REDproject

REDproject
Bab 10: Noah Ark



Silir angin meniup gorden, burung-burung mengintip malu dari dahan basah sisa embun pagi. Matahari begitu cerah, sorot dari jendela membangunkan kelopak mata abu-abu. Sontak dia langsung duduk, cepat menggeleng kepala.


"Apa yang ... Master?"


Melihat sekeliling, sekarang berada di tempat sebelum semua kejadian aneh—kamar Apple. Tergesa-gesa memeriksa ke arah kasur—benar—di sana gadis pirang sedang tidur. Tanpa pikir panjang Pipe Fox menggoyang raga si gadis. Goncangan malah membuat Apple makin terlelap dalam bantal.


"Hummn, lima menit ...."


Rubah biru menghentikan tangannya, membiarkan gadis itu beristirahat. Pasti lelah—pikirnya—dan kejadian itu pasti mimpi karena yang terjadi begitu cepat dan aneh. Begitu pula dengan perempuan rambut perak, hanya mimpi. Mungkin paraniod sebab kejadian jauh-jauh hari di tempat tersebut. Lebih baik tidak usah dipikirkan. Kini dia tidak sendirian, sudah memiliki Apple dan bersumpah akan setia hingga akhir napas. Orang asing pertama yang memberikan jiwa walau sudah diserang, tidak boleh menyia-nyiakan kebaikannya.


"Hah!" Kejut si gadis membuat Pipe Fox kaget sampai-sampai bulu berdiri. Rambut pirang kusut, ia duduk dan juga ikut melihat kesana-kemari. Keduanya seperti orang linglung.


"Jam berapa ini?!"


"E-eeh? Sudah pagi ... ?"


"Celaka! Harus siap-siap, semalam ketiduran."


"Kenapa Master?" heran Pipe Fox mendengar runtutan ucapan Apple.


"Aku sudah satu minggu lebih tidak melaksanakan misi! Aduh, gara-gara tas dan kakak ujian ... ketinggalan jauh!"


Sungguh terburu-buru, bolak-balik menyiapkan advance bag; keluar masuk kamar mandi. Terus mengomel walau dengan kondisi seperti ini. Pipe fox hanya terdiam, bingung harus melakukan apa, mungkin ada yang bisa dibantu ... tapi cepat Apple menyambar tangannya.


"Bisa lacak kakak? Seperti kemarin-kemarin mencari tas. Bantu cari Jin juga, ya? Aku mohooon."


"Bi-bisa, umn, ikuti aku." Rubah menuruti titah, membuang bingung jauh-jauh. Asal melakukan apa yang master minta pasti akan baik-baik saja—benaknya.


Keduanya berlari, sungguh tak kenal rem. Melewati beberapa pintu; ruang; blok. Pipe fox melakukan akselerasi seperti mengelak ketika sampai pada suatu belokan. Sedang Apple mana bisa, dia pun menabrak apa yang rubah biru hindari.


Kertas-kertas berserak, melayang seperti bulu. Orang yang ditabrak terkejut, Apple dan dirinya terjatuh. "Ah, Apple ...."


Suara yang tak asing, Apple langsung mendongak. "Kak Jin! Eh? Maaf ...."


Pemuda Vermillion tersenyum ketika tatapan bersalah dari si mata biru mengarah padanya. Berdiri, menepuk pakaian belakang sebab tersungkur dan membantu anak didik ikut bangun. "Tidak apa-apa? Maaf ya, akhir-akhir ini sibuk. Sedang ujian."


"Iya ... tapi, kak!" Apple meninggikan suara tetapi tak menyelesaikan perkataan. Tatapan penuh harap kepada pemuda pirang, seperti menunggu sesuatu bahkan kini menjinjit-jinjit.


Kode apa ini? Jin bingung harus berkata apa. Melihat sekeliling ... ada siluman rubah? Bahkan dia memungut kertas yang berserak. Apple masih tak berhenti, sesekali melirik siluman dan menunjuk advance bag, apakah ....


"Oh! Sebenarnya kakak ada misi, tapi tidak bisa menjalankannya karena ujian. Apple bisa?"


Sepertinya yang Jin pikirkan tepat sasaran. Apple kegirangan tapi ia tahan, jelas sekali tingkah—melompat-lompat kecil—lucunya. Lagi-lagi pemuda ini dibuat tertawa.


"Hmmm rasanya rindu pada anak didik yang lucu, mau jalan-jalan sebentar?"


"Mau!" cepat gadis itu menjawab, lugu sekali.


"Ahahaha, apa ini rubah milik Apple?"


"Iya! Namanya Pipe Fox, aku ingin menjadi seorang Tamer!" Senyum terukir dan Jin menepuk rambut pirang si gadis, bangga mekar dalam hati.


Jin memerhatikan siluman tersebut—mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala—suatu pengenalan khas jikalau bertemu makhluk baru. Jika dipikir-pikir, bagaimana gadis ini bisa mendapatkan kitsune? Apakah dia pergi jauh? Kitsune adalah iblis yang sulit dijamah, bahkan butuh suatu pengorbanan, apa lagi jika menjalin suatu ikatan dengannya. Tapi rubah ini mirip Apple, mata abu-abu yang bulat; badan tak begitu tinggi. Sepertinya Apple sudah menjalin kontrak dengannya, kontrak seperti apa itu? Gadis kecil ini mungkin memiliki bakat dan potensi.


"Apple, sudah bisa mengendalikan Pipe Fox dengan baik?"


"O-oh! Dengar dengar, aku bisa bertemu dengan Kak Jin karena bantuan Pipe Fox, hebat bukan? Kemarin-kemarin aku susah mencari tapi sekarang ...." Dalam perjalanan, ke dua insan di depan bercengkerama.


Terlihat hangat, pemuda pirang tertawa kecil dan si gadis terlihat ceria. Lebih baik jangan diganggu—pikir Pipe fox. Menggenggam beberapa lembar kertas. Mereka terlihat baik, master bahagia, tapi kenapa dalam dada---


"Kenapa melamun? Ayo, nanti ketinggalan!" Apple menarik lengan Pipe Fox, disambut tatapan hangat dari Jin. Mungkin ... perasaan saja, siluman rubah mengukir senyum kuda.


...-oOo-...


Terlalu cepat berlari sampai langkahnya sumbang, tetapi ia tidak berhenti. Kembali bangkit dan menarik langkah meski sempoyongan. Harus berhenti untuk mengatus napas dan mengumpulkan sisa tenaga, tidak, tak ada waktu untuk itu. Terus terjatuh membuat rambut peraknya kusut. Pandangan kabur karena darah terpompa dahsyat, kaki pun gemetar. Tidak, tak boleh berhenti, harus terus berlari. Apa yang dialami kemarin terlalu di luar nalar. Leona sadar bahwa hal tak beres sedang terjadi. Ada suatu intensitas besar, harus segera melapor kepada Yukio. Terlebih ....


Sedikit lagi! Pintu jati yang khas sudah tertangkap mata. Knop pintu ia sentuh tapi gagal, tangan putus dari pergelangan. Lempeng bilah katana memotong tulang dan nadi seperti mentega. Darah memancar lancar sebab nadi segar terpompa oleh jantung, membanjiri lantai putih. Bau karat khas cairan pengundang nyeri pun menyeruak. Kemana tangannya terpental, ia tidak peduli sebab sakit luar biasa berkobar ke ubun-ubun. Jika menjerit pasti akan terdengar hingga pelosok akademi, tetapi dia tak bisa karena mulut sudah membungkam dalam cengkeraman tangan pucat.


Pemuda serba hitam mengangkat badan Leona dengan mudah seperti perempuan ini bukan apa-apa. Mereka beradu tatap. Mata Leona membulat dengan iris tak henti bergetar, sedang matanya ... itulah pembawa pada intiha nyawa.


"Kau tahu? Pada akhirnya ... terjebak dalam lingkaran dan melakukan hal yang sama."


Dentam pintu sangat keras seolah-olah ditendang dari dalam. Jelas sekali Yukio geram, menggertakkan gigi dengan dua alis hitam hampir bertemu. Pandangan marah memeriksa sekeliling, mencari apa? Karena tak ada apapun di sana. Mendesis dan tidak henti mengumpat sampai-sampai membanting pintu kantor pribadi. Sentak langkah terdengar di lorong. Yukio berjalan cepat membuat jubah hitam sedikit terhempas.


Mungkin emosi sudah tidak terbendung, mengeluarkan aura mencekam. Hingga perempuan rambut jelaga tercengung dan menghentikan langkah.


"Guru jarang sekali keluar---ah!" Ketika Mizu hendak menyapa, lengannya ditarik cepat oleh Yukio, sungguh tatapannya tajam.


"Mizu, tugas baru, cari seluruh murid."


"Hah?! Ta-tapi akan memakan waktu, terlebih ada yang pergi jauh---"


"Tidak ada bantahan!" Menghempas tangan Mizu sampai-sampai Shikurai terjatuh.


Belum pernah Mizu melihat Yukio sebegini marah, bahkan sudah tidak menghiraukan dia yang memelas. Terus melangkah dengan tak henti menggeram. Pintu toko ia dobrak dengan lengan kiri yang mengepal, hampir saja bel terputus. Xavier terkejut, menyembunyikan majalah cabul yang dia baca, apa ketahuan? Yukio cepat menarik kerah baju Xavier. Walau pria mata emas ini jauh lebih kekar, tetapi pria kacamata ini menariknya kuat sekali. Tidak boleh menilai seseorang dari luar. Ah, mati dia—pikirnya—Yukio murka sekali.


"Apa masih mendistribusikan misi?"


"I-iya, tiap sore aku selalu mengecek papan misi dan melihat dokumen di kantor."


"Batalkan semua misi dan kelas khusus! Perintah semua guru mencari murid yang bertugas!"


"Ha?! Tapi---"


"Tidak ada bantahan!"


...-oOo-...


Gubuk kecil taman Hexairs dalam kanopi kepermaian alam, gadis pirang dan rubah biru duduk berdampingan. Jin berdiri depan mereka memerhatikan dengan seksama, alangkah menggemaskan mereka. Jarang bertemu kitsune sepantar Apple karena rata-rata mereka berumur ribuan. Apa kontrak yang terjalin hingga rubah ini persis tuannya? Apapun itu, mereka serasi sekali. Jin tak henti mengusap kepala mereka. Baik, dia menyayangi anak kecil.


Apple menikmati ini, tetapi Pipe fox merasa terganggu. Sebenarnya dia tak suka disentuh kecuali oleh Master, dalam satu sisi dia tidak ingin menolak karena Master juga diperlakukan sama. Akhirnya Jin duduk di sisi Apple, tapi dengan cepat Pipe fox mengisi tempat antara mereka. Menengadah dengan wajah memerah, sepertinya rubah ini sedikit protektif. Apple memiringkan kepala, sedangkan pemuda Vermillion sedikit tertawa, dia mengerti arti dari gerak-gerik tersebut.


"Apple tidak merasa lelah?"


"Lelah? Tidak, kenapa harus lelah?"


"Ah, jika familiar terlalu lama bebas akan menguras kekuatan magic tuannya ...."


"Eh? Bukannya kalau terpisah jauh dan menggunakan kekuatan baru terkuras ya?"


Ah sial, kalah dengan murid didik sendiri, harus lebih banyak belajar. Doctor dan Tamer adalah kelemahannya, Jin lebih memilih menjadi seorang Knight. Walau begitu, semua Job harus dipelajari. Tak lama pemuda pirang mengeluarkan buku kecil dalam tas pinggang, kembali tenggelam dalam kertas.


Kesunyian menemani. Pipe fox termenung, tak pandai membuka pembicaraan walau sekedar obrolan ringan. Jin sibuk belajar, wajar saja, dalam masa ujian. Apple ... dia menggoyang-goyangkan kaki. Hingga si gadis memandang seluruh penjuru taman, barangkali bertemu Exons—pikirnya.


"Kenapa Apple?"


"Huh? Tidak. Oh ya, sebenarnya apa yang melindungi EA?"


"Melindungi? Yukio ... ?"


"Ah bukaaaan, maksudnya barrier." Jemari lentik menunjuk langit sebiru matanya. Jin dan Pipe fox ikut melihat ke atas di saat bersamaan. Penasaran dengan apa yang sang majikan maksud, mengibas ekor diiringi gerakan di telinga rubah panjangnya.


"Oh, ahahaha. Apple ingin tahu? Ayo pergi, kak akan tunjukkan sesuatu."


Menarik langkah, kembali mengekor bersama rubah biru—berbeda dari kemarin-kemarin—yang selalu mengikuti; bertarung bersama; saling melindungi. Mungkin ini memang pilihan terbaik, Apple tidak tahu setelah mati akan seperti apa, tapi untuk apa terlalu memikirkan mati jikalau kita masih hidup. Nikmati waktumu sebaik mungkin. Apple bersyukur bertemu Pipe fox, tidak ada penyesalan. Terasa genggam si gadis padanya, Pipe fox kembali tersipu.


Sebenarnya kemana Jin akan membawa mereka? Jalan ini berbeda dari biasanya, bahkan tidak tergambar dalam denah lokasi. Gadis pirang menengok ke belakang, mereka sudah jauh di luar kawasan EA karena bangunan dan gedung terlihat jelas dari sini. Memasuki hutan, pohon rindang menaungi. Sunyi, tidak ada kicau burung juga serangga, hanya kesejukan dari zat pembakar pepohonan dan sorot mentari.


Langkah terhenti. Mulut Pipe fox celangap, kenapa? Apple pun menatap apa yang rubah itu lihat dan, astaga ... mereka berdiri depan pintu putih raksasa, menjulang dua puluh meter? Atau lebih? Terlalu besar untuk disebut pintu biasa.


"Ini yang melindungi EA?"


"Ma-maksudnya?" Jin tersenyum melihat Apple yang keheranan.


Bukan menjawab pertanyaan, dia malah menunjuk suatu pagoda. Letaknya tidak jauh atau karena pagoda itu tinggi hingga terlihat jelas?


"Di sana tempat tinggal Pure yang mendirikan EA dan menyediakan barang-barang magic untuk kegiatan Exorcism. Dia juga yang membuat gerbang ... ini ada sejarahnya sendiri, kalian mau dengar?"


"Mau!" Cepat Apple menjawab dengan kegirangan. Pipe fox ikut merapat, penasaran dan itu terlihat jelas dari mata yang berbinar-binar. Mereka sungguh manis, ini hari terbaik Jin dalam masa ujiannya.


Mereka duduk sila dengan sang senior bercerita, seperti mendongeng. Kejadian ini belum lama setelah Adam dikeluarkan dari surga. Saat itu bumi berselimut distopia—kehancuran. Manusia memiliki pemimpin dengan kekuatan aneh dan melakukan suatu percobaan illegal atas bantuan para pembesar negara dan pemimpin klan, hingga terlahir anak dari pecahan raga 7 Great Demon of Sin. Bumi akhirnya tertutup oleh api, tetapi tidak seluruh manusia punah.


Mereka yang mengikuti rapat, dalam hati banyak yang tidak menerima keputusan Re-start bumi, tetapi disembunyikan demi kebaikan mereka sendiri dan umat manusia. Kehancuran tiba dan mereka yang berkekuatan besar membuka portal penghubung antara Another World dan dunia manusia. Itulah portal di hadapan mereka—Ark.


Mereka tidak tahu bahwa mengungsikan manusia menuju Another World berdampak buruk. Manusia yang berkekuatan jiwa lemah, akhirnya terkontaminasi. Jiwa termakan oleh kegelapan dan para iblis, disebut Corrupted—Makhluk Another World. Yang selamat hanyalah manusia berkekuatan jiwa besar dan memiliki magic. Sebab itulah dunia ini banyak pengguna sihir.


Para pembesar negara dan pemimpin klan merasa bersalah karena menghadiri rapat tetapi tidak bisa mencegah kemusnahan. Sadar akan dosa, mereka mencoba untuk menebus kesalahan. Membangun organisasi bernama Ghost Guild dan menghabiskan waktu dalam Another World sebagai simbol penyesalan, menganggap tak layak hidup di bumi karena secara tidak langsung mereka merusaknya. Hal ini dipelopori oleh pemimpin Nura—Scarlet—karena dia orang yang paling besar merasa bersalahnya.


Tugas Ghost Guild menangani makhluk Another World dan para iblis yang berhasil masuk ke alam manusia, sebab kesinambungan dua dunia tidak stabil. Hal ini dapat terjadi karena bantuan Pure. Dia memiliki kekuatan melebihi manusia pada umumnya, sama seperti pemimpin yang melakukan percobaan illegal ini. Pure menyegel Ark dan membangun Exorcist Academy, gerbang inilah yang melindungi EA dan dunia manusia secara halus. Walau ternyata tetap masih ada portal kecil terbuka sembarang.


Sebenarnya detail yang terjadi tidak begitu Jin pahami. Namun, tindakan mereka ini disebut-sebut sebagai taubat. Pure membantu mereka dan juga legenda pohon Yggdrasil. Yggdrasil membuat bumi menjadi layak huni setelah kehancuran, menjadi penopang kehidupan dan paru-paru dunia sehingga manusia bisa kembali pada kampung halaman. Tidak ada yang tahu kebenaran Yggdrasil, tak ada juga yang pernah bertemu Pure. Hanya Yukio ... Jin tahu cerita ini darinya.


Apple langsung berdiri, tidak menyangka orang berjulukan Scarlet itu memiliki beban besar. Kenapa dia tidak mengatakan apapun? Mungkin tak mau membuat manusia lebih susah? Benar-benar merasa bersalah, sampai-sampai tidak mau lagi menginjakkan kaki ke dunia manusia. Sungguh hal rumit untuk gadis ini cerna, tetapi mendengar itu semua membuatnya antusias. Apa yang diperbuat ternyata memang demi khalayak umum, sungguh heroik. Kita pasti bisa membuat dunia manusia kembali stabil—pikirnya—harus menyelesaikan lebih banyak tugas. Tidak boleh kalah dengan pak tua bermata merah itu. Dia menggenggam erat kedua tangannya, bersemangat. Jin yang melihat tingkah gadis kecil kembali terkekeh.


Tanpa pikir panjang gadis pirang berlari, ingin cepat-cepat melaksanakan misi yang baru didapat dari guru bimbing. Namun, langkah tersentak setelah melihat kehadiran laki-laki rambut cokelat. "Wah Exons! Ikutin kita dari taman Hexairs ya?"


"Ahahaha, kurang lebih. Tadi aku melihatmu, baru saja ingin menyapa ... sudah pergi."


"Oh, oh! Aku mau cerita, dengar dengar! Aku punya familiar baru loh, namanya Pipe Fox ..."


Gadis itu menarik tangan Exons, cepat berjalan diikuti rubah biru. Sedang Jin tertegun, bagaimana bisa Exons ke sini? Dan ... ada hal penting yang janggal tetapi tidak bisa pemuda pirang ini ingat, apa itu? Terlalu banyak memikirkan teori dan materi hingga lupa hal lain. Kapan ujian ini selesai—keluhnya sampai waktu lama berlalu.


"Vermillion!" Pikirnya pudar mendengar suatu panggilan, orang itu berseragam sama dengan Jin.


"Ada apa? Kenapa buru-buru begitu?"


"Kau susah sekali dicari, haaah, aku sampai keliling akademi tadi."


"Atur napasmu dulu ...."


"Aaah, itu tidak penting! Ujian kita diundur."


"Hah?! Kenapa?" kejut Jin.


"Yukio ... Yukio marah sekali, dia membatalkan seluruh misi dan kelas. Murid yang bertugas sekarang dalam pencarian."


Apa yang terjadi? Kenapa Yukio sebegitu marah sampai-sampai kegiatan dimatikan total? Ada yang tidak beres. Tak lama, Jin ingat baru saja memberikan misi pada gadis pirang. Namun dia sudah pergi, harus di susul.


"Hoi! Mau kemana kau Vermillion?!"


"Mencari murid."


"Kita tidak diizinkan meninggalkan akademi, hanya para guru dan Mizu!"


"Tapi Apple dalam bahaya! Terlebih Mizu ... akh, lepaskan tanganku!"


"Bodoh!" Satu tinju kuat hingga pemuda pirang tersungkur ke tanah. Menatap melas orang yang meninju—teman seangkatan.


"Sadar! Yukio tidak pernah sebegini marah! Pasti ada sesuatu yang sangat berbahaya terjadi hingga mengeluarkan siaga dua. Aku tahu kamu paling baik di antara kita, tapi jangan gegabah! Biar para guru dan Mizu yang menangani, aku tahu kau khawatir tapi pada akhirnya, kau hanya memperlambat kerja mereka!" Ucapannya menusuk sekali, sakit, sangat sakit karena terlampau benar.