Stop!” teriak salah satu orang pengawal pedagang yang berada dipaling depan rombongan.
Terlihat seorang manusia yang terlihat begitu muda. Yang berumur kira-kira 10-12 tahun, dengan tubuh pendek sekitar 145 cm, dan mengenakan jubah yang hamper menutupi seluruh tubuhnya dan juga dikepalanya. Nampaknya sosok tersebut yang menjadi alasan rombongan ini berhenti mendadak ditengah perjalanan mereka menuju Celestial.
“Hei, jangan menghalang-halangi kami, atau akan mendapat masalah anak muda!” dengan nada sedikit berteriak. Pengawal itu mencoba mengusir orang muda itu dari jalan mereka.
“A-ano, aku boleh minta uangnya tidak?”
“W-wanita?” pengawal itu nampaknya terkejut setelah mengetahui yang sosok yang ia hadapi adalah seorang wanita muda, semua itu diketahuinya setelah ia mendengarkan ucapannya, aneh memang melihat seorang wanita, apalagi wanita muda ditemukan di tengah-tengah perjalanan yang merupakan Kawasan sepi dan sering dijumpai para bandit. Mengetahui hal itu, pengawal tersebut segera turun dari kudanya untuk menghampiri wanita itu.
“Apa kau tersesat, nak? Dengan siapa kau kemari?” tanya pengawal sambal memegangi pundak wanita muda itu.
“Aku tidak dengan siapa-siapa kemari, lagipula lepaskan tanganmu itu dariku,” wanita muda itu menempis tangan pengawal. Mata hitam pekat berkilau, rambut emas kekuningan sepanjang bahunya terurai berkat tepisan dari tangan wanita muda itu yang membuat jubah yang menutupi kepalanya terbuka. Wajahnya yang berbentuk oval memberikan nilai lebih pada kecantikannya walaupun umurnya masih terbilang muda.
“Boleh minta uangnya enggak, paman?” sekali lagi wanita itu menanyakan hal yang sama.
“B-berani-beraninya kau, setelah berprilaku tidak sopan, sekarang kau mengatakan hal itu dengan mudahnya!” pengawal itu marah karena diberlakukan tidak sopan oleh wanita itu.
“Hmmm!” wanita itu tiba-tiba memanyunkan mukanya, nampaknya ia kesal karena tidak diberikan apa yang ia hendaki.
“B-bos, awas!!” 2 orang dibelakang yang sepertinya bawahan dari pengawal yang menghampiri wanita muda tadi memperingati pengawal tadi, setelah mereka menyadari kedua bilah pisau tiba-tiba muncul ditangan wanita itu.
“A-apa,” melihat wanita itu menghilang didepannya akibat kelengahannya ketika para bawahannya memperingatkan ia, membuat ia terkejut.
“Aku disini, paman,” bersamaan dengan ucapannya, wanita itu ternyata tengah menunduk disamping kanan pengawal itu dan juga ia melukai ************ lutut kanan dengan cepat. Hal ini sangat mudah ia lakukan karena tubuhnya yang kecil.
“Arghhh!!!! Kurang ajar!!! Bunuh dia!!” luka yang diterima membuat dirinya tidak bisa bergerak.
Dari arah belakang, bawahan pengawal secara bersamaan menyerang dan melancarakan serangan dengan pedang mereka secara vertikal. Namun, serangan itu sangat mudah dilihat oleh wanita itu dan menghindari serangan mereka. Ia melompati 2 orang itu dengan tinggi kearah belakang mereka dan melukai tubuh mereka dititik yang sama seperti bos mereka dengan mudahnya menggunakan kedua pisau itu.
“Arghh!! Sakit!!!” teriak salah satu bawahan pengawal yang baru saja terluka.
“Ahh, kotor deh,” wanita itu membersihkan kedua bilah pisaunya dari darah yang menempel. Sambil berjalan ia menghampiri pimpinan rombongan pedagang.
“Paman, kau punya uang tidak. Setidaknya untuk makan hari ini saja,” wanita itu berbicara sambal tetap membersihkan pisaunya. Tentu saja tindakannya membuat pedagang itu memberikan semua hasil dagangannya kepada wanita itu.
“I-ini, ambil semuanya, asal kau pergi tinggalkan kami!”
“Ahh, aku tidak butuh uang sebanyak ini, aku minta sebagian saja, ya. Kalau diambil semua aku tidak minta sama kalian lagi,” wanita itu mengambil sedikit bagian dari hasil jualan pedagang, dan mengembalikkan sisanya kepada pedagang itu.
“Kalau begitu aku permisi dulu, ya. Terima kasih paman,” diakhiri dengan senyuman manisnya, wanita itu pergi ke dalam hutan dan meninggalkan rombongan begitu saja. Semua tindakan itu tentu mengundang tanda tanya bagi para rombongan pedagang.
***
“Kau darimana saja?” tanya sosok orang pria bertubuh besar dan terlihat dewasa yang muncul dari balik pohon besar yang ada ditengah hutan, nampaknya menunggu kedatangan wanita muda tadi.
“Ahh, paman Lucius. Kau mengkagetkanku saja,” kesal sedikit wanita itu kepada pria yang adalah Lucius.
“Aku tanya dari mana?”
“Humm, paman selalu saja dingin padaku. Aku baru saja pulang minta uang sama paman pedagang dijalan tadi, awalnya mereka tidak mau menurutinya. Namun, setelah kami bermain sebentar baru mereka mau memberikan uang padaku,” jelas wanita muda itu sambal memberikan hasil jarahan pada Lucius.
“Bermain? Aku tidak yakin dengan kata itu.”
“Ehmm, yaa… begitulah. Setidaknya aku sudah minta sama mereka, tapi karena dikasih maka aku beri mereka sedikit paksaan,” wanita itu yakin bahwa tindakan yang ia lakukan adalah benar.
“Siapa yang mengajarimu untuk merampas!?” nampaknya Lucius marah setelah mengetahui perbuatan yang dilakukan oleh wanita itu.
“A-aku cuman ingin bantu paman, aku juga tidak mau terus-terusan merepotkan paman. Lagipula paman sering aku lihat melakukan hal sama,” wanita itu sedih ketika mengetahui bahwa dirinya baru saja dimarahi.
“Akukan sudah…” belum Lucius habis memarahinya, wanita itu menunduk sedih karena dimarahi, mengingat usianya yang masih muda tentu emosi yang ia miliki masih sangatlah labil.
“Ahh, sudahlah. Lain kali jangan diulangi.”
“Hmm, iya.”
“Kau benar, tidak ada cara lain selain aku harus merampok dan merampas dagangan para pedagang untuk memenuhi kebutuhan kita. Karena tidak ada lagi tempat bagi kita untuk bisa hidup layak selain pekerjaan busuk ini. Setidaknya dengan tanganku sendirilah aku melakukan hal ini,” pikir Lucius.
“Kau mau makan?” tanya Lucius menawarkan makanan untuk menghilangi perasaan sedihnya.
“Umm, aku mau ayam panggang, paman,” seketika anak itu kembali ceria dengan mudahnya.
“Aku tidak ingin kau mengikuti langkah pamanmu ini yang sudah melakukan berbagai kejahatan, jadilah anak yang baik, jadilah seperti ibumu, Himiko Minami,” Lucius terus memikirkan kehidupan anak itu.
“Ayo, paman. Aku sudah lapar,” ucap Himiko dengan girang sambil menarik lengan Lucius untuk mencari makanan.