REDproject

REDproject
Bab 05: Exorcism



Gurat jingga tak menghibur tempat ketiga insan berkumpul. Semenjak pertama menginjakkan kaki depan puing-puing, terasa aura berat mencekam seperti dipeluk dari belakang. Kabut memekat, mengeruh keadaan. Cahaya remang dari lingkaran sihirlah yang menerangi.


Setelah Jin menjelaskan misi mereka, sigap Leona mengeluarkan rosario dan sebotol air suci dari Advance Bag jelaga pembebat pinggang. Sepertinya sedikit lebih profesional dari pada gadis yang manik birunya tak berhenti menggila. Pertama kali Apple di posisi seperti ini.


"Aku tidak ada persiapan!"


"Ahahaha, Apple. Exorcist harus siap dalam kondisi apapun, lain kali selalu bawa Advance Bag kamu dan isi dengan barang-barang penting. Jangan takut berat atau kepenuhan. Ingat, tidak ada limit. Apa lagi di dalam ada ratusan arwah loh! Tapi tenang, aku akan menjaga kalian. Tugasku membuat lingkaran pemurnian massal dan kalian bujuk para roh agar mau dimurnikan dan memasuki lingkaran ini. Nah, sekarang kita berdoa agar semua lancar dan kalian kembali dalam keadaan utuh," tutur pemuda pirang akan rencana jauh-jauh hari.


Apa yang diutarakan Jin tidak membuat keadaan membaik. Ratusan arwah dan kembali dalam keadaan utuh? Yang benar saja. Tidak ada persiapan; tidak ada pengalaman, sekarang harus melakukan penyucian? Tentu si gadis khawatir. Hal ini tidak pernah terpikirkan oleh Apple, tapi, sekarang harus dipikirkan karena tugas sudah beralih menjadi seorang Exorcist. Gadis pirang hanya bisa berdoa sesuai instruksi, berharap bisa mengerjakan tugas pertama. Menenangkan diri adalah hal utama dalam pekerjaan.


"Baik! Berdoa selesai. Ambil obor yang sudah kusiapkan untuk kalian karena di dalam gelap sekali." Jin menegakkan kepala. Tak buang waktu ia mengikis jarak antara puing-puing hitam. Tangan kiri menggenggam tongkat dengan kobaran api di ujung.


Pemilik mata hitam yang pertama menerima obor—diikuti oleh Apple—dan melihat Jin dengan menaikkan sebelah alis. "Kenapa menggunakan obor? Kalau tertiup angin bagaimana?"


"Suasana akan semakin terasa menegangkan kalau pakai obor," ucap Jin sembari tertawa kecil.


"Jadi cuma buat suasana?!" Sang hawa terlihat geram sampai-sampai mengeluarkan Tsukominya.


"Apa-apaan, ih! Kalau begitu sekalian saja menggunakan matra api, gedung akan terbakar dan semuanya terang!"


"Kalau melakukan itu bukannya mengulang kejadian yang sama?" Leona balas perkataan Apple.


"Huh? Memang arwah bisa terbakar?" tanya Apple.


"Hmmn, kalau api penyucian ... bagus juga idemu! Latihan sore ini cepat selesai!" Tanpa pikir panjang Leona menyetujui, sepertinya tidak suka repot-repot.


"Serius?!"


"Kalau diperbolehkan, aku serius!" Leona nampak semangat, terlalu sibuk sendiri hingga melupakan sang pembimbing.


"Kalian ... membujuk bukan membakar, paham?!" ucap Jin dengan nada tinggi. Tangan kanan pun ia kepal, menjitak mereka satu-persatu.


"Auuuh," Leona mengeluh kesakitan, "tapi, kak! Jika kita membakar tempat ini kan arwah-arwah itu kehilangan tempat tinggal mereka dan kita bisa menipu---maksudku membujuk masuk ke dalam lingkaran sihir!" lanjutnya tak menyerah.


"Berbahaya, jadikan sebagai opsi terakhir, itu pun kalau kalian mau menjadi Apple bakar dan Leona bakar," Jin balas bercanda. Mereka manusia, bukan ayam. Tak apalah, bercanda yang mengingatkan.


Leona tahu bahwa keputusan tidak bisa diganggu-gugat, ia menghela napas menyerah. "Aku mengerti," ucapnya dengan semangat yang hilang. Barangkali pekerjaan ini terlalu mudah baginya.


"Apple bakar ... ah, sepertinya enak." Si gadis justru membayangkan apel terbakar. Apakah dia tidak mengerti yang dimaksud adalah dirinya sendiri? Kenapa bisa namanya sama dengan buah?


Jin mendengkus, membelai si rambut perak. "Kau tahu Leona, keselamatan tim jauh lebih penting dibandingkan keberhasilan misi," ujarnya memotivasi. Namun, Leona yang merasa kepala dipegang dengan refleks memukul tangan tersebut.


"Maaf, tapi aku tidak suka kepala disentuh." Cepat menarik tangan, wajah melas mendengar ucap dari mata hitam yang kini melihat Jin dengan khawatir. Walau ricuh di tempat tak semestinya, terasa keakraban di antara mereka.


"Um, Leona, salam kenal, aku Apple. Mau masuk sama-sama?" Apple tersenyum tulus dan memegang lembut tangan Leona. Tidak menyerah untuk mencari teman. Gerik si gadis dibalas seulas senyum.


Ketika mereka sudah memasuki reruntuhan, pemuda pirang menumpahkan sebotol air suci ke lingkaran sihir, membuat kilauan makin kuat terpantul di mata hijau.


"Corycia melaina kleodora cleochareia bateia drosera soray beriboya, Naiad's force!" Jin merapal, memanggil makhluk legendaris Yunani—Naiad—menyerupai dua wanita dengan trisula di tangan. "Awasi mereka dan lindungi jika keadaan memburuk."


...-oOo-...


Memang gelap, pandangan sebatas cahaya obor. Satu embus dingin membuat merinding. Wajah Apple serius dan menyodorkan obor kesana-kemari, mendapati suara samar bergema. Mereka terus berjalan hingga tiba di persimpangan.


"Kurasa, di atas banyak fenomena poltergis." Leona memutuskan untuk mengunjungi lantai dua dengan tangan kanan menggenggam erat rosario dan air suci. Raung membuat pikiran buyar, sampai-sampai tak sadar perempuan perak sudah mendahului. Fokus kembali saat alunan musik terdengar. Lantas Apple meniti jalan, menelusuri tembok bobrok berlumut menuju ruang kumuh asal suara, obor tak lepas dari tangan.


Irama bius pembuat benak terpusat padanya, tidak mengerti bahwa satu-persatu arwah menampakkan wujud; memelototi Apple yang terus mendekati ruang gelap nan mencekam. Langkah tersentak oleh kemunculan anak laki-laki tepat di depan, menghalangi jalan masuk. Mengenakan tuxedo cokelat senada rambut tetapi temaram menutup wajah. Mata biru samar oranye obor menatap si anak yang berlari seperti enggan diajak bicara. Mengikuti, ruang ini sempit hingga binar memenuhi.


"Ah, aku ...?!" Angin menyembur, refleks Apple menjaga obor. kelopak menggulung, sungguh, roh keji bertumpuk; tatapan mencekam penaka ingin membunuh. Tentu gadis pirang langsung menjerit dan mengejam.


Perlahan mata biru terekspos, arwah-arwah itu sudah tidak ada. Hanya anak kecil memegang kotak musik, asal suara. "Pergilah!"


Apple terperanjat ketika pundak disentuh. Baru saja ingin berkata, mulut kembali membungkam. Ternyata Naiad, utusan pembimbing. "Titah Jin untuk melindungimu, masih banyak arwah lain ... ini terlalu berbahaya."


"J-jin? Oh, kakak pembimbing? Tidak, aku tertarik padanya. Lagi pula, setiap arwah harus ditolong," ucap gadis pirang dengan senyum polos. Naiad mengangguk dan menghilang dalam bayangan, sebagaimana tiba-tiba muncul. Mungkin, mereka terus mengawasi dari kejauhan dan muncul ketika bahaya.


Spontan anak di depan sedikit terkejut. Membuka mulut seakan ingin berbicara, tapi dengan cepat bungkam kembali. Memegang lembut kotak musik, jemari kanan mungil memegang tutup, sedang yang lain menahan alas.


"Aku tidak akan membiarkan menyakiti kami lagi. Tidak akan kubiarkan membakar tempat ini."


Apple lantas dibuat bingung. "Aku tidak akan membakar, hanya menolong."


"Bohong!" bentakannya hingga gaung memekakkan.


"Aku tidak bohong! Sungguuuuh!" balas Apple payah menyamai tinggi suara si anak hingga muka memerah.


Dia menunjuk obor milik si gadis. "Kau akan membakar gedung ini, kami dengar ucapan kalian!"


Apple mengerjap. Ternyata dia menganggap serius. "Kamu dengar? Kami bercanda," ucap si gadis dengan tawa lepas. Harusnya lebih berhati-hati dalam berkata, meski gurauan.


Geram, menggertakkan gigi dan hendak membuka kotak musik. Sigap Apple menyodorkan obor tepat ke depan hingga dia terpukul mundur.


"Takut api? Baiklah kalau begitu." Tanpa pikir panjang langsung melempar obor. Nyala redup berat sebelah, samar ia melihat sang arwah. Tindak nekat membuat kagum, lantas bayangan yang menutupi wajah hilang. Mata bulat cokelat sayu dengan semburat merah di pipi. Apakah dia salah satu korban? Kejam sekali hingga merengut nyawa sebegini belia.


"Ba-baiklaaah aku percaya, lagi pula mereka juga akan membakarmu," ucap arwah dalam mulut terbuka lebar.


"Mereka menyebutmu Apple bakar."


"Tidak! Kak Jin dan Leona tidak mungkin membakarku! Apple itu adalah apel merah yang besaaaar."


"Tidak ada makanan apel bakar."


"Eh?! Mu-mungkin akan membuat resep baru."


"Mem-ba-kar-mu."


"Berisik!"


Sia-sia berdebat dengan dia yang tertawa meledek. Anak kecil tetaplah anak kecil. Apple hampir dibuat geram, tapi ia sabar. Menarik napas, mengelus dadanya pelan. Si gadis kembali serius. Merasa dipandang seperti itu, dia bersimpuh. Diletakkan kotak musik atas paha, sedih terbesit di wajah. Perlahan membuka kotak musik ....


"Senjata rahasia?! Hiyaah!" Refleks Apple melompat mundur dengan kuda-kuda entah gaya apa.


Senyap, melodi kesepian mengisi. Ternyata kotak musik biasa. "Aku, keluargaku, mereka dibakar. Ayah dan ibu di lantai atas menyelesaikan rapat. Kami tidak bersalah, tapi orang itu berbuat jahat, membakar selagi hidup. Karena itu ...."


Tanpa disadari amarah mulai tak terkendali, mata cokelat seperti permen menyala. Melihat arwah di depannya akan lepas kendali, Apple langsung angkat bicara, "Haaah, sampai mati masih bersama orangtua, pasti menyenangkan. Sedangkan aku ...."


Mendengar apa yang dituturkan, si anak menatap dengan penasaran. Ia kembali normal. "Memang apa yang terjadi denganmu?"


Alunan musik tak henti menemani. Sebenarnya si gadis ragu untuk mengutarakan apa dalam benak, tetapi arwah di depan menatap seperti anak kecil yang hendak tidur menunggu cerita. Setiap arwah harus dibujuk dan disucikan, termasuk dia.


Apple menghela napas. "Sebenarnya, namaku---ah ... namaku, Apple Luchifen."


"Bangsawan Luchifenian! Pantas tidak seperti teman-temanmu di sana. Aku bisa merasakan darah kaukasoid di tubuhmu. Mata biru dan rambut pirang. Namaku Allen Luigi Sforza, anak dari keluarga Cavalli-Sforza bangsawan kota Stranorlar. Kami salah satu yang memihakmu Luchifen! Ah, tidak disangka aku bisa berhadapan langsung! Bahkan semenjak---" Seketika Allen membisu, mengingat apa yang terjadi dengan kerajaan Luchifenian. Bahkan paras si gadis ikut sedih, lebih sedih daripadanya.


"Ke-kenapa kamu memberitahukannya padaku? Bukankah akan berbahaya kalau---"


"Hmmn, kenapa ... mungkin aku percaya padamu? Apa sekarang kamu percaya padaku?" Si gadis kembali tersenyum. Menyodorkan tangan pada Allen, meminta untuk ikut bersama.


"Tapi, aku tidak bisa meninggalkan mereka."


"Orangtuamu?"


"Iya, mereka di lantai dua."


"Ayo, kita jemput."


Keduanya meninggalkan ruang kecil yang lusuh dan Apple kembali memungut obor nyala redup. Manik cokelat tidak henti menatap. Secara ragu, Allen menggandeng tangan gadis Luchifen yang bebas. Apple terkejut mendapati dingin tangan Allen. Mengetahui itu, sang arwah langsung melepas genggaman dengan wajah tersipu.


"Jangan dilepas, aku takut sendirian." Anak itu diam dan mendongak.


Badannya yang mungil tak bisa melihat jelas wajah gadis pirang. "Kau bohong."


Apple tidak balas berkata. Derap terhenti melihat gadis rambut perak yang perlahan menuruni tangga, dengan kerumunan arwah tenang di belakang. Benar-benar lebih ahli. "Sedikit kesulitan, Apple?"


Apple bingung harus berkata apa, dia hanya tersenyum kuda dan menggaruk kepala tak gatal. Terlebih, dia sendiri yang memisahkan diri.


Sosok arwah rambut cokelat tergerai mendekati Allen dengan cepat. "Allen!"


"Ibuuu!" Ternyata orangtua dari si arwah kecil, lumayan cantik—menurut Apple.


"Terima kasih sudah menolong Allen. Ah, dia sedikit kesepian. Sejak dulu selalu sendiri karena kami disibukkan oleh pekerjaan, hanya para pelayan menemani. Maka dari itu saat rapat ini, kami mengajaknya karena ingin mengunjungi penampungan anak yatim. Kami harap Allen mendapat teman baru, jadi kami belikan kotak musik."


"Iya, bukan masalah. Kamu bersama pelayan, Allen? Kemana mereka? Di gerombolan itu?" Arwah kecil menggelengkan, dia menunjuk tepat ke belakang gadis pirang.


Di balik punggung, berbondong-bondong roh mengekor. Apple tentu tercengang. Ternyata mereka yang terus melihat dengan tatapan mencekam. Wajar, melindungi anak ini. Akhirnya bersama menghampiri pemuda Vermillion di luar.


Jin duduk sebentar, menghirup oksigen dalam-dalam. Dingin malam menusuk, sudah sejak awal terasa belum lagi pekat aura hitam dari arwah para korban terbakar bagai arang.


Sekumpulan arwah berdiri tepat di atas lingkaran sihir, siap disucikan. Tanpa memakan waktu, pemuda Vermillion merapal mantra. Allen masih memegang kotak musik kecilnya, tersenyum pada gadis pirang.


"Kamu pasti menemukan teman baru di sana."


Arwah anak kecil mengangguk. Senyumnya samar seiring kuat kilauan lingkaran sihir. Perlahan mereka menjadi butiran cahaya indah mirip kunang-kunang.


"Kerja bagus. Ayo kita pulang, sudah larut. Aku harap kalian mempelajari sesuatu." Mata menatap sendu cakrawala di mana sang rembulan bertengger, mengingat masa pertama menjadi siswa akademi. Masa yang sedang dinikmati oleh kedua gadis di depan.


...-oOo-...


Sedikit merebah, gadis bernama buah duduk atas bangku depan jendela kamar. Meja datar hingga ia dapat melihat keindahan langit malam yang kini menemani. Seakan sang purnama melambaikan kirananya, membuat Apple makin tenggelam dalam lamunan. Tak lupa buku cerita tua yang terbuka, berada tepat di sisi tangan.


Tergambar anak laki-laki duduk dalam kotak tertutup bambu, serupa dalam kuil. Di bawah ada tulisan sambung: "Jaman di mana dunia mengalami kekacauan, turun sebuah harapan berupa anak kecil yang telah lama ditunggu. Dia disebut bintang harapan merah. Orang-orang terus berdatangan dan berdoa. Kabar tersebar hingga ke pelosok dunia, bahkan ke tempat berbahaya dan membangkitkan impian terlarang. Mereka tidak mengijinkan tersebut, maka menyimpannya pada tempat tersembunyi. Harapan terkunci, jauh, tanpa jalan keluar. Sendirian."


Itu ada pada lembar pertama yang sangat tebal seperti sepuluh lembar lainnya. Hanya lembar pertama memiliki isi, sisanya? Putih, tidak ada tulisan ataupun gambar. Di lembar lain, kertasnya tipis dan banyak tulisan tak terbaca. Terlebih beberapa tinta merebah, seperti terkena air pada beberapa titik.


Apple masih ingat betul tentang kejadiannya di masa lampau dan itu tidak seperti apa yang digambarkan dalam Memoar Book. Apakah buku ini ada kaitan dengan kehancuran keluarganya? Apakah benar ini miliknya? Masih banyak pertanyaan tak terjawab dan tidak dipahami oleh gadis yang kini mata birunya mencerminkan sang purnama.


Terus merenung tentu tidak menghasilkan jawaban. Apple kembali mengingat apa yang ia pelajari hari ini bahwa tidak semua arwah itu jahat dan harus ditangani dengan pertarungan. Harus lebih siap untuk tugas lainnya esok hari. Memasukkan seluruh peralatan Exorcism dan buku peraturan dalam tas pinggang merah muda. Ia kembali tercenung melihat satu benda yang tersisa dari kotak. Lebih baik buku bertuliskan Story about "RED" ini ia bawa, siapa tahu bisa menanyai orang lain tentang hal ini.


Siapa tahu?