REDproject

REDproject
Bab 00.0: The Fallen



"Atas perintah Yang Maha Kuasa! Hancurkan dan bunuh mereka, kesemuanya!"


Suara gemuruh memekakkan. Para pasukan suci bersayap menebas penguasa buana atas titah kepala pasukan, sosok roh suci—Gabriel. Jan merupakan nenek moyang demon, sebab banyak melanggar dan berbuat kerusakan, malaikat membumihanguskan mereka; mengosongkan bumi.


Sosok malaikat dewasa melesat, mengejar wanita Jan terbang tak karuan. Menarik rapier; menikam ceruk leher jenjang. Suara debam dan gemercik menggaung. Tak mengindahkan mayat yang masih mencipratkan cairan amis, Aruel kembali mengirap. Namun, seketika kepakan terhenti paksa hingga helai bulu melayang, mendengar isak bayi dari balik jasad.


Sepertinya, rambut krem panjang serta lebar sayap hitam si wanita efektif menutupi. Ingat dengan tugas, Aruel hendak membunuh bayi tersebut. Seketika hatinya bergetar dan goyah ketika lengan kecil itu merentang, pun mata hijau menatap tak berdosa.


Hati-hati jemari kekar menyentuh pipi si kecil, sungguh indah bagi sang mata biru blue bell. Rambut krem apricot; sepasang sayap demonic bermotif merah. Malaikat tak berpangkat ini berpikiran untuk merawatnya dengan harapan tidak tumbuh seperti Jan pada umumnya—senang berbuat kerusakan—karena akan berada di kalangan malaikat. Akhirnya ia pergi bersama bayi dalam gendongan ke surga. Itu adalah kesalahan ... fatal.


...-oOo-...


"Azazel! Ayo kita pergi! Bermain dan mengejar burung di telaga ya!"


"Ami!" Mendengar suara ajakan, pemuda berlari keluar dengan mengibas sedikit santak hampir terbang. Tak lama, Azazel merangkul perawakan yang lebih tua darinya.


Ami tertawa kecil mendapat tingkah temannya. "Azazel! Serindu itukah?"


"Ami ... engkau sahabatku, tidak tahukah akan perasaanku?" gumam Azazel, mengundang senyum simpul pada laki-laki berambut merah.


"Azazel, kamu sendiri yang mengatakannya, aku adalah sahabatmu, tentu aku tahu ... saudaraku."


Mendengar itu, Azazel tersenyum hingga mata hijau terpejam; makin erat memeluk sang lelaki feminim.


Ami menepuk pelan kepala Azazel, terasa rambut krem tebal di jemari. Tak lama, sosok malaikat dewasa perlahan menghampiri mereka. Gurat sabit jelas terukir melihat tingkah kedua insan.


"Ami hanya engkau dekat dengan Azazel, tolong jaga dia baik-baik. Azazel, anakku, jika engkau ingin pergi bermain, jangan lupa untuk kembali ketika para bidadari menyanyikan lagu mereka untuk memuja dan beribadah pada Yang Maha Suci."


"Baik, tuan Aruel." Ami mengangguk seraya membungkuk hormat, sedangkan Azazel terbang santai mendekati malaikat rambut keabuan, menggenggam pelan tangan kanan sang pria.


"Ayah, aku pasti kembali. Aku tidak pernah lupa untuk beribadah pada Yang Maha Suci." Merentangkan kedua sayap, bulu penyusun berhamburan. Mencium tangan sang Ayah atas keanggunan, mengucap salam dan menjauh bersama Ami.


"Oh, Lucifer! Cahaya fajar, kebanggaanku"


Azazel, Jan yang telah Aruel rawat sejak pembasmian. Tumbuh seperti usia empat belas tahun—umur asli tak diketahui—berwujud bak malaikat umumnya. Ajaran dari sang Ayah; tinggal di surga; berbaur dengan malaikat lain, membuat dia mempelajari segala hal tentang sosok suci dan memiliki kekuatan seperti halnya mereka.


Azazel dan Ami terbang melintas surga, pergi pada telaga dekat gerbang di mana tirta amarta terlampau sejuk. Jika ada seseorang meminum airnya, senantiasa tidak akan haus lagi. Mengepak konstan; saling mengucap salam, suasana surga yang indah; tenang; asri, melebihi segala hal. Belum pernah ada mata melihat, mulut mengucap, dan pikiran membayangkan.


Sampai pada tujuan, teramat luas. Lebih baik disebut samudra dengan gelas melebihi bintang. Pemilik rambut merah terempas angin langsung bermain, berlari mengejar burung penghuni. Berbeda dengan Azazel, memandang bias dirinya. Menyadari tingkah senyap sang sahabat, Ami langsung menepuk pundak membuat si rambut krem terkejut.


"Ada apa Azazel, saudaraku?" Yang dituju menggeleng, lalu bersandar pada pinggir telaga; mencelupkan sebelah tangan; bertopang dagu.


Seketika gelombang rendaman nampak menyebar, membuat air berubah sesaat menjadi biru kelam. Gelas permata, mengambang dan bersinar. Sungguh, telaga bak langit malam gemerling. Ami akhirnya duduk di samping Azazel, kagum dengan apa yang dilihat; sedikit bersiul.


Pemuda itu memecah sunyi, "Ami, apa pendapatmu tentang diriku?"


Ami mematung. Sebenarnya ingin menjawab dengan canda seperti kamu cakap, jika lompat ke kumpulan bidadari, mereka akan berlomba-lomba memeluk dan menciummu tapi melihat raut Azazel, dia memilih bungkam.


"Aku tahu ... beda 'kan?" Mendengar itu sang mata merah mengerdip, diam sejenak kemudian tertawa. Tentu Azazel heran.


"Kenapa berkata seperti itu? Bukankah kamu tahu sendiri, saudaraku, kamu sama saja seperti aku dan yang lain."


"Sama seperti yang Ayah katakan!" sambar Azazel tapi dibalas dengan senyum hangat.


"Aaaah iya, aku tahu, aku tahu. Memang kamu berbeda, lalu? Lihat bayanganmu dan aku dalam air, sama saja."


"Mereka tidak beranggapan seperti itu." Bariton sedih kentara, nampak mata hijau itu sayup.


"Kamu berbeda, semuanya tahu, memangnya kenapa? Kamu terbuat dari api murni tanpa asap dan kami dari cahaya, api pun bercahaya. Kamu juga dijuluki cahaya fajar. Berbeda karena kelebihan, menurutku itu baik."


"Terima kasih.” Lega terukir di wajah, pun mulai mengejam.


"Apa itu yang mengganggu?" Ami membelai rambut krem Azazel.


"Ya." Menengadah dan kelopak pualam menggulung, manik hijau memantulkan kanvas indigo.


Kembali sunyi, Ami ikut memandang langit.


"Hey ....”


"Ya? Kenapa Ami?"


"Bukankah menyenangkan hidup di surga? Tapi, bagaimana rasanya dikeluarkan?" Heran, mata hijau kini menatap dia yang masih mendongak dalam wajah tertutup temaram.


"Seandainya dikeluarkan, aku ...." Azazel merenung, entah kenapa firasat buruk melanda relung hati.


Kesunyian pecah, suatu seruan menggema. Meski jauh, kedua malaikat ini dapat melihat asal bahana pemancar aura berbinar. Mengirap stabil keempat sayap, embus menyisir rambut pirang lebih-lebih jambang kanan panjangnya.


"Jarang sekali Michael memanggil seluruh malaikat."


"Lebih baik kita pergi, saudaraku." Ami kembali mengukir senyum, berharap dapat mengenyahkan raut gusar sang terkasih.


Saat seluruh malaikat berkumpul, mata laksana emerald mengedar pandang.


"Ada apa, saudaraku?"


"Firman Tuhan kalian Yang Maha Mulia lagi Maha Agung ...." Suara lantang berseru, dari dia pemakai kemeja putih dalam rompi zirah ukir rumit atas emas dan perak. Tak lupa sutra pembebat pinggang.


Seketika senyap membumbung. Ami memegang tangan Azazel, mengisyaratkan untuk diam. Pemuda itu mengangguk; memerhatikan satu-satunya yang mengepak ke enam sayap. Bulu safa terhias manik-manik permata hijau, senada dengan mata tajam miliknya.


"Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Agung, akan membuat suatu perkara baru ... menciptakan pemimpin bumi, bangsa manusia, Adam."


Kalimat itu memancing kericuhan, para malaikat adu argumen. Azazel sendiri tidak terima. Berdecak kesal, menggigit bibir bawah dan mengepal jemari. Melempar tatapan menusuk pada malaikat pemilik aura tinggi atau bahkan yang paling tinggi—Gabriel.


Ami mengerti betul perasaan sahabatnya, memberanikan diri berbicara lantang, "Ya Tuhanku, apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang gemar dalam dosa dan senang mengalirkan darah, lagi? Padahal Engkau telah memusnahkan pemimpin bumi (Jan) karena mereka berbuat kerusakan. Jika seperti itu ... kenapa? Kami malaikat, jauh lebih baik daripada mereka (manusia)."


Beberapa malaikat langsung berteriak, menyetujui. Sedangkan Azazel terkejut hingga menarik kasar pundak Ami. Namun, sang rambut merah justru mengukir senyum simpul.


"Kenapa? Seharusnya engkau tidak perlu berkata ... tak perlu iba. Aku tahu, seluruh umatku dimusnahkan dan diganti begitu saja. Tapi, Ami, engkau satu-satunya yang mengerti aku setelah Ayah, aku takut sesuatu terjadi padamu," rintih Azazel tak karuan.


"Lucifer, kamu adalah malaikat cakap lagi baik, percampuran dua makhluk. Kamu sudah kuanggap sebagai adik. Ini bukan demi kepentinganmu, tapi untukku juga. Lagi pula jika sesuatu terjadi padaku, itu tidak begitu berarti," balas Ami dengan kekeh terpaksa, menepuk-nepuk rambut krem tebal sang pemuda. Azazel justru menunduk, enggan menatap mata merah itu, seperti ketidak terimaan yang dipendam.


Saat kericuhan, mereka yang patuh memisahkan diri dari pemrotes. Kecuali Azazel, betah mematung. Karena itu Aruel dapat menemukan mereka. Namun, pria ini tidak bisa mendekat. Bagai tak mengizinkan menghampiri pelanggar, para malaikat penuh sesak bak barikade.


Gabriel yang masih terbang stabil, mulai menyipitkan mata. "Wahai para pembantah, Tuhan kalian Yang Maha Agung jauh lebih tahu daripada kalian. Kalian ... jikalau merasa lebih baik dari sesuatu yang Tuhanmu putuskan, maka turunlah kesemuanya menjadi manusia dan kembalilah ke surga ini, jika kalian memang orang-orang yang benar."


Pedang serupa excalibur di tarik dalam tahta perak. Seketika seluruh malaikat yang memprotes kehilangan sayap, termasuk Ami. Jatuh bagai kaki tak menapak.


"Ami! Amiiiiii!"


Tangisnya pecah sampai-sampai wajah memerah, lekat melihat kemana sang sahabat terenggut gravitasi. Ibarat diiris pisau semu, perih kehilangan orang terkasih. Senyum terakhirnya yang masam amat membuat pilu bak jantung di remas kuat, napas ikut memburu. Tanpa pikir panjang sang ayah angkat mendorong seluruh yang menghalangi; merangkul Azaze demi menenangkan.


"Yang menentang Tuhan adalah golongan merugi. Malaikat tercipta untuk selalu tunduk dan patuh. Surga ini tidak memerlukan seseorang dengan penyakit hati." Melihat hal memilukan, sang kepala malaikat mendengkus. Berharap ini bisa menjadi suatu pelajaran.


...-oOo-...


Azazel lebih menyendiri, tak pernah keluar kecuali beribadah pada Tuhan. Sekarang, pemuda itu duduk bertongkat lutut dengan sayap ia rangkul ke seluruh tubuh; menutupi diri.


"Azazel ...." Aruel mencoba menghibur, menyolek pelan sayap putih sang anak.


"Ayah, biarkan aku sendiri." Azazel merentangkan sayap, merubah posisi menjadi memeluk lutut, pun wajah merunduk dalam. Aneh, Aruel justru tertawa; menepuk-nepuk sang rambut krem tebal.


"Ayaaah, hentikan! Aku bukan anak kecil lagi!" Merengek-rengek dan menggelengkan kepala, memancing senyum lebar sang ayah.


"Aaaah, anakku sang bintang fajar sudah tumbuh dan makin tampan seperti ayahnya ya, hm hm hm," ucap Aruel dalam gelagat tengil. Tak khayal, waktu memang jauh berlalu, Azazel sudah tumbuh dewasa.


Tak mengindahkan, Azazel bergegas menarik langkah. Sontak Aruel lompat, memeluk anak angkatnya dari belakang.


"Aaaaah Lucifer, kenapa begitu? Sudah tidak sayang pada ayahmu lagi?" Kalimat itu membuat Azazel tertegun, menatap lamat pada mata biru blue bell.


"Bu-bukan begitu Ayah! Hanya saja, aku ...." Bariton gemetar seiring semburat merah pada pipi, menggaruk tengkuk. Jelas sekali kalau Azazel tersipu, lugu.


"Anakku, Ayah tidak ingin melihat engkau terus bersedih, ini bukanlah akhir dari segalanya. Ayah akan selalu bersamamu." Aruel tersenyum hangat.


"Umh, iya. Lagi pula, Ayah ... tanpa engkau, aku mungkin tidak akan hidup dan bersamamu di sini. Walaupun keadaan tertekan, surga ini dipenuhi dengan kebaikan, terlebih aku bisa bersamamu, Ayah." Azazel tersenyum tulus.


Rasa bangga mekar. Aruel memeluk anaknya, erat.


Tak lama, khidmat pecah dengan panggilan Michael. Kali ini mereka mendatangi itu bersama-sama.


Saat berkumpul, Gabriel tak lagi terbang di hadapan mereka seperti sebelumnya. Ia mengawal seseorang yang sangat asing, berdiri di sisi singgasana Tuhan mereka Yang Maha Agung.


"Tuhan semesta alam, Yang Maha Mulia lagi Maha Suci berfirman: makhluk yang kalian lihat adalah Adam, sujudlah kalian (penghormatan) pada Adam, ke semuanya."


Atas perintah yang diturunkan, seluruh malaikat patuh kecuali Azazel. Kata-kata itu membuat telinganya panas. Lantas makhluk campuran ini berdecak kesal seraya membuang muka.


"The Heavenly Seraph, Lucifer! Apa yang menghalangimu untuk memenuhi titah Tuhan?" Aruel terkejut mendengar bentakan Gabriel.


Dalam hati, ingin sekali meminta anaknya ikut tunduk. Namun, di hadapan Tuhan, dia tidak berani melakukan hal lain yang tak diperintahkan. Seluruh tubuh Aruel bergetar.


Azazel tak acuh, berseringai tajam. "Hah, bersujud? Untuk apa? Aku adalah makhluk dari api murni sedangkan dia (Adam) terbuat dari tanah, kami sangat berbeda derajatnya. Bahkan aku sudah beribadah padamu selama lebih dari seribu tahun, wahai Tuhanku!"


Kejadian sebelumnya memupuk kebencian; lupa siapa yang memerintah; tenggelam dalam kesombongan. Azazel penuh gejolak emosi, bahkan mata hijau berubah menjadi merah bak hati.


"Tidak! Anakku Azazel!"


"Engkau telah memancing murka Tuhan semesta alam! Surga suci tidak memerlukan makhluk dengan penyakit hati! Iblis, surga ini memiliki aturan! Keluarlah engkau dari surga!"


Kalimat memekakkan memancing murka, meluap sudah tak terkendali. Angel Halo perlahan luluh, pecah menjadi tanduk laksana banteng. Kini lamina hitam membebat tubuh bak menyatu dengan kulit, diikuti jemari lentik berganti cakar besar. Pinggang terikat kain tebal berwarna merah pekat, seperti bentuk seruan peperangan.


"Aku ... tak akan memaafkan kalian! Seandainya dia (Adam) tidak pernah diciptakan!" Azazel berteriak dan menggeram, mengepak enam lambang kekuasaan. Dua sayap Alas megah tanda pemberontakkan; pasang sayap jelaga ukir merah; dua sayap campuran.


Meski satu kibasan, para malaikat terempas sudah. Namun, 7 Angels of Heavenly Virtues melindungi Adam. Hal tersebut hanya meniup rambut mereka.


"Seharusnya kami membunuhmu sebelum menjadi sebegini kuat. Lucifer! Karena engkau membuat kerusakan di surga dan telah membantah, sekali lagi, keluarlah! Tapi, Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemaaf memberimu kesempatan untuk bertaubat ... bersujud pada Adam!" Ucapan Gabriel justru membuat Azazel tertawa dan menyeringai jahat.


Mata merah darah bersinar, memandang sinis pada Adam sebelum terhalang oleh Michael. "Aku tidak akan pernah bersujud pada Adam, sampai kapan pun juga! Wahai Tuhanku, dengan kasihmu, aku tidak akan bertaubat tapi buatlah hidupku abadi! Karena Engkau telah mengeluarkanku, maka aku bersumpah ... membuat Adam dan keturunannya berada dalam kerusakan dan kesengsaraan, selamanya!"


Azazel turun dari surga dengan congkak, menengadah dalam dendam teramat. Di bumi, sebagai Jan—nenek moyang iblis—dan memiliki kekuatan malaikat dari surga serta hidup abadi, Pride mulai membangun pasukan; membalaskan kebencian. Dia lebih dikenal sebagai Lucifer, Leader of The Fallen and Hell.