REDproject

REDproject
Bab 04: Conventu Nostro



Lelah sisa kemarin belum terobati. Keheningan terusik karena ketukan di jendela. Tatapan kabur melihat ke sumber suara, pagi ini cahaya begitu menyilaukan. Jendela terbuka hingga silir menusuk raga. Siluet pemuda terlihat, kedua sayap hitamnya terentang. Malaikat? Apa si gadis sudah mati? Singkat sekali kisahnya. Hingga suara lembut terdengar—memanggil pelan—tapi tidak dihiraukan.


"Apple!"


"E-eeh?!"


Si gadis terkejut, belum sempat nyawa terkumpul dan fokus terpusat, Jin sudah membentak. Kejut bukan alang kepalang sampai-sampai kepala membentur tembok, tawa terdengar. Usil sekali pemuda pirang ini.


"Sudah pagi, bangun! Jam sembilan tolong datang ke taman tengah, sudah ya!"


"A-aaah sakit, eeh, jangan pergi!"


Jin mengirap kedua sayap, cepat seperti terburu-buru. Dengan rasa pusing yang masih mencengkeram si gadis berlari ke arah jendela, menelaah sekitar. Percuma, pemuda itu sudah pergi, ia hanya bisa mengumpat dalam hati. Mata sebiru pagi ini melirik jam kayu dekat pintu. Masih lama waktu perjanjian yang Vermillion tentukan.


Berjalan terhuyung-huyung lantaran bangun terkejut, ditambah kepala membentur tembok. Sial, sekarang menabrak pintu kamar mandi. Membasuh diri mungkin bisa mengobati—pikir Apple.


Rasa kesal tidak terobati begitu saja hingga ia memutuskan untuk mencari angin. Sebelum keluar kamar, Apple melirik kotak yang tertutup rapat di meja. Peristiwa kemarin masih belum ia lupakan, sebenarnya buku apa itu? Entah mengapa hati ini gundah.


Sebenarnya ia tidak tahu pergi kemana dan harus apa, hanya berjalan. Apa akan tersesat? Kemarin melihat pemuda ....


Si gadis tersandung, terlalu tenggelam dalam lamunan hingga tidak memerhatikan jalan. Baik, ini hari sial. Apple mencoba bangkit dan beruntung ada orang menawarkan pertolongan. Terasa nostalgia tapi kali ini ia tidak mengenali siapa dia. Bergaun lolita perpaduan warna merah-hitam dengan bandana manis senada, bertengger kokoh menghias rambut jelaga.


"Lebih serius dan berhati-hati ketika berjalan, jangan linglung. Itu akan menyusahkanmu dalam pertarungan," ketus sang hawa, enggan berhenti apalagi berotasi guna menghadap gadis pirang di balik punggung. Apple hanya bisa membungkukkan badan ke arahnya, berterima kasih dalam sunyi.


Menemui perempuan itu membuat Apple teringat kejadiannya kemarin. Dia memutuskan untuk pergi ke ruang tunggu. Si gadis memilih sepotong roti lapis karena uang tak banyak, hanya seribu Gil dari kotak pemberian Yukio. Di pojok ada denah lokasi, ternyata akademi ini benar-benar luas. Taman bernama Hexairs mungkin bagus melenyapkan kegundahan hati atau sekedar menikmati sepotong roti lapis. Letaknya juga tak jauh, jikalau gadis pirang tersesat bisa kembali ke tempat ini.


Memang taman Hexairs adalah pilihan bagus. Dalam naungan kanopi hijau pepohonan, menghirup bau basah para tumbuhan. Duduk di atas bangku besi. Rasanya, tiap gigit roti lapis menghanyutkan dalam ketenangan. Mata memandang ke seluruh penjuru, mentari tersenyum dengan sinar yang cantik di ufuk timur, semakin mendamaikan hati. Hingga sosok pemuda bersandar di belakang pohon merenggut perhatian.


Barangkali itu laki-laki kemarin. Apa dia orang yang ramah? Apa dia mau berteman? Saat jaraknya dengan si laki-laki sudah hampir dekat, keduanya tertegun. Mungkin tidak menyangka kehadiran satu sama lain.


"Eeeh, Maaf aku cuma---"


"Aku tidak bermaksud---"


Kedua insan berbicara dan berhenti di waktu yang sama, canggung. Malu-malu ketika berhadapan dengan Apple, terbukti tidak berani menatap balik meski dia terlihat lebih tua.


"Di sini sepi, aku jarang bertemu murid lain. Jadi, apa kamu mau berteman denganku?" Tanpa basa-basi Apple mengajukan tangan kanan dengan terseyum ramah.


Gerak-geriknya seperti jarang atau bahkan tidak pernah bersama seorang perempuan. "E-exons, panggil aku Exons."


"Salam kenal Exons, aku Apple! Mau duduk di sana?" Seketika Exons berjabat tangan, Apple menggenggamnya erat dan menarik si laki-laki menuju gubuk di kiri taman.


Apple menikmati suasana tetapi tidak dengan dia. Exons terus menunduk dan masih tersipu. Siapa juga bertindak blak-blakan ketika baru bertemu lawan jenis? Mungkin Apple senang mendapat teman baru atau ingin melupakan paginya yang buruk.


"Berapa lama di sini? Sudah kelas apa?"Apple angkat bicara, menepis rikuh yang mulai merambat. Bersandar dengan tumpuan tangan, ingin menikmati waktu. Mata biru memandang langit berwarna senada.


Exons melihat si gadis sesaat lalu ikut menengadah. "Belum begitu lama, Page 0."


"Ah, iya? Sama dong! Aku juga baru, akhirnya ada teman se-angkatan."


"Sebenarnya a-aku tidak pintar mencari teman dan lebih suka sendiri, jadi ... ehehehe."


"Huh? Tidak apa-apa, semua orang pada awalnya seperti itu. Tapi kamu akan terbiasa, apa lagi kata Guru Yukio, kita adalah keluarga."


"... Ya."


Senyumnya penuh keceriaan, seperti mentari yang menghangatkan jari. Kedua insan mulai bercengkerama demi memenuhi kebutuhan saling mengenal. Exons sedikit pemalu, tapi dia orang baik seperti penghuni EA lainnya, hanya saja terasa kehampaan jauh di dalam hati laki-laki yang mata cokelatnya kini terus tertuju pada Apple.


Hingga mereka sampai pada pembicaraan bertopik keluarga, gerakan bibir Exons terhenti. Ia mencengkeram kepala seolah-olah paku terus memalu. Terlihat amat kesakitan dan tentu Apple khawatir, bingung harus berbuat apa ditambah cairan merah menetes dari telinga kanannya.


Cepat-cepat si gadis mengambil sapu tangan dari saku baju, ingin membersihkan darah yang tak henti mengalir. Sigap Exons menahan tangan Apple diiringi senyum di wajah memucat, seperti berkata ini bukan apa-apa. Laki-laki itu menutup erat telinga kanan.


"Maaf jika aku membuatmu khawatir. Setiap aku mencoba mengingat masa lalu kepala seolah-olah ingin pecah dan aku mendengar suara aneh, membuat pusing."


"A-aah, maaf aku tidak tahu ...."


"Tidak apa-apa, bukan salahmu."


"Kalau kamu tidak bisa mengingat masa lalu, berarti kamu---"


"Amnesia ... sudah terbiasa."


Gurat sabit tidak pupus dari wajah si laki-laki. Apple terkejut mendengar apa yang Exons katakan hingga ia bungkam. Senyumnya pasti terpaksa, siapa tahan dengan kondisi seperti itu? Pasti bohong.


"Aku tidak ingat apapun. Masa lalu, keluarga, bahkan nama sendiri ... hanya Exons dan aku duduk bersandar di bawah pohon mati yang mengering. Kedua tangan berlumuran darah, tidak bisa menggerakkan tubuh, kepalaku sangat sakit hingga tidak bisa berpikir. Aku mendengar suara, setelah itu semuanya menjadi hitam. Hanya itu yang kuingat."


Si gadis mendadak membusungkan badan dengan wajah serius. Exons beringsut dan kembali tersipu, kaget dengan gerakan si gadis pirang yang tiba-tiba atau memang dia pemalu.


"Bagaimana dengan Memoar Book? Apa isinya?"


"Memoar book? Y-ya saat datang ke sini aku sudah diberitahu ... aku tidak menemukan buku itu dalam kotak yang mereka berikan."


Walau gugup, wajah tidak menunjukkan berbohong. Memang dan pasti, ada yang janggal. Terlebih Memoar Book gadis Luchifenian tidak normal dan laki-laki amnesia ini tak memiliki bukunya sendiri. Meski memeriksa isi berkali-kali, tetap saja hanya alat Exorcism pemula; satu buku peraturan; satu buku cerita kuno bertuliskan Story about "RED". Itu Memoar Book miliknya? Apa benar berhubungan dengan masa lalu? Ini berlaku untuk semua atau Apple saja?


"Apa kamu tidak merasa aneh pada EA?" Baru saja si gadis berpikir demikian, Exons sudah membuka mulut. "Setiap yang ada di EA, seakan-akan berhubungan dengan kehidupan kita. Bisa saja kamu menemukan sesuatu berkaitan dengan masa lalu, seperti Memoar Book contohnya. Di sini, ada yang hidupnya normal-normal saja, ada juga yang berpikiran itu kebetulan. Tapi tidak bagiku. Aku kagum dan penasaran dengan petinggi akademi ini. Aku juga merasa, siswa-siswi di sini menyimpan luka tersendiri. Seperti kita.”


"Apa ini yang disebut takdir?"


"Entah, ini hanya kesimpulan setelah mendengar ceritamu. Memiliki trauma hidup tersendiri hingga bisa tiba di sini. Dengan luka-luka tersebut berusaha mengubah keadaan jadi lebih baik. Menolong orang bernasib sama sehingga tidak mengalami apa yang kita alami, oleh karena itu menjadi seorang Exorcist. Tapi, apa kamu tahu? Exorcism bukan pekerjaan mudah, bisa saja kamu terbunuh. Seolah-olah menukar nyawa dengan jawaban dan kekuatan. Cukup menyeramkan bukan? Kenapa aku berpikir seperti ini ...."


"Tidak juga, orang-orang pasti tahu konsekuensinya. Mereka sendiri memilih untuk terus maju demi apa yang mereka inginkan, walau taruhannya besar."


Angin mengembus lembut antara mereka, tak disangka perbincangan menjulur berat. Sempat sunyi menemani, sampai Exons tertawa kecil.


"Tidak, hanya saja ... pemikiranmu cukup dewasa. Menyenangkan bisa mengutarakan apa yang aku rasakan padamu, sampai-sampai tidak terasa sudah hampir jam sembilan."


"Jam sembilan?!"


"Ah, i-iya."


Bergegas, si gadis berlari cepat. Menyempatkan diri menengok ke arah Exons hingga helai rambut tersibak seiring gerakan kepala. "Aku ada urusan, terima kasih! Kapan-kapan ngobrol lagi!"


Dari kejauhan, laki-laki rambut cokelat membalas dengan seulas senyum.


Memintasi lorong-lorong dan taman. Sempat pula berhenti di ruang tunggu untuk melihat denah, tidak ingin tersesat yang pasti. Setiba di lokasi, pemuda Vermillion memang sudah menunggu kehadirannya, memberikan senyum demi menyambut kedatangan Apple.


"Hm? Tepat waktu."


"Haaah, biar napas dulu. Memang ada apa? Sampai tadi pagi buru-buru."


"Lihat saja nanti. Tapi, ada yang harus disiapkan." Mata hijau memerhatikan si gadis, Jin menyodorkan tangan mengisyaratkan pergi dengan bergandengan.


"Hmpt! Jalan aja duluan nanti aku ikutin." Membuang muka, si gadis tidak lupa dengan apa yang menimpanya. Jin kembali terkekeh.


Langkah bergema di lorong dan Apple mengekor, seperti biasa. Mendatangi satu-satunya pintu di belakang kantor utama. Suara lonceng mengucapkan selamat datang pada mereka. Toko barang antik? Perabotan? Alat-alat? Obat? Senjata? Tidak, ini gabungan kesemuanya. Cukup unik. Beruntung tempat ini luas hingga barang-barang tak menghalangi, bahkan ada tanaman dalam pot penghias.


Suara musik sungguh berisik, tetapi tidak untuk pria akhir dua puluhan depan kasir. Rambut acak-acakan berwarna pirang kecokelatan karena diberi cat rambut. Mengenakan kaos dalam rompi kulit juga dua tindik di telinga kiri, sarung tangan hitam melengkapi itu semua. Siapa dia? Kenapa penampilannya seperti ini?


Jin mendekati pria tersebut, sedikit geram. Apa karena mata emasnya serius melihat majalah dewasa? Benar saja, Jin langsung merebut hingga dia terkejut. Mungkin terlalu sibuk dalam majalah cabul dan musik kerasnya, tak sadar dengan kehadiran pemuda pirang yang sudah memelototi.


"Oh, Vermillion! Selamat datang! Ingin beli apa?" Pria berandal mematikan radio kerasnya. Tampang menunjukkan seperti dia tak berdosa—tersenyum sumringah.


Kesal, urat-urat leher terlihat jelas di ceruk leher Vermillion. "Bukankah peraturannya sudah jelas, Guru Xavier. Dilarang membawa buku ... semacam iniiii!"


"Hentikan Vermillion! Kau menghancurkan hidupku!"


Sekuat tenaga Jin membanting majalah cabul, menginjak-injaknya hingga lusuh. Xavier terkejut seolah-olah memang dunianya hancur di saat itu juga. Sedangkan Apple ... bengong di pojokkan.


"Bapak selalu saja melanggar, bagaimana jik---" Belum saja menyelesaikan ceramah, Xavier sudah melontarkan satu tinjuan.


Berkelit, melakukan kayang. Melompat kebelakang menggunakan tangan sebagai tumpuan. Kalau saja telat beberapa detik, pasti wajahnya remuk. Karena pukulan itu sangat kuat sampai-sampai mengeluarkan angin di sekitar tangan yang mampu meruntuhkan rak jauh di belakang.


"Refleks bagus Vermilion, tingkatkan lagi! Ingat, guru-guru akan menilai para murid dalam kondisi apapun," ucap Xavier santai diiringi senyum kecil. Dia mengelus tangan yang masih mengepal.


"Tch! Bilang saja mau balas dendam."


Xavier tertawa, kembali duduk pada bangku kecilnya. Pria mata emas menjentikkan jari dan majalah cabul miliknya hangus seketika.


"Wow, sulap!"


"Kyaaaaa!" Kaget bukan main, kedua laki-laki ini menjerit seperti perempuan. Kini giliran si gadis yang menunjukkan tampang tak berdosa. Kelihatannya mereka lupa dengan kehadiran gadis pirang. Jin dan Xavier mencoba mengatur napas dalam jantung berdentum.


Jin berjalan mendekati meja kaca berisi botol air suci sembari memegang kepala. Sedangkan Xavier menatap pada Apple yang jongkok dekat hangusan.


"Guru-guru!"


"Ada apa?"


"Saat menjentikkan jari ... terbakar, Wush! bagaimana bisa?"


"Oh, ahahaha. Itu kekuatan elemental, salah satu kemampuan Exorcism. Anak baru? Yukio sudah memberi peralatan Exorcism pemula? Salah satunya ada kertas element, bisa digunakan untuk memanggil kekuatan elemental ... alat bantulah. Tapi kalau sudah handal bisa melakukan seperti yang kulakukan."


"Huoooo! Terima kasih!" Penuh semangat dan rasa ingin tahu, membuat Xavier tersenyum padanya. Mungkin guru mesum ini tidak seburuk apa yang terlihat.


Jin memanggil dan berdiri depan kasir, membeli sesuatu. Dalam transaksinya, Xavier sesekali melihat ke arah si mata biru langit yang melihat jajaran barang antik. Menunjuk benda persegi panjang dari kaca, tiga permata putih dan satu jarum seperti jam di tengahnya.


"Itu bisa menyimpan tiga roh, cukup bagus untuk seorang Tamer. Cuma, agak mahal."


"Berapa Guru?"


"Satu juta Gil."


Menganga, tak percaya atas banyaknya nominal. Sadar mencari Gil sangat sulit. Raut sedih dan melas, memikirkan bagaimana mencari uang sebegitu banyak. Jin memasukkan belanjaan ke dalam Advance bag, mencoba menghibur si gadis.


"Apple bisa menyelesaikan misi ringan dan mulai menabung. Ayo kita pergi, jangan sampai Leona menunggu."


"Siapa Leona?"


"Murid bimbingan yang lain," ucap Jin dengan senyuman.


Pemuda pirang membungkuk sebagai tanda terima kasih. Keduanya pergi dan kini Apple menggandeng tangan Jin, mungkin benar-benar sedih memikirkan benda yang dia suka amat mahal. Xavier melambai, pengiring kepergian mereka.


...-oOo-...


Apple melihat simbol lingkaran sihir terukir atas tanah. Di depannya ada perempuan berumur sekitar tujuh belas tahun, mengenakan topi dan seragam putih corak hitam. Jin berdiri di belakang lingkaran sihir dengan merentangkan tangan kanan.


"Kak!" teriak Apple dengan harapan pemuda itu menjelaskan apa yang terjadi.


"Kita sudah menunggu terlalu lama, jadi mulai saja. Puing-puing ini dulunya balai kota tapi terbakar tiga tahun silam. Diduga sabotase kelompok tertentu dan banyak korban tewas ... saat kejadian sedang ada rapat. Kalian harus menyucikan roh sebanyak-banyaknya. Jika merasa kesulitan, bisa tanya Leona yang sudah diajarkan caranya."


Rambut perak memantulkan cahaya sang surya. Mata jelaga memandang Apple, dia tersenyum lembut. Tetap saja si gadis masih kebingungan dengan apa yang terjadi, menoleh kesana-kemari.


"Tapi---"


"Aen sczawreni zen!"