REDproject

REDproject
Bab 07: Celestial Fox



Gadis pirang tergesa-gesa, menjadi kelaziman baginya semenjak beberapa hari lalu mencari guru pembimbing yang tak kunjung jumpa. Apple ingat betul, pagi itu meninggalkan tas di ruang rawat bersama pemuda Vermillion yang tertidur. Namun setelah kembali, tas tidak ada di tempat, begitu pula Jin. Pasti dibawa—hanya itu dalam benaknya—tidak mau memikirkan tasnya hilang atau diambil orang lain.


Setelah menerima Sigillium dari Mizu, perempuan itu kembali pergi untuk menyelesaikan tugas lain. Di saat itulah Apple sadar dia tidak membawa Advance Bag. Peralatannya kini hanya Sigillium kosong, tak ada alat lain untuk membantunya bekerja sebagai seorang Exorcist. Bahaya, tak ada persiapan dan tidak bisa belajar karena buku peraturan ikut dalam tas.


Hari-harinya habis untuk mengelilingi akademi. Adakalanya bertemu dengan murid lain, tapi tidak digunakan untuk berteman seperti yang dulu-dulu, hanya menanyakan kemana Jin. Sedih, nihil, tidak ada yang tahu kemana perginya.


Semua orang selalu sibuk dan harus sibuk, dunia tidak aman dengan sendirinya sebelum ada yang bertindak. Sihir; mantra; roh; monster sudah menjadi makanan sehari-hari. Hanya di sini mereka aman sebab lindungan barrier. Sontak terpikirkan lagi, sebenarnya apa yang melindungi EA? Yang pasti bukan bulan seperti milik pak tua bermata merah scarlet.


Candra kembali menguasai antariksa hingga cakrawala dipenuhi gelita. Gadis itu mengakhiri pencariannya, istirahat di ruang tunggu. Mencoba santai dan mengatur napas, ternyata langit malam begitu cantik. Bulan terlihat lebih dekat daripada biasanya, bulat dan ditemani para bintang. Baru saja menikmati kepermaian, perhatiannya tercuri tatkala gumpalan asap membumbung. Apple kembali menarik langkah.


...-oOo-...


Bau gosong semerbak, asap hitam menggebu-gebu membuat malam makin kelam. Api biru mengamuk dan memakan seluruh makhluk hidup hijau di sekitar. Siluman rubah biru berdiri di tengah tempat mengenaskan, dikelilingi pijar senada. Ia mengebas kesembilan ekor, nampak panjang lagi tebal.


Jelas dari kejauhan, siluman itu mengamuk. Menghanguskan segala hal di depan mata abu-abunya. Gadis pirang panik, apa yang harus ia lakukan? Jika melawan pun dia tidak ada persiapan. Seketika siluman berhenti, berbalik dengan raut sedih dan meratapi rembulan. Tanpa memakan waktu Apple melangkah pelan, mencoba mendekat.


Mengetahui keberadaan manusia, siluman itu terkejut. Wajah sedih berubah menjadi kesal tanpa sepatah kata. Bola api biru berkobar liar mengitari. Lekas ia merentangkan tangan kiri, diikuti bara melesat ke arah gadis pirang.


Apple melempar raga dan terguling. Hampir saja, akan tetapi hawa panas sedikit membakar baju merah muda. Debam memekakkan. Bola api tadi menghantam pohon solid di belakang, menghantam hingga tumbang lagi terbakar.


Gadis itu menepuk-nepuk pelan bajunya sebelum hangus, sembari melihat akibat yang diperoleh api. Kuat sekali, merembet ke pohon lain. Kebul berkeluaran membuat sesak. Saat Apple mencoba bangun, dengan sigap siluman rubah melontarkan serangan yang sama. Mata biru langit bulat memantulkan kilauan api.


"Andai saja ...."


...-oOo-...


Begitu tenang. Gemercik air dari pipa bambu kolam koi menjadi irama sentosa ditambah sinar rembulan kecil begitu lembut. Pemuda berpakaian hitam duduk di beranda, memangku gadis pirang yang memegang buku pemberian pak tua bermata merah. Tangan pucat membelai, begitu perlahan seakan takut melukai walau sekedar menekan.


"Ini! Ini apa?" Wajah lugu menatap pemuda, mengangkat-angkat buku yang di dalamnya bergambar rubah kecil—layaknya tikus—ekor sembilan.


"Rubah banyak jenisnya, ini Pipe Fox karena kecil."


"Iya! Lucu!"


Pemuda itu menjelaskan diiringi seulas senyum. Nyaman berada di pangkuannya, pelukan laksana sutra.


Gadis kecil mendampilkan kepala ke dadanya yang lapang. "Aku mau satu!"


"Iya? Nanti dicarikan."


"Eh? Memang benar bisa ditangkap?"


"Bisa, dengan melakukan kontrak."


"Kontrak? Kontrak seperti apa?"


"Hmmm seperti ... kitsune meminta jiwa untuk ditukarkan dengan kesetiaan sampai mati."


"Heh?! Tidak boleh!" Bergegas si gadis membalikkan badan dan memeluk pemuda serba hitam, kedua tangan mungil merangkul pada leher. Gadis kecil mengomel, mengundang tawa ringan si pemuda.


"Kalau nanti mati ... jangan pergi!"


Tawanya makin lepas, hati-hati mengangkat si kecil dengan kedua tangan. Rambut pirang mengkilap lantaran sinar bulan. Si gadis ikut tertawa, senang jika digendong.


"Iya, aku ... tidak akan pergi."


...-oOo-...


"Hentikan!" Napas Apple sesak ditambah kebul api tepat di kiri si gadis. Kalau saja telat satu detik, kalau saja ... dia sudah tidak perduli dengan baju yang mulai terkikis oleh api.


“Aku akan memberikan jiwaku padamu, jadi tolong berhenti!"


Mendengar itu sang rubah terdiam. Pada akhirnya angkat bicara, "Sekelompok manusia menangkap dan menjadikanku budak, mereka tak ingin membuat kontrak karena tahu konsekuensi akan jiwa miliknya. Oleh karena itu aku diperlakukan kasar, mereka meminta bantuan pada orang gelap. Aku dipaksa menculik, membunuh, mencuri, melakukan hal keji ... tidak terima. Aku membunuh mereka dan berlari hingga ke tempat ini."


Jadi, siapa iblis yang sebenarnya? Apple terdiam, merasa ngeri dan kasihan. Sesaat mereka hanya saling tatap sampai gadis pirang tersenyum hingga mata biru terpejam.


"Ehehehe, aku tidak akan berbuat buruk. Maka dari itu jalinlah kontrak, akan aku serahkan jiwa---"


Belum menyelesaikan kata-kata, tubuh siluman menyebar. Berubah menjadi api biru raksasa, melesat ke arah Apple. Si rambut pirang terkejut, api-api mengelilingi tetapi aneh, tidak panas dan justru merasuk ke dalam dirinya. Gadis itu pingsan. Hal terakhir yang ia lihat adalah senyum lega sang rubah.


Kelopak pualam menggulung, memamerkan lensa utuh langit. Ia merasakan pusing, duduk sembari memegang kepala.


"Selamat pagi," sapa lembut siluman rubah yang duduk tepat di sisi gadis pirang.


Apple malah terkejut, hingga terbesit di kepala kejadian tadi malam. "Hiih bikin kaget saja, tapi terima kasih sudah bekerja sama, aku janji akan merawatmu. Ngomong-ngomong, buntutmu ...."


Sang siluman mengibas pelan satu ekor miliknya. "Kekuatanku terkunci, ingat? Sekarang aku milikmu, Master."


Di ujung ufuk timur mentari melambaikan kirananya; desiran angin begitu damai; tarian awan menyejukkan hati; mega merah menyambut pagi. Mendapati baju yang sudah lusuh, Apple bergegas pergi, tak lupa menarik tangan sang siluman. Untuk apa terburu-buru? Akademi ini sepi seperti biasa.


Si gadis bergumam, bingung harus ia apakan siluman satu ini. Memang Apple sudah memiliki Sigillium—alat menyegel roh—membantunnya untuk menjadi Tamer. Tetap saja, masih belum paham bagaimana cara menggunakannya. Hanya memandang kaca persegi di genggaman, ketiga permata putih dan jarum terlihat jelas di dalam. Mungkin dalam buku peraturan ada penjelasan tentang Sigillium, andai dia menemukan tas ....


Siluman rubah menepuk pundak Master barunya, setelah melihat kerisauan. Apple tertegun, mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Terlihat jelas kesedihan kembali terlukis di wajahnya.


"Ah, tidak usah khawatir. Hanya memikirkan tas," ucap Apple.


"Tas?"


"Iya, kemarin tertinggal dan mungkin dibawa kakak."


"Kakak? Apa ada barang yang berhubungan dengannya?"


"Barang? Ini?" Apple menyodorkan Sigillium dan siluman itu mengendusnya, apa dia bisa melacak? Lekas siluman itu berlari, diikuti oleh gadis pirang.


Derap bergema di lorong, tetapi milik si siluman tidak seolah tak menapak. Larinya cepat tapi masih bisa gadis ini ikuti. Berbelok-belok; melewati beberapa blok; sampai mereka di depan kantor utama, tapi kenapa?


Napasnya kembang-kempis setelah lari secepat itu, sedangkan si rubah biasa saja. "Ah, hah ... kenap---"


Seketika pintu kantor terbuka, perempuan rambut hitam terkesiap melihat dua makhluk di depan. "Loh? Apple?" sang hawa keheranan, terlebih baju merah muda si gadis compang-camping dan siluman rubah berdiri di sisi.


"Mi-mizu? Oh, iya, lihat Jin?"


"Jin? Kenapa mencari---oh, tas ya? Ini, Jin menitipkannya padaku, dia sedang ada ujian." Mizu langsung memberikan Advance Bag milik Apple. Pantas saja Vermillion susah ditemui, dia sedang ujian. Pasti sibuk belajar dan menyelesaikan misi.


Mata biru berbinar, senang akhirnya tas kembali. Tanpa memakan waktu, Apple kembali menarik tangan si siluman. Mereka berlari lagi, apa tidak lelah? Sebenarnya, Mizu masih keheranan, kenapa ada siluman dan jinak? Ah, ada yang lebih penting daripada memikirkan hal tersebut. Tugasnya menumpuk, tidak boleh menyia-nyiakan waktu walau sedetik.


...-oOo-...


Dalam kamarnya Apple membanting raga pada kasur, akhirnya benar-benar bernapas lega. Siluman rubah ikut duduk di sana. Melihat dia membuat Apple teringat, lantas mengeluarkan semua barang dari Advance Bag. Berserakan, tak lupa buku cerita kuno itu.


Si gadis terdiam, sebenarnya ingin membaca buku peraturan dan mempelajari tentang Sigillium. Namun entah kenapa, sesuatu dalam buku ini terus menghantui. Betapa terkejutnya dia, bagaimana bisa lembar ke dua sudah memiliki isi. Sejak kapan? Gadis ini tidak ingat, apa saat---


Ketika Apple terus membuka lembar, halaman ke tujuh bercahaya. Sinar menyorot sampai-sampai harus memalingkan wajah hingga sirna. Mata membelalak, tak percaya dengan apa yang dilihat.


Gambar pemuda diikuti oleh wanita, ada jarak antara mereka. Wanita di belakang dan pemuda di depan. Walau begitu, si pemuda menengok ke arahnya dengan latar berbeda dari halaman yang sudah terlihat. Indah, seperti taman dilintasi pelangi.


Tertulis: "Berapa lama akan ada di situ, dia tidak tahu. Namun, penyihir keras kepala menolak apa yang diminta oleh harapan. Terus mengikuti keesokan dan esok setelahnya, di hari yang panas; bersalju; hujan. 'Mengurung diri?' Penyihir tertawa melihat dia yang terkejut. Menunjukkan sesuatu yang belum pernah dilihat, bertolak belakang darinya dan apa yang ia jalani. Harapan yang kesepian, melihat hal begitu berwarna. Dunia luas, perasaan hangat masuk ke dalam hati. Dia juga melihat, bahwa penyihir dan dunianya penuh rona, seperti pelangi."


Itu tergambar pada lembar ke tujuh yang sangat tebal seperti sembilan lembar lain. Hanya lembar pertama, ke dua, dan ke tujuh memiliki isi, sisanya? Kosong. Lembar tipis lainnya masih penuh dengan tulisan tak terbaca, terlebih beberapa tinta merebah ibarat terkena air pada beberapa titik.


Tatapan kosong, Apple terdiam di atas kasur. Siluman rubah kembali risau, memegang pelan tangan gadis itu.


Apple sadar dan kembali pada dunianya. "Ah, tidak apa-apa. Oh iya, belum sempat tanya ... siapa namamu?"


"Pipe Fox."


Sontak kepala si gadis terasa sakit, nyeri amat sangat hingga tak bisa berpikir. Pandangan kabur, seperti ada sesuatu yang memaksa masuk dalam kepala. Dahsyat sekali nyerinya; mual; ingin muntah; berkeringat dingin ....


...-oOo-...


Apa ini, hukuman untukku? Aku dihantui rasa bersalah, ya, setidaknya aku masih menganggap ini hukuman untukku atas perbuatanku.


'Apa kamu baik-baik saja dengan ini?'


Aku menghabiskan waktu sendiri, sendiri lagi. Bersembunyi dan berlari, dibalik bayangan. Aku tahu seharusnya tidak melakukan hal itu. Hatiku berdebar, sangat kencang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, pertama kali mengalami hal ini. Namun, aku merasa benar-benar sakit di dada. Tiap aku melangkah, terasa hampa. Sesuatu menyayat isi dalam rusuk. Aku tak ingin menang, juga tidak ingin kekalahan. Tidak bisa melawan perasaan sendiri, sebenarnya ini apa? Dalam hati ....


'Apa itu benar baik?'


Jika aku harus jatuh ke neraka dan diselamatkan, mungkin kita akan bertemu satu sama lain di surga. Jika tidak, aku mohon ... beri aku hukuman yang pantas di neraka. Kau yang suci, pasti saat ini berada di surga. Jika tempat itu penuh dengan kekosongan, maka biarkanlah kami pergi ke sana. Aku ingin bertemu denganmu, akankah aku bertemu denganmu? Sekarang, aku ingin mengakhiri semuanya.


'Selamat tinggal.'


Manusia begitu rapuh, begitu pula dirimu. Genggaman erat diriku membuatmu tak berdaya, berkata dengan suaramu yang lemah, terengah-engah. Berkata dengan suaramu yang seperti anak kecil. Apa aku pantas disebut sebagai manusia? Bahkan hati sudah berubah bentuk. Tajam, merenggut sesuatu yang berharga untuk mereka. Untuk seseorang yang tak pantas disebut manusia sepertiku, kau tersenyum. Bahkan di saat seperti itu, memberi hal yang beragam padaku.


Kau begitu berwarna, tidak sepertiku. Bahkan aku lupa ucapan penting yang kau berikan padaku. Aku terus dihantui rasa bersalah, itulah kenapa aku menyebut ini hukuman. Namun, kau selalu berada di situ, tersenyum seakan ini bukan hal penting. Apa kamu mengasihi diriku? Bahkan di detik terakhir tetap tersenyum padaku, aku tidak mengerti. Apa perasaan yang aku alami?


'Terima kasih.'


Mungkin aku orang yang paling beruntung di dunia, tapi paling egois pula. Begitu diselimuti perasaan hangat, saat diberi kesempatan ke dua. Perasaan seperti dulu, saat kau menunjukkan banyak hal, memancarkan cahaya padaku. Tidak terpikirkan olehku, akankah hal yang sama terjadi? Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan hal yang dulu aku lakukan, maka dari itu ... aku berlari.


Di tiap aku melangkah, aku merasa sakit di seluruh badan. Belum pernah aku merasakan hal seperti ini, sebenarnya ini apa? Tapi kau tetap tersenyum padaku, membuat hatiku bergetar. Aku tidak mengerti, mataku mengalirkan sesuatu, apa ini disebut menangis? Aku tahu ini hukuman untukku, setelah apa yang aku lakukan. Bahkan aku tidak ingat kata terakhir darimu. Aku ingkar janji. Sebenarnya, apa yang aku rasakan? Aku ingin mengakhiri semuanya.


Aku harap, kau siap.