REDproject

REDproject
Bab 11: ToyLand



Ramai, kota dipenuhi manusia dan roh seperti melaksanakan festival tapi itu suatu kebiasaan di sini. Beberapa orang mengenakan topeng, hewan; badut; demi menghibur penduduk lain dan anak kecil. Ada boneka hidup? Ah, itu Automaton—para roh yang merasuki boneka—baik dan hidup seperti manusia biasa, ikut bermain dan menghibur. Penuh keceriaan dan kebahagiaan. Roh-roh tertawa; manusia tersenyum; kota ramai berselimut kesenangan, Toyland.


Ceria terukir di paras gadis pirang. Menikmati kondisi kota yang meriah; memakan jajaran kue; melihat atraksi para akrobatik; berbincang-bincang dengan roh ramah. Tidak disangka tugas dari Jin sebegitu menyenangkan. Tempat ini cukup tenteram walau jauh dari akademi.


Bahagia, canda, dan tawa. Apple kini berjalan riang dan santai menelusuri alun-alun, beberapa orang dan Automaton menyapanya. Tungkai melangkah, senandung ringan terucap bibir cherry hingga pandangan dialihkan pada villa mirip museum. Sayang kemegahannya pudar dengan beberapa daun kering berserak di pekarangan dan beranda; cat-cat kayu mengelupas; pintu dan jendela reyot, benar-benar telantar. Walau begitu, rumah ini menarik perhatian si gadis buah.


Mendekat. Ketika Apple hendak membuka pagar, tangan terhenti karena tarikan seseorang. Terkejut, menoleh tepat ke pemilik tangan—seorang gadis lebih tua—Apple terkagum-kagum dengan penampilannya, hingga sang hawa melepas topeng dan terlihat mata sayu berwarna biru crystal penyimpan kesedihan; berbeda jauh dengan topeng Joker miliknya.


"Jangan masuk ... konon tempat itu terkutuk." Suara khas anak-anak kentara. Namun rasa penasaran makin mekar dalam hati, Apple sesekali menoleh ke arah Villa. "Dulunya ini milik Golem Master, dia cukup terkenal hingga sang raja memanggilnya. Entah apa yang terjadi, mereka bertarung sengit dan Golem Master gugur dalam pertarungan. Semenjak itu ada yang mendengar tangisan di sana. Ku peringatkan, jangan masuk."


Pergi dalam kesunyian di balik kerumunan, Apple terkejut melihat gadis itu hilang dari hadapan sebelum ia berterima kasih dan menanyakan nama. Menghela napas, lagi-lagi memandangi gedung terbengkalai di depan.


"Tangisan ya, mungkin itu roh yang dimaksud ...." Tak mengindahkan peringatan gadis pierrot kuncir dua, ia mengendap ke dalam melalui pintu belakang.


Melangkah dengan pasti walau engsel-engsel tua dari pintu mengeluarkan bunyi aneh. Gelap, itulah kata pertama yang terpikirkan oleh gadis pirang. Beruntung sang surya masih menggantung, cahaya merambat tiap relung langit atas villa. Terbilang normal, beberapa lukisan; meja dan bangku; perabotan lain yang tertata rapi tapi ... berdebu. Makin dalam Apple melangkah, makin mencekam hawa di tempat ini. Decit-decit kayu menggaung dalam ruang sunyi tanda tak berpenghuni dalam waktu lama.


Satu, dua ... menaiki tangga. Sesekali melihat-lihat ke dalam ruang, banyak patung dan lukisan tertinggal, sama sekali tak ada keanehan. Sempat terbesit dalam benak, bahwa rumor hanyalah rumor hingga sampai pada ruang luas. Nampak boneka kayu berserak tetapi semuanya tak berwajah atau bertubuh lengkap. Sebaliknya, ada satu yang benar-benar sempurna duduk di bangku tengah.


Apple mendekat, memandang dia yang lebih mirip manusia dari pada boneka, rambut peraknya gemerlap. "Golem master benar-benar hebat ya."


Badan boneka perempuan itu bergetar, gadis pirang terkejut dan melangkah mundur. Tak lama kembali tenang, tapi Apple tak sedikit pun memalingkan pandangan.


Buum!


Beruntung berhasil menghindar, sedetik saja telat mungkin wajah sudah sama hancur dengan lantai kayu. Apple lebih jauh melompat mundur, napas terengah-engah akibat syok. Boneka gadis masih terdiam dalam posisi berlutut, tangan memendam dalam lantai, kepala pun tunduk.


Kepalanya secara perlahan mencoba menoleh ke arah rambut pirang ... bagai besi tak berpelumas, bergetar-getar.


"Haah, se-setaaaaan! Setan!" Apple ketakutan, berteriak tak karuan sampai-sampai menabrak sana-sini, mencoba menjauhi ruang aneh tersebut.


Larinya lumayan cepat, mungkin. Beberapa tangga ia turuni, entah berapa banyak hingga berada di basement. Beruntung, lampu masih berfungsi di sini, jelas terlihat bahwa tempat ini adalah perpustakaan, begitu banyak buku tapi lagi-lagi berantakan. Apple menyandar raga pada salah satu rak, mencoba menenangkan napas tak teratur.


"Astaga, apa-apaan tadi? Kekuatannya, gila! Lantai saja hancur. Aduuuuh. Haah, kalau begini ... bagaimana coba?"


Menarik oksigen dalam-dalam, akhirnya bisa menenangkan diri. Berdecak kesal dan beranjak bangkit, kini menelusuri perpustakaan dengan harapan bisa menemukan sesuatu untuk menolongnya. Satu persatu buku ia perhatikan. Sesuatu menarik perhatian, meja kerja tak jauh dari tempat Apple berdiri sekarang, tepat di atas meja terdapat buku tua usang. Tanpa pikir panjang membaca tiap lebar. Diary, ternyata buku ini berisi kisah dari sang pemilik villa—Golem Master.


"Ini! Boneka tadi! Tapi ... dewasa? Dan pria ini pasti Golem master." Hampir menuju lembar akhir, ia menemukan foto pasangan. Ada yang aneh dari foto tersebut. Setelah lebih diteliti, ternyata itu bukanlah boneka yang sebelumnya dilihat, tetapi benar-benar manusia, seorang wanita. Penasaran, Apple membaca lembar demi lembar berikutnya.


Menyipitkan mata, Apple sedikit kesulitan, ini ibarat tulisan dokter. Memakan waktu cukup lama sampai gadis pirang bisa membaca tiap kalimat. Mata terbuka lebar menemukan rahasia tersembunyi, menggeleng pelan menghayati makna.


"Hari ini, aku hendak pergi dalam perjalanan jauh, riset selesai, misi selesai. Ah, tidak-tidak lebih tepatnya aku akan memberi pelajaran pada raja lemah. Beraninya dia! Menjadikan Orchis senjata demi memusnahkan musuhnya, tentu itu bertolak belakang dengan mimpiku ... impian.


Orchis mirip dirinya saat masih muda ditengah-tengah kebahagiaan. Orchis, itu namanya, sesuai dengan bunga yang dia sukai. Puppet ... boneka ... mereka sempurna, tidak seperti Golem, tak perlu bernapas dan hidup sementara. Aku adalah seorang genius! Semua orang tahu itu, tapi apa aku dapat membuat jiwa? Mungkin! Oleh karena itu, Orchis ... dia memiliki kelebihan tersebut. Namun terkutuklah sang raja, dia justru ... justru ....


Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa sesuatu yang aku ciptakan dapat membuat nasib buruk pada orang lain, aku harus bertanggung jawab, tidak ada jalan lain. Orchis ... andaikan bisa, aku tidak mau melihatmu menangis, setelah ini aku harap kau bisa hidup bahagia, selamanya. Aku harus pergi, inilah takdirku. Orchis... aku, sepertinya aku tak akan kembali, tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku ... aku meminta maaf, Orchis."


Begitu yang tertulis dalam buku usang. Menggetarkan hati, gadis pirang meneteskan air mata. Kata-kata penuh perasaan dari Golem Master yang ternyata memiliki rahasia besar di balik pertikaian dengan sang raja. Tenggelam dalam perasaan, Apple lupa akan sekitar. Langkah terdengar, perlahan mendekat. Apple terkejut melihat boneka kayu yang sebelumnya ia temui sudah di belakang. Secepat kilat ia mengelak tinjuan lain, meja itu hancur tak karuan.


"Boneka tenanglah! Atau lebih tepatnya ... Automaton, Orchis!" Bibir mungil mengucap nama sang boneka, ya, namanya.


Kata-kata Apple berputar dalam daun telinga, Orchis memandang dingin si gadis, tangannya bergetar. "B-bagaimana kau tahu?"


Memeluk erat bacaan yang sebelumnya ditemui, memberanikan diri mendekati sang Automaton. Tanpa memakan waktu menunjukkan isi pada Orchis agar dia tenang dan membaca. Orchis mengambilnya, menyisir tiap baris kata. Tak lama buku itu terjatuh dari genggaman, lemas ia menundukkan kepala.


"Tuan meninggalkanku suatu cincin, kenangan mengenai masa lalunya. Dia hendak memberikan ini pada .... Tuan bercerita sebelum pergi dengan air mata mengalir di pipi. Mempercayakan cincin yang tidak bisa diberikan ... ia pun memberikannya padaku. Aku memegang harapan bahwa suatu saat dia akan kembali, perasaan yang tidak aku ketahui menggenang dalam diriku, bagai ingin meledak dari dada. Bodoh baru sadar---saat ini, hanya ada satu kebenaran ... ikatanku dengan Tuan, telah ditarik dan putus. Tak akan pernah diperbaiki lagi."


Air meluap dari mata ruby sang Automaton, menetes; mengalir deras; waktu berlalu. Apple memegang kedua pundak kecil Orchis yang terlihat seumuran dengannya. Terkejut, mereka bertatap muka.


"Tidak itu tak benar! Tuanmu pergi karena tanggung jawabnya, melindungimu dari tangan kotor raja! Tidak ingin melihatmu sedih ... bertanggung jawab akan tindakannya, ini hanya karena kamu seorang, Orchis. Dia ingin membuatmu bahagia, maka dari itu .... Kamu maha karyanya yang paling berharga, bahkan dipercayai dengan cincin itu. Jangan menyerah! Aku- aku akan membantumu! Aku akan membawamu keluar dari sini, tak perlu terpuruk lagi, dunia luas menanti!"


Sekian lama diterlantarkan dalam villa tak berpenghuni karena mengharapkan kedatangan sang terkasih hingga putus asa melanda, kini ada seseorang yang menyemangati, membuka hati dan menyadarkan dari keterpurukan. Mendengar ucapan Apple, kelopak menggulung, terlihat mata ruby mengkilap diterpa serpih cahaya dari pantulan air mata. Hati meluap; bergetar; keberanian kini menyelimuti. Dikenanglah masa-masa dulu dengan sang Tuan, sebelum ia hidup seperti sekarang. Saat-saat di mana tak berdaya, diramut penuh kasih seperti anak sendiri.


"Tuan memberkatiku, Automaton, dengan kehidupan dan jiwa. Aku ingin belajar, menemukan, dan ... cinta. Dunia luar sana, di mana master telah menghilang, aku akan mencari alasan keberadaan dan kelahiranku. Dunia menanti, cakrawala tak berujung di depanku. Aku akan mengikutimu, mencari kebenaran ... terima kasih." Orchis tersenyum tulus dengan air mata membekas.


Apple menarik napas panjang-panjang, senang; bahagia; melihat Automaton itu mengerti dan mau berteman dengannya. Tanpa pikir panjang memeluk sang boneka. Orchis terkejut tapi diikuti tawa, mereka berpelukan. Orchis kembali membisikkan terima kasih, telah membuka matanya akan kebenaran. Sudah terlalu lama menunggu hingga kabut kelam menutup hati. Ia bersyukur, ada seseorang yang masih berniat menemuinya, menariknya keluar dari bayangan hitam.


Beberapa waktu berlalu, mereka berbincang ringan. Apple bersedia mengajarkan Orchis beberapa hal tentang dunia yang belum pernah dipijak.


"Nah, kalau begitu ... ayo kita pergi!"


"Em. Eh, tunggu! Aku ganti baju dulu!"


Secepat kilat Orchis berlari, dengan heran Apple mengikuti tapi nahas ia kehilangan batang hidung sang Automaton. Khawatir, akhirnya sang boneka kembali dengan pakaian berbeda. Mengenakan gaun lolita hitam berenda. Gadis pirang terkejut, Orchis bingung dan memiringkan kepala. Sampai Apple teringat sesuatu.


"Eh, tunggu ... aku tak mungkin membawa Orchis keluar begitu saja. Oh ya! Segel, ini bisa sekaligus jadi tugas Kak Jin! Dia benda-benda terbengkalai menyatu dengan roh dan akhirnya hidup. Ya, pasti! Karena dia Automaton, dengan begini pasti bisa aku segel," bisik Apple pada diri sendiri.


"Itu, Orchis ...."


"Ya?"


"Aku akan menyegel---eh, menempatkanmu ke tempat yang aman, bagaimana?"


"Tempat aman? Boleh!" Mengangguk polos dan tak berdosa, Orchis menerima begitu saja tawaran dari gadis pirang.


Apple mengembus napas lega, segera menggambar lingkaran sihir dengan kapur dalam tas pinggang. Orchis sempat termenung, teringat tingkah sang Tuan yang membuatnya hidup. Setelah selesai, Apple menyeka kening yang sedikit banjir oleh keringat, mempersilakan Orchis berdiri tepat di atas lingkaran sihir dan Orchis menurutinya. Mengeluarkan Sigillium, beberapa rapal menggaung, lingkaran sihir bersinar redup seperti neon.


"Mordere off vestri clavus, pingere magicae circulus, carmen magico carmine, clauditis tibi!"


Orchis menghilang menjadi butiran kelap-kelip bak glitter. Dalam hitungan detik Sigillium mengisap cahaya tersebut. Sebelum semua itu, Orchis menyempatkan diri tersenyum dan melambaikan tangan kepada Apple, membuat hati senang dalam ketenangan.


Begitu jelas cahaya putih menyorot ketika menaruh Sigillium kembali dalam advance bag. Apa ini? Tentu si gadis cepat merogoh tasnya. Story about "RED", buku itu kembali terbuka dalam lembarnya.


Sosok pemuda dan wanita, mereka duduk bersebelahan di atas bukit dalam hutan. Terlihat tenang dan di bawah gambar tersebut ada tulisan sambung: "Penyihir tertawa kecil pada harapan yang terkejut, 'Jika kau kesepian, tidak apa-apakan aku duduk denganmu?' Penyihir jatuh cinta pada harapan. Penyihir yang kesepian tak bisa meninggalkan harapan yang juga kesepian. 'Maukah kau hidup denganku?' Senyum penyihir pada harapan. Harapan tak pernah ditunjukkan kebaikan dari manusia sebelumnya, jadi ia ketakutan. 'Akankah aku ditipu lagi? Akankah aku dilukai lagi?' Kepala dipenuhi berbagai kekhawatiran. 'Aku akan hidup dengan diriku sendiri, pergilah dan tinggalkan aku sendiri,' jawab harapan dengan jelas pada penyihir. Tetapi penyihir itu keras kepala dan menolak apa yang diminta."


Apple terdiam dengan buku terbuka di halaman enam. Akankah seluruh lembar terbuka berkaitan dengan kejadian yang menimpa gadis ini? Karena sekarang ... mata sebiru langit kembali bersinar, ini bukan tatapan miliknya.


"Bocah." Apple kembali sadar ketika kepalanya disentuh, mata kembali normal dalam satu kedipan.


"Eh? Pak Xavier?"


"Cepat pulang ke akademi."


Kenapa harus pulang? Bukankah menyelesaikan misi dan tugas itu tergantung para murid? Mereka bisa pulang kapan pun yang mereka mau, setidaknya Apple masih ingin menikmati keramaian kota ini. Pria kekar menarik lengan mungil Apple, tidak menjelaskan apapun. Kenapa terburu-buru?