
Hanya langkah dan suara saling berbincang di lorong sepi. Apple sudah tidak gugup untuk saling berujar karena orang yang ia hadapi—sama seperti di tempatnya dulu—ramah lagi baik.
"Jadi, itu persyaratan untuk naik kelas Meister."
"Di sini tertulis harus membimbing dua murid baru hingga kelas Page 1." Langkah kembali tersentak, menghadap gadis pirang dan bergaya seperti orang memohon. "Mau ya? Ini juga memudahkan kamu belajar di EA, kita sama-sama diuntungkan."
"I-iya ... iya, jangan berhenti mendadak terus dong, bikin kaget saja," celetuk Apple
"Baik, terima kasih! Ahahaha, akhirnya aku bisa menyusulmu Mizu sayang!" Nadanya semangat, sungguh aneh orang ini—pikir Apple. Barangkali, tak seburuk itu. Jangan menilai sebelah mata, kalau tidak ada pemuda pirang bisa saja tersesat hingga malam.
Sunyi, dalam perjalanan masih tidak berjumpa dengan orang lain. Berbeda dengan Apple, Jin seperti terbiasa. Memang tidak begitu buruk. Di bawah mega biru sebagai kanopi alam pun desir angin pembawa suara bisu, dikelilingi hutan atas suatu pulau tak tertangkap peta. Jadi, siapa yang akan berkunjung? Hal tersebut bukan berarti mereka memalsukan atlas atas bantuan petinggi, tetapi ada suatu barrier pelindung. Terbungkus penasaran, apa ada bulan buatan seperti klan Nura? Mata biru langit mulai meneliti cakrawala.
"Ugh! Dibilang jangan berhenti mendadak!" ucap ketus Apple mendapati hidung menabrak punggung Jin. Sebenarnya, salah dia juga. Terlalu sibuk mencari bulan buatan yang tak ada di tempat ini. Tidak ingin disalahkan, beruntung juga Jin berkepala dingin.
Membalas sifat bengis dengan senyum ringan, menggaruk tengkuk. "Ehehehe maaf, tapi kita sudah sampai."
Berdiri depan pintu jati solid terhias panel besi bertuliskan Yukio. Pemuda pirang mengetuk tiga kali, ada rentang waktu dari satu ketukan dengan yang lain.
"Jin Vermillion. Guru, ada siswi yang ingin menyelesaikan pendaftaran," tuturnya tegas, berbeda dari yang sebelumnya. Apa karena menghadapi orang yang cukup terhormat hingga membuat diri nampak sopan?
Suara teguh terdengar dari dalam, mempersilakan masuk. Situasi seperti ini membuat si gadis kembali gugup.
"Mau aku bawakan tasnya?"
"T-tidak perlu, terima kasih." Kembali terbata-bata, tak berani melihat lawan bicara. Jin membukakan pintu seraya tersenyum ringan, melambai ketika Apple masuk. Kembali menutup pintu, dia tak ikut masuk.
Aroma herbal membaur dalam ruangan kantor ini. Antara rak-rak buku dan lemari obat; kotak transparan berisi pistol Smith & Wesson 500 Magnum begitu mencolok. Di atas lantai kayu berlambang EA, ada pria awal tiga puluhan melihat taman dari balik kaca pengganti tembok belakang. Terlihat begitu menikmati ketenangan dengan secangkir cokelat panas di genggaman.
Sang Pria kini melempar pandang menuju Apple, hingga terlihatlah mata biru tua miliknya. Tersenyum, memutari meja hitam metalik, duduk di atas bangku senada. Hati-hati menempatkan cangkir, tidak ingin menodai dokumen di meja.
Mengambil secarik kertas. "Mari kita lihat ... Apple Luchifen?"
Jantung berdebar mendengar dia memanggil dengan nama asli. Apple tentu heran, kenapa dia tahu? Karena Scarlet? Dulu pak tua mengatakan sudah mengatur semua untuknya, tapi kenapa? Bukan berbahaya menggunakan marga? Cemas, wajahnya kusut. Namun, pria di depan terus tersenyum dengan sesekali memperbaiki posisi kacamata frame hitam.
"Berkenan menceritakan masa lalu?" Sia-sia menelan bola dalam tenggorokan—gugup sekali—hingga suara tidak keluar.
Senyum memudar, Yukio beranjak dari tempat duduk. Kembali memungut gelas, mendekati si gadis. "Mau cokelat hangat? Aku belum meminumnya sama sekali."
Apple hipnotis—langsung mengambil—karena gugup luar biasa. Tidak salah meminumnya di keadaan seperti ini, pikirnya. Sudah terlanjur menerima tawaran. Hangat menjalar dari sisi. Meminum seteguk. Mata membulat sempurna, terasa enak. Apple terus menegak hingga tak tersisa. Nyaman sampai ke perut membuat tenang.
"Tak apa kalau tidak mau cerita." Yukio kembali tersenyum teduh.
Rasa tak enak hati menggerogoti. Benar, orang-orang EA itu baik. Apple memegang erat cangkir kosong, hati bergejolak. Sedang Yukio kembali duduk; merapikan meja dan membentangkan selembar kertas bergambar peta dunia di saat itu.
"Ini kerajaan Luchifenian, 'kan?" Yukio menunjuk salah satu tempat dalam peta cokelat muda. Perhatiannya tercuri, Apple mendekat ke arah Yukio dan mengiakan.
"Luchifenian hancur sekitar delapan atau sepuluh tahun lalu. Sekarang dipimpin ... Levianthans." Kata yang terapal menggelitik hingga Apple menyipitkan mata. Terasa ada suatu kejanggalan. Ah, mungkin perasaan saja.
Si gadis pirang membuka diri, menceritakan malam yang melelahkan. Ketika langit merah, bagai darah lorong itu. Bulan putih jatuh, seperti kue. Rintik meleleh, bagai tirta netra. Orang satu darah terkasih tumbang. Keanehan dan ketakutan satu hari. Wajah terlukis kesedihan mengingat yang ingin dilupakan. Disentuh bunga Begonia di kepala, peninggalan satu-satunya.
"Sekarang namamu, Apple Caramel."
"Iya, dia yang memintanya. Dia juga mengatakan akan berbahaya jika aku menggunakan nama asli."
"Dia?"
"Orang yang hilang dari kehidupanku, RedStar. Ingin bertemu lagi, rasanya." Dari situ Yukio senyap seperti memikirkan sesuatu, keningnya berkerut.
Mata biru tua memandang si gadis, kesedihan terbesit jelas di sana. Mungkin, sampai di sini saja. "Maaf harus menggali masa lalumu. Sebenarnya sudah tahu beberapa dari ketua klan Nura, tapi harus mengonfirmasikan. EA terbilang ketat, tapi identitasmu dan yang lainnya aman karena itu tugas kami."
"Tidak, sebenarnya aku bersyukur dengan kehidupanku. Walau berat dan banyak cobaan tetapi orang-orang selalu menolong. Aku akan terus hidup dan ... tidak mau lagi kehilangan." Tersenyum simpul, nadanya tenang.
Kagum mekar melihat kedewasaan Apple. Masa lalu kelam tidak memutus semangat. Jarang sekali bertemu pemilik ketegaran sebegini besar. Dia masih kecil. Kenangan menyakitkan dapat membentuk dua kepribadian. Satu yang merusak; negatif; diselimuti kegelapan, dan satu yang dewasa dini; tegar; memiliki pandang berbeda terhadap kehidupan. Beruntung gadis ini mendapat sifat baik dan matang.
"Aku harap kamu bisa menggapai keinginanmu dan menemukan orang yang kamu cari. Lihat sekeliling, kamu tidak sendiri. Ambil napas lagi saat kamu kembali kalah. Ketika ingin menghancurkan tembok yang menghalangi, cari keberanian karena kamu akan menemukannya. Jika berhenti dan menutup mata, cari jawaban karena kamu akan mendapatkannya. Apabila kamu merasa dunia ini seperti hancur dan tidak bisa menemukan jalan pulang ... jangan menangis, dengarkan kata-kata ini dan ingat kembali."
Kata yang terdengar begitu hangat seperti cokelat panas yang menenangkan hati. Baik sekali. Hidup memang berputar; kadang baik dan kadang buruk, setimpal. Jadi untuk apa berhenti, jika kita tidak tahu akhir napas ini. Iya, pasti akan menemukan jawaban. Hidup sudah kejam dari awal maka untuk apa disesali kalau kita bisa mengubahnya.
Dalam hati rasanya ingin merangkul pria rambut cokelat tua itu. Nasihat seperti petuah, mungkin dia sendiri tumbuh dengan hidup yang berat. Mengerti satu sama lain, Apple sudah tidak gugup lagi. Orang-orang di sini benar baiknya.
"Oh, iya. Yukio, eh, pak ...."
"Panggil apa saja, tidak apa-apa."
"Ah, guru, kenapa EA sepi?"
"Kotak ini berisi peralatan Exorcism pemula, satu buku peraturan, dan satu Memoar Book. Di akademi ini kamu bekerja dengan menyelesaikan misi yang tersedia. Jika kamu mengerjakannya dengan baik maka akan mendapatkan Gil, mata uang di sini dan beberapa misi berhadiah peralatan untuk membantu misi lainnya. Para guru biasa menyediakan tugas mereka sendiri atau membuka kelas khusus, hadiahnya lebih besar. Kelas memiliki beberapa tingkat mulai dari Page 0 sampai Exorcist sejati, tidak ada kelas berkala seperti sekolah pada umumnya. Untuk lebih jelas kamu bisa membaca buku peraturan."
"Baiklah, tapi Memoar Book itu apa?" tanya Apple.
"Memoar Book adalah buku yang berisi memori si pemilik, seperti diary. Kamu bisa menulisnya sendiri."
"Oh, diary ya ...."
Yukio menyodorkan kotak kepada si gadis, menyiratkan untuk diambil. Apple mendekati meja dengan menjinjing tas, tetapi langkahnya terhenti. Diam; gerak-geriknya buncah, melirik berulang pada tas dan kotak. Jika membawa tas, bagaimana dengan kotaknya? Akan sangat kesulitan—pikirnya kacau. Tawa Yukio pecah melihat tingkah gadis pirang seperti orang kepayahan.
"Hey, Vermillion! Aku tahu kamu masih di sana. Masuk dan bantu Apple, antar sampai kamarnya." Si gadis terkejut mendapati Yukio meninggikan suara, langsung menoleh ke arah pintu. Benar saja, pintunya terbuka dan pemuda pirang melangkah masuk. Jin dari tadi di luar sana? Untuk apa? Apple memandang heran pada si sulung Vermillion.
"Guru tahu saja ...."
"Menemukan keberadaanmu adalah hal yang mudah, Vermillion."
Mereka saling tatap, senyum terlukis di tiap insan. Kini Jin menoleh, tertawa melihat dia yang masih tercengung; menepuk-nepuk pelan rambut pirang si gadis. Mengembungkan pipi dan wajahnya memerah, nampaknya Apple justru dibuat risi.
"Kenapa? Heran? Jadi, mau dibawakan tasnya?" Apple membuang muka, enggan menjawab. Kata-katanya meledek, tentu si gadis makin geram.
Yukio menggeleng melihat pemuda Vermillion masih saja senang menggoda adik kelas. "Apple, kamarmu berada di Light nomor tiga puluh sembilan. Satu lagi, asrama Light khusus perempuan sedangkan Storm khusus laki-laki. Semoga nyaman."
Tanpa pikir panjang Apple melempar tas ke arah Jin. Ditangkaplah tas itu, pemuda ini cukup gesit dan sepertinya gadis pirang benar-benar dibuat kesal. Mengambil kotak dengan derap mengentak, melempar muka ketika melewati pemuda yang masih saja terkekeh. Karena memang lucu sekali tingkahnya.
Keduanya meninggalkan ruang, Apple kembali mengekor. Menunduk seraya memegang perut, apa dia lapar? Memang belum makan sejak pagi. Bergeming ketika perut meraung berisik. Wajah pualam memerah, malu sekali.
"Lihat! Ada burung!" Sekarang si gadis menunjuk salah satu pohon di sisi lorong. Sepertinya dia mencoba mengalihkan perhatian Jin.
Pemuda pirang terkekeh lagi melihat tingkahnya. "Dua blok dari sini dan belok kiri, ada ruang tunggu. Kita istirahat dulu."
Ruang terbuka berukuran sedang dengan satu lemari kayu berjendela kaca, berisi berbagai makanan dan minuman. Apple mendaratkan diri di sebuah bangku tepat di samping tasnya. Hari pertama tapi sudah banyak hal memalukan; sebal; tidak habis pikir. Pemuda pirang duduk di sisi gadis yang tersipu, merogoh tas pinggangnya. Sangat mengherankan, dari tas sebegini kecil Jin mengeluarkan kotak makan. Bagaimana bisa? Perhatiannya terebut mengetahui hal itu.
"Ini namanya Advance Bag. Walau kecil dia bisa menyimpan banyak benda karena ada kekuatan sihirnya." Bola biru langit masih menatap heran pada Jin yang sedikit tertawa. "EA memiliki toko yang menyediakan barang Exorcism. Kapan-kapan kita ke sana. Sekarang, makan dulu."
"Bukannya ini bekal milik kakak?"
"Iya, tidak apa-apa ... bisa buat lagi." Jin bisa masak? Tidak mungkin—pikir si gadis. Apple ragu untuk membuka kotak bekal yang sudah ada di atas paha pualam, membayangkan yang tidak-tidak soal isinya.
Gerak-gerik buncah membuka bekal karena curiga. Tak disangka, isi berbeda dari bayangan. Tertata rapi, nasi berbentuk kelinci; sosis berbentuk gurita; sayur-mayur menghiasi. Lucu, sayang kalau dimakan, tapi lapar mengalahkan itu semua. Rasa seenak apa yang terlihat hingga si gadis memejam. Menikmati tiap gigitan, bahkan nasi yang sebegini sederhana terasa gurih. Jin tersenyum, mengelus pelan rambut pirang Apple. Sebenarnya pemuda ini baik, hanya saja sedikit menyebalkan. Jin berdiri, mengambil sesuatu dari lemari mendapati betapa lahap si gadis.
"Makannya pelan-pelan." Apple mengangguk. Habis sudah isi bekal, rasa lapar terpenuhi. Jin langsung menyerahkan susu yang baru didapat.
"Sebelumnya kakak bilang 'Aku akan menyusulmu Mizu sayang' atau apalah, memangnya Mizu itu siapa?"
"Hmm, Mizu wanita cantik, satu tahun lebih muda dariku. Aku begitu mencintainya dan berharap bisa segera menikah."
"Mizu itu ... apa itu sebutannya, ah, aku tidak mengerti masalah seperti itu. Ngomong-ngomong susunya enak."
"Ha? Bukan, dia tunanganku." Apple langsung menyemburkan air susu yang dia minum. Kaget bukan main hingga tersedak dan batuk-batuk. Jin tentu panik melihat Apple kesulitan seperti ini. Diusaplah punggung si gadis, pandangan harap-harap cemas seolah menanyakan apa dia baik-baik saja.
"Hueeek, kukira akan mati. Kaget, masa iya ada orang yang mau sama kakak ...," ucapan Apple blak-blakan menusuk sekali, mengingat banyak pula yang berkata seperti itu. Bahkan murid baru sudah meragukan. Menunduk, ternyata dia bisa merasa sedih dan tertekan juga.
Memahami tingkah Jin berubah drastis, Apple menyeringai. Berlari ke depan pemuda pirang, menggenggam kedua tangan ke belakang dan sedikit membungkuk.
"Bercanda! Kakak orangnya baik dan ramah, aku juga bisa merasakan kebaikan hati kakak." Manis sekali, meluluhkan hati.
Jin menarik napas panjang, membalas suatu senyum dengan senyum lain. "Kau ini ...."
Kembali menelusuri lorong, EA terlalu luas. Rasanya lama sekali berjalan, tak kunjung sampai. Saat si gadis menghayati kepermaian, ada seorang laki-laki. Berdiri atas jarak minim dengan sebuah pohon pinus, menyisakan warna pekat korteks batang. Penglihatan Apple sebatas jaket biru tua dengan tudung yang ia kenakan. Rasa penasaran kembali menggelitik, siapa dia?
Sang laki-laki tahu ia diperhatikan, sedikit menoleh hingga terlihat pipi. Apple terkejut dan bergegas mendekati Jin. Sampailah mereka depan asrama Light. Jin gugup karena memang tempat ini khusus perempuan. Beruntung asramanya sepi, cepat-cepat langkahnya mencari ruang nomer tiga puluh sembilan.
"Sebenarnya tidak boleh laki-laki masuk, karena kakak sudah dapat izin ... jadi, sampai di sini tidak apa-apa?"
"Oh, iya, terima kasih. Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa, sudah tugas seorang pembimbing. Istirahat ya." Bergegas pemuda itu meletakkan tas depan pintu. Berlari, takut ketahuan berada dalam asrama perempuan. Rasa lelah menjalar seusai kepergiannya.
Apple membuka pintu kamar, tidak dikunci. Lesu ia melempar tas. Entah kemana itu tak masalah karena hanya beberapa pasang baju. Berbeda dengan kotak di tangannya kini. Cepat meletakkannya atas meja. Rasa lelah takluk dengan penasaran.
"Apa yang ...."
Ketika penutup kotak dibuka cahaya putih menyoroti sampai-sampai si gadis harus memalingkan wajah hingga sirna. Mata membelalak, tak percaya dengan yang dilihat. Pandangan terpaku pada buku paling atas. Bagai buku cerita kuno, bertuliskan Story About "RED".