
Sungguh sesuatu di luar perkiraan terjadi saat ini, kenapa akademi begitu ramai? Banyak sekali murid hilir-mudik. Mereka ada yang berseragam sama ada pula mengenakan baju bebas. Para murid berseragam pastinya sudah lulus kelas Page. Ruang tunggu bising dengan bincang para murid, tertawa; saling argumen; mengobrol ringan. Ada yang berkelompok; berpasangan; mereka akrab satu sama lain. Bangku panjang ruang ini hampir penuh.
Apple terkejut melihat orang sebegini banyak, bukan pemandangan biasa di EA. Lorong sepi sudah penuh oleh manusia, jongkok; bersandar; berjalan. Banyak siswa atau siswi memang kesempatan emas untuk mendapatkan lebih banyak teman, tetapi tidak, Apple dibuat pusing dengan keadaan seperti ini. Kadang berada di kerumunan banyak orang membuatmu ingin berlari, jelas sekali dalam hati si gadis ingin bertemu orang yang ia kenal daripada mencari teman baru. Rasanya asing, seperti bukan di rumah.
Apple langsung mengambil seribu langkah, ingin untuk kembali ke dalam kamarnya atau pergi ke tempat sepi. Ternyata murid EA sangat banyak dan benar apa kata Yukio—EA sepi karena murid menjalankan misi atau sekedar istirahat di kamar masing-masing. Tapi sekarang, kenapa para murid sangat ramai? Kenapa para guru menyuruh mereka untuk tetap dalam akademi? Kenapa kegiatan dimatikan total? Bukankah akan berbahaya jika orang di luar sana ....
"Apple!" Sontak langkah terhenti mendapati seseorang memanggil dirinya. Suara ini, suara yang Apple kenali. Bergegas mata biru menelaah demi mencari sumber suara.
Terlalu banyak orang tak dikenal menghalangi, sulit sekali mencari. Apple pusing jika terus dalam situasi seperti ini. Suara mereka riuh menusuk telinga. Raga si gadis kecil pun goyah. Hampir saja ia menabrak lantai jikalau tidak ada kedua tangan kuat menopang badannya. Apple terkejut mendapati laki-laki itu memeluknya sekarang.
"Kamu tidak apa-apa?"
"A-aah, Exons?!" Exons tersenyum lembut hingga mata cokelat terpejam diiringi belaian pada rambut pirang si gadis.
Apa-apaan ini, bukankah laki-laki itu pemalu? Tapi kenapa sekarang .... Cepat Apple mendorong Exons, jelas sekali pipi gadis ini mulai memerah. Tersipu, Apple membuang muka tetapi jemari lentik masih lekat pada kedua lengan jaket milik Exons.
"Mau aku antar ke ruang rawat?"
"Tidak! Tidak perlu, cuma ... eh, kenapa kamu bisa santai dalam kondisi seperti ini?"
"Ah, aku juga tidak tahu tapi melihatmu seperti orang panik aku langsung datang. Entah kenapa kalau ramai terus melihat kamu seperti itu ... rasanya ingin melindungi." Menyengir kuda diiringi mengaruk kepala yang tak gatal, lugu sekali laki-laki satu ini.
Apple terdiam, tak lama ia menyilangkan tangan dan membuang muka. Sepertinya gadis kecil tidak mau terlihat malu dan mencoba tetap tegar, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kebul wajahnya.
"Kamu benar tidak apa-apa? Mau mencari tempat yang sepi?" Exons penuh rasa bingung; khawatir; menanarkan gadis pirang di depan.
Kepala menggeleng cepat dan Apple membungkam mulut dengan kedua tangan. Kenapa rasanya gugup sekali? Sebab di tengah banyak orang kah? Lebih baik mengikuti saran Exons untuk pergi. Mereka pun mulai menarik langkah.
Udara memang dingin, tapi tidak membuat jenuh si gadis pirang untuk menikmati panorama pepohonan nan rimbun. Jalan ini begitu sunyi, tidak ada serangga ataupun decit burung. Hingga ia menyadari, sebenarnya ke mana laki-laki di depan akan mengajaknya pergi? Karena gedung akademi jelas sekali terlihat jauh di belakang. Tunggu, jalan ini ....
"Kita pergi ke mana?" Exons tidak menjawab, ia terus melangkah dengan dua tangan ia sematkan dalam kantong jaket. Hening, yang dapat Apple lihat hanyalah punggung si laki-laki dan rambut cokelatnya.
"Exons pernah pergi keluar akademi?"
"Tidak pernah."
"L-loh? Walau untuk menjalankan misi?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Apple, apa kamu sudah menemukan jawaban dari masa lalumu?"
"Belum ...."
"Aku ... sudah."
Langkah tersentak sebab Exons membalik badan dengan seulas senyum. Sontak tubuh Apple terhuyung dan jatuh dengan dua mata biru bulat melihat ke depan. "... Tidak."
...-oOo-...
"Bisa diulang?"
Perhatian seluruh penghuni ruang di atas bangku mengarah pada mata biru tua seorang pria yang mengesah. Tegang sekali suasana di ruang rapat ini. Kini Yukio bersandar pada bangku hitam empuk dengan dua tangan di atas meja lonjong. Ia menengadahkan kepala, apa maksud pria ini? Seluruh guru EA menatap gelisah pada Yukio, begitu pula Xavier. Dari meja lonjong ini, si guru mesum duduk berhadapan dengan Yukio, apakah dia orang penting ke dua di akademi? Tidak boleh meremehkan si pria kekar pemilik mata emas.
"Hei mata empat, kamu yakin?" Kata-kata dari mulut Xavier seperti sebuah ejekan, tetapi tidak, Xavier justru menatap tegas kepada Yukio dengan kerut di kening.
"Sebenarnya tidak begitu yakin, tapi---" Belum nyelesaikan ucap, Yukio bangkit dari duduknya hingga bangku tempat ia bersandar terjatuh. Langkah sepatu nyaring di ruang sunyi ini, tergesa-gesa Yukio berjalan sampai-sampai jas hitamnya mengempar.
Langkah terhenti setelah lengannya ditarik paksa oleh Xavier. Beruntung sekali Xavier duduk di dekat pintu hingga dapat menghalau Yukio. Hanya si pria bermata emas laksana kucing ini yang mampu dan bisa menghentikan Yukio, guru lain hanya mengukir gelisah, mereka tidak berani berhadapan langsung dengan sang Paladin.
"Mau kemana?"
Yukio mengeram, jelas sekali ia tambah marah dengan menatap sinis pada Xavier. Cepat ia menarik lengannya dari genggaman kekar, menyisir rambut cokelat tua alih-alih hitam menggunakan jemari. Yukio mencoba untuk tetap tenang, menarik napas dalam-dalam dan sesekali memperbaiki posisi kacamata frame hitamnya.
"Jaga anak-anak ... jangan tinggalkan akademi!" Tanpa memakan waktu Yukio melesat dari pandangan mereka, seperti seorang pencuri hendak kabur dari tangkapan. Derap sol jelas sekali memenuhi lorong, hingga teriakan memecah irama tersebut.
"Sadar umur, hoi orang tua!"
...-oOo-...
Deram suara laki-laki itu begitu keras. Exons meronta-ronta ibarat sesuatu akan meledak keluar dari tubuhnya. Ia menjambak rambut cokelatnya dengan kuat hingga seluruh urat menampakkan diri. Teriakan Exons memupuk teror dalam hati si gadis, memicu untuk menutup erat kedua telinga memakai tangan. Takut yang berlebih membuat dada sesak dan muka mulai memanas, rasanya ingin menangis. Hingga perut Exons robek akibat dorongan dari cakar raksasa dalam tubuhnya.
Bagaimana ini bisa terjadi, temannya adalah ... dia Corrupted. Apa ini penjelasan dari kekosongan dalam hati Exons? Inikah sebabnya Exons tidak memiliki ingatan? Ingatannya ... ia duduk bersandar di bawah pohon mati yang mengering. Kedua tangan berlumuran darah, tidak bisa menggerakkan tubuh, kepala sangat sakit hingga tidak bisa berpikir. Itukah ritualnya? Tapi Exons orang baik, dia teman pertama seangkatan ... kenapa? Kenapa kenapa kenapa ....
Syok, tubuh Apple bergetar heboh. Tidak dapat bergerak; tidak berani melihat, si gadis pirang hanya menunduk dengan mencengkeram kepala sendiri. Ingatan mengulang kejadian damai dengan laki-laki itu dalam jiwa yang memberontak, menolak kenyataan di hadapan mata. Seketika kembali teringat juga ... hancurnya keluarga Luchifenian.
Sang makhluk amat marah terbukti dari auman nan menggelegar, liur deras menetes dari tiap sela taring. Namun sasarannya bukan si gadis Luchifenian, Chimera langsung memutar balik. Bertubi-tubi serangan diterima oleh Ark, jika seperti itu maka gerbang Ark akan hancur.
Sebagai seorang Exorcist, Apple harus sigap dan menangani hal ini sekuat tenaga. Tidak, ia tak mampu. Badannya terus bergetar; mata membulat; Apple sungguh tidak terima dengan kondisinya sekarang. Hingga dalam hati menanyakan apa arti dari hidupnya? Kenapa ia harus mengalami hal ini? Satu persatu ia kehilangan orang terkasih. RedStar ... kini Exons sang sahabat semu.
Tak lama gemuruh terdengar seiringan suatu ledakan akibat hancurnya Ark dan ngaum Chimera. Kanvas langit nampak kelabu. Tak ada gurat biru pagi pun jingga senja. Arak-arakan kumulus awan tak nampak pula, hanya pusaran magenta bersama kilatan petir—lurus dari cahaya menyorot milik reruntuhan Ark.
"Hiah!"
Pria rambut cokelat tua pengguna replika Yukianesa dan Honjo Masamune melaju. Mengayunkan dua bilah pedangnya tetapi tertahan tanduk kambing Chimera. Ular yang menjadi bagian ekor memecut Yukio, membuatnya terpental hebat hingga menumbangkan lima pohon. Pria itu mengumpat dalam hati ketika mulai memuntahkan darah. Telat, dia datang sungguh telat, andai saja langkahnya tidak tertahan ....
Yukio dapat merasakan tekanan arwah, sangat mudah menemukan dan mencari seseorang. Hanya dia pemilik kemampuan ini. Hal itu terbukti ketika ia tahu pemuda Vermillion terus menunggu di balik pintu saat Apple pertama kali melakukan pendaftaran. Serta di suatu waktu sebelum Yukio naik pitan ..... Pria itu kesal, andai saja dia selalu cepat bertindak saat merasa suatu tekanan besar.
"Mille invitare!" Tiga ekor naga terbentuk dari selembar kertas mantra air siap menyerang Chimera, tapi belum sempat seratus meter bergerak, naga-naga tersebut mencair karena di saat yang hampir bersamaan kepala singanya menghembuskan napas api. Yukio berdecak kesal sambil menyeka darah dari bibir tegasnya.
Bersenjatakan tanduk kembar nan kokoh, Chimera tak kenal lelah menerjang. Menghancurkan pohon-pohon di sekitar. Yukio melakukan suatu gerak percepatan ketika bola biru teal-nya melihat si gadis pirang. Gesit merangkul diikuti hunusan Yukianesa pencipta lingkararan sihir di ujung, binar biru terpantul pada kacamata Yukio.
"Seri favet, fortuna esset invalida reliquis nigris!" Gelung air tercipta guna meredam napas jago merah kepala singa.
Musuh tak hanya sang singa. Bola air samar-samar ungu melesak cepat dari mulut ular, mengenai pohon di samping Yukio seperti suatu gertakan. Mata pria itu terbelalak tatkala pohon yang terkena cairan ular langsung mengering dan mati, racun ular tersebut sangat mematikan. Ekor Chimera berdesis, memuntahkan bola racun lebih banyak lagi ke arah sang Paladin.
Yukio tidak dapat bergerak bebas karena bersikeras melindungi Apple. Hingga dirangkul eratlah gadis itu, merelakan tubuh sebagai perisai. Salah satu cairan samar ungu berbahaya tadi mengenai sedikit baju sang Paladin hingga berlubang. Bahkan cekungannya mampu menembus tanah. Napas berat dan degub jantung jelas sekali terdengar oleh gadis kecil dalam pelukan. Kenapa Yukio merelakan diri?
Chimera kini menyerang dengan cakarnya, brutal. Susah payah Yukio menghindari setiap cakaran yang dilayangkan Chimera sambil membopong Apple. Luka sayat menganga di permukaan bumi.
Lengkingan menggaung, raung tak suka turut mengudara. Yukio berdiri tegas, memastikan gadis kecil di belakang akan selalu aman.
Sebotol air suci membasuh bilah tajam Yukianesa dan Honjo Masamune. Bibir tegas si pria merapal kalimat suci. Yukio mulai meliuk anggun. Denting besi dan gemercik api saling beradu dalam gesekan tanduk kambing raksasa. Tak sedikit dedaunan bak labirin turut tertebas, tanggal dari induknya dan berakhir mencumbu tanah berumput.
"Scuto faciunt glacies!" Tembok es muncul tepat di depan Yukio guna menghalau semburan api Chimera.
Desing bilah baja kembali mengudara, disusul bunyi ledakan besar menyusup memekakkan telinga. Semilir bayu membawa serta aroma anyir darah. Pertahanan Yukio hancur oleh tanduk kambing yang menyeruduk, dipentalkan Yukio ke atas lalu ekor ular memukulnya keras bagai permainan baseball. Lepas sudah dua bilah pedang dari kuasa.
Suara benturan antara punggung Yukio dengan pohon besar terdengar jelas. Luka merajai tubuhnya, ternodailah rambut cokelat tua dengan darah. Tak diberi ampun, belum sempat Yukio menghirup oksigen dalam, dia sudah didorong. Tubuhnya terhimpit batu dan ubun-ubun kepala kambing, kedua tangannya tertahan tanduk kembar lalu mulut ular yang menjadi ekor makhluk tersebut sudah terbuka lebar. Bau segar cairan pengundang nyeri mengalir dari tubuhnya, semakin mengundang selera makan Chimera.
"C-crudae putri fluxerunt porta ... vacuum redde me, lenem manum ad manum .... fores aperire." Susah payah Yukio merapal, matanya terpejam tatkala mulut ular semakin mendekat.
Tubuh Chimera terjerembap jauh karena tendangan samping oleh iblis wajah barong yang sama besar dengan makhluk legendaris itu. Yukio terbatuk-batuk dalam napas tak teratur, rongga dada kini bisa kembali kembang kempis memompa oksigen ke seluruh tubuh. Yamantaka menggantikan Yukio bertarung melawan Chimera. Sekuat tenaga Yamantaka melawan tubuh Chimera, peratungan dua raksasa cukup mengerikan untuk dilihat. Tiga puluh dua tangannya jelas sangat membantu menaklukan makhluk mitologis itu.
Pria yang terlihat baya tersebut menggunakan sedikit waktunya untuk mengumpulkan sisa energi. Menggunakan kekuatan Doctor untuk menyembuhkan luka, tak lupa meminum cairan merah dalam botol kecil dari advance bag yang berbeda dan cukup unik. Tas kecil laksana saku itu terkalungkan di dua paha Yukio. Mata biru teal memandang sekeliling, alangka rusak tempat ini, terlebih ... Ark.
Dalam benaknya, mengapa Chimera bisa masuk ke dalam akademi? Sebelum Ark hancur tentu akademi ini terlindung kuat oleh sihir, siapa pula menghancurkan gerbang besar ini? Apple? Tidak mungkin, gadis kecil itu begitu terguncang sampai-sampai terbujur kaku di atas tanah. Apakah orang dalam? Karena sungguh aneh, Makhluk Another World ini cukup pintar untuk sejenisnya. Bahkan Yamantaka pun tumbang. Dia seperti mengerti seluk beluk kemampuan dan kekuatan Exorcism, ibarat belajar di akademi ini ....
Waktunya hampir habis. Cepat Yukio berganti senjata, menukar dua bilah pedang dengan mengambil sebuah magasin dan menarik keluar pistol kesayangan dari dua kantung di paha, kemudian menggenggamnya—Smith & Wesson 500 Magnum.
Memejamkan mata; menarik napas; mencoba merasakan detak jantung, Yukio mencoba fokus; tak membiarkan sesuatu mendistraksi. Seketika semuanya menjadi bergerak pelan di mata Yukio, tidak ada gerakan luput. Tidak pula gerakan Chimera yang mendekati dirinya.
Dor!
Chimera tersentak begitu mata kiri hancur oleh peluru.
Setelah itu, suara letusan senjata api begitu ramai. Kedua mata Yukio berubah, pola yang ada di tengah matanya membentuk sebuah simbol perpaduan salib dan crosshair.
Menembak; mengganti magasin; mengokang; kemudian menembak lagi. Ini ia lakukan berkali-kali dengan sangat cepat. Tanpa berkedip, tanpa gerakan sia-sia. Terus begitu, berulang-ulang hingga makhluk di depan mengeram, terlihat ragu tuk mendekat.
Tidak memberi celah dan ampun, pistol Yukio memuntahkan timah panas tepat di kepala Chimera. Sungguh, selongsong peluru laksana hujan di bawah lengan Yukio, bunyi ibarat denting lonceng.
Yukio menekan pelatuk pistol tapi tak terjadi apa-apa. Amunisi telah habis, juga perasaan euforia. Kalau tidak ada yang bisa ditembakkan kemampuannya itu tidak bisa digunakan. Memang mengecewakan, tetapi Yukio tetaplah manusia biasa terlepas dari jabatan Paladin.
Longlongan buas menusuk-nusuk telinga. Makhluk itu makin gila setelah tembakan terhenti, terlebih kedua matanya hancur seiring kepala yang rusak. Pria ini menyeringai dengan mata biru sesekali melirik ke arah gadis kecil. Asal anak itu selamat-pikirnya, mati pun bukan masalah.
"Guru!" Tapi apa yang terjadi tidak sesuai perkiraan Yukio, Apple justru berlari cepat dan memeluk tubuh lusuhnya. Jelas sekali gadis ini menangis, isaknya kencang. Apa yang terjadi ... ah, dia tidak mau kehilangan. Yukio pun memeluk tubuh Apple. Dia bisa saja kabur tetapi, Chimera hanya beranjak satu meter dari mereka.
Mengapa ....
Suara denging lempeng tipis memotong daging menggelitik telinga. Dalam satu kedipan mata Chimera sudah habis tercincang sampai-sampai darah dan daging menghujani mereka. Balur merah menodai hamparan hijau.
Apa-apaan ini, kekuatannya dahsyat. Yukio saja mengalami kesulitan untuk membungkam sang makhluk legendaris, tetapi pemuda itu mudah sekali menaklukkannya.
"Kau ... menunjukan diri." Tidak, justru seringai tersimpul di wajah Yukio.
Menarik jas hitam pembebat tubuhnya, pria mata biru tak berhenti terkekeh. Yukio tidak kalah hebat, dalam waktu sesingkat itu tubuh padatnya sudah bebas dari luka-luka. Hanya bekas darah dan tanah pada jas lusuh yang kini dia lempar. Tentu menjadi seorang Paladin dan menguasai semua Job Exorcism menguntungkannya dalam pertarungan. Tetapi untuk apa? Apakah dia orang yang selama ini Yukio tunggu? Karena orang itu ....
"RED ... star?"