REDproject

REDproject
Bab 20: Memoar, The Book



^^^Jika kau tidak pernah tahu apa kesalahanmu, pada akhirnya ... mengulang kesalahan yang sama.^^^


Cicit burung menjamah merdu indra pendengaran. Desir angin mengundang gemerisik para daun juga kebitan ringan helai-helai mahkota kelam seorang pemuda. Ia bersandar pada batang pohon atas permadani alam yang sedikit lembab oleh embun. Kelopak pucat terkatup rapat, tak lupa sebuah buku terbuka di pangkuan. Kantuk mengungkung erat---


"Huaaaaa!"


Sandarannya berguncang singkat. Menggugurkan dedaunan yang memang akan ditanggalkan oleh sang inang. Bunyi hantaman terdengar sayup, menarik pemuda pelan-pelan ke alam sadarnya. Sesuatu yang berat jatuh tepat di pangkuan, membuat si adam tersentak bangun. Sosok wanita ada pada kaki jenjangnya. Wajah wanita itu merah padam, lantas ia beringsut ke depan si pemuda sembari mengusap bagian yang sakit.


"Hiyaah sakit, ma-maaf tak sengajaa ... maaf-maaf!" Pekikan bersuara lembut melengking berisik, membuat si pemuda mengerjap.


Wajah merah padam, rambut merah muda. "Umh ... Orihime?" Hanya itu komentar si pemuda, dia belum sadar sepenuhnya.


"A-aku membangunkanmu ya? Ehehe, maaf."


Pemuda itu diam, menguap lebar. Mengusap matanya lucu, kembali mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan kesadaran utuh. Menatap mata biru dihadapan lamat-lamat ... ada yang aneh, cepat ia mencengkeram kedua pundak putih susu.


"Apa yang terjadi?! Kamu terluka? Tidak apa-apa?" ucap nanar si pemuda, memandang wanita yang ia panggil Orihime dari atas sampai bawah.


"Ti-tidak apa-apa, sungguh," sahutnya asal sambil membuang muka. Detik kemudian mendorong wajah si pemuda ketika terlalu dekat, untuknya. "Kamu, berlebihan!"


Tidak balas komentar ... pemuda ini menutup buku yang sekarang berada di rerumputan. Bangkit, mendekap si bacaan dengan satu tangan.


"Mengambil apel lagi? Minta tolonglah padaku jika kesulitan." Helaan napas ritmis, mata jelaga menilik buah yang berceceran.


Alih-alih malu atau khawatir, Orihime ikut bangkit; menyeringai dan mendekap kedua tangan ke belakang punggung. "Heee, habisnya Hikoboshi lucu. Membaca terus ketiduran. Benar-benar suka cerita ya? Mau aku buatkan untukmu?"


Sekarang pemuda serba hitam memalingkan wajah dengan semburat merah. Ngehiraukan si wanita dan mencoba mejamah salah satu apel hingga tangan bebasnya terhenti, digenggam erat oleh Orihime. Hangat menyaru dinginya tangan pucat, menjadi sama-sama hangat.


"Aku bisa mengatasi ini dengan jentikan jari." Bibir merah itu kembali mengukir senyum, membuat si pemuda tersipu. Bagai terkena efek lumpuh, dia mengkaku ketika wanita rambut pink memeluknya ... erat. Sinar cerah mentari membias pada epidermis dan tiap-tiap helai. Mata biru langit menggerling jenaka nampak tenang, binarnya membius. "Ingin lihat sihirku yang lain?"


Seperti itu keseharian mereka, menghabiskan waktu berdua dan memang hanya ada mereka di pulau—Unknown Place—ini hingga suatu malam, pemuda serba hitam terjaga dari tidur. Pertama kali untuknya—ketika tinggal bersama si wanita—karena merasa terusik, entah karena apa. Yang pasti, Hikiboshi tidak ingin membangunkan Orihime.


Dalam batin masih ingat perihal Sang Pencipta. Dia dengar—dari si wanita—bahwa setiap sepertiga malam yang akhir, Tuhan turun ke langit dunia. Itu adalah waktu dimana doa langsung terdengar olehNya. Menundukkan kepala—hikmat—bibir tegas mulai merapal kata, samar; sayup; sopan. Hingga kantuk membelenggu, mata mengerjap ia terjatuh.


"Menikmati hidup?"


Kaget, sontak pemuda kembali bangkit dari alam mimpi. Kelopak pucat tersibak, memamerkan lensa utuh jelaga. Panas-dingin; gemetar, ia mengenali sosok yang muncul di hadapan ... bayangan malaikat bersayap enam dengan tanduk, penolongnya jauh-jauh hari.


"Lupa diri? Ingat siapa kamu, Nak."


"Aku---ack!" Pemuda itu mengernyit merasakan perubahan di tubuhnya. Ia menggeram, mengekang kepala dengan sebelah tangan. Membungkuk menahan sakit. Kepalanya berat dan tak dapat berpikir. Ingatan penuh luka itu kembali berputar, memaksa terus dihayati.


Gaung tawa memekakkan beriringan dengan debam suara, si pemuda ambruk dari atas kasur. Meringkuk dalam pilu, keringat sebesar jagung membasahi lantai. Melaung-laung tegas; menggertakkan gigi; mencakar lantai demi mengasumsikan nyeri akan berkurang jika melakukan hal tersebut. Bagai di hantam palu godam ia tak mampu melawan. Kaku sudah badannya dalam nyeri.


Gemerisik penuh luka ikut merenggut si wanita dari tidurnya, bahkan dingin menusuk epidermis cepat membuat sadar. Sigap menghampiri pemuda yang masih meringkuk pilu, mencoba menenangkan---


Seketika wanita itu menarik lengan dari menyentuh raga serba hitam, merayap mundur. Terduduk kala punggungnya menyentuh permukaan dingin sang dinding. Kedua tungkai jenjang itu tak bergeming, terus berupaya mendorong ke belakang. Sedikit berangan-angan sekat tersebut runtuh dan ia bisa kabur. Setidaknya ada sesuatu yang membuatnya tenang barang secuil.


Harapan hanya angan belaka. Nihil, tak ada pertanda dari si tembok, hanya pemuda yang tak henti meringis atas lara. Mata biru langit itu bersinar, mendapati sebuah penglihatan dari kekuatan pengendalian waktu miliknya. Dimana ia melihat masa lalu si pemuda dan masa depan---


"RED ... Star, kamu REDstar?"


Bariton gemetar yang kentara akibat bibir bergetar heboh. Keduanya tak bisa mengendalikan diri, napas berat tak teratur menjadi irama kekecutan dalam kabut penghalang indera. Kejapan ke seperkian detik membawa serpihan memori, seperti potongan klise yang memaksa untuk terus dilihat.


"A-I-O-N." Kelopak pucat sang pemuda sayup, hanya memamerkan separuh dari bentuk utuh lensa jelaga. Binarnya redup.


"A-aku, aku ... haaah." Napas tak teratur, pekikkan tertahan dalam lekum kausa degub jantung menghalangi. Detak bagai genderang, menghantar panas tubuh dalam aura dingin nan kelam. Ruang yang dulunya hangat oleh tawa mereka.


Mengatur napas, mencoba mengendalikan nyeri samar yang terus menguat. Gagal, terlebih rasa pusing bagai hantaman godam menyerang kian keras. Suara menggaung dalam benak. Canda dan tawa yang meluncur; aksen lembut yang terdengar; Ingatan itu terbakar di kepala mereka.


Terasa seperti jantung diremas kuat hingga tercekik. Bulir peluh masih menjadi mayoritas di seluruh tubuh. Ini menyakitkan. Tak berapa selang semua gelap. Tak ada ada pendar cahaya khas kamar kayu, hanya gulita yang mengungkung, menenggelamkan kesadaran perlahan. Bayangan hitam menyelimuti tubuh. Sebelum itu semua, lengan pucat mencoba meraih ... pandangan kelam juga menyaksikan, perginya wanita yang tak mampu lagi ia jamah.


...-oOo-...


Bukankah sangat menyenangkan jika hidupmu yang penuh penderitaan itu mendapat setitik ke bahagiaan. Ya, setitik, saking gelapnya masa lalu. Kadang bertanya kenapa kamu hidup. Apa gunanya? Lalu tiap malam menangis, merasakan pilu. Sedihnya, tidak ada yang tahu, bahkan orang terdekatmu tidak mengerti apa yang kamu rasakan.


Kamu keluar; berkelana; berjalan; melakukan aktifitas mengenakan topeng itu. Ya, topeng, wajahmu; senyum palsumu. Ingin rasanya melepas sakit itu, dari dadamu ... sekedar bercerita pada orang lain, menuangkan kesedihan. Lalu berharap dalam sepi sebuah pertolongan. Tapi kamu tidak bisa, tak mampu. Bahkan membuka mulut saja tidak kuasa, alih-alih malah menangis. Berharap satu saja ... orang, bisa mendengar jeritan hati. Akhirnya kamu merasakan hampa, semua tingkahmu itu pura-pura. Ibarat boneka, hanya mengikuti arus panggung sandiwara.


Kapan ini selesai? Katamu, apa cita-citamu? Apa keinginanmu? Pasti menyenangkan dapat sebuah pelukan, hangat, bahkan menenangkan hati. Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.


Ada seseorang mengulurkan tangan, menyeretmu keluar dari kegelapan. Kamu dan dia bahagia, tertawa. Dia menutupi luka dan memenuhi kekosongan hati. Pertama kali bisa menghirup oksigen bersih dalam paru, rasanya ringan; hati; kepala; pikiran. Bercanda lalu berkata dengan kata-kata manis itu ... suatu potong kalimat yang dari dulu kamu tunggu.


Menyenangkan 'kan?


Kamu merasakannya 'kan?


Kamu melihatnya 'kan?


Bukankah ini sangat kamu kenali? Karena---


Setiap kali merenungkan ingatan-ingatan itu, seperti permata biru berkilau di tengah hujan gemerling, kamu mengatakan tidak akan berbohong lagi—tidak untukmu atau dia. Semoga tidak ada kesendirian di ujung lain benang yang dipelintir ini—kamu berharap.


Mengurai utas benang. Kamu bebas sekarang.


Hanya ada satu hal yang kamu inginkan, tetapi kamu tahu apa? Itu adalah mimpi tanpa harapan.


Kamu tidak mengerti apa-apa, tak ada satu pun: kelembutannya, kebaikannya, atau arti cinta ini untukmu.


Karena, orang itu sudah tidak ada, meninggalkan kamu yang masih membutuhkan. Apa rasanya? Tidak bisa diungkapkan, hanya meringis dalam hati ... harusnya tidak perlu mengetahui; mengenali; mendapatkan, semua kebaikan itu. Fana, semuanya bohong ... ilusi, fatamorgana. Sakit setelah mendapat kehangatan itu, nyeri mengalahkan kehidupan gelapmu sendiri. Harusnya---


Suara desau terdengar samar, diikuti kelopak pucat yang menggulung. Pandangannya melihat ....


"Aaah, a-aku ... ti-tidak, kenapa?"


Kedua tangan masih di situ, mencengkeram ceruk leher si putih susu. Di depan salib; dalam gereja; pemakamannya. Jantung berderu kencang, napas tercekak, sungguh lirih ... sakit, seluruh raga tersayat oleh pisau semu. Sudut bibir tertarik samar, membentuk lengkung sabit penuh pilu. Pandangan dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik.


Sesuatu bergolak dalam batin. Memiringkan kepala dengan mata yang kian mengelam. Tak lagi bersinar; tak lagi cerah; tak lagi gemerlap; gundah gurana. Pandangan mengukir sesuatu yang membuat denyut nyeri di balik tulang rusuk. Hanya melihat saja membuat leher tercekak. Sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang, seperti jantung diremas kuat hingga terasa tercekik---


“Aaaaaaaaaaaaaaaaah!”


...-oOo-...


Lembar ke sepuluh menggambarkan sosok pemuda berlutut, menunduk, berlumuran darah. Terlihat seperti dalam gereja yang sedikit hancur, dengan salib raksasa di depannya. Seorang wanita nampak di depan salib itu, menundukkan kepala dan bersimbah darah juga. Cahaya bulan menyinari mereka. Di belakang pemuda sesosok iblis tertawa, muncul dari bayangan dirinya sendiri.


Pada bawah gambar aneh itu, tertulis sebuah kata-kata: "Tidak terima akan kenyataan, tak sudi atas apa yang didapati. Melakukan perbuatan yang tidak ia inginkan, teror yang diderita tertanam dalam hati. Saat hari pertama mengambil nyawa manusia, dia tidak peduli mereka pati. Hari berikutnya dan berikutnya, perasaan mati."