
"Tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" Bariton berat menggema, hanya ada pria tua keriput duduk tegap di hadapan gadis pirang terhias jepit begonia. Waktu lama berlalu, sejak kejadian beberapa tahun silam.
...-oOo-...
Pemuda kelam terus mematung dengan mata pedang masih menghadap wajah si gadis. Badan mungil bergetar, Apple ketakutan. Siapa dia? Apa orang baik? Banyak pertanyaan dalam batin tak terjawab, tidak bisa juga diutarakan. Mengurungkan katana, melemparnya jauh.
Sebelum sampai di atas bumi, bilah itu bersinar terang dan pecah bak pasir merebak berwarna hijau kehitaman. Manik biru langit terpana, sungguh hari ini banyak kejadian aneh.
Ketika ia mengembalikan pandangan pada pemuda serba hitam, Apple tertegun mengetahui wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Saling pandang untuk waktu lama. Gadis pirang sendiri tidak mengerti harus berbuat apa, terlalu lelah dengan hari-harinya. Mata hitam menatap lurus, mungkin bisa menusuk jantung, tapi ... hangat.
Kesunyian menyelimuti hingga si pemuda kelam ingin menyentuh pipi merona itu. Begitu telapak pucat mendekat, Apple langsung beringsut, sepucuk begonia tak lepas dari genggaman. Kembali mengurung niat, sentuhannya kini menjadi sebuah genggaman. Pemuda itu terlihat sedih, seperti ingin menangis. Kenapa?
Dia berdiri, mengulurkan tangan pada Apple. "Ayo, kita pulang ...."
...-oOo-...
"Nura dan klan lain berdiri dalam organisasi Ghost Guild bukan tanpa sebab, keseimbangan dua dunia terganggu hingga makhluk Another World kabur ke alam manusia. Di sini, para pengendali roh bekerja untuk mengawasi dan menghentikan hal tersebut. Roh itu sendiri juga bukan sembarangan roh, melainkan demon atau youkai petarung. Itulah tugas kami," tekan Scarlet serius.
"Jadi? Ingin aku mengawasi makhluk Another World?"
"Untuk itu sudah cukup orang. Hanya saja, banyak yang lolos karena portal muncul sembarang. Sudah saatnya engkau kembali ke duniamu, Apple. Awasi mereka. Dulu ini tugas REDstar, membasmi makhluk yang berhasil lari. Sekarang ...."
Hening merengkuh sampai Apple angkat bicara, "Kalau begitu ... akan menemaniku?"
Pria tua mengesah, mata merah spesifik menyaksikan kerisauan pada gadis pirang. Mungkin Apple khawatir, bagaimana kehidupannya nanti? Sudah lama tak kembali ke alam manusia.
"Aku tidak bisa, lihat bulan di atas istana? Itu barier pelindung wilayah kita dari tekanan Another World. Jika aku meninggalkan tempat ini, kekuatannya melemah dan Nura bisa hancur." Mendengar itu Apple langsung merunduk, diam seribu kata.
Beranjak dari zabuton—alas duduk—menghampiri tubuh gemetar si gadis. Scarlet bersimpuh. Lemah lembut dia membelai rambut pirang. "Aku sebagai kepala klan, memiliki tugas dan tanggung jawab dan sudah mengatur segalanya untukmu, Apple. Kamu akan ditempatkan dalam akademi rahasia, Exorcist Academy (EA): Gates of Spirit World."
Gadis pirang menengadah, memandang Scarlet dengan mata berkaca. Pria tua mulai mengusap air yang mengalir di wajah Apple seraya tersenyum hangat. "Dekat dengan portal penghubung, itu sebabnya EA didirikan di sana, meski jauh dalam hutan. Akademi tersebut mendidik para exorcist, bukankah ini membantu tugasmu? Apple, kamu berpotensi. Hanya mereka berkekuatan spiritual tinggi bisa bertahan di Another World, jika manusia biasa masuk bisa terkontaminasi, maka perlu pengawasan khusus tapi kamu tidak."
Menarik napas dalam lalu mengembus, Apple berdiri tepat di depan Scarlet. "Baik! Harus mulai bertanggung jawab dan aku tak ingin ada orang bernasib sama sepertiku, yosh!" Semangat membara, gadis kecil mengepal tangan kanan ke udara.
Pria tua ikut bangkit, menepuk pelan kepala Apple yang dibalas dengan senyum kuda. Tak lama, ia menawarkan tangan pada si gadis, mengisyaratkan untuk pergi bersama. Apple sempat bingung, hingga sang mata merah scarlet seperti nama julukannya menjelaskan bahwa ia ingin mengantar sampai gerbang EA. Pergi sebenar mungkin tak apa. Mendengar hal itu tentu membuat si gadis senang, sontak memeluk Scarlet—laksana ayah dan anak—diselimuti kehangatan.
Senyum masih lekat, mereka meninggalkan ruang pribadi pak tua. Tempat minimalis dengan lukisan memenuhi dinding yang mencolok, menggambarkan barisan youkai dipimpin sosok aura kuat—Nurarihyon-no-Mago. Ini merupakan simbol parade malam seribu iblis miliknya, ayah kandung Scarlet. Tak khayal, ternyata orang ini memiliki darah youkai, pantas saja berumur panjang meski tetap menua.
Setiap yang berpapasan selalu membungkuk sebagai penghormatan, aura kepemimpinan membumbung hingga disegani pun Scarlet membalas ramah. Kagum, rasa hormat kembali mekar pada si gadis melihat pembesar mereka tegas lagi baik hati. Bersyukur dia dopsi oleh klan sebegini bagus, dengan mudahnya berbaur—bahkan pada pemimpinnya—ibarat keluarga tak terpisahkan. Mengingat itu, Apple tersipu pada Scarlet dan menggenggam erat lengan yukata-nya. Elusan kembali dirasa membuat Apple tersenyum kuda lagi, belai di kepala merupakan kesukaan si pirang.
Di luar, Apple memandang istana Nura yang bertingkat-tingkat, klasik. Tepat di atasnya ada bulan kecil, sinar bak kubah. Cahayanya memenuhi karpet alam mengitari; batu pijak tersebar; pepohonan penyejuk. Tak lupa kolam buatan penuh koi. Apple tidak menyangka akan meninggalkan tempat yang sebegini menakjubkan untuknya, menuju gelap di luar tembok terukir parade malam seribu iblis—persis di ruang pribadi Scarlet.
Kini dua insan berdiri depan Torii bertuliskan kanji Nura. Semenjak meninggalkan ruang, mereka tidak bertutur kata hingga pria tua menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Angin sontak mengembus rambut Apple—lantas ia menghalaunya dan menyipitkan mata—sedangkan Scarlet melihat ke arah datangnya angin, ibarat menunggu sesuatu.
Apa yang ditunggu tiba, sebuah goshoguruma—gerobak yang biasa digunakan anggota keluarga kekaisaran—ditarik oleh sapi hitam berkepala dua. Buas, tiap kepala mengeratkan gigi; melaung-laung. Pak tua langsung mengelus kepala sapi hingga leher. Jinak seketika bak menyudikan menaiki gerobaknya. Scarlet membuka pintu, mempersilakan Apple yang masih terkesima untuk masuk lebih dahulu.
Angin kencang kembali berembus, membawa gerobak bertenaga sapi pergi. Stabil di udara dengan sangat eksentrik, sesekali tempik terdengar. Di dalam, sang sepuh bersandar seraya memejamkan mata merah. Sedang gadis pirang tercenung, memandang kekelaman rengkuh di luar. Itulah Another World, berbeda dengan istana Nura karena lindungan bulan. Tapi Scarlet meninggalkan istananya, apa benar akan baik-baik saja?
Perjalanan mereka hening. Mungkin pria tua memfokuskan diri dengan bulan? Karena mereka sudah jauh dari istana. Scarlet masih senyap, dia tertidur ... tertidur?! Padahal Apple harap-harap cemas terhadap pria tua ini dan istananya. Kesal, rasanya ingin mengejutkan dari lelapnya, tetapi tidak dilakukan. Wajah Apple memerah, seperti ingin mengutarakan sesuatu. Merajut jemari dengan kepala merunduk; malu-malu bak perawan yang hendak dipasangkan.
"Um ... te-terimakasih banyak, sudah mau merawatku." Scarlet terkekeh mendengar itu, mencoba menahan tawa. Sontak Apple malu, mata membelalak.
"K-ku kira tidur!" Si gadis jengah, wajah merah padam hingga telinga. Tangan liar, hendak melampang orang tua yang duduk di samping. Tentu Scarlet menahan hal tersebut, siapa yang ingin dipukuli habis-habisan? Tapi, tawa makin pecah.
"Sudah Apple, maaf-maaf, hanya saja jarang sekali berkata seperti itu, seakan bukan dirimu."
Gadis pirang menarik napas panjang. Dia menenang dan kembali duduk lembut di samping, terlihat sendu.
"Tidak, hanya saja ...." Suasana hati cepat sekali berubah. Baru saja malu, sekarang sedih. Suaranya merintih, mungkin itu sifat yang terbentuk karena kelamnya masa lalu. Melihat keluar jendela lagi seperti enggan menatap Scarlet, Apple menggenggam erat baju yang ada di atas paha.
"Aku merasa orang-orang selalu membantu ketika aku kesulitan. Iba? Simpati? Aku tak tahu, tapi mereka tidak mengharapkan imbalan, bahkan RedStar. Kalau saja aku tidak bertemu dengannya malam itu ... tidak habis pikir. Memang dia aneh, menakutkan. Tapi baik, lembut. Andai aku bisa membalas perbuatannya atau sekedar mengucapkan terima kasih. Kenapa, kenapa pergi? Bahkan aku belum sempat meminta maaf." Si gadis mulai tersedu, menyeka air mata yang perlahan mengalir, tetap ingin terlihat tegar.
Rasanya berat sekali seperti ditimpa beton, Scarlet mencoba menarik napas panjang. "Bukan salahmu, dia pergi karena memang ingin."
"Kadang, lupa lebih baik daripada ingat. Rasanya menyakitkan kalau kita tahu segala hal yang terjadi. Seperti ingin mati saja." Apple kini keheranan dengan ucapan pria tua. Maksudnya apa? Dia tak mengerti. Mata biru langit memandang Scarlet dengan air membendung.
Pria itu menggigit bibir bawah, risau. “Aku, juga merasakan hal yang sama."
Apa karena beban hidup? Terbilang Scarlet berumur panjang. Banyak manusia yang menginginkan abadi. Tapi apa mereka sadar, hidup dalam waktu lama ibarat kutukan. Mata kehampaan pertanda sudah melihat berbagai kejadian, kebanyakan makan garam. Akhirnya dia sadar si gadis pirang memandangnya khawatir.
"Apple, mengapa tidak cari tahu saja? Jalan pikirnya memang sulit. Aku juga berharap dia tidak pergi, karena amat berbahaya ... bahaya ...." Si pria mencoba menyemangati Apple tetapi percuma jika suara berakhir dengan gumam.
Senyap—sudah tidak bisa lagi menikmati perjalanan—rasanya ingin cepat sampai dan terkabul, sapi berhenti menderap. Scarlet melempar pandangan, mengisyaratkan untuk segera turun. Apple mengangguk, turun dari gerobak dengan menyeret tas, dibantu oleh sang mata scarlet.
"Aku pergi ...." Hal terakhir yang dapat gadis itu lihat adalah senyum hangat Scarlet. Apakah suatu saat dia bisa melihatnya lagi? Karena pintu sudah tertutup, diiringi embus angin. Cepat sekali perginya.
Dia membelalak pada julangan angkuh gerbang akademi yang akan menjadi wadah mengais ilmu. Tungkai jenjang sang gadis berayun ritmis, selaras dengan tas yang diseret paksa. Manik langit kepunyaan menelisik penjuru akademi berhektar luasnya.
Apple gugup, apa selamanya akan memutar gedung putih yang sudah tiga kali dilewati? Mulai berangan-angan andai Scarlet bersamanya sampai pendaftaran selesai pasti dia sudah beristirahat sekarang. Atau ditemani, REDsar ....
"E-eh! Ma-maaf.” Angan-angannya membuat lupa akan sekeliling, alhasil menabrak seseorang. Akhirnya, bertemu manusia.
Manik hijau lamat pada kertas di tangan, kalau Apple tidak menabrak mungkin dia masih tenggelam dalam lembar. Pemuda itu berdiri tepat di depan pintu kantor, mungkin baru keluar dari sana.
"Hm? Berambut pirang dan mata biru?" Pemuda tadi hanya memandang Apple mulai dari ujung kepala hingga kaki. Sedang Apple menatap dengan tatapan polos.
"Ah, aku belum memperkenalkan diri. Ahahaha, maaf ya. Jin Vermillion, panggil saja Jin!" Bariton semangat mengalun berisik, menyuguhi telapak untuk berkenalan. "Kamu baru?"
"I-iya, aku ingin menyelesaikan pendaftaran.” Terbata-bata dan nada tak karuan, ini pertama kali berbicara selain orang-orang di Nura.
"Pure ... oh! Kuantar pada Yukio saja ya, dia pengurus di sini." Apple mengangguk. Kembali menderap, kini gadis kecil mengekori Jin yang terus disibukkan oleh lembar di tangan. Kelihatannya pemuda ini hafal betul seluk-beluk EA atau ...?
"K-kertas itu ... apa?"
"Hm? Ini?" Langkah Jin tersentak, teringat sesuatu. "Kamu mau jadi murid bimbingku hingga Page 1?"
...-oOo-...
Gulita merengkuh, hanya ada pria akhir empat puluhan dengan lentera. Cahayanya masih kurang menerangi, jelas kegelapan amat kuat di sini. Namun, kalau saja bukan bantuan penerang, dia mungkin tidak melihat pemuda yang meringkuk karena dia amat kelam. Hanya kulit pucat yang kontras. Gelisah, seharusnya tak ada manusia di sini—pikirnya—mungkin dia tersesat? Yang penting, jangan disini.
Mendelik penaka ingin membunuh ketika pria mata merah itu mendekat. Aura yang dikeluarkan begitu bertenaga, membuat pria ini menjatuhkan lentera. Gravitasi merengkuh kuat, tak mampu berdiri. Mengap-mengap kesulitan mengatur napas. Apa-apaan, mana ada manusia sekuat ini. Dia juga belum pernah bertemu makhluk berkekuatan segini dahsyat. Ah, pernah dan hanya sekali.
Pemuda hitam kini menenang, mengetahui pria yang mendekatinya bukan orang jahat. Kembali melempar pandangan entah kemana, tidak penting, karena tatapannya kosong.
Akhirnya Scarlet bernapas lega, meski jantung berdentum-dentum. "Kamu, apa kamu---"
"Aku REDstar," sambar pemuda hitam.
Dalam-dalam menarik napas, menyipitkan mata. Benar, sesuai dugaan. Scarlet memberanikan diri untuk berbicara walau badan gemetar. Kenapa dia begitu ketakutan? Apa karena kekuatannya yang dahsyat.
"Ikutlah denganku, aku akan mengawa---"
"Aku tidak perlu diawasi."
Lagi-lagi kalimatnya dipotong, susah sekali untuk berbicara pada orang ini. Nada pun dingin seperti mengusir secara halus. Scarlet mulai meneteskan keringat sebesar jagung, payah menelan ludah. Berpikir kata apa yang bisa membuat pemuda hitam ikut dengannya, salah satu saja, bisa berakibat fatal. Untuk apa juga ikut dengannya?
"Kalau begitu ... ingin apa?" tanya Scarlet gugup.
"Aku ingin, bertemu seseorang."
Sepertinya kalimat yang dipilih tepat, terbukti dari tatapan penuh harap itu. Mengembuskan napas lega. "Aku punya banyak bawahan, mungkin bisa membantumu."
Si pria berdiri, memungut lentera dan mengulurkan tangan kepadanya. "Ayo, kita pulang ...."