REDproject

REDproject
Bab 19: Memoar, The Hope



...Lembar pertama: anak kecil laki-laki duduk dalam tempat seperti kotak kecil. Persis yang ada di kuil-kuil....


Aku membuka mata. Melihat ke bawah, jemariku kecil sekali. Lalu aku kembali melihat ke depan ... mereka masih berdatangan. Apa yang orang-orang itu ucapkan? Mereka menunduk, dari dalam kotak ini aku tidak bisa mendengar mereka. Apa yang mereka lakukan? Mendekap kedua tangan mereka, apa mereka memohon sesuatu?


Aku tidak ingat jelas apa yang terjadi. Mereka mengatakan, sudah lama mereka menungguku, menunggu untuk apa? Aku tidak mengerti. Mereka menggendongku dan ... tertawa? Aku sungguh merah, kata mereka. Sesuai sekali, lanjut mereka. Aku adalah bintang, puji mereka. Aku akan disimpan, pekik mereka. Tidak ada yang boleh menyentuhku, cetus mereka. Apa karena itu aku di sini? Masih belum bisa aku pahami tetapi ... aku takut.


Takut sekali, aku sendirian. Ruang kecil, sempit. Jangan tinggalkan aku! Oh, mereka masih berdatangan. Mereka masih berdoa, andai aku bisa mendengar apa yang mereka mohon ... aku harus keluar dari sini. Tapi, bagaimana caranya?


...Lembar ke dua: anak kecil laki-laki duduk di atas kasur kecil yang ada dalam kuil, di depannya sesosok bayangan besar bertanduk dan bersayap enam....


Aku melihat ke bawah, kakiku terasa lebih jauh dari sebelumnya. Apa ini yang disebut, tumbuh? Aku tidak paham, aku tidak tahu. Mengerikan sekali, aku takut ... pada diriku sendiri. Aku ini apa? Aku ini seperti apa? Aku di mana? Dan untuk apa aku ada di sini? Tetapi kemana pun aku berjalan; aku berputar; aku melangkah, hanya ada aku—sendirian. Apa yang harus aku lakukan? Aku menangis. Kemana aku melempar pandang, di situ hanya aku. Tapi, apa itu aku? Badan mulai bergetar, apakah ini yang disebut ... kesepian? Mungkin ... aku tidak mengerti. Tolong aku seseorang aku mohon, tolong aku. Jangan pergi! Oh, mereka masih kembali.


Aku pun meniru mereka. Mendekap kedua tangan; tunduk; mengatakan permohonan. "Aku harap, aku bisa keluar."


Iya, keluar ... bersama orang-orang itu. Seperti pertama aku melihat mereka, menepuk kepala lalu menggendongku, menyenangkan. Aku ingin bebas. Dari balik jeruji kayu, aku merentangkan tangan. "Aku ingin bersama kalian."


Suatu malam, aku bangun—terkejut—karena mendengar suara tawa yang sangat keras. Apa itu? Di depan, aku melihat sosok bayangan besar. Besar sekali, memenuhi ruang kecilku. Aku takut. Ah, menjauh! Aku kembali meringkuk dalam selimut putih. Menggigil, bukan karena kedinginan, tapi gejolak emosi ini tidak bisa aku tahan, siapa dia? Kenapa bisa ada di sini ... tunggu, mungkinkah dia yang mendengar permohonanku?


Akhirnya aku keluar dari dalam selimut, memandangi dia. "Siapa kamu?"


"Akulah yang membawamu. Mereka memohon anak, penyihir itu juga berharap kau kembali. Jadi, aku masukan jiwa kehancuran yang kugenggam dalam rahim perempuan mereka. Bukankah itu bagus? Akhirnya ... berkat kebodohan mereka sendiri, mereka akan mati. Ahahaha kamu lahir dari kehancuran murni karena pohon itu masih memegang sebelah jiwamu yang lain. Semua akan terulang, menyenangkan sekali melihat atraksi ini."


Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi mendengar itu membuat kepalaku pusing sekali, sakit. Seolah dihantam sesuatu, aku mengerjap. Aku memejamkan mata, karena ruang ini terasa berputar. Aku harus cepat sebelum aku kembali ... tidur. "Aku mohon, keluarkan aku."


Dia tertawa lagi, kencang sekali. Aku merasa terusik. Aku takut, badanku kembali bergetar. Lama kelamaan, aku merasa jiwaku terlepas.


"Baiklah. Kamu terbuat dari kami para iblis. Jika kau mau, aku bisa melepasnya."


"I-iya, aku mau. Lakukan ... ce-cepat lakukan, aku tidak tahan."


Aku ....


Aku ... berjalan, aku keluar. Aku keluar. Akhirnya.


Di belakang sangat menyilaukan. Lorong gelap sirna, berganti kerlip jajaran api berkobar merambat hingga ke depan. Aku tidak mau melihat ke belakang karena cahaya itu menusuk sekali, jadi aku berlari—kencang sekali—akhirnya. Kulihat langit yang tak berujung; laut dalam yang indah; hidup yang baru senantiasa lahir. Namun, masih hanya ada aku ... aku ... dimana kalian?


...Lembar ke tiga: seorang anak laki-laki berdiri dikelilingi kegelapan yang pekat. Dalam bayangan banyak tawa; amarah; api; senjata....


Itu apa? Kenapa dia makan rumput? Bola bulu putih itu melompat-lompat, apa dia tidak bisa berjalan? Apa karena alas rumput ini begitu lembut jadi melompat? Aku tidak mengerti. Di sana ada danau, jernih sekali. Wangi tanah setelah hujan memang menyejukkan, bahkan para makhluk seperti burung besar dan leher panjang berwarna putih berkoak.


Mungkin dia juga merasakan senang. Aku melihat ke danau, tempat burung itu. Aneh, dia tidak terbang ... berenang? Tidak, pasti terbangnya di air. Aku juga ingin ... ah! Danau ini terlalu dingin, tapi aku melihat ... bayangan, apa itu aku? Inikah aku? Terlihat seperti mereka, tapi dua mata itu dan rambut ini berwarna sama, inikah merah? Aku merah, begitukah? Aku masih belum paham.


"Pastinya jawaban yang aku cari ada di suatu tempat di dunia ini." Iya, pasti. Jadi, aku lanjut berjalan.


Bola putih melompat, aku ikut melompat. Rumput ini memang empuk, jadi rasanya nyaman walau terjatuh. Lalu di atas ada burung besar. Tangannya aneh, merentang. Aku juga ingin, jadi aku merentangkan tangan. Tapi aku tidak terbang, mungkin ... karena tanganku tidak sama seperti burung. Tanganku ... sama seperti, kumpulan makhluk di sana. Makhluk itu seperti mereka, apa itu? Manusia? Itu manusia. Tidak terlihat seperti makhluk yang ada dalam kumpulan pohon dan semak.


Apa itu? Mereka berkata dan aku tidak paham. Bahasanya banyak sekali. Aneh, mata mengalirkan air; lalu mulut terbuka; apa yang mereka lakukan? Emosi mereka banyak sekali, tidak seperti hewan. Mereka pintar, membuat pesawat kertas. I-itu terbang! Mengagumkan!


"Pasti manusia ini tahu siapa aku dan apa itu aku."


Akhirnya aku mendatangi mereka. Aroma adonan baru dipanggang itu enak, jadi aku ... lalu dia memukulku dengan piring. Sakit. Kepalaku pusing ketika lempeng itu pecah, membentur kepalaku hingga suatu merah mengalir dari pelipis. Bau adonan ini tenggelam dalam amis menyengat. Ternyata, aku memang merah.


Mereka ... makan? Memasukkan banyak sekali permen; buah; roti ke dalam mulut mereka. Lapar, apa itu lapar? Kapan kamu merasa lapar? Untuk apa makan? Untuk hidup? Hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Aku tidak mengerti. Namun, mereka selalu menancapkan alat makan padaku ketika aku mendekat. Apa aku makanan? Ngilu, benda dingin itu masuk dalam diriku. Merah kembali mencuat. Dingin, tidak kalah dingin dengan epidermisku.


"Pergi kau anak kotor! Aku tidak sudi memberikan makanan ini padamu! Semuanya punyaku!"


Apa yang dia katakan? Aku tidak bisa melihat jelas, karena pengelihatanku berbayang. Badanku jatuh, kaki tidak kuat untuk menyanggah. Perlahan, beku merambat. Lalu dia menendang perutku. Sakit sekali, perih sampai ke ubun-ubun. Inikah rasanya kesakitan? Greed; Wrath; Gluton, itu masuk ke dalam hatiku. Lalu dia menendangku lagi. Hentikan. Aku kembali membatukkan merah. Tidak tahan, rasanya ngilu tapi ... dalam dada seperti ada yang lebih sakit daripada ini. Hentikan. Aku menangis, kencang. Aku menangis. Memukulku. Cukup!


Mereka terbakar.


Aku tidak mempelajari apapun dari mereka. Hanya kepedihan. Benda tajam menembusku, lalu peluru itu melewati tubuhku. Sakit sekali, aku merasakan ini berulang-ulang hingga ... biasa.


Mereka memukulku lagi, lalu dia merangkul perempuan dan berbuat ... berbuat, aku tidak mengerti. Tapi aku merasa sesuatu masuk dalam diriku; Sloth; Lust. Kemudian dia memekik tajam, aku tidak paham apa katanya tapi telingaku panas mendengar itu. Terlebih dalam dada, remuk rasanya. Hentikan. Kau lebih kotor. Tidak, tolong jangan.


Mereka mengejarku. Katanya, aku menyebabkan kebakaran. Berlomba-lomba merusak badanku. Katanya, mereka ingin menjadi yang terbaik. Unggul-unggulan lalu itu masuk, Pride; Envy.


Aku mempelajari itu semua. Aku menyerap itu semua. Itu membusuk, dalam dadaku.


Apapun yang mereka lakukan, hanya menyakitiku. Inikah manusia? Aku manusia. Aku seperti mereka. Tapi ... kenapa? Aku sudah tidak mampu menangis, aku lelah. Kegelapan ini menyelimutiku. Tolong aku, aku mohon tolong aku. Tolong. Hentikan, sakit ... menyedihkan.


"Akhirnya kau menyerap Deadly Sins." Suara tawa itu kembali menggelitikku yang sudah terbaring lemas. Malaikat penolongku, dia datang.


Susah payah aku mencoba merentangkan tanganku, tangan pucat. "Tolong aku," ucapku dengan nada lirih. Namun dia hanya tersenyum, kemudian menghilang. Lalu suatu bayangan keluar dari badanku, menjalar ke lengan. Tanganku menggenggam, sebuah pedang ramping yang panjang. Itu ... hatiku, berubah menjadi tajam dan ... menyakiti. Sakit yang terima, beginikah?


Sudut bibirku tertarik samar, membentuk lengkung sabit penuh pilu. Pandanganku kembali dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik. Sesuatu bergolak dalam batin. Kurasakan bibirku bergetar. Kugigit bagian bawah, berharap rasa karat darah mengenyahkan perasaan ini. Drama yang menyedihkan.


Tak berapa selang semua gelap. Tidak ada pendar cahaya bulat langit. Hanya gulita yang mengungkungku. Menarik kesadaranku ... perlahan.


Lembar ke empat: tergambar seorang pemuda duduk meringkuk di tengah tempat yang amat gelap, tak ada cahaya. Di balik bayangan, ada suatu senyum; senyum lebar dan mematikan.


Tidak, ini salah. Tidak. Mereka melakukan ini padaku 'kan? Tetapi, ketika aku melakukan hal yang sama, mereka ... tidak! Apa yang terjadi?! Kenapa- kenapa badannya tidak bergerak lagi? Merah itu tidak berhenti keluar. Tidak sepertiku, mereka ... rapuh. Ini salah, aku tidak bermaksud ... jadi, apa yang harus aku lakukan? Aku menangis di depan mereka. Mereka yang terbujur kaku, bermandikan cairan merah. Maafkan aku. Cairan berbau amis memercik ke wajah dan pakaianku, pakaian yang hitam. Sejak kapan aku seperti ini? Kulihat mereka meregang nyawa. Seluruh tubuh menegang, mengejang singkat. Ini tidak benar. Berhentilah mendekatiku. Jika tidak, kalian ....


Aku takut, hentikan. Berhenti sampai di sana, tidak! Aku tak mampu mengendalikan diriku. Aku takut pada kalian. Air mataku mengering, rasanya lelah ... jiwaku. Aku merasa mati, tapi aku hidup. Aku tidak pernah mengharapkan ini semua, seandainya aku ... tidak keluar dari tempatku, dari kurunganku. Pasti, tidak akan seperti ini.


"Aku berharap tidak pernah belajar tentang dunia ini, seberapa mudah hidup yang aku jalani jika aku bertahan di kegelapan, pemikiranku yang kosong?"


Lebih baik aku membuat kurungan untuk diriku sendiri. Iya, itu lebih baik. Akhirnya aku berjalan lagi, aku pergi. Langkahku gontai, ditemani dingin menusuk yang membebani kelopakku. Aku merasa ... lelah.


...Lembar ke lima: terlihat sosok pemuda di atas suatu bukit dalam hutan rimbun dengan pepohonan, di bawahnya seorang wanita melihat ke arah dia....


Para manusia berdatangan padaku, mereka meminta tolong. Bukankah membantu itu baik? Iya, akhirnya aku menolong mereka. Aku mengikuti kata mereka. Aku kembali menebas, aku memenuhi keinginan mereka ... menjatuhkan orang lain. Apa ini benar? Aku tidak tahu, tapi menolong orang lain adalah hal baik, bukan begitu? Namun, dalam dada merasa suatu gejolak. Jantung seperti diremas, aku menyanggah kepalaku dengan sebelah tangan.


Melihat ini semua, dalam rusuk terasa terkoyak.


Aku kembali berjalan, di tembok sana aku melihat, poster diriku? Ternyata aku berubah, tidak lagi merah ... kelam, inikah aku? Aku pun merasa berhenti tumbuh. Di bawahnya terdapat suatu nominal, banyak sekali angka nol. Itukah nilaiku? Aku dengar, nol adalah kekosongan. Aku kosong, rupanya begitu.


Orang-orang di kota melihat ke arahku, apa yang mereka lakukan? Senjata itu ... tidak, menjauh! Apa yang kalian lakukan? Jangan dekati aku, jika tidak ....


Manusia kembali mengejarku, maka dari itu aku selalu sembunyi. Aku gemetar, takut sekali. Hingga aku mendapat surat, permintaan dari kerajaan besar—Luchifenian. Aku penuhi panggilan itu. Tidak seperti para manusia yang lain, mereka tidak memperlihatkan ekspresi menyeramkan. Katanya, penyihir kuat tinggal di sini jadi mereka tidak ... takut? Takut pada apa? Mungkin, pada manusia? Ya, manusia memang menakutkan.


Aku berdiri di depan lubang, cukup besar. Mereka memintaku untuk memeriksa lubang ini karena secara aneh muncul dalam kerajaan. Aku tidak bisa melihat dasarnya, gelap sekali. Namun, aku merasa suatu ketenangan dari sana. Berbalik melihat kedua prajurit yang mengikutiku, apa mereka tidak bisa merasakannya? Badan mereka justru bergetar dengan mata membelalak ke arahku. Apa mereka kedinginan? Akhirnya, aku kembali melihat---


Ah, badanku terasa ringan. Aku jatuh ... dalam lubang ini. Prajurit itu berteriak dan mendorongku. Apa yang dia lakukan? Kenapa dia berbuat seperti itu? Aku tidak mengerti. Gravitasi merenggutku kuat. Tak lama aku mendengar suara pekikan wanita, dia ... marah? Apa yang dia katakan? Aku tidak dengar karena aku sudah cukup dalam ... terjatuh. Inikah akhirnya? Aku tidak berpikiran untuk menyelamatkan diri. Untuk apa? Ini adalah kesempatan untuk mengakhiri semuanya, bukan begitu? Memejamkan mata. Aku merasakan suara sayat angin di telinga, terlalu cepat aku terjatuh. Tak apa, tidak masalah. Sampai suatu sorot cahaya menembus masuk dalam retina, terpaksa aku membuka mata. Silau sekali.


"Kamu, akan mengubah segalanya." Suara itu membius, badanku lemas seperti ... dirangkul? Harum, aku merasa tenang. Cahaya bersayap empat itu memelukku. Nyaman. Mata sayup melihat samar-samar senyum teduh dari sang rambut perak. Siapa dia?


Dalam sekejap, aku sudah berada di tempat semula. Apa yang terjadi? Mengedar pandang, aku tidak melihat lubang itu ataupun orang lain. Kemana mereka? Apa aku benar di tempat yang sama? Lebih baik, aku pergi dari sini. Ini tidak beres.


Aku kembali melangkah dan menemukan tempat sepi di dalam hutan kecil. Sunyi; terpencil; di mana suara kicauan burung tak terdengar; tempat yang benar-benar aku inginkan. Akhirnya, aku bisa mengurung diri.


"Aku akan menghabiskan hariku di sini tanpa siapa pun."


Di saat aku ingin memejamkan mata dan mengurung diri dalam kesunyian, seketika terdengar suara manusia. "Kau sendiri juga?"


Seorang wanita muncul tepat di sampingku. Darimana dia, apa dari Luchifenian dan mengikuti hingga kemari? Berapa lama ia akan ada di situ? Apa yang dia inginkan? Aku tidak paham, sama sekali tidak mengerti. Lebih baik aku kembali memejamkan mata, jangan hiraukan dia.


...Lembar ke enam: pemuda dan wanita duduk bersebelahan di atas suatu bukit dalam hutan, terlihat tenang....


"Jika kau kesepian, tidak apa-apa kan aku duduk denganmu?"


"Maukah kau hidup denganku?"


Dia mencondongkan badannya padaku, a-aku tidak mengerti maksudnya apa. Pergerakannya terlalu tiba-tiba, aku terkejut ... berkali-kali. Bahkan, para burung putih di sekitar ikut berterbangan. Bulu mereka melayang di udara, sedikit mengkilap karena sorot matahari. Iya, aku memalingkan muka karena dia dekat sekali, wajahnya. Aku sedikit melirik, tapi ... lebih baik aku memandang langit yang sama biru seperti matanya.


Jantungku berdebar, makin kencang. Aku tidak mengerti, apa yang terjadi padaku? Apa aku ketakutan? Mungkin. Aku belum pernah diperlakukan seperti ini, terutama diberi pertanyaan semacam itu. Cepat aku melompat mundur, menjauhi dirinya. "Aku akan hidup dengan diriku sendiri. Pergilah dan tinggalkan aku sendiri."


Bergegas aku melesat, menaiki dahan pohon hijau yang kokoh. Aku harus menemukan tempat yang benar-benar sepi, tanpa siapa pun ... dan, dirinya. Aneh, dia memang masih duduk di situ tetapi tersenyum. Tersenyum ... padaku? Begitukah?


...Lembar ke tujuh: pemuda diikuti wanita dari belakang dan terlihat si pemuda seperti melihat ke arahnya dalam pemandangan yang berbeda, seperti taman dilintasi pelangi....


Secepat apa aku berlari; sejauh apa aku melesat; setinggi apa aku melompat, dia mengekor. Berkali-kali aku memintanya pergi, berkali-kali dia tersenyum. Apakah dia tidak mengerti apa yang aku katakan? Tapi dia merespons ucapanku, tak mungkin dia tidak paham. Namun, masih saja sama ... mengikutiku. Keesokan hari dan keesokan hari setelahnya. Di hari yang panas, di hari yang bersalju.


Sebenarnya, aku tidak merasa terusik. Aku tidak ... gemetar, seperti ketika para manusia mengejarku. Justru aku berharap, ketika aku menoleh kebelakang ... ada dia di sana. Oh, perasaan apa ini? Dalam dadaku, sesuatu ...?


Aku berhenti, hujan deras membasahi diriku. Ini biasa, bahkan aku senang ketika air mengalir di wajahku, ikut berpadu dalam tirta mata. Aku mendongak, memandang langit kelam itu yang persis sepertiku. Memejamkan mata- tunggu. Tidak ada dingin, air berhenti mencumbu epidermis. Aku kembali membuka mata dan ... apa yang terjadi? Air itu tertahan dan menggenang di atasku?


"Kau suka hujan? Hujan memberi kehidupan, apa kamu mau lihat?" Dia berdiri di depan, menggenggam kedua tangannya di belakang punggung. Masih sama, bibir merah itu masih mengukir gurat sabit ketika bola langit memandangku. Dia yang menghentikan hujan di atasku? Bagaimana bisa?


Jemari lentiknya terangkat, tepat ke atasku. Seketika aku tertegun, bukan ... lebih tepatnya, aku ingin tahu apa yang dia lakukan. Cepat tangannya melaju ke depan, merentang pada alas luas membentang. Hal menakjubkan untukku terjadi, sangat cepat.


Seiring gerak tangannya, gempita suram kapas langit menghilang; mentari bersinar lembut atas kirananya. Hijau mendominasi alas; bunga kecil bermekaran, berwarna sama dalam pelangi membusur atas cakrawala. Air gemercik, mengkilap bak gemerlap terhampar luas. Apa ini ... aku terjatuh, tetapi padang rumput ini amat halus seperti benang sutra. Seketika semua menjadi berwarna, hitam; putih; merah; pandangan enyah menjadi ... lembut, laksana pelangi. Wanita itu sungguh berwarna, melebihi alam ini. Terutama rambut yang tertiup halus. Warna berbeda dari alam. Warna lembut, selembut senyumnya. Rona tidak aku pahami, rona pelangi ... rona dirinya.


Dia bersimpuh di depanku. Wangi tubuhnya tercium karena embusan angin, harum mengalahkan para kelopak bermekaran di udara. Aku seperti ... aku tidak bisa bergerak. Badanku beku tiba-tiba, dengan jantung tak henti berdentum. Aku, aku---


"Sejujurnya, aku kesepian. Aku tidak suka manusia tetapi ... hidup sendiri itu menyakitkan, 'kan?"


Menyakitkan? Iya, sakit akan kesepian. Seketika denyut menusuk jantung, mendengar suara lembutnya berucap demikian. Aku menggenggam dada berbalut jubah hitamku. Sakit---ah, dia memegang tanganku. Hangatnya kulit perlahan menjalar pada jemari dinginku, menghantar rasa nyaman. Dia kembali mendekat. Sangat dekat. Kami bersentuhan, dia menyandarkan badan ke dadaku.


A-aku mengkaku, biasanya aku selalu bisa melakukan segala hal tetapi ... tidak mampu menggerakkan badanku. Apa yang terjadi? Jantungku seperti genderang sekarang, bahkan napasku menjadi tidak teratur.


Dalam dada, ada perasaan yang tak biasa. Aku tidak tahu apa ini, seperti keinginan ... keinginan untuk apa? Hangat, lalu ... mekar, apa ini? Bagaimana cara mengungkapkannya? Perasaan ini rumit. Lengan jenjang merangkul. Aku bisa merasakan badannya yang empuk, menekan diriku. Pikirku melayang, aku ... aroma badannya. A-ah ....


Fokusku kembali ketika aku mendengar suara lirih ... tangisannya. Apa yang terjadi? Apa aku menyakitinya? Sekilas, aku seperti melihat diriku yang dulu. Ketika mereka, merusakku. Melukaiku. Seperti anak burung yang terjatuh, renta dan tak kuasa. Drama yang menyedihkan. Mungkin, dia juga merasakan seperti apa yang aku rasakan? Karena---


"Jangan menangis." Spontan aku membalas pelukannya, ucap pelan pun keluar tanpa izin, "Aku juga tidak mau seperti ini."


...Lembar ke delapan: lebih berwarna dengan jendela kayu terbuka, menggambarkan langit biru berseri. Dalam rumah, sesosok wanita duduk di atas kasur dan di bawahnya ada pemuda menyandarkan kepala pada paha wanita tersebut. Terlihat tenang terlebih, wanita itu mengelus kepala si pemuda....


Dia mengajarkanku banyak hal yang tidak aku pahami; tidak aku temui; tidak aku kenali. Kami tinggal di rumahnya. Katanya, dia di sini ... sendirian, selama beratus tahun. Dia tidak menua dan aku tidak berumur; dia tidak sudi manusia dan aku tidak suka mereka; dia sendirian dan aku kesepian, kami sama. Begitu, menurutku.


Ini adalah sebuah rumah kecil di tengah hutan. Konstruksinya sederhana, satu ruang; dapur; atap tinggi. Sebuah ranjang besar menguasai tempat, berbagi dengan meja dan rak kayu. Wangi obat dan herbal memang menenangkan. Sangat nyaman untukku, suatu tempat untuk ... kembali, melihat dia dengan senyum itu. Aku tidak mau lepas, rasanya dengan dia, cukup.


Dia bersandar pada ranjang; menangkupku dalam selimut; menyandarkanku di dadanya dan membaca cerita. Banyak sekali cerita miliknya. Red Ribbon, kisah perempuan yang kembali hidup kemudian datang pada laki-laki kesepian, menawarkan berbagai macam hal. Hingga suatu saat mereka ...?


Perempuan yang mengenakan pita merah di lehernya. Mereka bahagia. Hingga suatu saat, laki-laki menanyakan kenapa dia tidak pernah melepas pita itu. Namun kepala wanita menggelinding seiring lepasnya pita. Dari awal, dia memang tidak hidup. Katanya kisah itu menyeramkan, tapi buatku ... kenapa perempuan itu bisa kembali hidup? Agar laki-laki ini bahagia? Begitu? Aku tidak paham, tetapi aku suka cerita.


Merrily, merrily, dia bacakan cerita padaku hari demi hari. Sampai mataku sayup. Suaranya lembut, pipi bertemu pipi.


"Selamat tidur."


Cicit burung menggelitik, dia membangunkanku dengan kecupan. Di balik kabut tebal matahari terbit. Senyumnya bagai kelopak mawar yang terbuka satu demi satu. Perlahan, tenang.


"Selamat pagi." Dia tidak pernah bosan menyapa.


Ketika matahari tersenyum cerah ... seperti dia, kami mencoba untuk menjelajah. Ini adalah hal yang tidak pernah bisa ia lakukan—katanya—karena hanya sendiri, tapi tidak. Aku tak akan meninggalkannya, aku bersumpah pada diriku sendiri.


Dia mengenaliku berbagai macam hal. Putih turun perlahan ini salju, rasanya dingin tapi dia merangkulku ... menjadi hangat. Lalu bola putih melompat itu kelinci, dulu aku sering bertemu dengan kelinci. Aku tidak tahu namanya kelinci, maafkan aku tuan kelinci.


Bercanda dan bercerita. Kami ke sungai, airnya jernih dan deras. Melihat bias di air, oh! Aku jauh sekali berbeda dengannya. Aku sangat hitam dan dia berwarna. Rambut merah muda persis warna susu ketika dia mencampur strawberry manis untuk sarapan. Seketika dia memelukku, memecah lamunan. Erat sekali, seakan dunia akan hancur jika ia melepasnya. Kami bertatapan, matanya ... bersinar seperti langit tanpa halangan.


"Hitam yang membuat warna menjadi lebih bersinar," ucap lembut dari bibir merahnya, seperti serpihan doa. Memancing senyum ... aku, tersenyum? Ini pertama kalinya aku merasakan ... bahagia. Pertama kalinya, aku merasa begitu hidup; bernapas; berlari; tertawa.


Aku kembali melangkah. Sekarang aku yang mengekor, tidak ingin jauh darinya. Aku memetik bunga, begonia namanya. Aku tidak tahu kenapa aku memetiknya, tetapi ini merah. Merah, warna pertama yang aku kenali. Begonia itu sekarang di telapak tangannya, bersinar.


"Aku akan abadikan ini semua." Lalu ia mengenakannya, di kepala. Paras ayu, makin bercahaya. Aku, aku---emh ....


Ada banyak cerita dalam bukunya. Bintang Vega dan Altair; Orihime dan Hikiboshi, mereka hidup bahagia bersama, sampai Raja Langit memisahkan mereka. Mereka dipisahkan sungai Amanogawa—galaksi Bima Sakti—dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke tujuh, bulan ke tujuh. Kalau kebetulan hujan turun, sungai Amanogawa menjadi meluap dan tidak bisa disebrangi. Lalu sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih; berbaris membentuk jembatan, supaya mereka bisa menyeberang dan bertemu. Itu cerita yang paling aku suka.


Lalu dia memberiku nama, Hikiboshi. Dia memintaku memanggilnya Orihime. Seperti kisah mereka, walau sulit bertemu ... pasti, akan ada pertolongan untuk selalu bersama. Aku suka nama itu, lebih baik daripada yang manusia berikan padaku. Aku terus memanggil namanya, hari demi hari. Aku percaya, bagaimanapun ... kami akan bersama, dalam rasi bintang Lyra.


Aku tidak mengerti apa itu cinta, hal itu terlalu abstrak untuk kumengerti. Namun, jika kebahagiaan ini; kenyamanan ini; kehangatan ini; kebersamaan ini adalah cinta. Maka aku, mencintainya.


"Aku mencintaimu." Seakan ingin memekar masa dengan nyala di setiap katanya.


"Aku mencintaimu." Seakan ingin merengkuh waktu dengan benang-benang kata.


Orihime menyukai karamel apel, maka Hikiboshi juga menyukainya. Itu sangat manis, semanis bibirnya.


Orihime menyukai begonia, maka Hikiboshi juga menyukainya. Itu sangat harum, seharum dirinya.


Orihime menyukai sutra, maka Hikiboshi juga menyukainya. Itu sangat lembut, selembut kulitnya.


Orihime menyukai susu strawberry, maka Hikiboshi juga menyukainya. Itu sangat berwarna, sewarna rambutnya.


Ketika dia memekik, aku selalu khawatir. Aku takut ... menyakitinya. Namun, dia mengusap wajahku dengan buku-buku jari, mata redup dan teduh. Lalu dia mendekatiku, menguar aroma yang manis. Berbisik lembut dan napas hangatnya menggelitik telinga, membuatku melayang. Terlebih udara terasa panas, seperti dalam tungku. Perlahan pandanganku mengkabut dan kesadaranku terenggut. Aku harap, aku tidak menggoresnya sedikit pun.


Dia mengatakan, seandainya dia mengerti tentang konsep pernikahan, dia ingin bersamaku. Aku tidak mengerti apa maksudnya tetapi wajahnya bersedih. Aku---aku memeluknya, jangan menangis aku mohon. Merrily, merrily. Aku juga tidak mengerti maksud kalimat itu, seandainya bumi ... mengajariku lebih banyak. Katanya, itu adalah ritual suci. Namun apa aku, pantas?


Lalu dia mengajariku mengenai Tuhan. Beliau sang Pencipta, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung. Semua hal di semesta ini, adalah ciptaannya. Sesuatu pasti ada yang menciptakan dan Tuhan adalah pencipta segalanya, pencipta di atas pencipta. Termasuk dia, dan ... aku. Tuhan yang mempertemukan kita. Dia mengajariku tentang kebaikan dan keburukan.


Keburukan, dibenci Tuhan. Kebaikan, disenangi Tuhan. Maka aku akan mejalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tuhan tidak suka hambanya menyakiti diri sendiri, maka aku berhenti menyakiti diri sendiri. Dia ingin aku ... lebih menghargai diriku, maka aku turuti.


Tuhan, jika Engkau mendengarku, aku sangat beryukur. Terima kasih sudah menciptakanku ke dunia ini. Penuh dengan warna ... dia. Terima kasih sudah mempertemukanku dengannya. Itu adalah ucapan syukur dalam sunyi, sesunyi air mata yang meleleh di pipiku. Aku terjaga sendiri ... dunia terasa sepi. Tidak, apa yang aku pikirkan. Dia masih terlelap, di sampingku ... dan akan terus seperti ini. Butir-butir air mataku gemuk, seperti mutiara. Terisak; pelan; sopan, tidak ingin membangunkannya. Terima kasih, Tuhan. Aku tidak bisa berhenti bersyukur. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.


Waktu kami banyak, sangat banyak. Aku senang dia tidak menua, sepertiku. Tidak masalah aku hidup abadi. Asal dengannya ini terasa seperti bukan kutukan, tetapi sebuah berkah. Hingga aku merasa ... lelah. Aku terjatuh, meringkuk dalam ... peluknya.


"Selamat tidur."


Ah.


Takut.


Takut sekali.


Apa yang aku lakukan?


Harusnya aku menyadari ini dari dulu.


Aku, tidak layak mendapatkan ini.


Pada akhirnya, mengulangi kejadian yang sama.


Fana, semuanya bohong ... ilusi, fatamorgana.


Harusnya aku sadar lebih awal, aku---


...Lembar ke sembilan: wanita memalingkan muka seperti ingin berlari, jauh di belakangnya adalah pemuda yang tersungkur. Aura hitam sungguh pekat mengelilingi pemuda itu ditambah bayangan yang menyerupai malaikat bertanduk di belakang. Bayangan malaikat memiliki senyum lebar, sungguh lebar hingga menyeramkan. Sang pemuda merentangkan tangan, laksana ingin meraih wanita yang tak mampu lagi ia jamah....