REDproject

REDproject
Bab 25: Eschatology, GravitoN



"Tidak, su-sudah ... merrily, merrily."


Apa yang---


Tak mengindahkan sakit berlebih pada impuls syaraf; tak memedulikan darah yang terus mengalir, wanita itu menarik langkah gontai. Pelan tapi pasti, ia mendekap pemuda di depan.


"Tidak apa-apa," ucap Aion lirih, menyembunyikan pilu sekuat tenaga.


Pelukan itu ... sontak jalar api terhenti, begitu juga goncangan bumi. Hanya isak tersisa, heboh napasnya memburu. Bahkan wajah ikut memerah sebab panas lonjakan emosi.


"Akh, a-aku ... minta maaf ... maaf maaf maaf maaf-" suara REDstar tak karuan sebab isak tangis masih amat lekat menutup mukosa juga napas tak teratur. Jantung ikut berdegup, cepat. Mata juga mengalirkan airnya, deras. Tangan yang memucat membelai lembut rambut hitamnya, seperti irama sentosa. Perlahan menyentuh pipi ... membawa nostalgia akan kenangan mereka dulu. Menangkan hati.


"... Baik-baik saja, sudah, jangan menangis. Aku tidak akan ... pergi." Iya pergi. Tidak akan lari. Itu yang sudah ia janjikan ... dalam hati.


Manusia jika tidak sadar akan kesalahannya, hanya akan mengulangi kejadian yang sama. Walaupun kematian di depan matamu—kamu tahu bahwa sebentar lagi kamu akan mati—tetap harus menghadapi itu, jangan kabur dari masalah atau bahkan meninggalkannya. Karena masalah itu akan terus beranak dan menyisakan kesusahan. Tuhan akan selalu mendengar doa hambaNya yang terus beramal dan mau bertaubat, maka minta tolonglah pada Tuhan. Tak ada yang tidak mungkin di tangan Tuhan; tidak akan menyia-nyiakan amal hambaNya. Itu yang Aion pegang teguh kini. Ia percaya, pada Tuhan.


REDstar tak sudi untuk menarik bilah tajam itu, emosinya goyah. Tak menginginkan wanita di depan kembali tersakiti ... olehnya. Tidak seperti Kotetsu, bisa menghilang. Katana ini adalah perwujudannya sendiri ... hati, tak akan enyah dengan mudah. Senjata yang lahir akibat dirinya Corrupt—menjadi hitam.


Tapi---


Makin erat lagi Aion mendekap, makin dalam pula bilah tajam itu menusuk. Tidak apa-apa, tak masalah. Kembali tidak membenakan denyut nyeri pada dada, menjalar ke seluruh tubuh. Tak mengacuhkan darah yang mengalir pada bagian depan, juga pada sudut bibir merah.


Setidaknya itu membuatnya tenang.


Meski sedikit.


Tidak apa-apa.


Ini lebih ... baik.


Pandangannya memudar seolah tirai kabut menghalangi. Mungkin ini akhirnya.


"Terima kasih." Suara itu ....


Seketika Aion mengedar pandang, susah payah tatapan buram mencoba mencari asal suara. Dengan badan bergetar sebab kaki tak kuat menapak, bersandar pada pundak si pemuda hitam. Ia sangat yakin mendengar suara REDstar, tetapi pemuda itu masih menangis ... kecil. Apa itu hanya ilusi ketika sekarat? Atau---


Seketika tangan pucat semu merangkul dari belakang, terlalu transparan lebih-lebih akan menembus. Namun, lengan pucat itu memeluk erat ... hangat. "Terima kasih sudah percaya dan berjuang sebegini jauh."


Tangan tersebut memaut mereka berdua—REDstar dan Aion. Sontak tangis REDstar berhenti, melihat sosok yang tiba-tiba muncul tepat di depan mata. Dia persis seperti dirinya, tetapi merah ... amat merah.


"Kamu---"


"Adalah kamu. Kita kembali, ya?"


...----------------...


...Dua jiwa, satu tubuh, selamat datang...


...----------------...


Bersih.


Suci.


Kemana melempar pandang, di situ hanya ada putih. Kemana melihat, hanya kekosongan. Hampa ... tenang, sunyi. Badan terasa ringan, lebih-lebih melayang. Akhirnya, aku membuka mata, tapi di mana ini? Kaki juga tidak menapak ... mengambang rasanya. Aku mencoba menunduk, bahkan badan juga terselimuti putih. Hanya telapak tangan yang terlihat dan ... rambut merah mudaku juga mengapung, seperti di dalam kolam. Namun, jelas sekali ini bukan dalam air ... gravitasi.


Apa yang terjadi? Aku tidak ingat. Terakhir ... oh! Aku harus segera menemukan REDstar. Mencoba berlari, rasanya sia-sia karena di sekitar hanya putih. Seperti jalan di tempat, tapi ... apa yang harus aku lakukan? Aku di mana? Apa aku sudah mati? Tuhan, tolong aku. Aku jongkok, memeluk lutut ... ketakutan.


Tak lama aku mendengar suara tangis. Apa ada orang? Jika iya ....


Bergegas aku menghampiri suara itu. Berlari; berjalan; rasanya sama saja karena kiri-kanan putih; kosong; hampa, bahkan tak ada suara dan gema. Tetapi tangisan itu makin jelas, ya, hampir dekat.


Di depan aku melihat ... anak kecil? Seorang ...? Tidak jelas. Mungkin ... karena aku masih jauh, ya? Harus segera ke sana.


"Apa kamu baik-baik saja?" Aku menyentuh pundaknya, pelan. Orang itu berhenti menangis dan menengadahkan kepalanya. Rambut merah, apakah---


"Aion?" Kaget, sontak badanku mengkaku. Dia memanggilku 'kan? Sekarang pemuda itu berdiri. Aku kenal, tapi ....


"Kamu juga. Mata sekarang merah muda, seperti rambutmu." Sontak dia tertawa, kecil sekali. Lucu.


Begitukah? Aku ... berubah, mataku sudah tidak lagi biru gemerlap—penanda dosa—dan dia tidak lagi hitam. Entah kenapa bertemu dia juga ... membuatku tenang.


Mengenyahkan air mata pada pelupuk dan mengangguk pelan. "Iya, ini aku," ucap REDstar seraya memelukku, erat sekali seolah kehancuran di belakangnya. Suara isak kembali terdengar sayup. Seperti tangisan sunyi yang hanya menitikkan air mata. Bisa kurasakan napasnya memburu pada telingaku, hangat. Iya, tidak salah lagi, ini REDstar. Aku membalas rangkulannya.


"Maafkan aku, aku minta maaf, maaf." Kata itu tak pernah bosan ia seru, merasa sebegini bersalah? Padahal, aku tahu ini semua bukan atas kemauannya. Aku bisa memaklumi, kenapa dia yang harus meminta maaf?


"Tidak apa-apa. Sudah, merrily, merrily." Seketika pemuda berambut merah ini senyap, kemudian ... tertawa? Kenapa? Apa aku salah berucap?


"Aku suka ketika kamu berkata 'merrily, merrily'." Lalu tangannya mengelus pucuk kepalaku, terus membelai hingga ke punggung. Tunggu, sejak kapan RedStar seperti ini, bukannya dia pendiam dan ...?


Sontak aku mencengkeram kedua pundaknya, mendorong sekuat tenaga. Mata merah itu mengerjap. Mungkin, dia heran?


Kami terdiam ... saling tatap. Apa? Dia tertawa lagi!


"Mukamu merah," nadanya tengil. Ugh, ayolah ... sejak kapan, menyebalkan!


"Sudah, ah! Kamu jadi nyebelin?!"


"Iya kah? Umh, maaf." REDstar melempar pandang, menggaruk tengkuk. Tidak-tidak, jangan berkata maaf lagi. Ah, aku salah ucap. Sekarang wajahnya sedih, dia gampang sekali merasa bersalah. Aku cepat menggelengkan kepala. Bukan maksudku begitu. Pikirkan sesuatu ... tunggu, sebenarnya apa yang terjadi? Bersama dengannya membuatku lupa sekitar.


"Kamu tahu apa yang terjadi?" Seketika dia terdiam, tatapannya ....


Menarik napas panjang, akhirnya pemuda merah itu berkata, "Kita di tempatNya."


Siapa?


^^^Apa kamu lupa? Dua jiwa dan satu tubuh, kamu mengembalikannya. Destroyer dan Hope, serta tubuhmu yang merupakan raga aslinya. Kamu memulangkan dia.^^^


Ah benar ... waktu itu. Aku memutuskan untuk tidak lari lagi. Masalahku besar sekali, mungkin orang waras jika tahu pembunuhnya sudah dekat dan akan merenggut nyawa saat itu juga, pasti berlari atau melawan balik. Melakukan pertahanan dan hal lain. Tidak ada yang ingin mati 'kan? Apa lagi dengan orang tercinta. Tetapi, hidup itu sendiri sangat berat. Aku dilema. Pedih rasanya ....


Akhirnya aku sadar, manusia mana yang tidak luput dari cobaan? Itu merupakan langkah untuk mendapatkan nikmat Tuhan. Ada pelangi sehabis badai. Semakin besar ujian, besar juga nikmat yang Tuhan berikan. Banyak manusia yang lupa akan hal itu. Akhirnya mereka lari, dari takdir; dari masalah; dari kehidupan. Seharusnya kamu yakin ... Tuhan tidak akan menguji manusia melewati kekuatannya. Tuhan pasti menolongmu. Kadang caranya aneh, bahkan menyebalkan. Tapi, begitulah.


Hidup? Hidup itu berat, tetapi jika hidup tidak berat, dunia terasa hampa. Namun, apa aku pernah minta kehidupan? Kapan aku meminta untuk dihidupkan? Aku tidak ingat pernah minta untuk hidup, karena manusia diciptakan dalam keadaan lupa. Mungkin juga, manusia hidup karena memang minta untuk dihidupkan.


Siapa yang tidak senang diberi sesuatu? Mungkin juga, kita tidak meminta untuk hidup, tapi kita diberi kehidupan. Hidup itu anugerah. Hidup dan menjalin hubungan ... suatu keindahan.


Jika ada masalah, selama kamu hidup itu bisa selesai. Jika mati? Masalah tidak akan selesai. Itu artinya gagal, meninggalkan masalah di belakang. Lalu bagaimana? Tidak ada yang mengurus. Rusak; lepas kendali, itu terjadi ... padanya.


Maka, sekarang aku mencoba untuk tidak lari. Aku menghadapinya; bertatapan dengannya. Walau aku tahu akhirnya seperti apa, aku tidak akan berhenti. Dan aku meminta tolong padaMu, hanya Engkau penyelamat seluruh umat. Tuhan tidak pernah meninggalkan hambaNya, kitalah yang meninggalkan Tuhan.


^^^Katakan, apa keinginanmu?^^^


Seketika tubuhku terasa terangkat, begitu juga dirinya. Aku benar-benar melayang sekarang, sungguh tidak ada gravitasi. Jika begini ....


Tangannya mencoba meraihku, ah, kita hampir terpisah. Jangan, tunggu, jangan. Aku masih ingin dengannya. Tangan kami bersentuhan, dalam tempat begitu menyilaukan dan senyap kami bergandengan.


"Apa keinginanmu?"


Dengan terisak dia menjawab, "Aku tidak ingin ... sendirian."


Itulah keinginan dari sang adam. Sudah diputuskan. Itu juga yang akan menentukan keturunannya, dimana para laki-laki tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan pendamping hidup demi menenangkan jiwa. Tetapi pasti, akan bertemu dengan tulang rusuknya.


"Aku ingin, kamu ... bisa menjalani hidup normal dan bahagia." Itu harapanku. Aku, keinginanku ... ingin percaya itu memang yang terbaik.


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.


Cahaya putih sontak menelan ... kita berdua.


Jangan menangis. Aku pasti ... bersamamu lagi.


Terima kasih, sampai berjumpa lagi.