
"Ahh...ngomong-ngomong, bagaimana kabar anak kita?" tanpa rasa bersalah, Tomy menanyakan hal itu kepada Kiriko.
"Orang brengsek sepertimu tidak pantas menanyakan hal seperti itu."
"Hei, mau bagaimana pun aku ini ayahnya, loh. Jadi wajar sajakan aku menanyakan bagaimana kondisi anakku," senyum gila itu kembali terlihat dari wajah Tomy, ia terlihat sengaja mengejek Kiriko dengan kata-kata yang menyakiti hati Kiriko.
"Ayah katamu? Kau menyebut dirimu seorang Ayah? Ayah macam apa yang tega menyakiti orang yang sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan anaknya, hah!?" geram Kiriko.
"Ahh... begitu ya. Sangat disayangkan sekali. Sebegitu bencinya kau denganku yang secara fisik aku adalah ayah dari anakmu sendiri... Apa sebegitu bencinya juga kau dengan ayah kandungmu? Kiriko Minami?" tiba-tiba Tomy menyeringai.
"A...apa maksudmu?" mata Kiriko terbuka lebar dan jantungnya berdegup kencang mendengar perkataan Tomy yang mengingatkan dirinya dengan masalalu keluarganya.
"Ehh, kau sudah mengetahuinya, ya? Bodohnya aku sudah membuat istriku marah... ahaa-ahaa-ahaa," tawa gila menyelimuti suasana sekitar kami.
"Ya, kau benar."
"Ehh," senyum datar terlihat dari wajah Tomy.
"Aku sangat membenci ayahku, terlebih setelah apa yang telah ia lakukan pada ibuku," getaran suara Kiriko begitu terdengar karena menahan rasa marah dan sedih yang ia rasakan.
Kiriko menarik nafas dalam-dalam, lalu, "ingin rasanya aku bertemu dengan orang yang aku sebut ayah itu," dan menarik Katana dari pinggang kirinya mengarah kedepan mengenakan tangan kanannya, "untuk memberikan apa yang harus ia terima selama ini dari putrinya sendiri," Kiriko menyipitkan matanya dan menatap tajam mata Tomy yang penuh dendam.
Tidak begitu terkejut melihat sikap Kiriko, karena hal yang biasa bagi Tomy melihat sikap dendam itu padanya ketika berhadapan dengan orang-orang yang pernah menghadapinya.
"Ya ampun, aku harap anakku nanti tidak nakal dan bandel sama seperti ibunya, yang tidak tahu bagaimana cara menghormati ayahnya," Tomy mengangkat kedua bahunya.
"Tidak akan aku biarkan dan tidak akan pernah anakku mempunyai ayah sepertimu!!!"
"Sepertinya tidak ada gunanya bicara baik-baik dengan-" ketika Tomy mengedipkan matanya, Kiriko yang awalnya berada 10 meter menjadi 1 meter didepannya dengan melompat cepat kearah Tomy dan bersiap menghunuskan Katananya ke arah Tomy.
Reflek Tomy menghindar ke samping ketika menyadari Kiriko mendekatinya.
"G-gerakannya!? cepat sekali. Berbeda ketika terakhir kali aku bertarung dengannya. Untungnya aku menyadarinya ketika ia mendekatiku, dan sebuah keberuntungan aku bisa menghindari serangan seperti itu,"
Melakukan serangan itu membuat Kiriko melewati Tomy 5 meter jauhnya.
"Bisakah kau berhenti mengoceh tentang keluarga?" Kiriko berbicara dengan tubuh membelakangi Tomy.
"Bagaimana kalau mengatakan tidak!" bersamaan dengan kata itu, Tomy melemparkan 2-3 batu tajam sebesar tombak ke arah Kiriko dengan kemampuan telekinesisnya.
"Aku tahu kalau serangan itu tidak akan berdampak baginya. Maka dari itu aku sudah berjaga-jaga dengan serangan jarak dekat dadakannya dengan ini," Tomy mengeluarkan pisau kecil dari pinggangnya dan menggenggamnya, "Nah, Kiriko-chan. Kemarilah, kita lihat apa yang akan kau lakukan selanjutnya," gumam Tomy dengan perasaan tidak sabarnya.
"Bayangkanlah...bayangkanlah..., bayangkanlah semua benda disekitarmu perlahan-lahan melambat," Kiriko mulai memejamkan matanya dan berkonsentri dengan tarikan nafas yang begitu dalam yang ia lakukan melalui hidung dan mulutnya.
"Ketika hal itu sudah terbayangkan dan menjadi kenyataan. Disaat itulah aku bergerak dengan seluruh kemampuanku," Kiriko membuka kedua kelopak matanya yang hitam memancar. Ia melihat disekelilingnya dalam suasana hening, dan batu yang dilemparkan padanya bergerak lambat, lambat sekali sehingga gerakannya bisa disentuh dengan mudah jika ingin.
Kiriko berusaha bergerak ketika momen itu sedang terjadi, namun bukan hal yang mudah baginya untuk bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa begitu sakit, seolah-olah ratusan jarum menusuki dirinya secara bersamaan, gerakannya pun terasa berat dan melelahkan sehingga menguras tenaga yang begitu besar ketika ia bergerak pada saat-saat seperti ini.
"Ughh!!" Kiriko menahan sakit sambil bergerak mendekati Tomy. Dalam penglihatannya mungkin terlihat lambat dan pelan pergerakannya. Akan berbeda ketik--
"A-apa!?" kaget Tomy, dan sekilas dalam pengelihatan masa depannya ia melihat dirinya sudah ditendang oleh Kiriko.
"Ughahh.." rintih Tomy yang terlempar sejauh 2 meter dari tempat asalnya dan terkapar.
Kiriko dengan sempoyongan mendekati Tomy yang sudah terkapar kesakitan. Ketika itu juga Kiriko mengompa pistolnya yang tidak ia gunakan selama pertarungan tadi.
"Aku tidak ingin berlama-lama, di mana orang tua itu (Raja Charlie)?" tanya Kiriko dengan menondongkan pistolnya ke arah Tomy.
"H-hei, sejak kapan kau tidak sopan be-"
*dorrr* peluru pistol itu mengeluarkan asapnya tepat beberapa centimeter saja dari kepala Tomy.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, katakan di mana dia, brengsek," Kiriko marah dengan sikap main-main Tomy.
"Hahahaha, intimidasi seperti itu tidak akan bekerja pada diriku. Aku yakin kau tidak berani melakukan itu padaku, bukan!?" dengan percaya diri, Tomy mengatakan hal tersebut.
"Jangan berani-berani kau-"
"Kalau kau yakin, cepat lakukan. Bukannya kau ingin membunuhku," bukannya ketakutan, malah senyuman yang diberikan Tomy seolah-olah ia dengan senang hati jika mati ditangan Kiriko.
"Cepat lakukan, ayo," Tomy memegang ujung pistol Kiriko dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri.
Entah apa yang dipikir oleh Kiriko, masih ada keraguan dihatinya untuk menarik pelatuk pistol itu. Mau bagaimana pun, yang ia todongkan sekarang adalah ayah dari anaknya sendiri. Dan ia tahu bagaimana hidup tinggal tanpa adanya sesosok ayah dan ibu. Mungkin dalam benaknya mungkin ada sercecah harapan untuk membuat kehidupan keluarga mereka dengan baik dengan cara memberi ampun atas apa yang Tomy lakukan terhadapnya. Walaupun tidak beralaskan cinta, asalkan buah hatinya bahagia.
"K...kalau saja kau, berjanji dan tidak akan mengulangi apa yang sudah kau perbuat. M..mungkin aku bisa menolongmu," dengan terbata-bata, Kiriko mengerutkan dahinya, berpikir dan sedikit mengalihkan pandangannya, mungkin karena dalam benaknya, sangat sulit mengampuni dan memaafkan apa yang dilakukan oleh Tomy. Tapi hati nuraninya berkata lain, dalam lubuk hatinya paling dalam ia mau mengampuni Tomy.
"Hahh?" sekilas Tomy mengingat perbincangannya dengan Mystogirl dan orang misterius ketika di kapal, "R-rahmiel..." sekilas pula ia melihat sekelebat bayangan hitam dibelakang Kiriko, seorang perempuan dengan sayap yang panjang. Tidak begitu terlihat jelas karena sinar matahari yang begitu menyilaukan mata. Dalam kedipan matanya, sosok itu menghilang layaknya halusinasi.
"J...jangan bercanda," Tiba-tiba Tomy menghunuskan pisau kecilnya ke arah Kiriko dan pisau itu menembus tidak begitu dalam namun cukup parah untuk melukai perut Kiriko.
*Dorrr* secara tidak sengaja dilancarkan oleh Kiriko akibat dari serangan dadakan tadi, walaupun akhirnya pistol itu terjatuh ke tanah.
"Ahhrghh..." Kiriko mundur beberapa langkah, pisau itu masih menancap diperut Kiriko dan mengeluarkan darah segar dari perutnya, tangan kirinya mencoba menghentikan pendarahan dengan memegangi perutnya sendiri.
Setelah menyadari kondisinya, Kiriko kembali melihat ke arah Tomy. Aneh, ia malah kembali tertidur dan terkapar.
Ketika Kiriko mendekat untuk memastikan keadaannya, Kiriko melihat ada lubang kecil bersarang diarea jantung Tomy. Bekas tembakan yang secara tidak sengaja dilakukan olehnya.
Kiriko tersungkur dekat tubuh Tomy, dan mulai menatap wajahnya.
"Ahakk...tidak aku sangka rasanya sesakit ini," gumam Tomy dengan suara serak tenggorokannya. Kondisinya saat ini sudah berada diambang kematian.
"H-hei, bukannya ini hasil akhir yang kau inginkan... K...kenapa kau menunjukkan ekspresi seperti itu."
Kiriko tidak menyadari, ekspresi yang ditunjukkannya pada Tomy adalah ekspresi kesedihan dan ada sedikit kilauan air di kedua matanya. Namun, Kiriko tidak menanggapi pernyataan Tomy.
"A...asal kau tahu ya, aku tidak pernah menyukaimu. A...apalagi ketika kau mengatakan omong kosong seperti tadi." perlahan suara Tomy mulai mengecil.
"Ahh..., kenapa rasanya mengantuk sekali. L...lebih baik kau pergi ke atas sana. J...jangan ganggu aku, rasanya aku ingin..." dengan kepala lurus menghadap ke depan. Bibirnya yang pucat tiba-tiba berhenti, menandakan bahwa tidak ada lagi kehidupan dalam dirinya.
Kiriko melihatnya langsung tertunduk, "K-kenapa? A...aku tidak begitu mengerti. Jelas-jelas ia sudah begitu kejamnya kepadaku. T-tapi...," Kiriko pun mengeluarkan air matanya, "kenapa ada rasa sakit yang aku alami," Kiriko meremas baju didadanya seolah-olah menahan rasa sakit dihatinya atas kepergian Tomy, atau ayah dari anaknya.