
Seolah waktu berjalan lambat, mereka saling tatap. Denging bilah kaca menggelitik telinga seiring pecahan bercahaya bak glitter, semua melayang di udara. RedStar bertengger di jendela, mata kelam itu jelas sekali mengukir kesedihan. Apple terjengkang, bola biru membelalak melihat pemandangan di jendela kamar.
"Hilatus ignis!" Siswi itu menyemburkan napas api tepat ke mulut jendela, liar hingga meledak ke luar. Memukul mundur pemuda hitam walau sementara. Gosong menusuk hidung membuat si gadis kecil terbatuk dan tak sempat berucap atas kejadian tersebut.
"Cepat kita kabur sebelum dia kembali!" Siswi bersuara ramah itu sungguh kuat, Apple tidak mampu melawan balik dari tarikannya.
Derap mereka riuh menggema di lorong asrama. Seketika Apple tertunduk, terisak dengan rona semerah tomat dan menarik paksa lengan dari cengkeraman. Menggertakkan gigi, gadis pirang ini seperti akan meledak dengan raut tersebut. Langkah sang siswi tersentak, berbalik memandang pada gadis kecil yang terdiam.
Kabut pekat bergumul seakan berbisik angkuh. Guntur menghantam langit sampai-sampai menenggelamkan argumen mereka. Terlihat Apple membentak; siswi melawan; wajah keduanya memerah. Menjangkau pergelangan mungil si gadis putih susu; Apple menepis tautan yang ada; terus berulang seperti itu.
Mendung meraja, pun sebam menjadi mayoritas. Mereka membuang waktu. Pintu masih terbuka lebar mempersilakan angin menyusup, berdesir halus. Begitu pula siluet hitam yang cepat menghampiri mereka. Dekat, mata sang siswi terbuka lebar ketika hampir bertatap dengan mata serupa bayangan di belakang Apple. Hingga---
"Kyaaaa!"
Bam!
Tubuh berbalut jubah hitam tersebut menghantam solid tembok di ujung lorong, menghasilkan ceruk besar seukuran manusia. Pemuda itu membatukkan darah—satu kali—sepertinya dia sedikit kewalahan setelah bertarung melawan Yukio. Jari kanan kekar Xavier masih mengepal, dia lah yang melayangkan pukulan keras tadi dan memang hanya dia berkekuatan fisik sebegini besar. Namun, sejak kapan guru berandal itu sampai di sini?
"Cepat lakukan evakuasi."
"Tapi---"
"Cepat! Biar bocah ini dan monster itu aku yang urus."
Tanpa memakan waktu—karena ketakutan—siswi tadi mengambil seribu langkah untuk memenuhi titah. Dari kejauhan, kelopak pucat RedStar sayup, hanya memamerkan separuh dari bentuk utuh lensa jelaga. Perlahan tapi pasti ia berdiri, mendekap dada tetapi seketika darah segar menyembur dari mulutnya.
"Wah wah, bisa terluka juga rupanya."
"Hentikan! Kenapa terus menyeraaaaa ... !" Teriak si gadis nyaring seketika Xavier mengangkat tubuhnya. Tanpa pikir panjang guru bermata emas itu melompat keluar jendela asrama. Apa dia sudah gila? Turun dari lantai tiga seperti ini ... ternyata tidak.
Suara debam menggema, tungkai berbalut boots hitam penuh rantai mencacak bumi. Xavier mendarat dengan mulus, sepertinya kelebihan guru ini adalah kekuatan fisiknya yang luar biasa.
"Hentikan! Aku tidak mau!" Xavier tak mengindahkan apa perlakuan si gadis pirang, meronta; berteriak; memukul-mukul dadanya. Guru kekar ini terus saja berlari dan entah ke mana. Hingga langkah terhenti paksa penghasil gesek pada karpet halus alam ketika sampai pada barisan guru pemegang panah.
"Dia pasti mengikuti, ketika tur---tembak!"
Seketika ratusan anak panah menghujan. Panah-panah itu meluncur tepat ke arah pemuda serba hitam yang baru saja ikut lompat keluar dari kaca. Belum sempat berkelit atau sekedar menapakkan kaki, bilang runcing sudah banyak menghias tubuh. Raga nahas bermandikan cairan merah itu terlempar; membentur bumi; terguling.
Sebenarnya ingin sekali si gadis terus meronta, tetapi menyaksikan kekejaman ini ia gemetar. Bola biru langit sekarang berkaca-kaca karena syok yang terasa, terlebih bau amis darah berbaur dengan desir angin samar tercium membuat mual. Bibir tipis itu tak henti bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu, nyatanya dia tak kuasa.
Darah kembali dimuntahkan. Kabut menjamah pandangan, tapi ditepis dengan cara menggeleng cepat oleh RedStar. Napasnya tercekak. Sekujur tubuh terasa sakit. Gadis kecil berteriak—tak tahan—dan tangis amat kencang hingga sesak sudah napasnya. Kenapa seperti ini? Akankah dia kehilangan lagi, setelah keluarganya ... dan ini?
Perlahan si pemuda kembali bangkit dengan peluh menyimbah tubuh, sepertinya teriak Apple menjadi semangat tersendiri. Tanpa memedulikan rasa sakit yang mengigit, dia menarik satu-persatu anak panah dalam tubuhnya. Xavier berdecih mengetahui orang itu kuat melebihi perkiraan, memang dia monster—pikirnya.
"Guru! Seluruh murid sudah dievakuasi dan aku minta Jin untuk mengawasi mereka, aku harap dia tidak mengikutiku ke si---"
"Yah, tepat waktu kau Mizu, bawa anak ini juga."
Perempuan pemilik rambut sebahu dengan warna legam ini membungkam, melihat di kejauhan sosok pemuda berpakaian serba hitam sibuk oleh panah di tubuh, juga para guru yang siap membidik. Itukah The Hope? Cepat Mizu menangkap raga Apple dari lemparan Xavier, si gadis kecil sungguh ringan. Nampaknya siswi Meister ini tanggap dengan keadaan.
Tungkai Mizu diayun menjauh dari sana dengan membopong Apple di pundak. Gadis pirang ini sungguh lemas, mata biru mengelam dan bahkan napas tersentak-sentak. Sepertinya ini semua berlebihan untuk Apple, dia sudah tak mampu melihat atau merasakan lebih jauh. Untuk apa juga ... melawan? Untuk apa?
Mata REDstar terbuka lebar, sepertinya dia benar-benar tertuju pada Apple. Sadar, barisan guru kembali memanah seiring Xavier yang berlari tuk mendekat. Pemuda itu tak tinggal diam. Ia menghindar serangan dengan kaki jenjangnya melompat ke atas, kemudian menukik lagi dan melesat. Kecepatannya tak berkurang. Hujan panah memenuhi karpet alam sekitar tanpa dosa tetapi Xavier sudah satu meter mengepal tangan tepat ke arahnya. Memelototi REDstar---
Grep!
Si guru berandal bermata kucing mematung. Heran akan RedStar yang dapat mencengkeram pergelangan seperti keadaan normal tanpa luka. Bahkan jauh lebih kuat. Terlebih pemuda itu mendongak dengan mengeratkan gigi, wajah jelas mengukir kekesalan.
Di belakang suara gemuruh terpicu, beribu familiar dan kekuatan sihir siap menyerang. Tahu, Xavier ikut menengadah, melempar seringai ganjil padanya tetapi RedStar tak mau kalah. Perlahan mulut penuh darah itu membuka, apakah dia---
"Rhaaaagh!" Teriak bahana si pemuda hitam memekakkan, berbaur dengan guntur langit menyambar-nyambar udara dalam gegap gempita suram magenta cakrawala.
Sebuah cahaya membutakan berkedip. Hanya sekali dan selanjutnya bunyi debam terdengar keras. Disusul gemerutuk bebatuan yang saling bertumbukan mencumbu gravitasi. Partikel debu memenuhi udara, menghalau kemampuan indera penglihatan guna menangkap gerak visual sekitar.
Hening merebak.
Debu reda. Nampak Xavier merunduk dalam, juga guru lain. Semuanya tunduk akibat tekanan yang kuat seperti gravitasi merenggut tanpa ampun. Tak mampu berdiri; mengap kesulitan mengatur napas; aura yang di keluarkan REDstar begitu bertenaga. Tidak, mereka tidak pingsan. Jelas sekali mata mereka terbuka meski sayu.
Pemuda itu menyeret langkah di sekitar tumpukan manusia di atas tanah. Mengendar pandang ke sekeliling, tapi tak menemukan apa yang dicari. Seketika ia melesat, tak memedulikan darah yang sudah menganak sungai meninggalkan jejak pada alas. Ah, itu jalan ke mana Mizu pergi.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?! Luka-luka itu ... dia memang tidak bisa mati? Ck!" Xavier tak henti menggeram tetapi, ya, bisa apa? Bahkan melawan auranya pun tak mampu. Hanya Yukio yang masih bisa tegar berdiri di depannya hanya saja---sial!
...-oOo-...
Lari Mizu memelan ketika mata menangkap sang kekasih yang kian mendekat. "Ji-Jin?! Apa yang kamu lakukan?"
"Maaf Mizu, aku khawatir."
Mizu mengembus napas panjang, memang keras kepala kekasihnya ini. Keras kepala karena khawatir, entah baik atau buruk. "Bagaimana kondisi para murid?"
"Baik ... tunggu. Ada yang mendekat."
Sontak Mizu menoleh ke mana mata hijau sang kekasih tertuju. Memang nampak samar dari kejauhan bayang-bayang hitam mendekat, apa itu Xavier? Ah ....
Cepat-cepat Mizu menurunkan Apple dari gendongan. Lemas sekali badan si gadis, dia tidak banyak melawan. "Jin cepat evakuasi Apple."
"Eh? Memangnya kenapa? Ayo kita pergi bersama."
"Tidak, The Hope sudah menyusul."
Jin mendengus, jemarinya bertaut erat hingga pucat sudah. Menggeram, sepertinya Jin masih menyimpan dendam. "Mi, cepat pergi, aku tak ingin kamu terluka."
Mizu tersenyum, ia menatap kekasihnya dengan kedua kelopak yang membentuk garis sebab seulas bentuk sabit di bibir. "Aku malu dilindungi oleh ... junior, tapi aku akan baik-baik saja, sayang."
"Tidak! Mizuuuu!"
...-oOo-...
Begitu banyak orang tapi sunyi. Hanya kilap dari lampu yang menabrak dinding-dinding metal mendominasi. Sayup-sayup terdengar suara tangisan, isak-isak dan bisikan ketakutan. Dalam keheningan, Jin bersimpuh di depan pintu alumunium besar, satu-satunya akses ruang ini. Kepalanya menunduk dengan ubun-ubun bersandar pada pintu tersebut. Sepertinya pemuda pirang itu menangis karena tubuh tak henti bergetar.
Mereka di ruang bawah tanah, tempat evakuasi. Menatap sekitar, Apple bisa melihat para murid meringkuk dalam keresahan. Mereka ada yang berseragam sama ada pula mengenakan baju bebas. Biasanya jika banyak murid seperti ini suasana akan ramai seperti waktu itu, tetapi sekarang berbeda. Sungguh senyap.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," salah satu murid bersuara begitu lirih. "Kenapa malah seperti ini?"
Tidak ada jawaban, semuanya gemetar. Mungkin hanya satu di benak mereka kini, sesuatu hal yang sangat berbahaya sedang terjadi. Tidak pernah sebelumnya seluruh murid dievakuasi seperti ini. Terlebih para guru pergi dan tidak ada yang kembali, mereka juga tidak melihat Yukio dari pagi.
Apple mengedar pandang, ia tertatih. Bibir si gadis merintih samar, sementara tungkai terus meniti langkah. Dia sungguh khawatir terhadap Jin dan memang tidak ada yang ia kenal di ruang ini kecuali dia. Mizu belum kembali dan semenjak terakhir latihan bersama, Apple belum berjumpa Leona.
"Kak ...." Perlahan lengan mungilnya hendak menyentuh pundak Jin.
Hal yang berikutnya terjadi adalah suara tampar menyeruak. Keras sekali pemuda pirang itu menepis lengannya hingga membekas merah. Apple beringsut dengan mata yang berkaca-kaca. Sama sekali tak mengindahkan, Jin menatap si gadis pirang melalui mata membesar penahan kemarahan.
Apple ambruk melihat raut sang guru bimbingan yang sebegitu menyeramkan untuknya, menyisakan rasa takut; bingung; tak percaya. Jin berdiri, mimik seolah tak gentar untuk menyakiti, tapi kenapa? Apa salahnya? Apakah---
Brak!
Seketika seluruh atensi mengarah pada pintu besi. Mereka tidak salah dengar 'kan? Seperti ada yang menendang kuat dari luar sampai-sampai pintu hampir ambruk.
Suara keras itu kembali terdengar membuat seluruh murid makin meringkuk dalam gemetar, begitu pula tangis pemuda Vermillion makin deras. Bibirnya bergetar, hanya isak terdengar samar tetapi rintik mata sungguh membanjiri. Jin siaga dengan pedang terangkat di depan wajah, erat menggenggam hingga nampak buku jarinya memucat. Namun masih tak henti bergetar, apa bisa Jin bertarung dengan kondisi seperti ini?
Bam!
"Hiyaaah!" Jin melancarkan satu tebasan dan derak basah terdengar.
Mata hijau membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang dilihat. Dengan mudah serangannya dihentikan oleh REDstar. Bukan dengan cara repot seperti menahan dengan katana atau mengelak, tapi menggunakan dekapan satu tangan pada mata pedang. Darah memercik pada wajah dan baju keduanya. Menambah aroma amis darah dari si pemuda hitam juga volume genangan benda cair berwarna merah tersebut.
"Apa yang ... ugh!"
Debam kembali menyapa, REDstar menendang Jin. Andai para murid di belakang tidak mengelak, mereka mungkin sudah tertimpa badan pemuda pirang. Denging menusuk telinga ketika pemuda serba hitam melempar jauh pedang milik Jin, membuat seluruh perhatian manusia di tempat itu tertuju padanya dengan ekspresi ketakutan. Sebaliknya, REDstar justru memandang melas pada mereka.
"Dengar! Aku ingin ka---ack!" Ia mengernyit merasakan perubahan di tubuhnya. Ia menggeram, mengekang kepala dengan sebelah tangan. Membungkuk sedikit, menahan sakit.
Ia kian merunduk. Bahkan sekarang keningnya telah menyentuh lantai metal berbubuh darahnya sendiri. Menggumam pelan, "Ti---tidak."
"Aaarrgghh!" REDstar memekik lantang, tubuhnya ambruk. Seluruh manusia terdiam, heran dengan apa yang terjadi. Apa dia kesakitan karena lukanya? Sepertinya bukan.
"De-deadly Sins terkumpul, kalian la-larilah ... lari, " lisannya terbata, tetapi masih jelas terdengar.
Jin terkejut, ekspresi campuran antara tak percaya dan bingung teramat sangat. Sedangkan Apple keheranan. Gadis itu melangkah pelan mendekati REDstar, perasaannya campur aduk. Jarak sudah sepuluh senti tetapi cepat pemuda hitam melompat mundur. Ah, dia sudah sadar. Wajah Apple jelas sekali mengukir kekhawatiran, tetapi REDstar membalasnya dengan senyuman ... miris.
"Ternyata ... tidak bisa.”
"Apa maksudnya? Eh, tungguuu jangan pergi!"
Telat, pemuda tadi sudah hilang dalam temaram.