Revenge Of Kiriko

Revenge Of Kiriko
Chapter 7



"B-bagaimana bisa Archidia menyudutkan kerajaan?" kaget mendengar pernyataan mereka.


"Iya, begitulah situasinya saat ini. Tidak aku sangka setengah dari prajurit kerajaan mengkhianatiku, sehingga mereka memihak Archidia itu untuk mengambil alih kerajaan, dan mengakibatkan kekacauan antara kedua pihak. Archidia membuat kudeta ini hanya karena pewaris tahta satu-satunya kerajaan adalah seorang perempuan, sehingga aku dianggap tidak mampu memimpin kerajaan," jelas Wendy secara rinci kepadaku situasi yang ada saat ini.


"Memanfaatkan kekacauan ini, kami pengawal kerajaan yang dipercaya oleh tuan Puteri Wendy, membawa tuan Puteri menjauh dari kekacauan itu untuk menyelamatkan Puteri Wendy," tambah Wolf.


"T-tidak, aku tidak yakin hanya karena pewaris tahta kerajaan adalah seorang perempuan, mereka mampu menyebabkan kudeta ini. Pasti ada tujuan lain yang Archidia inginkan, aku yakin mereka hanya memanfaatkan alasan yang sepele tadi untuk menimbulkan kekacauan sehingga mereka berhasil menyudutkan tuan Puteri sampai begini dengan tujuan lain," pikirku, namun karena tidak begitu yakin dengan pemikiranku, aku tidak mengeluarkan analisa tadi.


"Jadi bagaimana rencana untuk saat ini?" tanya Jayden.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul aku ingin membicarakan rencana kita! Besok setelah kita beristirahat, kita akan ke kota Albatros. Kota itu merupakan tempat yang dikenal sangat ketat pengamanannya dan juga tidak tergabung dalam kerajaan apapun, sehingga itu menjadi destinasi yang baik untuk kita saat ini, pergi ke sana untuk mencari persediaan makan dan minum. Untuk selebihnya kita bicarakan nanti!" jelas Wolf mengenai rencana mereka.


"Ya, semoga kalian berhasil," ucapku mendengar rencana mereka.


"Apa maksudmu?" heran Wolf dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya semoga kalian berhasil, memangnya ada yang salah?"


"Kau berbicara seolah-olah kau bukan bagian dari rencana ini."


"Aku memang bukan bagian dari rencana kalian, bukan? Lagipula aku bukan pengawal kerajaan," jawabku ketus.


"Mulai sekarang kau bagian dari kami. Akan sangat membantu jika kau ikut tergabung dalam kelompok ini," tegas Wolf.


"Bagaimana kau bisa dengan mudahnya mengatakan itu hah?!" kesalku dengan seenak jidatnya Wolf membuat aku menjadi anggota mereka.


"Tega sekali kau berkata begitu dengan orang yang telah menyelamatkanmu," ujar Wolf.


"E-ehh, b-benarkah!?" kagetku.


"Yah, begitulah... kalau bukan karena pacarmu yang membawamu kemari, kau bisa saja tidak selamat," jelas Jayden dengan santainya merebahkan diri di bawah pohon.


"A-ahh, l-lagipula siapa juga butuh bantuan dia... t-tunggu dulu, siapa yang kau maksud pacarku hah!?" kesalku dengan menatap tajam ke arah Jayden.


Aku lihat Wolf tidak bergeming sedikitpun mendengar candaan Jayden. Syukurlah kalau dia tidak menanggapi hal itu. T-tapi kenapa aku yang mendengarnya menjadi malu?


"B-baiklah, aku akan ambil bagian dalam rencana kalian ini," jawabku malas.


"Baguslah kalau begitu, senang kau bisa bergabung dengan kami Kiriko-chan... perkenalkan namaku Hikari," cewek enerjik itu memperkenalkan dirinya dengan semangat, "kalau yang temanku ambil kayu tadi namanya Jin, terus kalau cowok duduk bersandar dibawah pohon itu namanya Alkasa, terus yang bilang kau pacarnya Wolf itu namanya Jayden, terus..."


"S-sudah aku bilang aku bukannya pacar Wolf, mohhh~" kesalku dengan sedikit tersipu malu.


"hahaha, maaf. Dan selebihnya aku pikir kau sudah kenal," akhir dari perkenalan Hikari kepadaku.


"Hmm, buronan itu menamai kelompoknya dengan nama Archidia, bagaimana kalau kita menamai kelompok kita juga?" tanya Alkasa.


"Hmm, aku pikir itu semua tergantung dari puteri Wendy," sambil Wolf menatap Wendy mengiyaratkan untuk meminta pendapat Wendy.


"Hmm, nama ya... baiklah kalau begitu, aku memberi nama kelompok ini adalah X-Heart."


"Yosh, sudah ditentukan nama kelompok kita adalah X-Heart," ujar Wolf.


"Entah kenapa namanya begitu kewanita-wanitaan ya," heran Jayden.


"Aku juga merasakan hal yang sama," balas Alkasa.


"Sudahlah, lagipula itu hanya namakan," sahut Jin yang sedari tadi diam karena mempersiapkan api unggun karena hari sudah mulai gelap.


Dan mengakhiri pembentukan kelompok ini, kami beristirahat untuk menanti hari esok di mana kami yang rencananya untuk melanjutkan perjalanan.


***


Pagi-pagi benar, aku sengaja bangun dari lebih cepat dari yang lain. Dan benar saja, mereka semua masih tertidur lelap. Diam-diam aku mempersiapkan senjataku, untuk pergi sendirian dan ingin balik ke Celestial untuk kembali menemui Lucius.


"Maaf, Wolf. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah pribadiku. Walaupun kau ingin sekali membantuku, namun aku tidak ingin ada yang terluka hanya karena masalah pribadiku ini," sembari aku menyelimuti Wolf dengan selimut.


Dan akupun pergi tanpa diketahui siapapun dari mereka, aku tahu ini merupakan sesuatu yang gila, bahkan mempertaruhkan nyawaku, tapi aku tidak dapat menahan diri lagi untuk kembali Lucius tanpa berpikir lebih lama lagi.