REDproject

REDproject
Bab 24: DNE EHT



Harusnya kau sudah tahu akhirnya ....


Angin berdesir ganjil. Gulita mengungkung, mendekap erat penglihatan. Gulita menerkam, merengkuh erat hingga terasa sesak. Bulu tengkuk meremang. Desir angin membawa aksen perbedaan atmosfer yang pekat. Meruncingkan atensi, meneguk saliva guna menyudahi gersang pada tenggorok. Menggertakkan gigi, jelas sekali jika Jin marah besar.


Sang adam erat menggenggam pedang, nampak buku jarinya memucat dengan mata pedang berkilat menantang. Seakan mencebik pemuda hitam di depan mata. Seperti bom yang akan meledak, emosi sudah tak terbendung.


"Sialan! Tak akan kuberi ampun! Hiyaaaaah!"


"Tunggu Kak! Jangan!" Aion berteriak. Tak mengindahkan peringatan, pemuda Vermillion bergerak cepat menghunus dan menebas, melaraskan ritme langkah dengan ayunan lengan.


Denging bilah tajam menggelitik telinga.


Terbelah. Menebas manusia yang melaju secara horizontal dengan cara brutal khas penjulukan REDstar. Tak ada gerakan sia-sia. Mata kelam menyaksikan tubuh yang sudah terburai organnya jatuh. Darah memercik ke wajah pucat juga baju hitamnya. Pemuda itu berdiri dengan ujung katana menyentuh alas hijau terhias darah. Helai-helai kelam menutupi separuh wajah. Nampak barikade kalsium mengumbar di antara riuh desir dedaunan dan berkas sulur yang berserak tak karuan.


"Ahahaha, kau tahu? Tak perlu aku turun tangan ... manusia bodoh sekali!" cibir Lucifer yang masih terbang stabil. Sombong, jelas terapal dalam kalimatnya.


Kini mata jelaga itu menusuk tepat ke mata birunya, membuat detak jantung tak teratur. Aion ambruk, mendadak kaki tak kuat menyanggah dengan badan bergetar heboh. Orang di depan ... bukan yang dia kenal dulu, sudah terkungkung dalam pengaruh 7 Deadly Sins.


Kian mengikis langkah .....


"Aaaaaaa!" Aion meringkuk seraya mencengkeram erat kepala, ingatan itu kembali terulang. Apa akan terus seperti ini?


"Augue!" Sontak satu bola api besar menerjang.


Berkelit, kali ini perhatiannya teralih pada para Exorcist yang berdatangan.


"Ternyata benar, kamu yang waktu itu!"


"The Hope!"


"Sudah! Tak ada lagi ampun!"


Masih melingkarkan berai jemari pada gagang pedang, wajah tanpa seukir emosi memerhatikan segerombolan manusia yang mengamuk. Menyerang; mengeluarkan sihir dan familiar; mereka mengerahkan berbagai hal untuk menjatuhkan.


Memulai ritual.


Menebas manusia terdekat dan mengundang amarah dari rekanan sang exorcist. Kaki jenjang mulai bergerak gesit, berderap seolah mencicip anak tangga semu sembari terus menghunus dan melibas. Mendekati mereka yang masih di udara. Manusia yang kian mendekat ditendangnya. Terlempar berdebam dari ketinggian empat meter. Gemeretak tulang menggaung berisik.


Dari kejauhan Xavier meludah, lalu berdecih sinis. Dalam minimnya penerangan ia ikut melesat. Tidak ingin membiarkan jumlah exorcist makin sedikit dan berangsur lenyap sempurna. Fokusnya beralih pada kemampuan pengendalian api. Memejamkan rapat mata, merentangkan tangan. Tanpa merapal. Partikel udara berubah menjadi peluru-peluru bara bersuhu di atas normal. Dalam sekali sentakan, menyebar dan melesat.


Kembali mengelak, kecepatan pemuda kelam ini memang di ambang batas. Seketika REDstar sudah bertatap muka dengan Xavier. Mata emas itu membelalak dan yang terjadi ujung katana telah menusuk raga kekarnya. Tepat di jantung kemudian disentak kasar secara vertikal. Senior exorcist kembali gugur, cepat.


Tak sampai di situ.


Dalam sunyi ia tak henti menebas, meliuk anggun dengan gerakan ritmis pedang usang. Tak sedikit dedaunan serupa labirin turut tertebas, tanggal dari induknya dan berakhir mencumbu tanah berdarah.


Para exorcist masih berusaha melawan.


Desing peluru mengudara. Dalam matanya seolah tak ada bukti nyata, seperti terpelesatnya biji besi; keberadaan penembak atau alat menembaknya. Terasa sedang menjejak kaku di tengah peperangan. Letupan moncong besi yang berisik, ledakan akbar tanpa percikan pasti. Jubah hitam tergores, hanya sedikit sebab ia kembali melesat.


Memanfaatkan celah untuk menghunus pedang ke perut salah satu exorcist. Menebasnya tanpa ampun. Si pasangan menggeram tak suka tatkala partner lenyap seperti daging tercincang. Ia balik menyerbu, membuat bebatuan melayang dan menghunjam REDstar. Si pemuda betah meliuk, menghindar dari rasa sakit sesaat milik hujan bebatuan berukuran sama sekali tak mungil dan sulur-sulur tanaman yang ikut berusaha membelit.


Sebuah batu runcing menggores pipi pucat REDstar.


Bibir masih terkatup rapat. Detik selanjutnya, desing bilah tajam terdengar memekakkan. Saling beradu dalam tujuan menjatuhkan. REDstar menepis pedang seorang exorcist senior hingga lepas dari genggaman, menodong dan memenggal ceruk leher sang musuh.


Meliuk guna berkelit dari lawan, bergerak cepat menghunus dan menebas. Jubah panjang berwarna senada dengan rambut pendeknya tak membatasi pergerakan sang pemuda sama sekali.


Hampir tengah malam, dimana lolong serigala mulai mengalun, cicit hewan pengerat menjadi minoritas. Harusnya ras seperti manusia sudah bergelung dalam selimut dan menjelajah alam mimpi masing-masing, tapi mereka justru habis dalam bilah bergerigi dalam genggaman pucat. Anyir dilibas angin tanpa ampun juga direngkuh kelewat beku. Dalam waktu singkat seluruh manusia habis, tercincang seperti mentega. Kekuatannya ... benar-benar penghancur—Destroyer.


Kaku sekali. Benar-benar kaku.


Kelopak si wanita melebar saat menyaksikan satu manusia terakhir dari EA terburai. Kaki makin lemas, tak kuat untuk berdiri. Kenapa ia tidak melawan? Padahal sudah mendapatkan raganya kembali ... raga The Hope waktu dulu, terbuat dari potongan tubuh para Demon Deadly Sins. Bukan, percuma juga jika melawan karena kejadian ini ... persis seperti dulu.


Mata biru bergetar heboh, entah kenapa dalam visualnya bulan terlihat merah sewarna darah. Membuat sekitar yang sudah ternoda cairan anyir makin suram. Teringat juga, waktu keluarganya hancur. Bagaimanapun Apple tetaplah Apple, meski tubuhnya adalah Aion. Pemuda itu akhirnya memulai gerak kembali. Dihentak kasar sang katana hingga cairan merah yang membalur penuh memercik. Tak memberi ampun, REDstar kembali menerjang menuju Aion---


"Huaaaaa!" teriak Aion ketika pemuda itu hampir tiga meter jaraknya. Sontak tombak-tombak cahaya muncul hingga menahan REDstar, menusuk dari depan-belakang; kiri-kanan; atas-bawah, melintang. Pemuda itu menyemburkan darah dalam volume banyak.


Tawa Lucifer kembali menusuk telinga, sungguh mengusik. "Jadi, mulai melawan? Membunuhnya dan menjadi satu-satunya manusia di bumi? Kau tahu 'kan, hanya kamu yang bisa membunuhnya."


Mendongak hingga terlihat jelas rupa orang terkasih. Mata amat kelam, tak berpendar seperti orang mati juga raut tanpa ekspresi. Pandangannya juga entah ke mana, seperti boneka; hidup atau tidak ... tetapi ia masih bernapas dan mengalirkan cairan merah dari tiap celah di tubuh.


"Persetan kau Lucifer!"


"Aku iblis, bukan setan! Ahahahahaha!"


Aion menggeleng, deras sudah air matanya. Menutup erat telinga dengan kedua tangan; meringkuk hingga dahi menyentuh tanah. Apa yang harus dilakukannya? Menuruti Lucifer? Atau membiarkan ini terulang kembali?


Tuhan, jika Engkau mendengarku ....


Aku tahu, ini adalah jalan yang paling sulit. Sebagai manusia, kenapa harus aku? Tapi aku sadar, sulit itu pasti. Maka aku kembali dan ingat ....


Aku yakin bahwa ini semua pasti bermakna, aku bersyukur diberi jalan ini olehMu. Aku bisa mengenalnya, memahami kebaikan. Tidak, aku tak pantas membandingkan kehidupanku dengan manusia lain, karena ini adalah anugerah yang Engkau berikan. Jika aku menjadi mereka dan berada dalam liku kehidupannya, pasti aku merasa keberatan juga, walau aku yang di posisi ini melihatnya mudah.


Engkau memiliki caraMu untuk menyayangi hambaMu.


Maka aku bersyukur kepadaMu, aku akan menjalaninya dengan sabar dan sepenuh hati. Pasti ada jalan terang di balik semua ini. Maka, aku tidak akan lari lagi. Aku tidak boleh mengacuhkannya. RintanganMu sangatlah sulit, tapi Engkau tidak akan menguji hambaMu melebihi kekuatannya. Lari dari masalah, menyakiti diri sendiri, itu tidak menyelesaikan apapun. Karena jalan ini adalah Engkau yang membuat, maka aku meminta padamu ... tolonglah. Masa sulit itu datang, maka aku berkeluh kesah padaMu. Hanya Engkau sang penyelamat. Engkau pasti membantu hambaMu, tak peduli rupa mereka; tak pandang bulu. Karena Engkau tidak akan menyia-nyiakan amal hambaMu, meski kebaikan sebesar biji jagung.


Kini aku melangkah bersamaMu, dalam jalanMu.


Dulu aku begitu larut dalam emosi. Menyalahkan takdir di awal perjalanan, lalu menyesal di akhir. Percuma, sia-sia. Karena itu hanya akan terulang, mengulang kejadian yang sama dalam lingkaran setan.


Dosaku ... melupakanMu. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, tak akan pernah. Tetapi kitalah yang meninggalkanNya. Maka, aku bertaubat padamu.


"Cukup sampai di sini! Lucifer, kau melewati batas." Seketika suara tegas bergema, memenuhi seluruh penjuru. Malaikat dengan jumlah sayap sama dengan lawan bicara mengacungkan pedang serupa Excalibur dengan lantang.


Mata merah itu menatap Gabriel lamat, sarat akan kesan murka. "Melewati batas apa?! Aku melakukan ini karena manusia memberikan jalannya padaku, kau tahu 'kan?! Karena kau, malaikat ... perantara, dan aku adalah penghasut. Mereka sendiri yang jatuh!"


"Dan biarkan manusia kembali bangkit, kau tak pantas menghakimi ... terutama atas kehendak Tuhan."


"Sampai kapan pun aku tak terima Tuhan lebih memilih mereka!" Sontak Lucifer mengaung, mengibaskan sayapnya hingga meluluhlantakkan pepohonan di sekitar. Arak-arakan awan juga tergiring dalam hentakkan. Amarah, petir turut menggelegar. Laksana alam ikut murka dalam amukan, aura kekesalan begitu kuat hingga menjulur.


Bumi retak, menyemburkan isi perutnya. Gemuruh memecah telinga. Tak tinggal diam, seketika raga dari sosok kepala malaikat memutih. Kian putih hingga menyilaukan.


Gabriel menunjukkan rupa aslinya.


Sayap berjumlah tujuh ratus membentang, memenuhi langit seperti susu putih juga permata hijau dalam tiap bulu menjadi bintang gemerling. Indera penglihat tak mampu menangkap wujudnya, teramat agung. Tak ada kata di bumi yang pantas menyebutnya.


Tiap helai bulu safa penyusun meluncur dengan pesat. Mencabik-cabik raga berbalut zirah hitam yang menyatu dan ke enam sayap penuh ragam milik Lucifer. Pekikan penuh pilu dalam amarah sungguh menusuk telinga.


Dengan cepat, atas kehendak Tuhan, Lucifer jatuh.


"Kau tahu apa arti kedatanganku? Menyampaikan firmanNya," lafaz Gabriel dalam wujud biasanya, kian mengikis langkah, mendekati Lucifer yang terbujur atas tanah—hina.


Tak balas bersua, sosok separuh iblis dan malaikat itu masih menunduk—bersimpuh.


Kembali menarik pedang dari selongsong. Mata hijau amat tegas juga aura miliknya. Tak ada yang sanggup melawan, atas kehendak Yang Maha Kuasa. "Kau adalah makhluk teladan, Lucifer ... amat patuh padaNya. Kau masih sadar batasmu."


"Teladan? Tentu! Aku yang terbaik! Sedang manusia itu apa?! Mereka hanya merusak 'kan? Mereka sendiri yang jatuh; hancur; memenuhi nafsu; bodoh, tak pantas dan tak setara denganku."


"Itulah kesalahanmu, sombong. Kau lupa siapa yang memberimu perintah," lafaz Gabriel seraya mengacungkan ujung pedang tepat depan leher jenjang Lucifer. "Kau juga tak pantas menghakimi makhlukNya, tak ada yang pantas."


Lucifer mendecih, menatap lurus pada mata hijau tersebut.


"Atas perintah Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Menerima Taubat ... Lucifer, kau ditahan dalam neraka hingga hari kiamat!" Menghunus pedang ke langit, seketika belenggu dari api murni muncul dari dalam tanah, melilit leher; kedua tangan dan kaki Lucifer. Meraung pilu, gaung tak suka memekakkan telinga. Belenggu itu menariknya kuat hingga debam terdengar, dagu mulus sang makhluk campuran mencumbu bumi. Meronta; memberontak; susah payah mengangkat badan dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Mengeratkan gigi, mengerang. Tak kuasa.


Hingga sebuah portal berbahan api hitam menjalar di bawah Lucifer, mengungkung erat ... belenggu menariknya untuk ikut masuk. Desir angin melanglang, menyapu bersih sekitar bak kapas. Debu berkebat-kebit membutakan.


"Aaargh! Aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan kalian, manusia! Sampai kapanpun, apapun caranya. Akan kuseret semua anak turun Adam ikut dalam neraka, tak akan ada yang selamat!"


Hingga desir mereda ... tenang, rerumputan dan dedaunan sudah tak lagi meraja.


"Apa, eh?! Kita---"


Jleb!


Malam makin berkuasa. Mendung melahap eksistensi gemintang, mengenyahkan kerlip jenaka pada kanvas jelaga. Bahkan sang candra redup sinarnya. Tak ada canda yang dirapal, terutama setelah kejadian berdarah.


Seperti mimpi, itu berlalu cepat. Bahkan, kini sudah tak ada lagi sosok adidaya, hanya dua manusia ....


RedStar mengerjap, mencoba mengumpulkan fokus. Seiring lenyapnya tawa mengerikan dari jiwa yang rusak, dia sadar; pasung cahaya lenyap ... di waktu tak tepat.


Ia mencoba mendongak---


"Aahhh, haah ... ti-tidak, lagi ...?" suaranya rendah, tak percaya dengan apa yang diperbuat. Menyesal dan merasa bersalah liar bergejolak dalam batin.


Seketika bibirnya membentuk gurat sabit penuh pilu dengan pandangan kelabu, seakan ikut menoreh rasa sakit di sana bagi siapa yang ikut melihatnya. Mata kelam bergetar dahsyat seiring badan bergetar heboh. Dengan tangannya sendiri, ia kembali menikam sosok wanita di depan, tepat di dada. Darah mengalir lancar dari sana.


Harusnya, jangan dulu melepas sihir hingga semua tenang ....


Tercekik. Sesak terasa tertimbun di rongga dada; napasnya menderu; degup seperti genderang, kenapa---


"Rhaaaaagh!" gaung bahana memecah telinga, bumi bergoyang, berdampingan dengan bara api menjulur dari tubuhnya.


Terrawmotus mengguncang bumi.


Fluctuatione menelan segalanya.


Akhirnya seperti ini bukan?