
Bilah pedang berayun ritmis dengan si pengguna; membelah udara hampa di sekitar; menebas sana-sini secara tegas. Sesekali berputar apik kemudian berakhir menghunus. Dedaunan yang terbelah menjadi saksi bisu kegiatan seorang pemuda pirang. Mata hijau mint mengecamkan sekitar. Tambahan seragam biru tua pertanda kelas Esquire tingkat akhir terikat di pinggang, tampak kaus putih basah pencetak dada kekarnya.
Pembatalan ujian dan tidak ada izin untuk melaksanakan tugas bukan berarti harus tetap bersantai. Mengingat dan memanaskan tubuh akan pelajaran. Sihir putih pun hitam, pemberantasan pun pemurnian makhluk yang seharusnya ada di alam berbeda, semua kegiatan di akademi ini hampir keseluruhan berada dalam lingkup tak normal. Tapi, di situlah bagian yang menarik.
Setidaknya dia tidak sendirian, murid lain berseragam sama berkumpul di taman ini. Membaca buku; memerhatikan manuver pemuda Vermillion; melatih kemampuan mereka masing-masing.
"Kau makin handal, Vermillion."
Suatu pujian terdengar, tetapi tidak mengubah raut gusar sang pemuda. Dia mengebus napas panjang seperti sesuatu mengganggu pikiran.
Hingga suatu gemuruh sangat ricuh terdengar beriringan dengan kilatan remang, membawa arak-arakan pusar magenta di angkasa. Jelas sekali kalau itu mengisar suatu sorot putih, tempat di mana Ark berada. Lantas perhatian seluruh murid tereksekusi pada guratan langit tersebut, mimik khawatir jelas terukir di tiap individu. Cepat-cepat Jin menghentikan latihannya, memasukkan kembali pedang kesayangan—Frost Bite.
Melihat gerak-gerik mencurigakan dari Jin, pemuda lain mencengkeram sepasang bahunya yang tak berbalut baju, sedikit lembab oleh keringat. "He-heeei Vermillion! Ingin pergi kemana? Kau gila?! Kita dilarang meninggalkan akademi, terlebih ... ada yang tidak beres!"
Yang dilabuhkan pandangan hanya mendesah tertahan. "Aku harus melihat keadaan, perasaanku tidak enak."
"Ta-tapi, apa kamu mau membantah Yukio?!"
"Memang bedebah kau Vermillion!" Kali ini fonetik mengaung berisik. Disusul tubuh jangkung Jin terhempas. Bukan pemuda pemegang pundaknya yang melayangkan tendangan barusan, itu laki-laki penjemputnya jauh-jauh hari ketika Jin berada di tempat Ark.
Tendangan tadi cukup keras hingga Jin terlempar, tetapi pemuda berambut pirang memanfaatkan hal tersebut demi merentangkan kedua sayap hitamnya. Mengepak sayap, ia melesat lebih tinggi. Mata hijau memandang ke arah pusat cahaya, terbang menghampiri dan mengacuhkan kumpulan suara yang memanggil-manggil. Tidak ada manusia lain mengikutinya, hanya beberapa kekuatan sihir dan familiar. Sepertinya pemuda bermarga Vermillion ini saja yang memiliki sayap.
Menukik; melaju; menghindar. "Latebat fumi!" Sontak suatu ledakan asap hitam mengebul. Lebat sekali hingga terselimut hitam. Familiar yang mengikuti Jin batuk-batuk sampai mereda ... mereka kehilangan jejak si pemuda pirang.
...-oOo-...
"Tidak! Bapak jangan melawannya! Aku, aku ingin---"
"Maaf Apple, kamu harus tetap aman." Yukio menahan Apple yang melawan; meronta. Ditancapkanlah Yukianesa dan Honjo Masamune di kiri dan kanan si gadis menciptakan suatu barier kotak; tembus pandang; peredam suara; penahan sihir. Pria ini merelakan kedua pedangnya demi melindungi Apple.
Pemuda serba hitam terus terdiam. Jikalau dia ingin menyerang atau melarikan diri, ini adalah kesempatan emasnya. Namun dia tetap di situ—tidak tahu apa yang dia pikirkan—dengan mata kelam lekat pada Apple.
"Jadi, kudengar kau meninggalkannya ...," Yukio membuka mulut.
Desir angin membuat jubah hitam pemuda di depan berkebit anggun, juga rambut cokelat tua Yukio. Rumput pijakan begitu lembut, tumbuh menghampar sejauh mata memandang. Pepohonan tumbuh teratur, ditata apik oleh alam. Ini indah—sungguh—walau sudah sedikit rusak dan bernoda merah. Namun, mungkin sebentar lagi akan berganti makin guram dengan darah atau onggok organ tubuh berceceran.
"Kenapa? Kau sadar eksistensimu terlalu berbahaya untuk gadis itu, hah, REDstar? Atau lebih dikenal ... The Hope." Mata hitam mendelik tajam menuju mata biru Yukio, REDstar menyipitkan mata.
Lantas Yukio terkekeh setelah mendapat perhatian si pemuda hitam. Mengeluarkan dua bilah pedang lain dari dalam saku terkalung di paha yang bahkan tak mungkin menampung satu kemoceng. Itu namanya Advent Bag—sebuah tas dimensi—batas penyimpanannya tak terhingga. Ah, dia punya senjata lain.
"Apa kau bisa membunuhku?" Pertanyaan dari pemuda sungguh ambigu di balik sopran aksen datarnya, entah itu gertakan atau memang suatu pertanyaan.
Seringai tipis mengumbar kesan menantang. Yukio menyelipkan Sacred Relic di pinggang, sementara Adsvolution ditampilkan pertama. Ekor berselimut api biru menyembul di belakang tubuh sang Paladin, tambahan dua api kecil di puncak kepala bak tanduk semu. Siaga bersama kuda-kuda sang empunya, bibir tipis tersebut berlisan lantang, "Entahlah, ingin coba?"
Seketika Yukio telah berada lima puluh senti di hadapan. Mengayun sang senjata ganas sembari terbahak lepas. Tawa aneh dari Yukio mengerikan, inikah orang paling tenang se-akademi? Memang seram kalau dia marah.
Trang!
Refleks menghalau serangan Yukio dengan katana, melintang di depan wajah. Desing menggaung jelas, memekakkan telinga. Berbaur bersama deru angin yang mulai liar. REDstar berhasil menyalamatkan ceruk lehernya dari tebasan tanpa iba milik Yukio. Memberi dorongan pada Yukio hingga terpental, tetapi pria itu kuat dan kakinya mencacak bumi.
"Hentikan!" Apple berteriak dalam barrier. Namun percuma, tidak akan terdengar. Si gadis pun bergegas mengeluarkan seluruh barang dalam advance bag, mungkin ada yang bisa membantunya keluar.
REDstar melesat, kecepatan pemuda ini memang di luar nalar. Apa dia memang manusia atau bukan, itu adalah suatu pertanyaan besar. Mata biru milik Yukio bermaksud mengekor, tapi tak berhasil. Resah mulai melanda relung rasa dan yang terjadi di detik setelahnya adalah, dagu mulus sang Paladin telah mencumbu tanah berumput disertai ngilu luar biasa di bagian punggung. Pemuda itu menendangnya keras. Mulut Yukio terbuka seakan hendak berteriak. Nyatanya, tak ada se-gelombang getar suara pun keluar.
Yukio terdiam cukup lama hingga pemuda serba hitam melangkah mendekati. Pergerakan tiba-tiba, Yukio berguling cepat. Adsvolution bersarang dalam sisi pinggang yang lain, juga tanduk dan api biru lenyap dari tubuh Yukio. Ia menembakkan peluru asap setelah Magnum Kaliber—salah satu pistol exorcism biasa—dikokang.
Asap pekat menyeruak; membuat REDstar terhuyung mundur beberapa langkah; aktif mengibas tangan di depan wajah bermaksud melenyapkan penghalang pandangan buatan musuh di depan. Pria baya ini sudah tidak bisa menggunakan pistol kembar kesayangan—Smith & Wesson 500 Magnum—pencipta euforia. Amunisi pistol tersebut telah habis.
Yukio telah lompat menjauh dari sana. Ia mengisi pistol tak istimewa dengan sebuah peluru baru, itu adalah peluru kejut yang akan menghantar listrik ketika bersinggungan dengan lawan. Tak geming menarik pelatuk, di arahkan tepat pada REDstar yang masih sibuk oleh asap.
Gerakan mengibas tangan berhenti. Ia sadar akan kedatangan peluru entah jenis apa, melesat ke arahnya. Pemuda ini bermaksud menepis serangan menggunakan katana karena dalam benaknya, ini hanya peluru biasa. Namun perkiraannya salah, ini adalah peluru listrik yang bereaksi setelah bersinggungan dengan apapun.
Ngiang aduan peluru dengan bilah tipis terdengar, begitu pula sengat tinggi listrik. Mata REDstar terbuka lebar; tubuhnya menegang, pemuda serba hitam ambruk dengan kesadaran utuh; menggelepar kaku; membisu. Sedangkan katana yang digenggam lepas dari kuasa, bergulir tak begitu jauh.
Yukio menghampiri dengan mengintimidasi, "Hah, bodoh." Ia kembali mengokang senjata api, diarahkan tepat pada jantung REDstar. Pemuda itu memejamkan matanya, seolah pasrah akan keadaan. Mungkin kah ... dia memang ingin mati?
Letupan pistol terdengar bising, pertanda peluru telah melesat dan mungkin bersarang di targetnya.
Yukio membuka matanya lebar-lebar dan jelas sekali pupilnya mengecil. Peluru itu terhenti tepat di depan dada kiri REDstar. Kelopak pucat sang pemuda menggulung, ia sendiri terlihat tidak percaya akan pandangan matanya. Begitu pula mata milik si gadis kecil. Matanya berkilauan bagai gemintang mengerling jenaka bak glitter di atas kanvas biru. Ia menatap lurus pada peluru tersebut dengan tatapan kirananya. Ini bukan pandangan milik si gadis, apakah dia ....
Sedemikian buku cerita kuno bertulis Story about "RED" terbuka lebar pada lembar ke limanya yang tebal dan bercahaya. Terlihat sosok pemuda di atas suatu bukit dalam hutan dan di bawah seorang wanita melihat ke arahnya. Seperti di dalam hutan yang rimbun. Tertulis tulisan sambung amat rapi: "Setelah menjalankan tugas dan bertemu malaikat lain, harapan menemukan tempat yang cukup sepi di dalam hutan kecil. Sunyi; terpencil; di mana suara kicauan burung pun tak terdengar; tempat yang benar-benar di inginkan oleh sang harapan. 'Aku akan menghabiskan hariku di sini tanpa siapa pun.' Di saat harapan ingin memejamkan matanya dan mengurung diri dalam kesunyian, seketika terdengar suara manusia. 'Kau sendiri juga?' Seorang wanita muncul tepat di samping sang harapan. Darimana dia, apa dari tempat itu dan mengikuti hingga kemari? Berapa lama ia akan ada di situ? Dia tidak tahu."
RedStar lenyap dari sana dalam kedipan mata. Yukio mengedar pandang kesana-kemari, mencari si pemuda dengan Adsvolution yang kembali digenggam. Jemari bertautan erat; mata menatap siaga ke segala penjuru; bersiap atas segala kemungkinan serangan.
Siluet kelam bergerak di atas hampar rerumputan yang dipijak Yukio. Ia mendongak cepat dan REDstar tengah melesat dari atas, mengacungkan katana; menukik ke bawah. Yukio memutar tumpuan badan; menengadah dengan pedang melintang; menolak serangan REDstar.
Desing memekakkan kembali menggaung, tegas terdengar terbawa angin.
Kedua laki-laki ini sama menyerang dan bertahan. Sama-sama handal bergelut dalam pedang. Dengan kecepatan si pemuda, Yukio tidak bercelah merapal mantra. Walau begitu, mereka penyerang jarak dekat yang akurat. Belum ada luka, belum ada ceceran darah. Keduanya sama-sama piawai menjaga keutuhan tubuh.
Yukio menghunus, REDstar menghindar. Penging melanda kala keduanya memilih menyerang secara bersamaan dan kedua bilah besi tersebut bertumbukan.
REDstar menebas, Yukio kokoh bertahan. Gemercik api meletup-letup pada aduan dua bilah tajam. Bahkan sekarang, dua adam ini bertarung di langit. Melesat maju, bertekad bulat seolah hendak membunuh satu sama lain.
Sang Paladin menggenggam sisi tajam Adsvolution, mencengkramnya kuat hingga darah mengalir dari celah sempit epidermis telapak. "Imposito Manus!" rapal Yukio. Adsvolution membelah di bagian pucuk, bercabang dua. Sang Paladin menarik lari satu pedang—Sacred Relic—yang cukup usang. Ia menggunakan dua pedang sekarang.
Yukio jauh lebih siaga dari sebelumnya. Angin berdesir, menerpa lembut kulit berjaringan normal milik siapa saja. Langit kian larut dalam gelungan pusar magenta dan pertarungan semakin sengit. Terlebih saat Yukio kembali melesat, kecepatannya bertambah. Keduanya enggan menjeda serangan. Kiri-kanan; cekatan membabat; berusaha mengukir luka.
Yukio menghentak katana REDstar, menepisnya jauh ke samping saat sang lawan lengah. Kemudian dengan cekatan menghunus tepat di bahu kiri dan menyeringai puas, "Kena kau!"
REDstar tercekak membatukkan darah. Ngilu mendera otot sekitar bahu, menghantarkan impuls pada syaraf. Namun wajahnya datar seolah sudah mati rasa dan tidak terasa. Katana juga masih digenggam. Lalu ganti menilik darah yang memberi noda merah pekat pada jubah hitam pembebat tubuh, bau anyir menyeruak gamblang.
Angin menderu liar, menyentak Yukio jauh. Adsvolution tercabut secara paksa dan menghalau debu halus yang berterbangan. REDstar sekarang dikungkung barikade angin ribut berkat tekanan aura kuat. Berputar-putar keras menghempas-hempaskan rambut cokelat Yukio. Tekanan roh si pemuda amat kuat, tetapi Yukio masih kuat bertahan.
Pelan-pelan angin berubah normal. Beberapa menit berselang, kini berubah mengalun tenang. Debu dan dedaunan tajam cemara tak lagi meraja. Menyisakan Yukio dan REDstar yang bertaut jarak. Api biru kembali membara membalut tubuh Yukio, tak sampai membakar sehelai benang pun rambut cokelatnya.
"Magnus Exorcimust!" Yukio menegakkan tangan ke atas. Lingkaran sihir biru besar muncul di belakang dengan dua belas angka romawi tersebar, seperti jam pada umumnya. Yukio merubah senjata menjadi pistol, menunjuk angka satu dengan sebuah musket berukir antik.
"Celeritas!" Sebuah kata sihir yang berfungsi mempercepat waktu terapal lantang. Jarak yang tersisa tinggal dua meter jauhnya. Katana bergerak vertikal, menghantar aura kelam menghambur menyerang Yukio. Sedangkan sang Paladin bergerak menghindar; menghilang; muncul dalam hitungan detik tepat di belakang REDstar.
Dor! Dor! Dor!
Belum sempat REDstar menghindar atau menyadari kehadiran Yukio, sang Paladin berkekuatan seluruh Job Exorcism ini menyarangkan tiga peluru sihir sekaligus, bahu; perut; dada. REDstar terhuyung sesaat—mendecih sebelum berbalik—dan hendak melancarkan serangan balasan.
Yukio melayang menjauh, arloji sihir transparan tadi setia mengekor. "Judex!" ujarnya lantang, sontak tangan astral muncul di sekitar REDstar. Meregang sejenak, kemudian mulai mengais udara. Mencari objek genggaman—REDstar.
Si pemuda serba hitam melesat maju, bermaksud menerjang Yukio. Katana telah teracung mantap, namun terhenti oleh lengan tak bertuan mencengkramnya bersamaan. Mengekang pergerakan. Ia meronta, berusaha melepas diri sekuat tenaga sementara Yukio mengokang pistol lagi dan tersenyum licik sembari mengacungkan senjata, siap menembak kening pucat REDstar.
Target tak tinggal diam, pusaran angin kembali muncul kian besar teritorinya. Medorong tangan bak pancang tubuh. Api kelam ikut membinasakan mereka, hingga ia dapat bergerak jauh lebih leluasa. REDstar melesat lagi, melibas tiap-tiap tangan yang berusaha menerkamnya. Hingga sampai di hadapan Yukio, meski dengan luka menganga sana-sini akibat cakaran para lengan tadi. Darah menganak sungai di tubuhnya, tapi tak dihiraukan. Jubah sobek pun tak diindahkan.
REDstar mengayun pedang cepat ke arah Yukio setelah sebelumnya memperluas jangkauan kibaran angin agar menghambat pergerakan lawan. Darah kembali memercik. Tak sempat Paladin menggenggam pedang dan menghalau serangan, luka menganga tercipta di tubuh Yukio. Mengumbar bau karat khas cairan kental pengundang nyeri tersebut.
REDstar menatap bengis, api hitam beriring angin menjalar dari pedangnya ke tubuh Yukio. Merambat cepat dan mulai melahap tiap inci sang Paladin, melenyapkan arloji sihir besar yang sempat muncul sekejab. Yang bisa dilakukan Yukio hanya meraung pilu, kedua matanya menggelap.
Keadaan berbalik.
Pedang yang sama, ia tarik lagi. Kemudian ditancapkan tak jauh dari luka tusuk semula—lagi dan lagi—hingga yang mampu dilakukan Yukio hanya bernapas tersendat, tercekik oleh rasa sakit.
Setelah pedang berhenti menghunus dan lepas kontak dari sang Paladin, gravitasi sontak hilang dalam kekuatannya. Raga berlumur darah segar tersebut meluncur jatuh, terjun dari ketinggian dua puluh meter.
Tak terima mangsanya lepas dari siksaan, REDstar menilik ke bawah dengan menatap garang Yukio yang mulai meregang nyawa. Menukik menyusul sang target, siap memberikan satu sumber rasa sakit lagi di sana.
Pedang kembali menjamah bagian tepat di tengah perut Yukio. REDstar mempercepat tuk menukik. Kian cepat, hingga kedua adam tersebut sampai di titik nol gravitasi. Yukio kesakitan kala serangan bilah tajam ini terasa kian dalam, menekan tepat di puncak rasa.
Debam terdengar, tempat punggung Yukio mendarat mengolah ceruk cukup dalam.
Satu-satunya Paladin membatukkan darah, cukup banyak volumenya. Namun ia masih sadar, meski pandangannya mulai memburam bak tirai kabut menghalangi. RedStar menarik pedangnya, membuat Yukio mengerang kesakitan.
"Ternyata kau juga tidak mampu." Tungkai berbalut pantofel hitam tersebut melayang, menendang kuat-kuat raga tak berdaya di dekat kaki hingga menghantam solid sebuah pohon mapple. Yukio meringkuk kesakitan; berkali-kali membatukkan darah; pandangannya kian buram. Darah mengalir dari tiap-tiap lubang di tubuh sang pemuda hitam, tapi tak ia pedulikan seolah memang tidak terasa. "Aku tidak mati."
Meski dalam keadaan terjepit seperti ini, Yukio sempat terkekeh dengan kata meledek, "Ke-kenapa ... kenapa tidak uhuk, bu-bunuh diri saja. Hah?!"
REDstar mendelik, tak henti menendang raga lemas Yukio dengan tatapan sinis, ibarat benci terpendam lama. Dentum besar sebab benturan kaki; badan Yukio; pohon mapple menggema berulang-ulang. Lembar daun oranye pun berguguran.
Kini ia kembali mengacungkan katana tepat di depan pria rambut cokelat terhias darah. Tatapan kelam dari mata hitam sungguh menusuk penaka tak gentar membunuh. Katana menghujam cepat ke arah dada kiri Yukio, tetapi---
"Hentikan!"
"Aaahh, aahhh! A---"