REDproject

REDproject
Bab 18: I am, END



Hanya pekat gelap magenta malam merengkuh, membawa serta aura keji entah dari mana. Tak ada keindahan seperti yang pernah disorakkan, hanya ada seorang gadis kecil. Mulai larut, tapi tak sedikit pun mengundang takut pada relung rasa Apple. Ia malah tercenung, menatap langsung reruntuhan gosong. Sesekali napas beratnya terdengar.


"Ayah dan Ibu sudah tenang di sana, sedangkan aku ...." Apple duduk di bawah langit kelam dalam balutan gaun berpola manis merah muda, mendaratkan diri di atas batu besar yang solid. Memijat pelipis, memejamkan mata. Pusing, hantaman besar yang melelahkan. Ingin menangis tetapi rintik ini telah kering.


"Apa sebaiknya aku---"


"Apple? Itukah kau?" Mendadak rapal terputus mendapati suara lembut memanggil, dia mengenali suara ini. Mengedar pandang, sontak mata membelalak melihat empu suara muncul dari balik pohon.


"Garry?! Hueeee, kangen!"


"Aaah ... kemarilah Apple, sudah besar ya!"


Cepat-cepat gadis ini bangkit dan mengambil seribu langkah sembari merentangkan tangan, suatu kebiasaan ketika bersama orang itu dulu—meminta untuk dipeluk. Entah kenapa rasanya senang; bahagia; gembira, melihat orang yang ia kenal masih hidup. Tunggu ... hidup? Seketika langkahnya memelan dan memandang sang pelayan laki-laki rambut perak dengan heran.


"Hm? Ada apa Apple?"


Bungkam, Apple masih mematung di kejauhan. Dalam kepala berputar berbagai macam pertanyaan. Dia masih hidup? Bahkan dalam perjalanannya menuju Luchifenian, kerajaan ini jelas telah mati—tak ada penduduk juga bangunan utuh. Senyap lebih dari biasanya, sampai-sampai tak ada tanda roh atau makhluk Another World berkeliaran seperti dulu. Apa karena langit magenta ini? Yang jelas, bagaimana bisa Garry masih di sini ... terlihat muda seperti dulu?


"Apa kamu Fallen Angel?" Pertanyaan itu lancar terlempar dari bibir merah mudanya, mengingat sang Paladin ... benar saja, tak lama pemuda itu tersenyum sampai mata argentum terpejam.


"Apa kamu sudah mulai ingat?" Geming, Apple tak buka suara. Pertanyaan itu justru membuatnya lebih bingung. "Aku bukan Fallen Angel."


Apple beringsut—terkejut—sebab yang terjadi selanjutnya tidak seperti apa yang pemuda perak itu katakan. Cahaya bertaburan di sekitar raga bak glitter, diikuti bulu-bulu safa berkumpulan. Mengepak hingga tersusun sudah sayap berjumlah empat, sayangnya sayap itu ***** seperti tercabik-cabik.


"Nama asliku, Raphael ...."


Napas Apple terengah, pucat mencumbu epidermis sang hawa. Sakit merengkuh raga, kepalanya pusing bukan main ibarat dihantam palu godam. Bukannya senang, alih-alih dia mengeram. Tangan mengepal erat hingga pucat buku jarinya, mengingat kejadian jauh-jauh hari di tempat ia berpijak.


"Kalau kamu malaikat ... kenapa tidak menolong kami?!" Apple memekik, keras sekali hingga wajahnya merah dan ia sedikit membungkuk. Yang dilabuhi ikut terkejut, tetapi raut sayu seperti orang yang ingin menangis—iba.


"Maaf Apple, tapi aku tak kuasa."


"Omongko---"


Mulut membungkam ketika pemuda itu merangkul, lembut dan rasanya hangat. Akhirnya, Apple menyandarkan kepala pada dada lapangnya. Karbon dihela lelah, sangat lelah. Kelopak yang semula mengatup rapat itu terbuka, menatap sendu entah kemana. Pelukan ini sungguh menenangkan. Membenamkan wajahnya di bahu lebar Raphael, menghirup dalam-dalam feromon yang menguar. Harum ini menjadi candu bagi si gadis.


"Garry wangi seperti biasa ya ... ternyata, Garry memang malaikat."


Tawa renyah mengudara diikuti belaian halus pada pucuk kepalanya. Hanya dengan perlakuan ini sudah sangat menenteramkan bahkan sakit dalam dada hilang, apa karena aura lembut yang dimiliki sosok malaikat ini? Halnya, Raphael adalah Angel—Humility serve—of divine healing.


Kisah mengatakan, dulu dia merobek sayapnya dan memilih untuk hidup di dunia sebagai Demi-Angel. Walau begitu, ia masih memiliki kekuatan menyembuhkan yang luar biasa. Dia melakukan hal tersebut sebagai simbol pengorbanan untuk menolong orang lain, sedikit memikirkan tentang dirinya. Tak disangka malaikat pemilik kerendahan hati ini tinggal bersamanya dulu.


"Sudah merasa lebih baik?"


Apple menjawab pertanyaan itu dengan anggukan pelan dan makin erat merangkul, tak ingin lepas. "Di sini awalnya ... di sini juga aku ingin berakhir."


"Hm? Awal kisahmu bukan di sini, Apple."


Sontak Apple mendongak, melihat pada wajah teduh yang masih tersenyum seolah meminta penjelasan. Apa maksudnya? Dia adalah anak kandung dari Raja dan Ratu Luchifenian ... satu-satunya.


"Apple, apa kamu pernah mendengar kata 'bunga begonia dan apel, aku menemukan jawaban di pohon Yggdrasil' yang melegenda di kerajaanmu?" Gadis itu terdiam, kata itu tidak pernah ia dengar tetapi tak asing. "Sesungguhnya, Ibumu mandul."


"H-ha?!"


"Kau lahir dari buah apel, itu sebabnya mereka menamaimu ... Apple."


Apple mengerjap, ucapan itu tak masuk akal. Namun, dia malaikat dan tak mungkin berbohong ... bagaimana bisa? Gadis kecil bungkam rapat-rapat seolah akan mendengar baik-baik segala hal yang terucap dari sang perak, setia menunggu bibir tegas itu terbuka.


"Dulu, kerajaanmu menemukan seorang penyihir yang pingsan di bawah pohon besar Unknown Place. Para prajurit membawanya pergi karena merasa kasihan dan takut keadaannya akan seperti orang-orang yang memasuki pulau tersebut ... mati. Setelah dia sadar, segala macam pertanyaan dilontarkan tapi dia hanya menjawab dengan satu kalimat, 'Aku adalah Aion'.


Manusia gempar dan tak percaya bahwa dia adalah sang legenda penyihir waktu. Hingga suatu kejadian, Aion menunjukkan kemampuan dan manusia percaya. Dia pun diangkat menjadi penyihir kerajaan, tetapi dia tidak begitu berperan penting karena mereka tak mampu memerintahnya dan hakikat Aion hidup bebas. Dia selalu berkata, 'begonia dan apel, aku menemukan jawaban di pohon Yggdrasil' pada setiap orang yang menanyai perihal Unknown Place. Tidak ada yang mengerti maksudnya hingga Aion pergi, meninggalkan kata dan sekuntum begonia ... turun-temurun.


Beberapa generasi berlalu, datang seorang wanita ke pohon besar karena percaya pada hal turun-temurun tersebut. Wanita yang datang itu ratu paruh baya, selalu berdoa dan memohon anak karena sangat diperlukan demi generasi selanjutnya. Sang raja sangat kesal dan marah dikarenakan dirinya tidak menghasilkan anak. Maka secara diam-diam dia pergi ke tempat dikenal berbahaya itu, memberanikan diri demi kemajuan kerajaan.


Hari demi hari, dia datang. Hari demi hari, ia berdoa. Hingga suatu saat, wanita itu dikejutkan dengan batang bunga begonia tiba-tiba merambat dan menumbuhkan apel. Lantas diambillah apel tersebut. Esok hari dia menceritakan hal itu pada suaminya, justru itu memancing murka karena dia pergi tanpa izin, bahkan ke tempat yang berbahaya tanpa pengawal.


Raja menyuruh prajurit untuk merebut apel itu dan membuangnya, tapi sang ratu tidak mengizinkan. Dia berlari menuju ruang bawah tanah, tanpa basa basi langsung memakan apelnya. Satu gigitan, membuat sang ratu pusing dengan tangan yang gemetar. Apel itu jatuh dan langsung membusuk. Prajurit akhirnya mengamankan sang ratu.


Beberapa hari setelahnya, ratu sakit keras dan demam tinggi. Raja menyesal telah memperlakukannya dengan buruk, tapi sang ratu hanya tersenyum dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tak khayal, ratu selalu muntah-muntah, hingga sang raja khawatir dan memanggil ahli medis. Bukan kabar buruk yang didapat tapi kabar baik, ratu sedang mengandung. Raja amat bahagia hingga memeluk istrinya. Ratu masih tidak percaya, rasa dalam hatinya bercampur aduk. Senang, sedih, ia menangis.


Mereka berdua bersumpah, akan menjaga anak di dalam kandungan sampai akhir hayat. Setelah sang anak lahir, mereka memberi nama Apple. Kerajaanmu terkenal dengan kesombongan terutama ketika sang legenda bersemayam di tempatmu, tapi kamu tidak terpengaruh Pride. Bukankah ini semua sangat mengejutkan?"


...-oOo-...


Jalan terhuyung-huyung lantaran pusing meretas kuat. Apa yang ia dengar tadi ... tak habis pikir, Ibu mandul dan hamil setelah memakan buah apel? Dan, kenapa Raphael bisa tinggal di Luchifenian? Belum sempat bertanya lebih banyak, dia sudah menghilang. Itu wajar, dia malaikat bukan? Tapi tentang diri Apple sendiri ....


Debam menguar kala pantat sang hawa mencumbu tanah. Apple tanpa sengaja menabrak sesuatu ... ralat, seseorang.


"M-maaf." Jeda sebentar, ia mengangkat wajah. "Aku kurang memperhatikan ... e-eh?!"


"Luchifen? Puji Tuhan! Kau masih hidup?!"


"Riyle Es-Sathnael?!"


Apa lagi sekarang, sejak kapan tukang bully itu menjadi sangat religius? Terlebih dengan baju pastor yang ia kenakan ... juga, sekuntum begonia dan lentera? Mata oranye tua menatap melas pada Apple, ia cepat-cepat membantu si gadis kecil untuk berdiri. Bukannya merasa tertolong, Apple justru menepis lengan Riyle dengan wajah heran masih lekat. Pemuda di depannya membalas melalui raut sedih.


Tak menjawab, Apple menopang kepala atas sebelah tangan dalam posisi duduk membungkuk. Pusing, hari ini teramat melelahkan untuk si gadis ... memaafkannya? Konyol, setelah perlakuan dia jauh-jauh hari dan kerajaannya hancur, tak mungkin mudah dilupakan. Riyle bertongkat lutut, meletakkan lentera.


"Sebenarnya kerajaanku juga hancur, semua kerajaan hancur ... aku mengerti."


Sontak Apple terkejut, melempar tatapan tak percaya pada pemuda awal dua puluhan di depan. Riyle menggigit bibir bawahnya dengan mata oranye tua memandang entah kemana, sepertinya ia tidak berbohong.


Seketika matanya menatap lurus pada Apple, jelas terukir keseriusan. "Tuhan tidak akan memaafkan kesalahan sesama anak turun Adam, sebelum dia meminta maaf langsung pada orang tersebut, maka ... aku menyesal, Luchifen."


Apple menghembuskan napas berat. Tak ada gunanya berdebat dengan orang ini, lebih baik mencari tahu ... terlalu lama berada dalam lingkup akademi, ia benar-benar tidak mengerti. "Sebenarnya apa yang terjadi? Ceritakan semua yang kau tahu Riyle, aku akan memikirkan ucapanmu nanti."


Ketika sepi telah memenuhi tempat itu, pemuda rambut hijau daun derdeham. "Hem, benarkah? Sebenarnya ini semua ... Lucifer."


"Maksudmu? Luchifen ... Lucifer?"


"Bukan kerajaanmu, tetapi Leader of Fallen and Hell." Gadis itu tidak balas berkata, mungkin terlalu terkejut? Atau bingung. "Kau tahu tentang The Hope dan Yggdrasil? Setelah mendirikan Yggdrasil, The Hope menyebar 7 Deadly Sins ke seluruh dunia. Berdirilah kerajaan kita."


"Ja-jadi ...?"


"Vessel Sins adalah kerajaan kita sendiri, tujuh kerajaan besar. Luchifen, apa kamu tahu bahwa The Hope memiliki pemikiran bahwa Deadly Sins akan berbahaya jika berada dalam jiwa, terutama satu tubuh? Maka ... dan sekarang, ketujuh kerajaan telah hancur. Semua ini karena Vinschent D'Leviantha, dia---"


"Bohong! Kamu hanya ingin menyalahkannya!" monolog Apple jengah, kelopak pualamnya melebar.


"Ah, aku paham. Dia yang paling dekat denganmu Luchifen dan aku yakin kau mengenalnya lebih dariku. Dia anak paling pintar di antara kita semua, tetapi ... ada saatnya dimana tidak mengerti itu yang terbaik. Di usia masih belia sudah tahu banyak hal, termasuk 7 Deadly Sins yang dikatakan bisa memenuhi keinginan. Sebenarnya dia sangat iri padamu Luchifen, iri hati ... dengki sangat besar hingga dia memiliki beribu pemikiran licik, ingin musuhnya hancur, bagaimanapun itu. Tidak, aku tidak berpikiran jelek mengenai orang itu. Kemungkinan Vinschent terkena Envy, karena aku sendiri terpengaruh Wrath. Itu sebabnya, aku selalu marah tanpa arah padamu Luchifen ... maafkan aku."


Hening, gadis kecil itu masih tak bergerak dengan ekspresi ... uh, memang hari ini hari terberatnya.


"Dengan pengetahuannya, Vinschent sudah bisa mengendalikan makhluk Another World. Gila memang. Dia lepas kendali, bahkan menghancurkan kerajaannya sendiri demi 7 Deadly Sins. Tapi ... ah. Aku merasa iri hati adalah dosa terbesar dari yang lain, karena mereka bisa menusuk dari belakang 'kan? Menghancurkan dalam diam, apapun caranya. Kerajaanmu yang pertama kali, dia tidak terima Luchifenian memenangkan Marquess Revolution. Umh, Luchifen ... apa kau dengar?"


"Iya, aku hanya ... pusing."


"I-ini berlebihan untukmu, sebaiknya aku---"


"Tidak, lanjutkan Riyle."


Pemuda itu benar-benar khawatir, jelas terlihat dari wajahnya. Mungkin benar apa yang ia katakan bahwa dia sudah berubah. Karena kerajaannya hancur, Wrath telah direbut, ia terlepas dari pengaruh dosa tersebut.


"Ba-baiklah, jika itu maumu. Ku harap setelah ini, kau memaafkanku. Setelah Luchifenian hancur, kerajaan lain memperketat penjagaan dengan bantuan dari Exorcist Academy. Bukankah aneh kerajaan kuat dan terbesar bisa hancur dalam semalam? Jadi ... ternyata Vinschent lebih pintar lagi. Setelahnya, dia menggunakan Automaton."


"Pantas Mizu sibuk ... murid lain dan para guru ... Exons kemungkinan hasil percobaannya juga. Setelah aku menyegel Orchis, dia mengembalikan ingatan Exons untuk membuat kericuhan dan menghancurkan Ark," Apple bergumam pelan.


"Eh? Maksudmu, Luchifen?"


"Tidak. Automaton ... milik Golem Master?"


"Kau ta-tahu? Ya, hanya Golem Master yang bisa membuat Automaton sehebat itu. Tentu, dia tidak terima dan mencoba melawan Levianthans. Tapi, emh ... semoga Tuhan menerima amal ibadahnya."


"Begitu ... apa kamu tahu tentang malaikat dalam kerajaan?"


"Oh! K-kau sudah dengar Luchifen? Malaikat dan iblis perang dingin semenjak Adam diciptakan. Para malaikat menjaga kerajaan kita, umh ... Vessel Sins, dari iblis. Maka dari itu tujuh kerajaan besar sangat makmur dan kuat, karena para malaikat. Tetapi, manusialah yang menghancurkan dunia ini, bukan begitu? Karena manusia yang memiliki kuasa. Malaikat hanya perantara ... iblis hanya penghasut. Aku bisa selamat karena aku bersumpah, ada malaikat yang menolongku, lalu dia menghilang. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat, jadi aku mencoba mencari tahu kebenaran dunia ini ... bertahun-tahun. Inilah yang ku dapat dan, Luchifen ... aku tergolong orang-orang yang bertaubat, maka maafkanlah aku."


Bukannya menjawab, Apple justru beranjak. Tungkai mungil diayun menjauh dari sana.


"Tunggu," cetus Riyle, mencengkeram pergelangan si gadis pirang. "Setiap akhir bulan aku datang ke kerajaanmu, mengusir roh jahat ... aku hanya pendeta biasa, bukan seorang exorcist. Berdoa dan meletakkan bunga begonia ... aku tidak pernah sempat mengucapkan 'maaf' padamu, maka---"


Apple mendengus, menepis tautan yang ada. "Iya. Aku maafkan, lagi pula sebentar lagi kiamat." Kemudian lanjut melangkah.


"Apa kau percaya pada Tuhan?" Langkahnya tersentak dan menoleh, menatap Riyle yang tunduk dalam menggenggam erat kalung salibnya. "Aku percaya, Tuhan pasti memberi pertolongan. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan amal hambaNya."


Bungkam bak tunawicara, Apple melengos dan melanjutkan jalannya. Terlalu lelah, mungkin.


"Luchifen! Kau akan pergi kemana? E-eh?! K-kau ... terlihat seperti dulu, tidak menua?!"


"Karena The Hope menyelamatkanku malam itu, menghabiskan waktu bersamaku di Another World." Itu kalimat akhirnya, meninggalkan Riyle yang mengkaku; kaget bukan main.


...-oOo-...


Anak laki-laki berdiri, ia dikelilingi kegelapan yang pekat. Dalam bayangan banyak tawa; amarah; api; senjata, itu mengerikan. Di bawahnya tertulis: "Walau harapan kecil mempelajari banyak hal dalam perjalanannya, dia tidak bisa belajar mengenai dirinya. 'Pastinya jawaban yang aku cari ada di suatu tempat di dunia ini'. Mempercayai hal ini, harapan melanjutkan perjalanannya, hari demi hari. Hingga ia melewati makhluk misterius yang disebut manusia. Manusia tahu banyak hal, memiliki banyak bahasa dan sifat. 'Pasti manusia ini tahu siapa aku dan apa itu aku'. Bagaimanapun, manusia tidak mengajarkan apapun pada harapan kecuali rasa sakit, ketakutan, keputusasaan. Manusia menakuti dan mengusir sang harapan, dia yang menyebabkan kebakaran. Mereka mencoba membunuhnya dengan apapun yang mereka miliki. 'Kenapa aku harus merasakan siksaan seperti ini?' Tangisan kencang sang harapan dalam kesakitan setiap waktu dia dilukai oleh manusia. Teror yang ia derita membusuk dalam dada, berubah bentuk, hati menjadi penuh dengan berbagai macam perasaan. Satu demi satu, perasaan itu keluar dan merubah menjadi hitam."


Setelah beberapa jauh dari sana, gadis itu terdiam ketika buku terbuka pada lembar ke tiga. Tidak tahukah bahwa semua lembar hampir terbuka? Lembar ke sepuluh yang tersisa.


...-oOo-...


Kelopak merah terserak di lantai; tumbuhan rambat menghias dinding sekitar; jendela lebar terbentang, menampakkan pemandangan hutan sunyi yang luas di sana. Gagak berkoak, tapi tak terdengar oleh Apple. Sebab sesungguhnya, perhatiannya tertuju pada mayat di atas kasur.


Dalam perjalanannya di Unknown Place, dia menemui sebuah rumah kayu kecil. Cukup reyot seperti di tinggal bertahun-tahun. Derit engsel terdengar kala pintu dibuka pelan, melangkah masuk setelah celah cukup terbuka. Dalam pikirnya, itu tidak masalah asal dia bisa beristirahat. Namun tidak, dia justru di kejutkan dengan tubuh wanita tak bernyawa.


Mungkin baru mati? Karena kulit putih susunya masih segar, juga rambut merah muda masih menguar wangi. Tak mengindahkan kelopak bunga yang mengering dan lalang tumbuh subur. Aroma lumut dan debu membaur dalam ruangan remang ini, hanya sedikit penerangan dari para cahaya yang berhasil lolos dalam celah kayu tembok. Perabot yang tersebar nampak rapuh, termakan usia dan jaring laba-laba.


Tidak terasa asing, tapi .... Terlebih, menurut Apple wanita ini cantik. Belum pernah ia temui. Berperawakan semampai dan buah dada besar---cukup, apa yang gadis ini pikirkan. Pasti menyedihkan, meregang nyawa di tengah hutan tanpa diketahui. Mata biru langit terpejam merasakan duka. Pasti ada yang bisa dia lakukan ... hanya bunga penghias kepala. Tak apa, sudah memadai. Apple melepas jepit bunga begonianya, meletakkan di atas dada sang jasad.


Terkejut, hal aneh terjadi selanjutnya. Bunga itu pecah menjadi bulir cahaya, meresap masuk pada raga wanita. Mayat itu bangun, tidak ... dia tidak hidup lagi, karena genggamnya pada dua pundak Apple masih terasa dingin sperti es juga napas hangat tak terasa. Mata mayat wanita itu bersinar, berkilau bagai gemintang mengerling jenakan bak tarian bintang berekor. Begitu juga mata si gadis kecil. Keduanya memiliki tatapan yang sama. Apa yang---


"I am thou, thou art I. From the very moment of my emergence, I have been a waitting shed to illuminate thy path. Now, remember!"