Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 22



"T-tidak mungkin...." lagi-lagi Wendy terkejut mendengar penjelasan Lucius.


"Akupun hampir tidak percaya mendengarnya, tapi melihat dari pergerakan mereka aku yakin hal ini merupakan hal yang serius," jelas Lucius.


"Tidak heran, jika penyerangan di Elantris waktu itu berhenti ketika mereka sudah mendapatkan Kiriko," pikir Wendy.


"Ya, mereka tiba-tiba saja merubah rencana secara rahasia supaya aku tidak mengetahuinya. Walaupun sebenarnya aku mengetahuinya."


Tiba-tiba serentak Lucius dan Wendy mengarahkan pandangan mereka ke arah Kiriko. Penasaran dengan reaksi yang akan diperlihatkannya ketika mendengar hal tersebut.


Kiriko sedikit demi sedikit merapikan penampilannya dan mulai mengancing pakaian Seifukunya. Dengan pandangan kepala sedikit kebawah yang begitu datar namun nampak terlihat sedang memikirkan sesuatu hal.


"Lucius-kun?" Kiriko akhirnya mulai membuka suaranya yang memecah keheningan dari pembicaraan tadi.


"Iya?" Lucius berharap Kiriko ingin mendengarkannya.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Kiriko menghampiri anaknya yang sudah tertidur lelap dalam pegangan Wendy.


"Tentu saja kau sebisa mungkin harus bersembunyi dan menjauh dari Archidia, mengingat kondisimu saat ini sedang dalam bahaya dan menjadi incaran mereka semua."


"Benar, Kiriko-chan, sebisa mungkin X-Heart maupun Lucius akan melindungimu dan anakmu juga dari serangan mereka," tambah Wendy.


"Begitu, ya..." Kiriko mengelus-elus lembut kepala anaknya dengan penuh kasih sayang sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, "aku mulai mengerti apa yang ibuku rasakan dan pikirkan dulu," Walaupun sedikit, air mata Kiriko tetap terlihat mengalir membasahi pipinya, yang menandakan kesedihan bagi seorang Kiriko.


"Apa maksudmu? jangan katakan kalau kau..." Lucius sudah bisa menebak apa yang akan Kiriko lakukan kedepannya.


"Benar, aku akan menghadapi mereka," tegas Kiriko.


"Apa!? jangan membuat keputusan gegabah seperti ini, Kiriko-chan. Bukankah lebih baik kita...."


"Itukan menurut kalian, berbeda denganku. Kalau aku bersembunyi dan lari dari mereka, mereka pasti akan terus mencari keberadaanku dan pertempuran tidak akan bisa kita hindari, keselamatan kalian terutama anakku juga akan terancam. Berbeda cerita kalau aku menghadapi mereka langsung," potong Kiriko pembicaraan Wendy.


"Aku sudah mengatakan dan berjanji pada ibumu kalau aku akan menjagamu, aku tidak bisa membiarkan kau dalam bahaya seperti ini," jelas Lucius.


"Kau sudah melanggar janji itu, Lucius-kun. Kau bahkan pergi meninggalkanku, dan secara tidak langsung membuatku terjebak dalam situasi berbahaya yang sering kali aku lewati pada masa aku mengejar-ngejar dan mencarimu. Kau pikir aku akan tinggal diam ketika kau pergi begitu saja dari desa, kau salah. Walaupun aku marah dan benci dengan kepergianmu, aku tetap mengkhawatirkanmu itu semua karena aku menyayangimu," sekali lagi Kiriko membuat Lucius tersentak.


"Tidak, pasti ada jalan lain yang bisa kita lewati bersama lagi, setidaknya beri aku kesempatan sekali lagi!" Lucius bersikeras untuk mencegah Kiriko.


Sejenak, Kiriko sedikit menundukkan kepalanya memperhatikan anaknya dengan ekspresi senyum yang menyembunyikan kesedihan yang mendalam, "Kau sayang denganku tidak, Lucius?" tiba-tiba Kiriko menanyakan hal tersebut.


"Tentu saja, kalau tidak aku tidak akan bersikeras seperti ini."


"Syukurlah, kalau begitu aku rasa kau mengerti apa yang harus kau lakukan ke depannya bukan?" Kiriko mengalihkan pandangannya ke arah Lucius dengan senyum dan sekali lagi mengalirkan air mata yang membasahi kedua kelopak mata Kiriko yang mengisyaratkan akan adanya kesedihan yang tidak bisa lagi Kiriko sembunyikan.


"Kiriko..." Lucius terdiam dengan apa yang Kiriko katakan padanya. Memahami apa yang dimaksud oleh Kiriko bukanlah hal yang sulit bagi Lucius, namun memahami bagaimana kuat dan mudahnya Kiriko memutuskan apa yang harus ia lakukan itulah yang membuat Lucius tidak habis pikir.


"Aku tidak mengerti," tanya Wendy pada Lucius, "apa yang Kiriko-chan mak..." tiba-tiba Kiriko menghilang dari pandangan Wendy yang awalnya berada tepat di depan mata.


"L…lucius, Kiriko menghilang!?" tengok sana kemari Wendy memastikan keberadaan Kiriko yang tiba-tiba menghilang disekitar penjara.


"Dia sudah pergi, tidak ada akan sempat untuk kita mengejarnya lagi. Lihat senjata Kiriko yang kita bawa dari penyimpanan barang," sambil Lucius menunjuk ke arah meja dengan isyarat pandangannya.


"Ehh, hilang? tapi sejak kapan?" bingung Wendy.


"Aku juga tidak habis pikir, sejak kapan ia bisa secepat itu. Berbeda ketika terakhir aku melihatnya menggunakan kekuatannya itu," bingung Lucius dalam pikirannya.


"Kita juga harus bergegas keluar dari sini dan mencari tempat yang aman," ujar Lucius sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut.


"Kiriko-chan bagaimana?" Wendy juga mengikuti langkah Lucius sambil membawa anak Kiriko.


"Setelah memastikan kalian aman, aku sendiri yang akan mencarinya," jawab Lucius meredakan perasaan khawatir Wendy, "Kiriko... walaupun kau mencoba untuk menghentikanku, tidak akan aku biarkan kau menghadapinya seorang diri...karena aku tidak mau mengulangi hal yang sama ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa pada bibi Emilly," keadaan gelisah Lucius terus menghantuinya.


***


"Aku sudah menunggumu loh, Kiriko sayang," senyum yang bukan lagi memperlihatkan kesenangan, melainkan kejijikan bagi siapapun yang melihatnya tergambar pada wajah seorang pria yang terlihat menunggu disalah satu pintu masuk gedung kerajaan Celestial.


"Tomy!" pria itu adalah Tomy, yang membuat Kiriko begitu marah dan menatap tajam padanya. Tidak dengan teriakan, melainkan dengan geramanlah ia hanya bisa Kiriko tunjukkan Tomy.