REDproject

REDproject
Bab 23: Recolliget



Suara terdengar seperti lolong kemurkaan berbaur pilu menusuk telinga. Retinanya menangkap sesuatu yang bergerak, jauh menjulang ketimbang gunung dan bukit. Naga panjang dan besar, bermulut laksana buaya melaung. Sejumlah sirip serupa tentakel berayun, menghancurkan sekitar tanpa dosa. Leviathan mengamuk, di susul dengan Demon of Deadly sins lainnya.


Kelopak pualam tersebut melebar. Angin berduru liar, membuat helai-helai pink bersicepat riuh. Bahkan Pipe fox terhempas hingga membuat ceruk pada hamparan hijau, membatukkan darah. Bagaimana bisa Aion melawan iblis berpangkat tersebut? Tetapi Lucifer ... dia tak henti tertawa dan mengibas-ngibaskan enam sayap kian tinggi—menyaksikan.


Hari ini, akan menjadi hari yang tak mungkin terhapus dari ingatan. Angin berembus kencang, mengangkat selimut debu dari permukaan. Aion berdecih, menghalau deru angin dengan kedua tangan. Semburan api menyengat panas, terasa sanggup melumerkan otak. Penduduk—yang menyaksikan di kejauhan—berlarian meninggalkan hunian mereka dengan membawa benda seperlunya. Tetapi ke mana? Mereka juga tidak tahu.


"Level nol sampai satu, lindungi penduduk! Utamakan wanita dan anak-anak! Level dua dan tiga, persiapkan persenjataan pasukan! Level tiga keatas, persiapkan jebakan!" instruksi seorang pemuda pirang yang tengah mengepakkan sayap hitam, meluncur kian dekat pada lokasi. Gurat dahi terfokus menandakan ia sangat serius. Sejenak mata hijau mint melihat ke depan, mengedar pandang pada hutan yang luas.


"Baik!" serentak banyak sosok di setiap sudut menyahut.


Seluruh murid, bahkan para guru Exorcist Academy berhamburan. Beberapa menangani tempat sekitar lokasi—menyelamatkan penduduk—sedangkan yang lain menahan makhluk Another World. Mungkin ada juga yang pergi ke tempat jauh, seluruh celah tak lepas dari jamahan mereka. Apa yang terjadi?


Dengan cekatan para exorcist mempersiapkan jebakan. Mereka menuruti titah, seakan tidak ada hari esok. Suasana terlihat ramai dan kacau. Bahkan jauh di sana, anak kecil yang berdiam diri dalam tangisan sunyi; tertabrak berulang-ulang dan akhirnya jatuh, ikut ditolong oleh siswi EA. Familiar berterbangan, ikut menyelamatkan; membantu; menyerang.


Suara letupan meriam mengudara. Asap mengepul, membumbung tinggi. Mengisi celah-celah kosong diantara pepohonan. Bunyi meriam dan teriakan kesakitan menyiksa gendang telinga. Bahkan pasukan pertahanan para manusia ikut hadir. Sepuluh menit, desing peluru menghilang, berganti dengan dentum langkah kaki mengentak tanah. Sosok naga buaya setinggi tujuh puluh meter menderam, bersama kelompok besar makhluk Another World dan bahkan Demon of Deadly sins lainnya—kecuali Lucifer.


"Pasukan pertama, kalah ...." Kelopak mata Jin terbelalak. Terkejut, kawanan makhluk tersebut kian mengganas.


"Ck, yang tidak siap mati! Sekarang saat terbaik melarikan diri sebagai pengkhianat!" teriak si guru kekar, berusaha memicu keberanian disetiap hati para exorcist.


"Level tiga, Esquire dan Meister! Hentikan Leviathan dan Demon of Deadly sins bersama para guru! Level tiga kebawah, tangani monster Another World dan ungsikan para penduduk!" instruksi lainnya terdengar.


Hingga mata biru langitnya menangkap sosok perempuan yang melesat. Cepat Aion menghampiri. "Kak Mizu!"


Mizu terkejut, menaikkan sebelah alis hitam ketika si wanita muncul tiba-tiba di depan. "Kak? Siapa?"


Pasti Mizu tak mengenalinya, itu wajar. Aion—Apple—menggeleng, menepis pertanyaan tadi. "Apa yang terjadi?"


"Melawan. Memangnya manusia akan tinggal diam?" Suara tegas seperti biasa, perempuan itu kembali melesat hingga rambut hitamnnya berkebit. Menghampiri sang kekasih, Jin Vermillion.


Dengan kecepatan yang tak biasanya mereka mulai menyerang. Terbang tinggi seraya menebas para iblis dan meliuk-liuk menghindarinya. Jin mencoba mengalihkan penglihatan Leviathan, sementara yang lain menyerang Demon Deadly sins. Makhluk Another World membabi buta menyerang setiap manusia yang terlihat, beruntung para exorcist muda di bawah berusaha melawan mereka.


"Cepat tahan para Demon!" komando kelompok tiga puluh exorcist, tetapi seperti secuil kerikil di padang luas. Mereka tak mampu menahan laju para iblis berpangkat walau semenit dan berakhir dalam abu api.


"Merepotkan!" Pedang Frost Bite Jin genggam erat. Ditempelkannya kertas mantra air pada ujung pedang. "O facies murum!" teriak si rambut pirang. Menancapkan bilah tajam di jalan utama Leviathan, menciptakan tembok es yang dirasa mampu menghambat raksasa tersebut. Walau sementara.


Kokang senjata api terdengar, kali ini si perempuan lolita tak menggunakan mantra.


Sejurus kemudian letupan moncong besi tadi terdengar beruntun. Raungan kian gencar melengking, dentum makin meningkat frekuensinya. Mizu menyerang iblis Deadly sin yang lain.


Terdian, Aion sempat kagum melihat kerja mereka. Kompak, inikah penghuni EA yang sebenarnya? Jika seperti ini ... mungkin bisa diatasi. Ikut membantu, Aion memilih menyerang dari atas menggunakan sihir.


Mati.


Ya, itulah yang terjadi kepada tim penangkap dan pengembalian Demon Deadly Sin. Semua terjadi begitu cepat. Mata tak mampu merekam bagaimana exorcist yang kuat dan berpengalaman tiba-tiba terpenggal, hanya Xavier saja yang dibiarkan hidup. Tentu ini tidak akan semudah perkiraan. Tali baja suci yang menjerat tubuh Leviathan pun terputus. Makhluk Another World berhasil menggigit dan menelan tiap inci daging para penduduk. Kumulus hitam berarak menutupi langit kota. Menjatuhkan butir air yang tak terhitung jumlahnya.


Petir sahut menyahut. Menambah suasana mencekam.


Tetapi Lucifer masih di situ, hanya terbang menghindar dan menjauh, dengan kekehan kecil. Apa yang dia pikirkan?


Mizu menilik rekan-rekannya, seluruh dari mereka tengah bergelut dengan para iblis. Ia menuju utara, dirasa area itulah yang senggang penjagaannya sebab jumlah pengungsi di sana tak sebanding dengan area lainnya. Perempuan Shikurai menggeram kesal, kedua tangannya terkepal erat. Bau anyir darah menyeruak pekat. Sisa-sisa organ dalam teronggok mengenaskan, memercik amarah sang lolita. Ia memejamkan mata erat.


"Cukup. Cukup berpestanya, makhluk sialan," desis Mizu penuh penekanan, kelopaknya terbuka nampak matanya berubah merah darah. "Sekarang giliranku yang berpesta pora."


Makhluk Another World mulai berdatangan ke arah si Shikurai. Mizu menyeringai, mengarahkan sang Flintlock, senjata spesial persis yang dimiliki oleh sang Paladin. Ia bergerak cepat. Sangat cepat. Menembaki musuh-musuh sialan tepat di kepala, membuat mereka terkapar mati. Ditembakkan ke sisa-sisa dari makhluk busuk yang tak sempat dibunuh tadi. Mereka sontak tak bergerak, kaku seperti patung. Itu kekuatan menghentikan waktu, ternyata Aion mengekor. Kedua pistol disisipkan ke dalam kantung di badan. Ia meraup pedang, melesat dan menanggalkan kepala-kepala kotor tersebut dalam pola zig-zag sekali serang. Beginilah jika Mizu mulai marah, mengerikan.


Pedang berganti dua elang gurun. Melesakkan peluru suci ke setiap iblis yang mengancam. Dingin yang menusuk dirasakan. "Perasaanku saja atau memang hujan ini seperti pengantar kematian," gumam Jin masih intens menembak.


"Bagaimana ini Xavier?"


"Seratus empat exorcist tewas, tujuh puluh tiga luka hebat, apa yang sebaiknya kita lakukan?" Xavier tak menjawab. Memilih berlari ke arah suatu kamp pengungsian ditengah hujan yang semakin deras.


"Semua! Segera menuju taman!" instruksi Xavier disambut penolakan keras dari penduduk.


"Kau gila! Seharusnya kalian para exorcist melindungi kami! Bukan menjadikan kami umpan!" seseorang memprovokasi.


"Cih! Lalu kalian anggap apa pengorbanan kami! Di luar sana banyak teman-temanku yang tewas untuk melindungi kalian yang bukan siapa-siapa kami!"


"Masa bodoh! Kami tetap di sini!"


"Dan menyerahkan diri menjadi makan malam mereka!?" Suasana hening sejenak. Sebuah pertaruhan yang sangat berisiko. Ide Xavier mengarahkan penduduk ke taman guna memancing para iblis tersebut ke sana dimana alat-alat penjebak sudah dipersiapkan.


"Ayo semua ke taman!"


"Kita harus membantu exorcist!"


"Ya!"


Para rakyat mau bekerjasama. Xavier memimpin manusia-manusia itu keluar dari kamp. "Semua Exorcist! Lindungi penduduk! Kawal menuju taman!" seru pria kekar bertato. Penduduk berlarian mengikutinya.


Strategi berhasil.


"Sedikit lagi! Terus berlari! Jangan sia-siakan pengorbanan nyawa saudara kita!"


Para iblis masih tak tinggal diam.


Mizu berdecak sebal, menembak kepalanya sendiri. Terhuyung sebentar, kemudian muncul berpuluh kloning semu sang gadis. Menyerang Demon Deadly Sins dan antek-anteknya secara melingkar. Kekasihnya ikut membantu, pemuda pirang menebas tanpa ampun. Brutal. Bahkan tak mengindahkan napasnya yang terengah hebat. Sesak melanda relung dada. Jangan tanya kenapa, karena takkan pernah dijawab oleh pemuda awal dua puluhan ini.


Pelampiasannya sekarang adalah iblis yang memang harus dienyahkan. Menebas tanpa jeda. Jin Vermillion tak lagi mengenakan teknik seperti biasa. Hanya melancarkan serangan asal, membabi-buta. Ia asyik melenyapkan dengan mata hijau yang nampak lebih kelam. Entah efek bias temaram suasana atau apa.


Tak boleh berhenti menyerang.


Mempercepat larinya dan beberapa exorcist terinjak dan dimakan oleh Demon Deadly sins. Hujan batu kembali dibuatnya. Sukses menyakiti semua exorcist yang masih hidup dan mengawal penduduk.


"Kacau," Mizu mendesis, ia menarik napas. "Semua kloning, fokuskan serangan pada iblis Deadly Sins! Kita harus membekukan mereka!"


"Baik!" serempak semua menyahut. Mereka mulai melingkar, mengarahkan moncong pistol.


Suara peluru terdengar beruntun, dibantu sihir Aion. Para Demons Deadly Sins—kecuali Lucifer—terhenti seketika, beku seperti patung. Hanya mereka yang terdiam, gerombolan makhluk Another World tak masuk hitungan.


"Berhasil," gumam Mizu. Darah mengalir tanpa permisi dari lubang hidung, ia telah sampai pada batasnya.


Ledakan hebat terjadi.


Puluhan kotak berlubang melesak pasak bertali baja suci. Exorcist senior yang tersisa menyiapkan ritual pengembalian para Demons Deadly Sins. Rapal terdengar. Kilat semakin intens menyambar. Portal dimensi terbuka, menelan makhluk akbar kembali ke asalnya. Karena tak mungkin bisa mereka membunuh para iblis. Terik menggelegak sedetik seperti mengoyak kulit ari, meski hanya sebuah fatamorgana jenis hiperbola. Lengkingan menggaung, raung tak suka turut mengudara, berasal dari Demons of Deadly Sins yang ditarik paksa oleh portal.


Langit mereda, gurat magenta perlahan ditelan jelaga. Disusul eksistensi ratus kerlip jenaka para gemintang, menemani sang rembulan. Meski sinar perak mulai meraja, tetapi hiruk pikuk seakan enggan reda; seakan tak kenal lelah mengolah riuh; seakan tak kenal apa itu istirahat.


"Tugas baru! Habisi makhluk Another World! Kumpulkan sisa-sisa jenazah dan makamkan dengan layak!" titah Xavier.


Para exorcist yang tersisa memenuhi perintah.


Mata Mizu belum berubah normal seutuhnya. Warna serupa darah lekat terlihat di mata kanan. Si perempuan mendarat di bagian terjauh dari kerumunan rekannya. Langsung menumpu tubuh dengan lutut dan telapak tangan. Ia muntah darah. Efek dari menggunakan kekuatan berlebihan.


"Mi ...." Mizu tersentak. Sayup suara manis itu menggelitik telinga.


"Jin?" gumam Mizu, sebelum kembali mengerang dan menumpahkan darah dari mulutnya.


"Istirahatlah dulu." Mimik Jin khawatir, menyandarkan pelan raga lusuh sang kekasih pada suatu pohon.


Mizu diam. Ia menahan sakit di tubuhnya. Napasnya tersendat, kemudian terbatuk kencang. "Apa sudah selesai?"


Di atas, para exorcist yang tersisa masih melakukan perlawanan, membasmi sisa makhluk Another World. Setidaknya iblis Deadly Sins sudah mereka kembalikan ke tempat---


"Ahahaha, kerja bagus." Lucifer masih di situ, bertepuk tangan. Mereka terlalu fokus pada iblis yang menyerang, hingga melupakan sang Pride. Sontak para manusia terkejut, mata mereka membelalak. Yang terparah masih ada, padahal ... banyak yang gugur.


"Kau melupakan ...." Sontak Aion mengedar pandang mendengar ucapan Lucifer, perasaan sungguh tak enak, dan---


"Kakak awas!" Gesit Aion melompat, mendorong Jin.


Nahas, hanya Jin ....


"Akh!" Suara merintih menggaung, terdengar tercekik. Cairan hangat merambat kepalan tangan pucat. "Augh, ka-kaau---Hooopee ...!" kalimat Mizu terputus kala sesuatu yang menikam—menghantar rasa sakit sampai ujung kepala—lebih dalam lagi.


Pemuda serba hitam itu menekan lebih jauh katana dalam genggaman, menariknya pelan-pelan membuat Mizu kembali memekik. Mungkin itu membuatnya terlalu kesakitan karena bilah tajam yang hendak dicabut kembali ditekan kuat. Teriakan pilu menggema lagi. Jin melihat kekasihnya meregang nyawa—seluruh tubuhnya menegang, mengejang singkat.


Pemuda itu berdiri, menarik kasar katana dari raga mengenaskan hingga memercikkan darah. Pedang amat usang, gerigi tak rata dan juga terselimut aura kegelapan yang kuat seperti empunya.


"Bukan aku yang kau lupakan, tapi dia, parah sekali." Tawa mengerikan itu kembali memekakkan, Lucifer benar-benar ....


"Mizuuuuu!"