REDproject

REDproject
Bab 21: The Witch



"Iya, aku ingat sekarang."


Ingatan akan kehidupan yang dahulu. Dimana anak penjulukan REDstar mengorbankan tubuh demi menghidupkan kembali dan penyebab dirinya abadi. Hidup sendirian tanpa orang tercinta membuatnya menderita, terlebih kehidupan abadi terasa menjadi sebuah kutukan ... ratusan tahun lamanya. Berdoa dan berharap akan kembalinya sang pendamping hidup. Tak disangka dia pula yang akan menodai tangan dengan darah.


Seperti kejadian awal, saat REDstar lepas kendali dan melahap seluruh bumi dalam api ... ikut mematikan dirinya yang mengerang dalam hunjaman belati penuh racun. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu, tidak lama lagi kamu akan mati oleh orang tersayang? Dan memang setelah itu ....


Hidup dari Vessel Pride dengannya—The Hope—yang akhirnya mati karena The Hope lepas kendali. Hidup kembali sebab The Hope mengorbankan tubuh tetapi kembali menarik napas penghabisan di tangannya lagi. Sekarang, 7 Vessel Sins sudah terkumpul ... seandainya dia tahu akan kebenaran buku yang dibuatnya sendiri—Story about "RED"—lebih awal, ia pasti bisa menghentikannya. Namun---


Itu terus berulang, dalam lingkaran setan mereka terjebak.


"Aku memang penyihir waktu, tetapi aku tidak bisa mengendalikan waktu yang ini."


Setelah mati dalam gereja itu—Witch Graveyard—roh Aion berkelana, kembali pada pohon besar Unknown Place—Yggdrasil—karena doa The Hope ... penyesalan dan ketidakterimaan akan kematian dirinya. Aion tahu pohon itu menyimpan jiwa REDstar yang lain, andai saja ....


Sampailah ia melihat seorang ratu yang terus berdoa di bawah Yggdrasil, hari demi hari; tak henti menangis. Merasa iba, akhirnya Aion menjelma sebagai buat apel. Lahir kembali dalam rahim menjadi individu baru, tentu dia lupa ... dia tahu akan hal ini, karena penglihatan masa depannya. Itulah kenapa ia membuat buku cerita kuno—tentang The Hope and The Witch—sebagai sebuah serpihan memori sebelum wafat dengan seluruh kekuatan sihirnya. Namun sungguh, ini semua sudah telat.


"Harus berapa kali lagi ini terulang?"


Mungkinkah ini karma akan dosanya? Keegoisan membawa The Hope pergi di kala itu, tetapi meninggalkannya dalam hutan sendirian. Apa itu salah? Ia hanya ... tidak ingin REDstar terlibat masalah lebih jauh.


Hidup kembali dengan dendam pada manusia, membunuh siapa saja yang menginjakkan kaki di Unkown Place hingga tidak ada seorang pun ingin masuk ke pulau ini dan rumor yang terus menyebar. Salah? Manusia yang datang itu rakus dan tamak, haus akan Yggdrasil. Apa ini juga salah? Manusia sungguh berlumuran dosa.


Apakah ketika lari dari REDstar di malam itu ...? Tapi dia hanya takut, dan ....


Itu semua salah? Atau---


Ia menahan kepalanya dengan sebelah tangan, pusing menghantam keras. Membuka mata ... mayat itu sudah tidak ada, ralat, gadis ini sudah mendapatkan tubuhnya yang asli. Terasa sekali ia lebih tinggi dari biasanya, kaki jenjang itu ... rambut merah muda ini.


Aneh, sejak kapan raganya bisa kembali pada kasur ... di rumah? Apakah REDstar ... mungkin saja dia masih bisa ditolong, tetapi jika Apple sadar lebih awal. Sekarang? Sudah terlambat.


"Aku kembali." Ia tersenyum, senyum amat masam.


Apple—Aion—memungut buku yang tergeletak tak jauh darinya, sudah terbuka seluruhnya. Tulisan pudar pun bisa ia baca, ungkapan sebelum dia mati bahwa dia .... Air menggenang di pelupuk mata, mengalir pada pipi merona. Ia menutup mulut dengan tangan kanannya, berharap sakit ini akan luluh. Ketidak-mampuannya mengundang frustasi.


"Aku merasa bodoh, maafkan aku."


...-oOo-...


Melangkah keluar, mata biru langit yang polos memandang jelas guratan magenta di langit mengiringi gemuruh guntur. Dia tahu persis, ini pertanda buruk ... pintu masuk Lucifer ke dunia manusia terbuka. Jemari lentik itu meraba pinggang dan benar saja, ia masih mengenakan baju Apple walau tubuhnya adalah Aion. Sedikit aneh—pikirnya—baju ini sangat kekecilan. Akhirnya ia menjentikkan jari, baju berubah menjadi gaun hitam, khas miliknya.


"Pipe fox."


Rubah biru itu seketika muncul tepat di depan Aion dengan duduk bertongkat lutut. Pipe fox mengerjap, kenapa tiba-tiba bisa keluar? Terlebih, ada yang berbeda dari badannya. Ekor sembilan; tinggi; terasa banyak kekuatan sihir, apa---


Mendongak hingga jelas sudah mata abu-abu menangkap sosok wanita di depan. Ia merasa keheranan. Di depan memang sang tuan, aura ini sangat ia kenali. Tetap saja ... Pipe fox heran.


"Kenapa Pipe fox? Tidak kenal denganku?"


"Ti-tidak, aku tidak akan pernah lupa pada siapa aku menjalin kontrak ... tapi, uh."


Aion tersenyum. "Aku memaklumi, kamu pasti terkejut. Aku akan menjelaskannya nanti. Pipe fox ... seperti biasa, bantu mencari lagi ya? Seperti dulu mencari kak Jin, ya? Aku mohoooon."


Logat itu; kata-kata ini; gerak-geriknya; memang sang majikan. Raut lega terukir di wajah, rubah biru mengembus napas panjang. "Baiklah, mencari siapa?"


"Vinschent. Vinschent D'Leviantha."


"Vi-vi ... apa? Siapa?"


"Aku akan tunjukkan padamu, sekaligus menjelaskannya." Sentuhan tangan putih susu begitu pelan, memegang kepala siluman rubah. Sontak pikiran merasa tenang---


Bunyi debam teredam tebalnya alas rerumputan. Kasak-kusuk kerikil terseok antara riuh gesekan menyayat tubuh terhempasnya. Rubah biru ini merebahkan diri, tak mengacuhkan sedikit rasa sakit di tubuh. Mata abu-abu mengernyit, mengasumsikan penat akan berkurang jika melakukan hal tersebut. Karena apa yang barusan ia lihat dalam kepala teramat mengejutkan, itukah yang terjadi?


"I-itu, begitu? Apa master baik-baik saja? Ah, i-itu terlalu mendadak ... apa ini semua benar?"


"Iya Pipe fox, itu yang terjadi. Kita harus cepat, aku mohon lakukan tugasmu. Aku akan menyusul nanti, ada yang harus diselesaikan."


Detik kemudian mimik khawatir pada Pipe fox berubah serius, ia mengangguk. Rubah biru langsung melakukan lompatan akselerasi, hilang sekejap mata dari hadapan.


...-oOo-...


Pohon besar di tengah genangan air dan dikelilingi berbagai tumbuhan. Gaun jelaga yang dikenakan berkebit, juga rambut pink susu yang memanjang. Ia tak kunjung menderap langkah, masih mematung dengan binar terpukau yang meredup seiring degup jantung. Kaki putih si wanita—tak beralas—mulai meniti langkah, berayun ritmis mengolah riak air.


Dalam asri kebun penuh beraneka bunga, menghirup bau basah para tumbuhan. Tempat ini dilingkupi temaram, sebab dalam naungan kanopi dahan juga lebat dedaunan. Riak tenang genangan air membias sempurna secercah cahaya yang lolos dari barikade awan magenta. Para kunang-kunang sampai pada eksistensi mereka, menyerukan pendar khas tanpa segan, pembuat binar gemerling. Aion merenung pada sebuah adegan nyata di depan mata—tepat Yggdrasil.


Di sini tenteram, menyejukkan pula. Saat diputuskan untuk memasok kebutuhan inspirasi bronkus, udaranya bersih dan tanpa sadar ... tapak telanjang makin menjamah air, pelan-pelan naik batas terendamnya. Berat gaun hitam sebab rembesan air tak menghentikannya, hingga ia berdekatan dengan Yggdrasil. Dedaunan serupa maple berpendar emas saat lengan kanan menyentuh pokok kayu sang pohon, gaung gemersik sebab angin ibarat sebuah penyambutan.


"Aku kembali." Entah bibir merah itu berujar pada siapa, tatapan lesu lekat pada pohon.


"Aion." Yang dipanggil langsung menoleh ke asal suara. Wujud samar akibat tertutup bayangan, sekedar mata hijau yang bersinar bisa dilihat. Hingga sosok serba putih tersebut mendekat, ke enam sayap terhias manik-manik berlian sungguh mencolok.


"Gabriel."


"Aku anggap kamu sudah ingat. Kenapa kembali kemari?" Nada tegas lainnya ikut mengudara, Aion terkejut ketika malaikat bersayap empat sudah berdiri di belakangnya.


"Mi-michael?! Kalian menjaga pohon ini?"


Para malaikat tidak menjawab, hanya sang malaikat rambut pirang persis matahari bersinar lembut mendekati Michael. Keduanya memejamkan mata.


"Aku tahu ini salahku, tapi ... apa yang harus aku lakukan?"


"Aku ragu kau tahu apa kesalahanmu." Mata hijau tosca terbuka, Gabriel merapal lantang pada Aion.


"Ah, a-aku ...."


Sunyi mengisi tempat berair yang indah ini, tak ada salah satu dari mereka buka suara. Mulai menikmati senyap, mungkin. Sinar redup sang raja siang akibat gegap gempita magenta terbias pada wajah pualam seorang wanita berbalut gaun kelam. Si wanita menunduk, menatap dalam-dalam pantulan diri.


Helaan napas terumbar kemudian. Apple—dalam raga Aion—menyentuh ujung rambut merah muda yang tersisihkan di sisi dadanya. Ia nikmati hembus lembut sang angin. Langit gelap makin meradang. Mendung memang, tapi tak ada titik-titik air mencumbu bumi. Embun masih pekat, juga udara segar terhirup—setara dinginnya dengan es.


"Gabriel, aku ingin jiwa pohon ini," bibir merah tersebut menggumam. Kelopak ia katupkan, sekadar ingin meningkatkan rasa khidmat terhadap suguhan alam.


Gesit Michael ingin melangkah maju, jika saja badan tidak dihalangi oleh tangan kiri Gabriel yang merentang. Terdiam di atas permadani hijau, Gabriel menatap pada mata biru blizzard yang tegas. Tak ada yang mereka lakukan, selain aktif menukar udara pada alveolus. Saling tatap mereka ibarat percakapan bisu.


Tak lama Michael melempar pandang dan mendengus, sepertinya malaikat satu ini kalah argumen. Rambut pirang unmellow pendek sukses menjamah dingin pada sang malaikat, ia pun menyentuh tengkuk demi mengenyahkannya. Sedangkan Gabriel meretas senyum simpul.


"Kau tahu apa yang akan terjadi jika pohon ini kehilangan jiwanya?" Gabriel berlisan lantang, sedang Michael masih tertunduk dengan sebelah kaki menisik rumput pijakan.


Tungkai sang hawa disaruk tertatih, mematung sejenak pada sosok yang gagah nan tampan dari kepala malaikat bersayap enam di hadapan. "Aku tahu, pohon penopang kehidupan ini akan mati. Walau begitu, melakukan sesuatu atau berdiam diri sama saja 'kan? Lebih baik melakukan sesuatu."


"Kau harus membayar dosamu." Mata biru blizzard menilik tajam pada Aion, raut Michael seolah meminta untuk tak dikecewakan.


Wanita itu menjawab dengan mengulas senyum hingga mata biru langitnya terpejam.


"Baiklah akan aku berikan ... berdoalah pada Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa karena---"


"Karena tak ada yang tidak mungkin di tanganNya. Tuhan yang menciptakan segalanya, termasuk takdir pengikat kita. Hanya kuasa Beliau lah yang mampu," sambar Aion.


"Ya, Tuhan Maha Penerima Taubat ... tidak akan menyia-nyiakan amal hambaNya, walaupun sekedar kebaikan sebesar biji jagung."


"Sesungguhnya aku adalah orang-orang yang kembali, Gabriel ... Michael."