
Melawan dingin, menarik lengan baju. Apple terus gemetar semenjak menginjakkan kaki di sekolah penuh sejarah kelam. Meniti langkah dalam lorong mewah yang turun pamornya karena aksi bullying, menewaskan dua puluh siswa. Sudah belasan tahun ditinggalkan hingga bobrok; cat-cat terkuliti; amis menusuk; tekanan kuat membuat tak mampu berdiri tegak, bahkan suatu gerakan di pojok menghasilkan ngeri.
Pendar mentari merambat relung masih membuat gentar. Sendirian, butiran debu yang mengganggu dan gaung menemaninya. Hingga ia mengatupkan mata, mencoba mengingat kenapa bisa berada di sini.
"Coba cek Point Irida, aku dengar banyak orang melihat bayangan hitam beterbangan. Jika itu arwah, sucikan. Itu akan sangat membantu," tutur pemuda jemari kekar memegang lengan pualam, yang menemani duduk dalam ruang tunggu. Apple sempat menemuinya di lorong. Perempuan dalam balutan gaun lolita hitam dan jubah panjang. Apa dia Mizu? Jika iya, sungguh bertolak belakang figurnya dengan Jin.
"Ta-tapi, aku belum pernah ke sana." Mata biru sayu karena gugup.
"Apple, coba latih keberanianmu, pasti bisa."
"Akan aku berikan hadiah," sambung Mizu. Walau tegas, ternyata perempuan baik. Dia mendukung apa yang Jin lakukan dan para bimbingan. Terbukti dari tidak keberatannya jika waktu berduaan terusik karena keinginan kekasih melatih para murid. Bahkan, memberi support jikalau mampu.
Tetap saja, aura tegas begitu kuat hingga Apple tidak bisa berbuat macam-macam kecuali menurut. "Hmmmn, baiklah ...."
Mau tidak mau harus melakukan tugas, dia mulai memberanikan diri. Ini masih siang—pikirnya—pasti akan baik-baik saja. Suara denyit kayu meringking tiap langkahnya. Kepala terasa pusing, terlalu banyak menghirup bau anyir sebab lorong lembab karena lubang-lubang di atap dan dinding. Sampai dia pada pintu kayu oak tua. Ragu-ragu membuka pintu, masuk ke dalam ruang langkah demi selangkah.
Apple terkejut melihat bayangan bergerak liar dan berhenti di jendela. Sorot mentari membuat rupa terlihat. Makhluk itu adalah tapir hitam kecil dengan mata merah menyala, api kelam berpijar di punggungnya. Mata biru langit berbinar dan takut seketika hilang. Dia mengenali makhluk dalam buku peraturan EA, Dream Eater. Apple membungkuk, memakan mimpi buruk adalah hal yang patut disyukuri. Dia menemukan iblis langka dan pasti para senior akan menyukainya—pikir Apple ingin menjinakkan si iblis tapir.
Namun, semua tidak berjalan sesuai rencana.
Hendak mendekat, iblis itu beringas. Kembali menjadi bayangan dan menyebar tubuh ke seluruh ruang, membakar menggunakan api hitamnya. Gesit merogoh Advance Bag, mengeluarkan kertas mantra hijau. Penuh persiapan, pengalaman adalah guru terbaik.
Melompat kebelakang, melempar kertas mantra pada sang inti. "O deus, praebueris sis potentiam tuam, ventus potentia!"
Seketika peluru angin menembaki. Suatu ledakan terpicu; kaca belakang terpecah; menyemburkan api hitam keluar, menghasilkan pompaan angin yang mengembus pakaian merah muda. Lengan menghalau serpihan debu dan percik api. Baru saja ingin bernapas lega, Apple dikejutkan dengan sosok Dream Eater di depan mata. Kembali menjadi bayangan, merasuk pori-pori. Ia kehilangan kesadaran; mata mengelam; tubuh terjatuh.
Gelap ....
Membuka atau menutup mata sama. Depan; belakang; kemana pun; semua hitam tanpa setitik cahaya.
Apa yang terjadi?
Si gadis hanya meringkuk gemetar. Takut, takut sekali. Apa yang harus dilakukan seketika bumi kehilangan binar sang surya? Pusing, rasanya seperti terjatuh dalam lubang tanpa dasar.
Langkah kaki terdengar. Makin lama, makin mendekat. Siapa itu? Derapnya terhenti.
Mata biru membulat, pengelihatan yang ia amati terlampau nyata untuk dinamai delusi. Emosi meluap menghasilkan panas yang melelehkan rintik air mata membasahi pipi seiring bibir bergetar.
"RED ... star?" Orang yang hilang dari kehidupannya; yang terus ia cari; yang menyelamatkan tiap detik kecaman malam itu. Dia lah, dia ....
Tanpa pikir panjang Apple bangkit, mendekati pemuda yang melewatinya. Kaki memijak hamparan hitam, tapi langkah limbung lagi terhuyung dengan gejolak emosi. Senang; sedih; semua campur aduk. Hingga dekat, tetapi pemuda itu menghempaskan tangannya, ambruklah gadis kecil.
Di balik bayangan, mata merahnya menyala. Rasanya menatap jauh. Gerak-gerik penaka ingin membunuh. Apple terlalu takut, hanya menggerakkan tangan tak mampu. Mata darah itu membelenggu bagai tali tambang. Cengkeraman kuat menjambak rambut pirang. Gadis kecil hanya bisa meringis, suara tersumbat dalam lekum kausa degub jantung menghalangi.
Langkah yang terus dinantikan; ia tunggu; penuh kenangan dan nostalgia, kini berubah menjadi langkah pembawa peristirahatan jenjam. Tangan kuat menggenggam, menyeret gadis kecil dengan jambakan. Tiap helai tertarik, menyalurkan nyeri amat sangat seperti menembus tulang. Sakit bukan main berujung vertigo. Susah payah menahan seraya mata terus terjaga. Sekarang, berada di dalam rumahnya—istana Luchifenian.
Kejapan seperkian detik membawa serpihan malam itu seperti potongan klise untuk disaksikan, bulan merah; awan hitam; rintik membasahi; amis darah. Mereka berhenti, tepat di depan ruang utama Luchifenian. Cengkeraman terlepas, gaun berubah putih dengan pita merah menghiasi. Pemuda itu membuka pintu. Seluruh penghuni kerajaan berkumpul, ramai mereka menyiapkan pesta.
Apa yang terjadi?
Ayah; Ibu; semua tersenyum pada gadis belia, hingga pemuda serba hitam menodai dengan darah. Ia melaju beserta katana di genggaman tangan. Semua bergerak lamban, mengharuskan untuk dilihat. Lempeng tipis candrasa merobek tiap inci, ayah; ibu; semua. Darah berpancuran, mereka terbelah—dalam belahan ia membelah lagi—dan terus terpotong hingga organ menjadi kotakan dadu.
Apple mematung. Pemuda itu lincah, tak satu pun diberi celah. Seluruh meja; kursi; perabotan, tercemar tumpahan merah. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Satu orang melawan, ia terjang hingga terjatuh. Injakan kaki pemuda kelam meremukkan tengkorak; linyak otaknya, menggelinding matanya. Semua dilempar; semua terbelah; tiap nyawa terenggut.
Mata biru deras mengalirkan air. Laksana orang kehilangan jiwa, tatapannya kosong. Apa yang dilihat tidak bisa dipercaya. Mual, pusing. Ingin melilah; menjerit; memaki; berlari, tapi ia lupa caranya. Tak bisa berpikir, Apple kaku. Air mata habis berganti dengan kental merah.
Di ruang bersimbah darah, mayat membanjiri. Dalam sunyi pemuda itu tertawa—keras sekali—gema menusuk telinga. Wajah pucat bernoda merah; mata mengintimidasi; senyum melebar ... bukan sebuah senyum hangat yang menemaninya dulu. Lekas pemuda itu menghampiri—gerakannya cepat—hingga besit angin memecah gumpalan atas lantai. Menghunus mata---
"AAAAAH!"
...-oOo-...
"Ini! Aku bisa merasakannya!" Mizu menunjuk pintu oak yang kemudian Jin dobrak.
"Astaga," sebut tegas si mata hitam. Bersedekap, serius melihat gadis pirang telungkup atas lingkaran sihir berbahan api jelaga.
"Tekanan arwah di sini terlalu kuat." Pembimbing si gadis sigap menyucikan ruang dengan air suci; merapal mantra. Aura gelap beterbangan, seketika cahaya memenuhi.
Keadaan kembali normal, lingkaran sihir ikut hilang. Jin langsung mendekati gadis pirang, tapi langkah dihentikan oleh sang kekasih dengan tepukan pundak. Terkejut, menoleh ke arah perempuan itu. Mizu terdiam dan menyadari sesuatu.
"Ia mulai bangun." Apple duduk, aura gelap keluar dari tubuh. Lantas ia menjerit; melengking; mata berputar hingga kebelakang kelopak, hanya putih yang sekarang terlihat. Kemudian tertawa kencang, menjambak rambut sendiri. Guru bimbingan lantas tercengang melihat siswinya seperti orang kerasukan.
Sang Meister angkat bicara, "Sepertinya dia terkena pengaruh Monochrome Dream Eater."
"Bukannya itu iblis pemakan mimpi buruk?" Kekasih menyela dengan ekspresi wajah seakan penuh tanya.
"Memang tidak tergolong jahat, bahkan sebagian orang mau memeliharanya. Namun iblis, tetaplah iblis." Menarik napas dan melanjutkan penjelasannya, "Dream Eater yang terlalu banyak memakan mimpi buruk akan berubah menjadi hitam. Itu bertumpuk dalam jiwa dan dia bisa menghilang karenanya, sebagai ganti agar tetap hidup adalah menemukan inang untuk mimpi buruk yang ia telan agar kembali putih. Itu sebabnya disebut Monochrome Dream Eater. Melekat dan memanipuliasi ingatan, menjadi bayangan di Point Irida karena hampir menghilang. Malang nasib Apple," ucap Mizu lesu setelah mengakhiri penjelasannya.
Seorang Exorcist tahu, misi yang dijalani tidak selamanya berjalan baik.
"Ia sudah dua hari menghilang. Tidak kusangka ...." Suara Jin pelan, seperti sebuah penyesalan.
Tiba-tiba perhatian tertuju pada iblis abu-abu, muncul di belakang Apple. Tapir itu terkejut dan melarikan diri ke jendela. Vermillion langsung mengeluarkan senjata, mencoba mengejar. Lagi-lagi langkah dihentikan oleh Mizu. "Ada yang lebih penting untuk diurus. Sepertinya iblis itu belum selesai menyelesaikan ritualnya, tepat waktu."
Kembali melihat keadaan gadis malang, Apple tak henti tertawa. Guru bimbingan mencoba menyentuh, tapi sengatan menjalar, aura hitam yang keluar dari tubuh tidak mengizinkan.
"Ini akan memakan waktu lama."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Menyegel ingatannya."
...-oOo-...
Kepalanya terasa ringan, pandangan samar kini memfokus. Yang pertama terlihat adalah putih, semua serba putih. Jendela di sebelah kiri terbuka, membiarkan sinar mentari menghangatkan raga gadis pirang yang masih berbaring atas kasur. Badan terasa lemas.
"Sudah bangun, Apple?" Suara terdengar lembut di telinga, seperti ucapan selamat pagi. Perempuan itu—Mizu—tersenyum simpul pada gadis kecil.
"Ini bukan di kamar?" Lantas Apple bingung setelah sadar akan kondisi sekitar. Rak-rak obat; meja alumunium, seperti dalam ruang rawat inap.
"Bukan, kamu tidur hampir satu minggu."
"Satu minggu?! Apa yang terjadi?" Perempuan itu meletakkan telunjuk tepat di bibir tipis Apple. Tersenyum, ia menunjuk pojok ruang. Ternyata Jin pulas di sana. Tidur dengan posisi di atas bangku besi seperti itu, apa tidak pegal?
"Sudah merasa baikan?" Lemah lembut Mizu membelai rambut pirang. Rasanya nyaman sekali, Apple menjawab pertanyaan itu dengan anggukan.
Wajah masih terlukis senyum. Tak lama, ia menyuguhkan tangan. "Kemarin belum sempat berkenalan, 'kan? Namaku Mizu Shikurai."
"E-eeh, iya. Apple Caramel."
"Jangan sungkan. Maaf kalau kemarin tidak sempat mengobrol, aku lumayan sibuk, banyak tugas yang harus diselesaikan."
"Tu-tugas?"
"Iya, ada beberapa tugas yang tidak dapat murid lain kerjakan, hanya aku yang bisa."
"Kenapa memangnya?"
"Karena aku satu-satunya yang sudah sampai ke kelas Meister, kelas Aria dan Doctor." Apple terkejut, kemudian ingat di hari pertama bertemu dengan pemuda Vermillion. 'Aku akan menyusulmu Mizu sayang!', ah ... ternyata.
"Kalau kakak kelas apa?"
"Maksudmu Jin? Dia masih Esquire." Obrolan dengan si perempuan Shikurai membuatnya teringat akan beberapa tingkat kelas yang dimiliki EA. Itu tertulis jelas dalam buku peraturan.
Sebelum menjadi seorang Esquire, tiap individu dimulai sebagai Page, mempelajari elemen dasar eksorsisme dan demonologi. Untuk menjadi Esquire, seorang Page harus lulus ujian otorisasi, terdiri dari tes tertulis dan tes lapangan; menentukan kemampuan tempur kelas secara keseluruhan dan keterampilan kerja tim.
Kemudian Esquire, murid di atas Page. Esquire masih harus menghadiri kelas yang dibuka khusus oleh para guru untuk belajar menjadi Meister, tetapi ahli melakukan misi non-tempur.
Seorang Meister memiliki pengetahuan untuk menjadi seorang Exorcist sejati. Istilah Meister mengacu pada keterampilan tempur tertentu yang mereka miliki. Ada lima kelas Meister, perbedaan antar kategori adalah gaya bertarung mereka.
Knight bertarung jarak dekat. Dragoon dengan senjata jarak jauh. Doctor merupakan support dalam pertarungan. Tamer mengontrol dan memanggil roh yang biasa dikenal dengan familiar. Aria membaca ayat-ayat dari Alkitab suci.
Setelah itu menjadi seorang Exorcist. Terdiri dari Exorcist rank rendah, menengah, dan atas. Hingga yang paling tinggi, Paladin. Hanya ada satu Paladin dalam satu waktu dan biasanya setelah seorang individu menjadi Paladin mereka mempertahankan gelar sampai meninggal. Penunjukannya sangat sulit, dengan syarat minimum mereka benar-benar mempelajari kelima Meister. Paladin saat ini, Yukio.
Apple tersadar saat Mizu melambaikan tangan tepat di depan wajah. Gadis pirang tertawa kecil yang agak memaksa, menggarukkan kepala yang tak gatal. Mizu berbisik, mengajak untuk pergi jalan-jalan. Tentu si gadis amat senang dengan tawaran itu; wajahnya kembali ceria; cepat-cepat turun dari kasur. Pelan-pelan mereka meninggalkan ruang rawat, membiarkan pemuda itu beristirahat.
Sang fajar baru bangkit di ufuk timur. Seperti biasa, langkah terdengar jelas di lorong. Mereka menghampiri satu-satunya pintu belakang kantor utama—toko EA. Bunyi lonceng menyambut kedatangan. Sosok pria mata emas sibuk menyiapkan beberapa barang.
"Oi, Mizu! Seperti biasa, datang pagi ya! Ahahaha." Perempuan itu hanya membalas dengan kilatan senyum, tidak suka berbasa-basi apa lagi dengan guru penjaga toko yang sudah jelas bejatnya.
Apple memandang Mizu, heran kenapa dia mengajaknya kemari. Perempuan Shikurai kembali mengelus rambut pirang si gadis, sedikit membungkuk demi menyetarakan tinggi. "Apple, ada yang kamu ingin beli?"
"ADA! Itu---eehh ...." Tiba-tiba nada semangatnya putus, karena sadar nominal barang yang ia suka sangat banyak.
"Ahaha, anak baru itu. Ah, siapa lagi namanya. Oh ya! Apple. Kemarin sempat ke sini bareng si Vermillion. Dia tertarik dengan Sigillium." Mizu mendelik tajam, seolah berkata 'aku tidak tanya padamu'. Lantas Xavier membuang muka, bersiul sambil berpura-pura sibuk.
Tanpa memakan waktu menuju jajaran barang antik. Mengambil sebuah benda persegi panjang dari kaca, ketiga permata putih dan jarum terlihat jelas di dalam. Cepat-cepat Mizu menyelesaikan transaksinya, tidak mau lama-lama dengan guru mesum yang dulu sempat merayu.
Apple terkejut setelah Mizu memberikan Sigillium. Tidak percaya perempuan Shikurai benar-benar membelikannya. "I-ini sungguhan?"
Mizu tersenyum simpul. "Ambillah."
Girangnya bukan main hingga ia melompat-lompat. Cantik; baik, beruntung sekali Jin Vermillion—pikirnya.
Untung saja dia benar-benar lupa dengan kejadian jauh-jauh hari, untung saja. Ah, bukan lupa tapi tersegel. Mereka menyegelnya, bahkan sampai lupa membawa Advance Bag lagi. Tas itu tertinggal di ruang rawat, bersama pemuda pirang yang masih tertidur.
Apakah tidak ada yang sadar, buku cerita berjudulkan Story about "RED" berada di atas kasur sepeninggalan Apple. Terbuka pada lembar ke dua. Bergambarkan anak kecil laki-laki duduk atas kasur kecil dalam kuil. Di depannya ada sosok bayangan besar bertanduk dan sayap enam.
Ada tulisan sambung: "Mulai bertanya dari mana ia berasal dan kenapa ia lahir. Mencoba mencari yang lain, tapi dia sendirian dalam kegelapan, tak seorang pun ditemukan. Mengetahui ini, harapan mencoba melarikan diri dari kegelapan. Ini akan memakan waktu sebelum dia belajar, itu pertama kalinya dia merasakan emosi kesepian. Apapun caranya, dia tidak bisa lari. Hingga di suatu malam, harapan bermimpi bertemu sosok malaikat bertanduk, menawarkan kebebasan dan tentu dia menerimanya. Mengijinkan malaikat melakukan pekerjaannya. Harapan yang kesepian menjelajah dunia. Langit tak berujung, laut yang indah, dan hidup baru senantiasa lahir. Ini suatu kesalahan, fatal."