
“Hem, 'ditempat tertinggi dibalik bayangan rembulan aku berdiri dalam kesunyian yang mencekam', jika benar pendapatku ... tempat tertinggi maksudnya lantai dua, di balik bayangan ... mungkin master di balik bayangan bertuliskan delapan satu satu tadi? Dan kesunyian yang mencekam ... kesunyian, tempat ini sunyi, tapi apa ada lagi yang lebih sunyi? Kuburan? Master dikubur?"
"Jadi kesimpulannya, Apple dikubur di lantai dua, di tembok tempat bayangan delapan satu satu terpeta?"
"Mungkin ... bisa jadi, kita harus mencobanya." Rubah siap untuk menggali lagi dan kini harus menggali tembok.
Berdesis pelan, memandangi tangannya dan menengok ke arah tembok. Daripada menggunakan kuku, akhirnya Pipe fox memutuskan untuk menghancurkan menggunakan tangan kosong. Ancang-ancang, ditinju keras-keras tembok itu, retak terlihat di sekitarnya. Nampaknya rubah ini cukup kuat. Tapi setelah itu dia jongkok sembari menunduk, memegang tangan kanan yang ia gunakan. Kesakitan, ternyata tangannya memerah.
Pipe Fox tak gentar, dia rela mengorbankan seluruhnya demi kembalinya sang majikan, karena hanya dia juga yang mau merelakan jiwa demi dirinya. Melawan kuat sakit dengan mata yang sudah membulat, pupil menunjukkan angka satu menandakan dia serius. Aura kebiruan mengelilingi, taring-taring tajam terlihat, dia siluman apa kau lupa? Siluman juga iblis dan mereka berkekuatan besar, tidak seperti manusia.
Dalam genggaman, api berkobar, berwarna sama dengan rambut yang membiru. Seketika terdengar tempik sorak. Dinding bergetar seraya dentam terngiang, retak lebih besar terukir di sekitar inti, begitu pula darah segar yang mulai bercucuran dalam kepal. Retakan mengikis tembok, membuat lubang sebesar kepalan tangan. Dalam kikisan tembok, terlihat mata kiri yang terpejam. Seketika campur aduk hatinya, senang sedih, apapun itu tidak terbayangkan hingga mata berkaca-kaca.
Hingga pelupuk melipat. Mata itu bukan yang mereka nanti, tetapi mata pembawa pada peristirahatan jenjam. Mata hitam pekat terus mengeluarkan aura seperti bayangan. Dalam satu kedipan, tembok sudah luluh-lantah, rombakan semen mengeras sekarang menghujan. Syok hingga tak dapat bergerak, napas seperti terhenti melihat sosok pemuda kelam di depannya yang bebas. Tatapannya begitu dingin penaka ingin membunuh. Salah ini pasti salah, apa yang terjadi ... pasti salah.
Gesit, jerat mematikan sudah mengikat di leher sang rubah. Tidak bisa bernapas, hanya bisa meronta-ronta dalam keperihan kerongkongan yang terjepit. Pipe fox nampak geram bagai ingin meledak, apa akan mati? Tidak pasti ada yang salah bukan dia tap---
"Aaaakkhh!"
Bergegas Leona menghampiri dan memegang lembut kedua pundak si siluman demi menenangkan. "Kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
"Kamu tidak lihat?! Dia- dia ...."
Leona melihat kemana jemari panjangnya menunjuk, hanya retakan tembok ditambah darah. Siapa? Apa rubah ini berhalusinasi? Leona memandangi heran pada Pipe Fox.
"Aku bersumpah melihatnya! Dia mencekikku!"
"Dia siapa? Mungkin kamu kelelahan, jangan memaksakan diri."
"Orang yang ke lima, REDstar! Persetan, apa kau tidak takut?! Kita akan mati!"
Kaget, Leona mengkaku. Terlihat jelas dia menggertakkan gigi pun mengepal tangan, sangat kuat karena decitnya keras. Perempuan ini menahan marah laksana bom yang siap meledak.
"Tentu aku takut, bodoh! Aku hanya ingin menolong tetapi ... cih! Kalau aku tahu pada akhirnya seperti ini, aku tidak datang. Aku takut, hanya ingin ... pulang."
Walau kau beranggapan perempuan rambut perak ini terlihat tenang dan terus berpikir, tapi dia juga manusia. Takut, mungkin saja terus berpikir agar dapat keluar dari masalah ini. Siapa tahan dengan kejadian ini, semua aneh; terjadi tiba-tiba; menyakitkan. Siapa tahan dengan pandangan buyar menjadi merah total; suara melukai dari lonceng; benda seperti darah terus bercucuran. Siapa tahan terjebak dalam labirin ini dan sekarang harus menghadapi kematian? Siapa tahan dalam posisinya kini?
Leona menangis kencang, masih mengomel tetapi apa yang diucapkannya tak jelas karena tenggelam dalam isak. Pipe Fox hanya memandangi tangisan perempuan itu. Sauknya kencang sekali. Mungkin perempuan itu ingin menahannya, terbukti dari terus menyeka air mata tapi luapan emosi melebihi kekuatan.
Rubah biru menarik langkah dan mengambil sebilah pedang yang terbaring di atas lantai, milik Leona—Marengo Napoleon. "Aku akan menghancurkannya. Jika hasilnya sesuatu yang terburuk, larilah. Bagaimanapun caranya selamatkan dirimu."
Leona menenang tetapi isak lekat membuat napas tak teratur. Dia memandang rubah biru yang sudah ancang-ancang di depan tembok putih. Terlihat serius dan tak menahan diri, tidak juga melihat kebelakang. Suara remai terdengar seketika pedang itu mengkoyak tembok. Gumpalan batu dan kerikil terlontar mengikuti arah pedang, juga darah segar yang memuncrat.
"Bodoh kau melukainya!" Leona bergegas merebut pedang miliknya dan mendorong rubah itu hingga dia terguling. Pedang tajam jikalau tak ahli maka akan melukai. Suaranya keras, lempeng besi menghancurkan sisa bahan pembangun tembok penghalang raga gadis kecil yang terkubur. Apple ... mereka menemukannya.
Dari jauh, jelas sekali kalau mulut Pipe Fox mengap. Apa-apaan itu, kenapa---
Dia bingung harus bertindak apa atau berekspresi apa, semua benar-benar aneh. Pipe fox bersumpah tadi melihat pemuda serba hitam dalam tembok, tapi di sana ternyata Master. Kepala sakit sekali, ia mencengkeram kuat hingga buku cerita kuno kembali bersinar. Sinar begitu terang sampai-sampai menyelimuti segala yang terpandang menjadi putih.
Tidak bisa melihat, raga ikut tenggelam dalam cahaya ....
Ada gambar wanita memalingkan muka, seperti ingin berlari. Jauh di belakangnya adalah pemuda duduk tersungkur. Aura hitam sungguh pekat mengelilingi, ditambah bayangan yang menyerupai malaikat bertanduk di belakang. Siluet memiliki senyum lebar hingga terlihat menyeramkan. Sang pemuda merentangkan tangan, laksana ingin meraih wanita yang tak mampu ia jamah.
Tertulis: "Harapan menyadari kehidupannya karena malaikat itu kembali datang. Yang dulu membantunya lepas, menunjukkan kebenaran. Takut, takut, dia menangis, hari demi hari. Pertama kali dalam hidupnya, mengetahui arti dari keputusasaan. Harapan kembali rusak. Penyihir kembali pergi. Dia sadar ... tak layak mendapatkan ini. Fana, ini semua ilusi."
Itu tergambar pada lembar ke sembilan. Lembar ke sembilan yang sangat tebal seperti sembilan lembar yang lain. Hanya lembar pertama, kedua, ke tujuh, dan ke sembilan yang memiliki isi, sisanya? Masih kosong.
...-oOo-...
Bukti sebuah eksistensi ditolak, aku berdiri di tengah kerumunan tapi semua terasa hampa. Saat siaran itu sampai pada akhir, napas ini terhenti. Bisakah kau melihatnya? Bayangku menghilang.
"Dan bunga yang mekar ini juga ditinggalkan."
Tenggorokan mengering dan aku mencoba bangkit, tapi itu hanya sebuah alasan. Karena hati yang penuh kedustaan ini sudah hancur.
"Dan kamu tertawa terbahak-bahak."
Sama sepertiku, kau juga berbohong.
Seandainya kedua tanganku bisa meraihmu yang mulai hancur, sesuatu pasti berbalik melihatku. Aku hanya ingin mengakhiri semua, memotong segalanya dan kembali ke masa lalu. Aku ingin masa itu. Berdiri di depan salib, tubuhku terantai. Aku tak punya payung untuk membendung rintik air mata. Sampai hati tercemar karena pertunjukan mimpi ini. Terus membeku dalam senja, tak dapat bergerak.
Pada tingkatan ini, jika bayangmu menghilang ... aku akan berakhir melupakanmu. Aku tidak mau, aku tidak terima. Tetapi aku menyadari, bahwa kembalinya dirimu itu tidak mungkin. Apakah itu hanya sebuah ideal? Mimpi yang begitu tinggi seperti pecahan cahaya di langit. Aku menangis, berlinang air mata yang mulai membanjiri.
"Dan kamu hancur berkeping-keping, kamu tertawa lagi."
Sama sepertiku, kau juga berlinang air mata. Karena tetesan lemah ini mengalir di pipi, sesuatu seperti akan meluap. Hanya ingin ... menarik waktu dan menulis ulang takdir. Bangkit ke permukaan dengan tubuh yang tak henti bergetar. Akankah teriakan ku menghilang? Kata-katamu yang tak dapat kuingat. Apakah ini akhirnya?
"Dan kamu yang berbohong ini hancur."
Aku tertawa terbahak-bahak. Kamu dengan mudahnya berbohong, menahan napas dan pecah begitu saja. Tunjukkan padaku, tunjukkan padaku, aku mohon tunjukkan padaku, sesuatu yang akan membuat refleksi. Aku ingin mengulang ingatan itu, aku ingin masa itu.
Tentang senyummu.
Tentang rusaknya ... diriku.
...-oOo-...
"Kita bisa menculik lebih banyak gadis-gadis!"
"Bahkan tidak ada kelompok yang berani melawan kita."
"Orang-orang bangsawan itu juga tidak berani!"
Sekelompok orang yang terdiri dari empat pria itu sangat berisik mengelilingi beberapa bongkah emas dan minuman keras di atas sebuah meja. Mereka menempati suatu gereja kosong, terlihat hampir runtuh. Atap terbuka; lantai bolong; lumut menjamur di segala sisi; tembok-tembok terkikis. Ini tempat persembunyian mereka dalam hutan.
Tidak seperti empat orang itu, ada satu pemuda memisahkan diri. Tidak jauh tapi jelas sekali kalau dia tak ingin ikut campur. Berpakaian serba hitam; jubah; baju; bahkan mata dan rambut, seperti bayangan. Mata kelam menatap sendu rembulan. Bulan dekat yang begitu putih lagi indah, ditemani banyak pecahan cahaya. Walau begitu, kekelaman pemuda ini begitu kuat hingga bulan tak dapat bercermin di iris. Mata sayu, seadainya dia adalah bulan---
" ... Ini semua berkat kamu bukan?" Dirasa satu tepukan di pundak, membuyarkan pemuda kelam ini dari keheningan.
Sedikit membalikkan muka, terlihat pipi seraya menatap satu orang pria yang menyentuh. Tatapan begitu dingin, seolah-olah kau akan gila dan terbelenggu dalam kegelapan jikalau menatapnya terlalu lama. Sontak pria yang menyentuhnya tadi tersungkur ke tanah, badan bergetar heboh. Pria itu ketakutan, takut sangat dahsyat seperti kematian di depannya, bahkan ketiga pria lain sedikit melangkah mundur.
Tak satu pun mengeluarkan sepatah kata, baik empat pria atau si pemuda. Pemuda hitam kini melempar pandangan, mengacuhkan empat manusia jahanam di belakang. Tak lama dia pergi, melompat sangat tinggi menaiki dahan pohon jauh di depan. Cepat, salah satu dari mereka mencoba mengejar tapi dihentikan oleh satu orang yang lain, menarik lengan hingga badan terjatuh.
"Apa kau gila?!"
"Hah? Kau yang gila! Kita tidak bisa apa-apa tanpa orang itu!"
"Tidak, biarkan pergi. Apa kalian tidak merasa aneh? Seorang pembunuh bayaran profesional yang begitu legenda rela membantu kita."
"Bukannya dia dikenal tidak pernah menolak request?"
"Memangnya kita membayarnya?"
"Pasti orang itu ada niat lain ...."
"Iya, makannya lebih baik dia pergi. Apa kalian tidak tahu, setiap yang menjadi targetnya tidak pernah selamat, tidak ada yang bisa melukai dia ... korban-korbannya mati dengan tercincang."
"Dia membunuh dengan tidak berperasaan, memotong manusia lalu memberinya untuk makanan hewan."
"Orang itu hanya mengasihi sejenisnya bukan?!”
"Hah, lagi pula kita yang menangkap siluman rubah itu, dia saja yang memanggil dan menjinakannya."
"Bahkan cara menjinakannya mengerikan, tidak berperasaan."
"Apa orang itu punya hati?"
"Entahlah tapi dia pembunuh bayaran, siluman itu sampai tergucang. Ahahaha, dia tidak berani melawan sedikit pun, jiwanya sudah rusak pasti mudah diperintah."
"Maka dari itu lebih baik monster seperti dia pergi yang jauh."
"... ATAU MATI SAJA!"
Keempat orang itu begitu ramai, tertawa terbahak-bahak di saat bersamaan. Apa mereka tidak sadar bahwa mereka sama jeleknya dengan apa yang terucap.
Di langit gelap kini sedikit cahaya menyinari, nampaknya sang mentari siap untuk merajai tetapi bulan masih tidak mau kalah. Pemuda itu datang kembali, langkahnya senyap. Keempat pria masih terlelap. Ia kembali menarik langkah, tidak menghiraukan empat jahanam di sisi gedung karena memang bukan itu tujuannya.
Langkahnya terhenti di depan pintu kayu raksasa, mendorong pelan seolah tak ingin mengganggu penghuninya. Namun di dalam, keadaan begitu miris lagi mengenaskan. Ruang tak layak tempat; amis; lusuh; tidak ada cahaya. Hanya sinar samar karena lubang-lubang di tembok; begitu kotor; lebih hina dari pada sebuah penjara. Di situlah siluman rubah tinggal, dengan tangan dan kaki terbelenggu.
Rubah ini tidak kalah mengenaskan dari tempat tinggalnya. Baju koyak; luka di sekujur tubuh; wajah memar; darah segar melumuri dia dan lantai sekitar. Seperti sepotong tomat yang tercabik-cabik. Rubah tersebut terbaring lemas, telinga yang panjang sedikit bergerak mendapati seseorang memasuki wilayahnya.
Tempatnya begitu gelap, bahkan pemuda serba hitam itu hampir tidak terlihat. Tetapi mata kelam miliknya sangat kontras di wajah nan pucat. Rubah tersebut tidak percaya dengan pandangannya, orang itu ....
Takut bukan main, mata kosong membulat dan menggeleng-gelengkan kepala. Jantung berdebar seperti ingin lepas dari dada, napasnya putus-putus. Siluman sedikit menyeret mundur badannya saat pemuda kelam mendekat. Langkah begitu pelan, suara ketuk bergema. Itu adalah langkah yang membawamu pada pungkasan nyawa.
Hingga berhenti, tidak bisa mundur lagi lantaran sudah menyentuh tembok belakang, begitu pula langkah kaki maut tersebut. Lekas rubah biru memejamkan mata abu-abu begitu melihat dia sangat dekat. Pemuda hitam hanya duduk di depan si rubah.
Rubah mendengar suara, sangat pelan melebihi bisikan, tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Hingga ia memberanikan diri untuk membuka mata. Itu ... pemuda hitam, mulutnya bergerak tapi suara tak terdengar bahkan wajah terlukis kesedihan, seperti ingin menangis. Kenapa?
"Aku akan menolongmu, tapi ... tolong ... kami." Sentuhan tangan pucat begitu pelan, memegang kepala siluman rubah biru.
Sontak pikiran terasa begitu ringan berlebihan hingga tidak bisa berpikir. Badan ikut ringan, banyak sekali suatu kekuatan masuk. Kaku tetapi mata abu-abu masih terbuka. Sunyi sekali ... rasanya ....
"Bangun, oi! Lakukan tugasmu!"
Tendangan di pintu keras, sampai-sampai kayu hampir terlepas dari engsel. Di dalam, rubah itu masih terdiam. Namun hanya ada dia, tidak ada orang lain.
"Woi dengar tidak?! Lakukan---"
Baru saja ingin menarik rambut biru, pria itu terkejut mendapati siluman di depan sudah membuas. Berubah total menjadi rubah besar berselimut api biru, ekornya sembilan. Mengeratkan gigi, kini rubah mengaung-ngaung liar. Amukan kuat hingga api menjalar ke segala tempat, tak ada satu titik diberi ampun.
Dia lepas kendali, membakar seluruh yang ada bahkan keempat pria tidak bisa kabur dari bara miliknya. Api di tubuhnya beranak api lain bak rubah kecil pemilik ekor besar nan tebal. Rubah-rubah kecil menyalak dan mengejar ke satu-satunya manusia dari empat pria yang mencoba kabur.
Sungguh api biru yang membabi buta. Dalam penelanan sang bara, keempat pria disiksa habis-habisan. Siksaan pedih yang siluman ini rasakan, sangat menyakitkan. Kau pasti tidak mau membayangkannya. Ibarat siksa dalam neraka, jerit mereka pun pilu nan ngilu. Keretakan tulang dan leher terdengar berulang-ulang.
Tak henti menderam, siluman rubah yang mengamuk melarikan diri. Berlari entah kemana, dia juga tidak mengerti. Hanya mengikuti insting. Tapi, apa ini adalah insting miliknya? Dia juga tidak tahu. Tidak bisa berpikir atau menggerakkan tubuh karena begitu tenang ... sangat tenang.
Api ibarat komet di angkasa, menukik dalam cakrawala. Malam ini langit begitu terang daripada biasanya, diiringi oleh sinar dari ekor bintang jatuh biru. Di saat itu, Celestial Fox akan menerjang langit dengan tetesan air mata. Sinari langit, wahai Celestial Fox!
Sampai di suatu tempat, entah tempat apa ini, dia juga tidak mengerti mengapa bisa tiba di sini. Tempat kuat terlindung sihir. Mata abu-abu menatap sedu rembulan. Bulan dekat yang begitu putih lagi indah, ditemani banyak pecahan cahaya di langit. Mata sayu, seadainya dia adalah bulan ... maka, akan bisa sampai padanya ... dalam rasi bintang Lyra.