REDproject

REDproject
Bab 08: Witch Graveyard



...Hari ke-2, 6:24 Pagi...


Seekor siluman rubah merintih sembari memegang kepala di taman luar akademi. Membelalak dengan pupil mengecil. Berlutut di tanah, tak henti-henti bergumam. Bagai anak kehilangan orang tua—dia buta arah—dan mulai menitikkan air mata. Kejadian sangat aneh dan jarang untuk kitsune yang dikenal datar; dingin; tak berperasaan. Akhirnya ia mencoba memejamkan mata dan masuk kedalam pikiran.


"Aku harus ingat, apa terjadi, ada apa dengan ingatanku? Kenapa? Ah, saat itu ...."


...Hari ke-1, 9:57 Malam...


'Harusnya ... aku tak membiarkannya membuka buku itu.'


'Harusnya ... aku tak membiarkan ia membacanya.'


'Harusnya ... aku tak biarkan!'


"Master ada apa? Master?!" Mimik panik, melihat gadis pirang yang mendadak tak sadarkan diri. Apa yang harus dilakukan? Cemas dan bercucuran keringat. Mata abu-abu menelaah sekitar, setidaknya ada sesuatu untuk menolong tapi hanya buku cerita aneh, pasti karena buku ini.


Story about "RED" terus memancarkan cahaya pada lembarnya sampai siluman rubah mengambil dan menutup buku, pupus sudah sinarnya. Di saat bersamaan suara desau terdengar, Apple sadarkan diri. "Waktu itu kau mengatakan ... tertangkap dan mereka meminta bantuan orang gelap hingga membuatmu tak berdaya, 'kan?"


"I-iya, ada apa?"


"Bagaimana kau tahu?"


"A-ah? Sebenarnya orang itu serba hitam, bahkan mata dan rambut. Mempunyai kekuatan aneh, bisa memanggilku padahal tidak memiliki kontrak, dia---"


"Kau bilang, dipanggil?"


"Eh? I-iya, berhentilah bertanya, apa Master baik---"


"Di mana? Tunjukkan ...."


Mata biru menatap tajam dalam kilau menari-nari laksana komet mengitari. Keindahan yang mengherankan, ini bukanlah tatapan biasa. Siluman rubah terbius keelokannya sampai-sampai menuruti titah. Dia tidak dapat berpikir, entah kenapa kekuatan gadis ini mendadak terasa sangat besar, begitu besar hingga jiwa melayang jika berdekatan dengannya. Tak lama pikiran kosong. Tidak dapat melihat, hanya hamparan putih depan tatapan mata abu-abu.


Suatu cahaya hangat menyadarkan. Satu kedipan mata, dirinya berada di taman luar akademi. Falak timur, baskara mengintip malu dengan menggiring mega merah. Ini benar-benar sudah pagi, apa yang terjadi? Dia ingat betul baru saja bersama dengan gadis kecil rambut pirang di kamar asramanya. Namun, sekarang dia tidak bisa merasakan tekanan roh Apple di mana pun, padahal sudah menjalin kontrak.


Setelah mencoba mengingat, pusing. Menangis, ia mengusap air mata dengan tangan kanan sembari tangan kiri memegang kepala. Mencoba berdiri, berjalan sempoyongan masuk ke dalam akademi. Kenapa tidak ingat apapun?


Taman; ruang tunggu; lorong-lorong panjang. Menahan sakit di kepala dan seluruh badan, jauh dari sang majikan tentu membuat lemah. Ia juga tahu, memanggil dan membiarkannya tetap di luar akan terus menguras tenaga Apple. "Hanya bertahan tiga hari ...."


Napas engah, tak henti menelusuri akademi berharap menemukan seseorang untuk dimintai tolong. Hingga penglihatan menangkap manusia, lantas ia menghampiri seraya mengibas-ngibaskan ekor.


"Hei." Canggung, siluman rubah ingin sekali meminta tolong, tapi ya, belum pernah berbicara langsung dengan baik pada orang lain kecuali pada majikan.


Orang itu menyipitkan mata hitamnya, geraknya pelan merogoh Advance bag, ingin mengeluarkan rosario. Kenapa bisa siluman memasuki wilayah akademi, apa tidak ada yang menyadari? Akan sangat berbahaya membiarkannya terlepas begitu saja, apa lagi liar---


"Master hilang ... Apple."


"Tunggu, Apple? Murid Jin?" Mulut perempuan itu terbelangah. Ternyata rubah ini seekor familiar. Terlebih, tuannya merupakan teman satu guru bimbingan dan ... hilang?


"Saat itu Master minta diantarkan ke tempat asalku, tapi, seketika pandanganku buyar dan sempat aku dengar dia mengatakan sesuatu."


"Apa yang Apple katakan?"


"Yah, 'Direlpqt trtibggi dbqlih byqngn revbulqn qku brbiri dqlqn qzunyian yqng vnyedijkqn', apa maksudnya? Aku tidak mengerti." Berkata sembari memegang kepala, nampaknya ia benar-benar tak ingat. Ekspresi geram tak bisa mengingat hal penting.


Leona bersedekap, kening berkerut. Dia berpikir keras, bagaimana bisa kitsune hilang ingatan dengan cepat, atau ingatan diambil? Pesan terakhir pun tak jelas. Pasti ada yang aneh, siluman ini bisa mengingat kata yang sebegitu acak, sedang apa yang baru terjadi tidak ingat.


"Sebelumnya Apple sempat minta untuk diantar ke tempat asalmu? Mungkin memang sebaiknya kita ke tempat itu terlebih dulu."


Siluman biru menggigit bibir bawah. Sebenarnya tidak ingin kembali, tapi di saat bersamaan ia menginginkan tuannya. Mengambil langkah dengan ekspresi datar, tak melihat ke belakang. "Ikuti aku."


Terus berjalan, jauh. Memasuki hutan, melewati semak-semak. Hingga cahaya terlihat, langkah akhirnya terhenti depan gedung megah. Pipe fox menyentuh gerbang, siap mendorong dan masuk ke dalam.


Decit engsel menggaung, ruang besar dilihat. Untuk gedung sekelas ini, menjadi sepi sangatlah aneh. Rubah melihat sekeliling, merasa tak asing. "Kita sampai."


Di dalam, sang rubah lepas kendali—langsung berlari—hingga suara detak jam terdengar.


...Hari ke-2, 12:00 Siang...


Jarum menunjuk tepat ke arah pukul dua belas siang. Bunyi lonceng memekakkan, berjumlah enam yang berdenting dua kali. Sangat kencang hingga sang rubah tersungkur. Telinga sensitif menangkap suara begitu saja, membuatnya memegang kepala dengan erat. Rasanya ingin meledak; taring dan kuku tajam terlihat; menyakar-nyakar lantai, menahan sakit. Bahkan, mendengar suara tersebut membuat telinga Leona sedikit berdarah. Suara berhenti, suasana berubah drastis menjadi merah total dan ruang luas menjadi sempit.


Walau keadaan sudah menenang, dari jendela dan sela langit-langit keluar suatu merah kental. Sepertinya itu bukan darah berhubungan penglihatan mereka dibuyarkan menjadi merah, ataukah memang darah? Benda kental itu menutup jendela dan pintu masuk utama, menahan mereka untuk kabur.


"Terlihat tak nyata ... mimpi."


Pipe fox berdiri, memaksa tubuh lemasnya bangkit. Berjalan sedikit tetapi buntu oleh tembok menjulang hingga sepuluh meter. Dilihat tembok itu, terdapat pintu besar raksasa dari kayu pada bagian tengah, pojok paling kiri terdapat tangga lurus menuju lantai atas sedang pojok kanan menuju lantai bawah, dengan dibagian tiap tengah-tengah tangga dan pintu besar ada pintu kayu kotak berukuran sedang.


Rubah itu kebingungan, mana yang harus dilalu? Sama sekali tak mengenal pintu dan tangga itu, padahal ini tempatnya dulu. "Hei! Sekarang pergi ke mana?"


Kini Leona ikut berdiri, mengusap darah yang keluar dari telinga lalu melihat sekitar dengan bingung. "Pilih menurut instingmu, rubah biru. Kamu familiar Apple bukan?"


"Walau begitu aku tidak bisa merasakan keberadaannya!" Pipe fox menggerutu, bertingkah ling-lung.


Ia mencoba mendekati salah satu pintu kecil yang berada di sebelah kiri, di antara tangga naik dan pintu raksasa. Memiringkan kepalanya, perlahan memegang knop dan memutarnya pada rotasi. Namun, hal itu dihalang seketika benda merah mengalir dari sela atas pintu hingga menutup total.


"Ah! Bukan lewat sini ya? H-hei, apa yang master katakan itu ada petunjuknya?"


"Hm? Atau mau mencoba ke atas?" Rubah itu mendengar jelas ucapan dari perempuan rambut perak, berjalan beberapa langkah tetapi gontai. Satu persatu, tungkai menapak pada anak tangga. Di saat bersamaan hal aneh kembali terjadi.


Lagi-lagi benda merah menghalangi, Pipe fox nampak kesal dan bergumam tak jelas. Sesaat mencoba meredam amarah sembari melihat dengan seksama. "Sepertinya kita bisa naik dengan berpegangan pada sisi-sisi tangga ini, tapi tidak untuk turun. Bisa-bisa tergelincir sedikit dan jatuh terpingkal-pingkal dari ketinggian sepuluh meter. Benar ingin lewat sini?"


Leona kembali berpikir, memegangi kening sambil melihat ke atas. Pusing masih terasa setelah bunyi ... lonceng?


Rubah biru menjadi panik dan gugup seketika, entah kenapa cemas melanda.


"Rubah tenanglah, coba perkirakan di mana lonceng berada", ujar Leona.


"Aku tidak ingat apapun." Leona sekarang merasa iba. Jauh dari sang majikan pasti membuatnya tertekan.


Menengok ke arah manusia yang mencoba menenangkan, Pipe fox senyap. Tersipu dan cepat-cepat menghalau air mata dari wajah. Menarik dan mengembuskan oksigen, ia mencoba berdiri.


"Tempat ini, seperti gereja. Lonceng ... lonceng selalu berada di atas, apa master di situ?!"


Tanpa pikir panjang siluman rubah langsung menaiki tangga yang menuju ke atas dengan berpegangan pada sisinya, nampak sengaja dibuat demi membantu untuk naik. Sontak Leona terkejut dan cepat-cepat mengikuti. Tapi apa ini keputusan baik? Mereka tidak bisa turun setelah ini, Leona pun habis rencana.


Tiba pada lantai teratas, ia merasa sedikit lelah. Menoleh kebelakang, terlihat manusia yang bersamanya mencoba naik pula. Naik lalu tidak bisa turun lagi, itu pilihan mereka. Selesai mengamati kebelakang, ia melihat sekeliling. Alangkah dikejutkannya dia.


Tempat begitu berantakan dengan benda merah berceceran, menutupi banyak jendela yang berada di sekeliling. Tepat di bagian tengah belakang ruang, ada salib raksasa dirantai dengan kiri dan kanannya ada peti mati berjumlah empat. Mencoba mengamati ke atas dan benar, di langit-langit terdapat lonceng dengan bentuk beragam, berderetan. Di mana salib berada di utara, lonceng berada tepat di selatan.


"Apa ini?"


"Aku melihat ada lubang bertuliskan sesuatu tetapi sangat kecil, aku tidak bisa baca." Siluman rubah terus meneliti salib raksasa hingga ia melihat sebuah buku cerita tua. Sontak ia memungut, memeluk erat seraya bergumam, "Milik master ...."


...Hari ke-2, 7:40 Malam...


"Iya, karena itu ke sini, untuk mencari ...." Teringat sesuatu, Pipe fox memeriksa kembali empat peti mati di sisi salib. Ya, berisikan manusia yang menangkapnya dulu. "Tempat ini di mana aku dipanggil, tapi masih ingat betul ada lima orang. Satu dari merekalah yang memanggilku, orang yang benar-benar kelam."


Tercengang oleh kata-kata sendiri dan melanjutkan ucapnya, "Aku membunuh ke empat orang itu tapi tidak dengan satu yang lain dan dia mengatakan sesuatu padaku. Ah, tidak ingat."


"Hm? Yang kelima siapa?"


"Namanya, REDstar."


Suara lonceng memekakkan, lebih kencang dari sebelumnya membuat seluruh gedung bergetar. Begitu bergema sampai lonceng-lonceng itu sendiri runtuh dan menabrak lantai dasar, hingga lantai dasar juga runtuh beserta tangga yang mereka naiki.


Pipe fox mengaung mendengar itu semua, berontak bagai makhluk buas lepas kendali. Debu; kebul; mengisi seluruh ruang, tak lama rubah itu kembali tenang. Jantung berdetak kencang, napas terengah ditambah debu menusuk.


"Ah, mual." Ia masih menyandarkan badan pada lantai. Kejadian ini begitu aneh dan cepat, seperti mimpi. Mencoba bangkit lagi sembari memegang kepala. Melihat sekeliling, memperhatikan perempuan rambut perak yang berlutut dan batuk-batuk. "Kau tak apa?"


"Baik ... sedikit terguncang, tapi baik. Bagaimana dengan kamu, rubah?"


"Panggil saja Pipe fox." Ia berkeliling, melihat ke lantai satu. Nampaknya hal ini membuat lantai dasar runtuh hingga tak berujung. Melihat langit-langit, lonceng itu tak ada lagi dan menurutnya itu bagus. "Aku baik-baik saja. Hei! Lihatlah ke atas, nampaknya lonceng yang runtuh membuat lubang di langit-langit."


Ia kembali melihat sekeliling, rembulan sudah menggantung pada cakrawala. Sinar begitu lembut, sorotnya memasuki tiap relung hingga terlihatlah benda merah sebelumnya—ter. Menerangi salib raksasa yang terantai, membuat bayangan besar di tembok. Cahaya itu menembus masuk membuat bayangan dari tulisan kecil di tengah salib, tergambar jelas angka 8-1-1. Rubah biru memandang datar manusia di depannya. Leona nampak berfikir keras, bahkan dia sendiri tidak mengerti maksud di balik itu semua.


"Delapan satu satu. Delapan ratus sebelas ...."


Leona terus bergumam, mencoba mengulang-ulang kejadian aneh yang menimpanya di sini. Jika tidak bisa terpecahkan maka akan terkurung selamanya. Pesan rancu; ter; lonceng keras; lantai yang roboh, bulan purnama ....


Terus memejamkan mata, bahkan kini jemarinya bergerak-gerak seperti menghitung, perempuan ini sepertinya cukup handal dan cekatan terhadap sekitarnya. Sedangkan Pipe fox hanya terdiam dengan raut melas. Ya, yang dia inginkan hanya kembalinya sang tuan.


Dia bisa saja berubah menjadi wujud rubahnya yang kecil, mencari petunjuk-petunjuk lain. Tetapi itu akan menguras lebih banyak kekuatan magic sang tuan. Kecil pun belum tentu berguna. Pipe fox juga tidak tahu apakah Apple masih hidup atau tidak, jika sudah mati ... lebih memilih untuk menyimpan jiwa si gadis pirang. Dia juga menyesal menyisakan satu orang dari kelompok manusia di tempat ini, tapi, ah. Apa bisa membunuh orang yang terakhir?


Ketika rubah itu tenggelam dalam angan-angannya, ia dikejutkan dengan satu tepukan di pundak. Leona menatapnya serius. "Kau bisa gali salib ini?"


"Untuk apa menggali? Dan peti manusia semacam mereka untuk apa di sini?" Pipe fox berekspresi datar namun alis sedikit berkerut, marah dan memandang dingin empat peti mati di kanan-kiri salib raksasa.


Perempuan rambut perak menggelengkan kepala melihat tingkah si rubah. Tak lama, jarinya menunjuk, mata hitamnya mengikuti. Pertama mengarah pada atap gereja yang berlubang besar, bulan terlihat begitu jelas dari sana. Kemudian jari mengikuti kemana sinar menyorot—arah salib raksasa.


"Di tempat tertinggi dibalik bayangan rembulan aku berdiri dalam kesunyian yang menyedihkan, itu pesan terakhir dari Apple dan 811 adalah nomer untuk Smart Digging."


Mulut Pipe fox cangah mendengar ucap Leona. Sudah bisa memecahkan keanehan ini? Tanpa pikir panjang rubah biru mulai mencakar tepat di bawah salib. Lantainya terbuat dari marmer, mana bisa dihancurkan? Dia menghentikan perbuatannya, tangan kotor, kuku-kuku pun patah. Memandang ragu dan kecewa pada Leona, berharap majikannya bisa ditemukan segera, dikarenakan malam makin mencekam, perasaan menjadi tak enak.


"Tidak bisa?! Apa aku melakukan kesalahan? Atau salibnya yang harus dihancurkan? Atau ...?" Leona berbicara dalam kebingungan. "Pipe fox, tadi angka itu muncul di mana saat diterangi bulan?"


"Itu, muncul tepat di bayangan salib besar itu." Pipe fox lantas menunjuk tembok yang berada di belakang salib raksasa.


Kedua tangan kembali ia silangkan, jelas sekali kerut terlihat di kening. Jika yang mereka lakukan tadi salah. Berarti ... terlalu pusing untuk berpikir, kini Leona menggeram sembari mengacak-acak rambut sampai-sampai topi putihnya terjatuh.


"Kita hancurkan salib dan tembok itu!"


"Hah?! Kamu gila? Bagaimana bisa?"


"Bisa, dengan pedang."


Cepat Leona mengeluarkan pedang dari dalam Advance Bag, tas pinggang ini benar-benar ajaib. Pedang itu terlihat ramping, bertahtakan emas. Replika Marengo Napoleon, dipercaya dapat memotong manusia seperti memotong mentega. Dari kejauhan, Pipe fox terkagum-kagum.


"Jika Master di situ, jangan sampai kau memotongnya."


Mengembus napas panjang diiringi seringai. "Pedang ini yang membantuku hingga naik kelas Page 3, jangan remehkan."


Berdiri ke samping salib itu dan berancang-ancang. Denging bilah tajam menggelitik. Langkas mengayun dan menebas tipis bagian salib hingga terbuka. Rubah biru mendekat, melihat dengan teliti salib yang tertebas. Namun, lagi-lagi dengan ekspresi datar. "Tidak ada."


Mendekat dan menyentuh salib itu demi mengecek berharap ada petunjuk, sekuat tenaga ia mendorongnya dengan satu tangan. Tentu setelah tebasan tadi, perempuan ini mudah untuk menjatuhkannya. Leona mencebik dan meringis. Tak khayal, ternyata benar-benar kosong di dalam. Apa yang salah? Sebenarnya apa kesalahannya? Apa yang terjadi?


Pipe fox memiringkan kepala, melihat sang hawa nampak kesal tidak bisa menemukan temannya itu. Ia mencoba melihat sekeliling, melihat kembali salib dan lubang dari lonceng. Sesaat ia terdiam hingga terbesit sesuatu di kepalanya. "Apa ini ada hubungannya dengan ucapan Master?"


"'Ditempat tertinggi di balik bayangan rembulan aku berdiri dalam kesunyian yang mencekam', itu kan? Apa maksudnya?"


"Berdiri, bayangan ...." Pada akhirnya Pipe fox menggunakan otak, demi menemukan orang yang sedari tadi mereka cari-cari. "Apakah Master berdiri di balik bayangan sinar bulan tadi? Tapi di mana? Aku tidak bisa menemukannya."


"Bayangan sinar rembulan? Di mana?"


Mencoba mengingat kembali, rubah itu memejamkan mata dan mengambil oksigen guna menyegarkan paru-paru. Beberapa menit, ia membuka padangannya kembali. "Bulan yang aku lihat hanya dari salib, angka delapan satu satu di tembok ini."


Berkata sembari mendekati tembok yang berada tepat di belakang salib. Halnya, sekarang sudah tidak bisa melihat bayangan itu lagi dikarenakan salib tersebut sudah di robohkan Leona.


Sesaat ia tertegun, tak percaya dengan apa yang dipikirkan. Sejenak ia berpikir kembali untuk memastikan apa itu benar atau tidak, memandang perempuan yang bersamanya.


"Hem 'ditempat tertinggi dibalik bayangan rembulan aku berdiri dalam kesunyian yang mencekam', jika benar .... "