
Di tanah sudah tergeletak sesosok mayat yang telah ditutup oleh selebaran kain memanjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Disekitar mayat itu berdiri teman-teman dari X-Heart menunjukan tiap-tiap ekspresi yang berbeda-beda di wajahnya, ada yang menangis, marah, murung, dan yang pasti dari itu semua terasa sekali suasana yang menggambarkan kesedihan dari teman-teman yang ditinggalkan ini.
Aku yang baru datang langsung memberanikan diri untuk mendekati mayat itu. Dengan duduk tersujud, aku perlahan membuka kain itu dari arah kepalanya untuk memastikan siapa yang sebenarnya dibalik kain ini. Ketika bagian wajah mulai terbuka, tidak lain wajah yang terbujur kaku dan putih memucat ini adalah Wolf.
"Wolf-kun...," gumamku dengan sedikit parau dan suara kecil, namun aku tidak menunjukkan ekspresi apapun saat ini.
"Wolf!!!" Wendy yang mengikutiku dari belakang langsung tertunduk menangis meratapi kepergian Wolf, dan suasana menjadi pecah menjadi isakan tangis Wendy semata.
Dan anehnya, aku tidak ikut dalam suasana itu, aku hanya terdiam melihat muka pucatnya itu, seolah-olah air mataku sudah terkuras habis akibat dari kejadian-kejadian sebelumnya, "Sudah cukup Archidia membuatku begini." gumaman kecilku keluar dari mulut, namun terdengar oleh teman-teman yang lainnya.
"Akanku balaskan kematian Wolf dengan tanganku sendiri," terlihat jelas oleh teman-teman ekspresi marahku yang menunjukan tatapan yang penuh dendam itu mengarah mayat Wolf.
Tidak lama setelah itu, aku berdiri, mengeluarkan Katana dan memotong rambutku yang awalnya sepinggang menjadi sepanjang bahu.
"K-kenapa rambutmu kau potong?" tanya Wendy kaget, tentu saja sikapku itu membuat semuanya orang di situ menjadi bingung.
"Kita akan kemana setelah ini? kita tidak bisa berlama-lama di sini," tanyaku kepada teman-teman lain, tanpa menghiraukan pertanyaan Wendy aku menaruh potongan rambutku ke badan mayat itu, melakukan hal tersebut sebagai tanda duka citaku kepada Wolf.
"Benar yang dikatakan oleh Kiriko, kita tidak bisa berlama-lama di sini, walaupun dalam keadaan duka, kita harus bergerak cepat dalam suasana seperti ini," dukung Alkasa kepada pertanyaanku walaupun sepertinya dia sedikit kaget melihat ekspresiku yang sejak awal tidak terlihat sedikitpun merasakan kesedihan.
Kamipun sepakat untuk merencanakan perjalanan selanjutnya, untuk pemakaman Wolf, puteri Wendy meminta warga sekitar untuk memberikan dia makam yang layak disekitar kota itu.
Beberapa saat, kami akhirnya berkumpul disuatu rumah penginapan yang memiliki ruangan cukup luas tempatnya untuk berkumpul dan membicarakan rencana selanjutnya.
"Jadi, ke mana arah kita selanjutnya?" tanya Jin yang berdiri bersandar di dinding rumah.
"Anuu, sebelumnya kita akan menunggu 2 orang anggota baru kita yang ---"
"Yoshh, halo semuanya," ucapan Wendy terpotong akibat kedatangan 2 orang asing yang tiba-tiba datang membuka pintu rumah tempat kami beristirahat.
"Ahh, kalian sudah datang, perkenalkan, yang menyapa ini tadi namanya Ayumu, dan temannya yang satu lagi Star," perkenalan singkat dari Wendy
"Aku pikir kau sudah punya rencana duluan, ternyata malah tanya balik dengan yang lain, sok-sok an pula ngomong duluan," sindir Jayden sambil minum berwarna biru di sofa.
"Diam kau, kampret!" teriak Alkasa
Semuanya hanya diam, tidak ada yang membuka bicara mengenai rencana selanjutnya, karena yang biasa merencanakan dan memimpin pergerakan kelompok ini semuanya adalah Wolf. Namun, karena kepergian Wolf ini, anggota X-Heart menjadi hilang arah dan tujuan.
"A-aku memikirkan hal ini," Wendy mulai berbicara, "bagaimana jika aku menyerahkan diri saja kepada Archidia, dengan begitu kita tidak perlu repot-repot sampai harus melarikan diri begini, lagi pula---"
*Plaakkk* terdengar suara pukulan keras dari telapak tanganku ke pipi Wendy.
"Tidak aku sangka, kau akan berkata seperti itu, setelah semua yang kita lakukan, setelah semua yang kita lalui, kau mau menyerah begitu saja!!? menyedihkan sekali dirimu ini. Dan kau dengan mudahnya mengatakan menyerah begitu saja, kau sama saja menyia-nyiakan pengorbanan Wolf, kepercayaannya kepada kau yang akan mewarisi tahta kerajaan," aku memaki habis-habisan Wendy, ia hanya terdiam memegangi pipinya yang meninggalkan bekas merah dari pukulanku.
"Sudahlah Kiriko-Chan," Hikari memegangiku mencoba melerai dan menjauhkanku dari Wendy.
"Kalau kau mengambil keputusan seperti itu, kau tidak akan aku maafkan!!!" tegasku lagi kepada Wendy.
"Benar yang dikatakan oleh Kiriko, tapi jangan sampai kau tersulut emosi seperti ini," ucap Jin kepadaku, "lagipula aku juga tidak menyetujui pendapat puteri Wendy tadi."
"Kalau begitu, apakah mempunyai rencana yang lebih baik lagi!? bahkan kalian hanya diam saja?" balas Wendy dengan sedikit meneteskan air mata.
"Ada," jawabku datar.
"Ehh, benarkah?" tanya Alkasa untuk memastikannya.
"Kalau begitu apa?" Wendy pun ikut bertanya.
"Rencana yang ku pikirkan adalah kita kembali ke Celestial."