REDproject

REDproject
Bab 17: Run GO Run



"7 Deadly sins terkumpul?" sopran mengolah nada, berdecak kata aksen minim asa. Lengannya bergerak menyeka peluh, menilik pada balik temaram, "Berarti dia ...."


Si Vermillion terdiam, sesekali menggaruk kepala atau mengerang frustasi. Ia beranjak, menggeleng kepala untuk mengumpulkan fokus. Gaung desing menyekap udara, mengolah simfoni bersama dentum sol yang aktif menjejak lantai ruang evakuasi. Helai pirang tersibak seiring gerak ritmis sang empu lantaran buru-buru pergi meninggalkan ruang, tidak menghiraukan hal lain.


Tempat ini di mana terdapat air terjun dan sungai beraliran cukup deras; pohon tumbuh rimbun sebagai hutan penghias; bunga liar beraneka warna bak pemanis di antara hampar hijau karpet beledu, ada seorang perempuan berbusana gaun berwarna hitam, sepekat rambutnya. Benar, Mizu tak sadarkan diri.


Jin bersimpuh di dekat tubuh sang kekasih, gerak-geriknya seperti orang yang gelisah. Pemuda pirang itu dengan hati-hati merebahkan kepala Mizu ke pangkuan. Tangan mengusap poni si perempuan yang berjatuhan, merapikannya.


"Mi! Mi bangunlah. Kamu tidak apa-apa?"


Kelopak bak pualam menggulung, samar-samar memandang mata hijau di hadapan. "Jin ... iya, aku baik-baik saja."


"Oh syukurlah, aku sangat---mmph," untai kata urung terapal akibat bibir Mizu membungkam tanpa permisi. Wajah ayu itu tercondong naik, langsung ke wajah Jin. Air menyaru api, menjadi sama hangatnya.


Jin mengerjap kaget, detik selanjutnya si Vermillion memejamkan kelopak. Menyentuh pipi Mizu penuh sayang. Gadis itu merasakan basah dari air mata yang bukan miliknya. Menetes beberapa kali, lalu wajah Jin terangkat beberapa senti. Senyum si pemuda nampak—sungguh—bagai kedip api di alam yang gelap.


"Dasar bodoh." Itu yang ia dengar. Lalu semburat muncul di pipi Mizu yang pucat. Tawa lirihnya terdengar. Mizu bangkit, duduk tepat di depan sang kekasih. Tak ada luka di tubuhnya, bahkan sehelai benang pun tak putus.


Cepat Jin merangkul Mizu, menenggelamkan erat hingga mencium vanilla khas si perempuan. "Aku, benar-benar khawatir ...."


"Kau selalu berlebihan, Jin."


"Ta-tapi ...," sanggah Jin seraya mengacungkan jarinya sok benar dan melepas pelukan, "Um itu, itu ... karena aku ... a-aku mencintaimu, Mizu."


Jawaban yang tidak runtut dan sama sekali tidak jelas membuat Mizu tertawa renyah, terlebih melihat ia menggaruk kepala kikuk begitu pun rona merah muncul di pipi.


Cup


Mizu terkesiap. Jin barusan mengecup pipinya? Begitukah? Mungkin melempar tatapan heran dengan kening berkerut cukup untuk membuatnya mengerti apa maksud si Shikurai muda.


"Maaf. Habis Mizu manis sih," ucapnya dengan senyum hangat.


"Apa-apaan itu," Mizu melengos ke arah lain. Menghindari pandangan bertumbukan dengan mata hijau tersebut. "Ayo mulai serius, Jin!"


Jin tertawa ringan, menampilkan deretan gigi putihnya. Pemuda itu selalu jauh lebih baik jika di dekat kekasihnya. Ah, tidak apa-apa seperti ini. Lebih baik seperti ini.


Hening merebak beberapa detik.


"Saat dia melewatiku," Mizu kembali membuka mulut membuat atensi Jin tertuju padanya, paras ayu itu sungguh serius. "Dia berkata sesuatu tapi ucapnya begitu pelan ... aku tak dengar. Kemudian aku tidak sadarkan diri."


"Dia melukaimu?" Perempuan itu menjawab dengan menggelengkan kepala membuat Jin terkejut. Apa yang terjadi sungguh di luar perkiraan, hingga ia terbesit sesuatu.


"The Hope ... dia mengatakan kalau 7 Deadly sins sudah terkumpul."


"H-haaa?! Bagaimana---tapi Apple ...."


"Maka dari itu, semua di luar perkiraan." Jin meremas rambut lurusnya seolah pusing menusuk tajam. Semua ini benar-benar tak terduga, mereka ... gagal menghentikan 7 Deadly Sins.


"Ayo kita temui Xavier."


...-oOo-...


Perlahan mencoba bangun menggunakan lutut sebagai tumpuan. Xavier memegang kepala dengan sebelah tangan dan mengedar pandang, guru-guru lain juga sudah bisa bangkit. Entah kenapa semua terasa begitu cepat dan ... ada yang janggal.


Menghela karbon, mendongak sebentar meratapi kilau kanvas alam. Sedikit merengut karena gurat magenta itu tidak hilang-hilang, malah makin parah. Jika begini terus, keseimbangan dua dunia akan hancur dan---


Seketika perhatiannya tertuju pada suara yang memanggil kencang. "Guru!"


"Ah. Mizu dan ... Jin, kalian baik-baik saja?"


Mata Jin membelalak melihat betapa berantakan tempat ini, walau tak separah di mana ia menemukan Yukio dan Apple. Panah-panah menancap tanah bahkan pohon; bercak darah kelam menghiasi alas rumput; pecahan beling di sekitar gedung asrama, tetapi para guru tak ada yang terluka bahkan pada badan Xavier tidak ada gores.


"Guru, apa yang terjadi di sini?"


"Kamu penasaran, Mizu? Kami mencoba menghentikan orang itu---oh! Apa kalian berpapasan dengannya?"


"Iya. Dia melewatiku tapi, aku tak sadarkan diri setelahnya."


"Tak sadarkan diri? Bertarung dengannya?" Pertanyaan dari si guru kekar dibalas dengan gelengan oleh Mizu.


Xavier memegang dagu, jelas sekali ekspresi seperti orang yang berpikir bahkan sebelah alis cokelatnya naik. Kemudian melempar pandangan pada Jin. Mengerti maksud dari sang guru, pemuda Vermillion ikut berbicara.


"Kemudian dia sampai ke tempatku. Aku sungguh khawatir, kukira Mizu terluka ... ternyata tidak. Setiba di ruang evakuasi juga orang itu tak menyerang sama sekali. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan tapi ... dia mengatakan, 7 Deadly sins terkumpul. Setelah itu pergi."


"Tunggu ... apa?"


"7 Deadly sins terkumpul."


"Ta-tapi bagaimana bisa?! Kan Apple---"


"Dia tidak mengincarku." Suara cempreng khas gadis belia menyapa pendengaran, membuat seluruh perhatian tertuju padanya—Apple yang menekuk wajah dalam-dalam.


"Dia tidak ...." rahangnya mengeras. Apple menggeleng, berusaha mengenyahkan sesak yang mendadak muncul. "Mengincarku seperti kata kalian."


Di waktu seperti ini seharusnya senja berganti malam dengan gurat jingga di ufuk barat perlahan ditelan jelaga, disusul eksistensi ratus kerlip jenaka para gemintang menemani sang rembulan. Namun tidak, semua itu tenggelam dalam arak-arakan magenta dan gemuruh petir. Tak ada dekut burung hantu atau makhluk nokturnal seperti biasa, membuat suasana ini makin mencekam.


Bulir bening mengalir, muncul dari celah kelopak sang hawa. Apple menangis, tapi mati-matian menahan isak juga gemetar. "Ji-jika dia memang mengincar Vessel Pride yang kata kalian ada dalam diriku ... pasti sudah lama dia lakukan. Karena dia yang menyelamatkan aku, di malam itu ... membawaku pada klan Nura. Dia tinggal bersamaku."


Seketika semuanya senyap, entah kenapa rasa bersalah liar menggerogoti batin. Sesak, degup jantung tak lagi sama. Emosi itu naik hingga wajah terasa panas. Tetapi ini semua demi melindungi manusia 'kan? Bukan salah mereka juga untuk melakukan pertahanan, karena tidak ada yang tahu ....


Napas gadis kecil memburu. Memang ia berhasil meredamnya, tapi rasanya begitu sesak. "Seandainya kalian ... sebentar saja mau mendengarkan."


"Tapi dia menyer---"


"Dia tidak! Apa kalian terluka? Bahkan ketika itu ... Yukio menyerang lebih dulu! Aku melihat ... semua!" suaranya gemetar. Apple menghela napas kasar, menempelkan dahi pada punggung tangan yang mencengkeram kian erat, seperti ingin berteriak tetapi ditahan kuat-kuat hingga merah sudah wajahnya.


"Aku tidak tahu ... apa yang dia inginkan. Mungkin dia ingin bertemu padaku, karena aku juga ingin bertemu dengannya! Tapi kalian- kalian tidak pernah memberi kesempatan! Sebentar ... walau sebentar saja. Malah ... dan buku itu, aku juga tidak tahu kenapa aku memilikinya. Tapi sekarang aku sadar, karena hanya aku yang menganggapnya ... manusia!"


"Dia, kesepian. Tidak tahu ... berekspresi dengan benar."


Hal mengejutkan terjadi, advance bag Jin bercahaya dari dalam. Cepat-cepat pemuda pirang mengeluarkannya tetapi sengat listrik justru menyambar dari buku cerita kuno itu, seolah tidak sudi untuk disentuh. Terjatuh di atas rumput dan terbuka pada lembar ke delapan.


Lebih berwarna dari pada yang lain dengan jendela kayu terbuka, menggambarkan langit biru berseri. Dalam rumah, sesosok wanita duduk berjuntai di atas kasur dan di bawahnya ada pemuda menyandarkan kepala pada paha wanita tersebut. Terlihat tenang, terlebih ... wanita itu seperti mengelus kepala si pemuda.


Bertuliskan: "Harapan yang kesepian jatuh cinta pada penyihir. Harapan itu mendapatkan nama. Bahagia, bahagia, dia mendapatkan orang yang dicintai memanggil namanya hari demi hari. Untuk pertama kali dalam hidupnya, harapan tahu apa arti dari 'hal yang dicintai'. Mencintai, mencintai, harapan memanggil nama si penyihir hari demi hari. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengetahui arti dari 'keluarga'. Penyihir itu membacakan cerita. Merrily, merrily, dia bacakan cerita hari demi hari. Untuk pertama kali dalam hidupnya, harapan mengetahui arti dari 'kebahagiaan'."


Ah ....


Rasanya begitu lelah, lidah menjadi kelu. Konsentrasi mendadak pecah dengan mudah. Mereka mengatur napas, mencoba mengendalikan nyeri samar yang terus menguat dan ... berhasil, tapi rasa pusing bagai hantaman palu menyerang. Mereka salah, salah besar.


Bisa ia rasakan mukosa hidung yang menyumbat, membuat sulit bernapas. Bisa ia rasakan panas yang menguar dari tubuh. Bisa ia rasakan lutut yang tak bisa dijadikan tumpuan untuk sementara, tungkai bergetar. Si gadis kecil menangis. Apple melangkah gontai, wajahnya merah dan basah sebab lonjakan kesedihan. Lutut lemas dengan cepat hingga ia merayap ke arah kaki jenjang Jin, meraih buku cerita kuno bertulis Story about "RED" yang sudah tak bersinar. Bulir peluh masih menjadi mayoritas di seluruh tubuhnya. Ini menyakitkan, menyakitkan untuk dilihat.


Memeluk erat buku itu ... entah kenapa rasanya hangat, membuat kelopak si gadis kecil terpejam sejenak untuk mengenyahkan cairan yang mulai menggenang di sana, tapi ia tak kuasa sebab alirannya sungguh deras. Menyedihkan sekali untuk dipandang tetapi ... semua terdiam, para guru; Jin; Mizu; Xavier. Lebih tepatnya mereka ikut merasa pilu; bersalah; apa yang harus mereka lakukan sekarang? Karena sudah amat telat ... tidak, masih ada yang bisa diperbuat.


"Aku akan memegang kendali EA."


"Ji-Jin?!"


"Karena Yukio sudah memberikan kekuatannya padaku bukan? Aku akan---"


"Tidak! Tidak. Lebih baik kalian ... menggunakan kekuatan kalian untuk melindungi diri. Apa bisa kalian ... melawan bentuk kehancuran itu sendiri? Kalian yang mengatakannya bukan?!" Apple memekik pilu dalam suara yang kian bergetar, membuat mereka kembali bungkam rapat-rapat.


Tenggorok tercekak, menelan saliva susah payah demi mengakhiri udara yang terasa mencekik, sebab benar adanya apa yang gadis itu katakan; Ark telah runtuh; EA telah bubar; 7 Deadly sins telah terkumpul. Tidak, pasti masih ada harapan.


"Mungkin kita bisa---"


"Aaaaah! Kenapa kalian tidak pernah mau mendengarkan?!" Tangis Apple pecah sudah, mengalahkan senyap yang tadinya berkuasa.


Bergegas si gadis kecil lari dengan terhuyung-huyung, meninggalkan mereka yang tertunduk.


...-oOo-...


Dia terjatuh lagi, entah sudah berapa kali Apple terjatuh. Lututnya lecet dan mulai sedikit mengalirkan darah dan ia tidak peduli, terus saja berlari. Entah kemana tetapi kaki tak berhenti walau sempoyongan.


Lagi-lagi si gadis pirang tersandung. Bau tanah basah berbaur dengan air matanya terasa memilukan. Sudah tidak sanggup berdiri, dia meringkuk di atas tanah. Isaknya kencang, terlebih tempat ini sungguh sunyi; tidak ada cicit burung dan serangga lain; tak ada pula pendar sang surya. Ini ... tempat pertama REDstar muncul—wilayah Ark.


Pusing ... sakit. Rasanya perih sekali dalam rusuk kiri, menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai si gadis kecil meremas baju di dada. Mencengkeram, menariknya sekuat tenaga berharap pilu itu hilang. Menarik lagi, menangis lagi. Menyedihkan. Bahkan buku itu masih dalam rangkulan.


Sebenarnya dia tidak tahu, kenapa buku ini bisa ada pada dirinya. Memoar book itu tentang masa lalu? Tapi kenapa berbeda? Mungkin, memang hanya dia yang memandang pemuda serba hitam itu adalah manusia. Manusia biasa yang bisa merasakan ... merasakan asa dalam hati. Begitu pikirnya. Semua berhak bahagia, termasuk dia 'kan? Tetapi kenapa dia tidak pernah diberi kesempatan? Buku itu mungkin petunjuk untuk melakukan sesuatu mengenai dirinya ... sekarang harus apa? Karena semua sudah terlambat, apa menunggu ma---


"Sudah Apple, jangan menangis. Masih ada aku di sini." Pandangan buyarnya mencoba mencari asal suara. Itu ....


Seketika sosok perempuan—uh, sedikit transparan?—rambut pendek seperti laki-laki muncul di depannya. Susah payah Apple mencoba untuk duduk. Perempuan itu membantunya, baik sekali. Akhirnya berhasil, tangis ikut mereda tetapi isak masih menggebu-gebu.


"Si-siapa ... siapa, kamu?"


"Namaku Kotetsu, aku adalah perwujudan katana REDstar."


Tangis si kecil pecah ketika mendengar nama itu. Sontak Kotetsu bersimpuh di depan Apple, sungguh kimono berbalut lamina tradisional dengan warna yang didominasi hijau lumut dan hitam miliknya berbaur dengan alam. Rasanya hangat sekali, pelukan lembut seperti sutra.


"Tidak, sudah ... merrily, merrily."


Tangan pucat itu membelai lembut pucuk kepala Apple, suaranya seperti irama sentosa. Perlahan menyentuh pipi, persis seperti ... REDstar, bahkan kata-katanya juga. Menangkan hati. Kali ini tangisan Apple benar-benar reda, hanya sedikit terisak tapi mungkin akan hilang.


"Setelah tidak sengaja melukaimu, dia meninggalkan aku di sini ... amat bersalah. Mohon di maafkan, Apple." Gadis yang dituju menjawabnya dengan anggukan pelan, lelah sungguh terasa.


"Aku merindukannya ...."


"Iya ... dia juga."


"Tapi kenapa---hiks, dia pergi?"


"Karena dia takut melukai, dia takut ... mengulang kejadian yang sama. Apple, menangislah jika itu membuatmu lebih baik." Kata-kata simpati itu justru membuat hati makin sejuk. Karena letih juga ... menangis. Pelukan ini menenteramkan, rasanya tidak mau lepas ... sebentar.


"Mengulangi?"


"Dia tidak pernah menjelaskan hal tersebut lebih lanjut dan ... ada satu katana lagi yang dia miliki. Baunya seperti darah, dia tidak pernah mau menggunakannya. Sepertinya, ada kaitan dengan itu."


"Senjata ... lain?"


"Iya, katana itu usang dan tak berjiwa. Umurnya mungkin sama tua dengan dia. Aku diserahkan oleh Scarlet ketika REDstar bergabung dengan Nura, sejujurnya aku bertugas untuk mengawasi dia. Aku saksikan dia selalu menjalankan tugas dengan baik."


"Dia, memang orang baik, tapi kenapa ... ke-kenapa ...."


"Barangkali ... takdir."


Apple menggenggam erat lengan kimono sang perwujudan pedang, seperti berat untuk lanjut berkata-kata. Takdir? Begitukah? Sungguh takdirnya keras sekali. Apakah ini adil? Kata orang, takdir bisa diubah, begitu juga dia 'kan? Tapi, sekarang ....


Menyadari gerak-gerik Apple yang mulai berbeda, Kotetsu mencoba untuk meluluhkan suasana. "Umh, Apple, setelah ini apa yang ingin kamu lakukan? Aku akan kembali pada tuan Scarlet karena melihat langit ungu seperti ini, bertanda bahaya. Dia mungkin membutuhkan bantuan untuk menangani wilayah Another World."


"Tidak mencari- mencari REDstar?"


Kotetsu menggeleng. "Ingin, tapi tak bisa. Dia memutus kontrak denganku, lebih tepatnya ... aku sungguh kehilangan jejaknya."


"Aku, ingin ... pulang."


Pulang, tapi kemana? Karena tidak mungkin dia kembali ke akademi dan tak mungkin juga kembali pada klan Nura. Pasti rasanya menyenangkan, memiliki tempat untuk kembali.


"Aku akan pergi ke Luchifenian," lanjut si gadis pirang.


^^^Bisa saja kau lari, tapi tidak dari dosamu.^^^