
"Kau sudah menemukannya?"
"Ya, tak jauh dari sini."
Decih mengudara, si wanita mengusap raut sarat penat, kemudian jemarinya bergerak seakan tengah mengendalikan sesuatu. Binar putih mulai berkumpul dalam telapak, Aion merendam tangan dalam cahaya tadi dan warna putih kian memekat. Kepal mengerat bahkan buku jari sang hawa memutih, sontak cahaya berubah menjadi tongkat mandala emas.
"Ayo kita pergi, Pipe fox."
Perang; bertarung, sebuah kata yang memperlihatkan arti rasa sakit dan kehilangan. Hal yang seharusnya manusia hindari, tapi kadang demi suatu tujuan, yang menurut pelakunya mulia seperti perdamaian, ini mesti dilakukan. Berbagai kata disematkan untuk menyucikan maknanya. Tetap, tak ada yang mampu menghilangkan anyir cairan merah. Ketika napas telah terbiasa dengan aroma mayat, tangan berlumur darah.
Kelam melahap eksistensi gemintang, mengenyahkan kerlip jenaka pada kanvas magenta. Bahkan sang candra redup sinarnya, suasana ceria khas telah lenyap.
Berkali-kali menyisipkan anak rambut ke belakang telinga karena helai-helai pink ini terus saja mengganggu pandangan. Mereka melesat; gesit; berkendara tongkat mandala, Aion menukik di angkasa mengikuti rubah api biru yang meluncur seperti komet. Perjalanan mereka tak mulus, hal ini sudah mereka duga. Monster berkumpul dekat sang empu, itulah mengapa suasana menjadi sepi lagi mencekam. Para makhluk Another World mencegat tetapi mudah dienyahkan. Gaun jelaga pembebat tubuh berkebit seiring gerak ritmis sang empu—merapal mantra, berkelit dan membidas.
Aion masih lekat duduk miring atas mandala emas walau lengan tak henti bergerak, meluncurkan serangan sihir. Sedang Pipe fox telah berubah sepenuhnya menjadi api raksasa, menelan mereka dalam amukan bara penyebab gosong menyeruak.
Julukan sang legenda penyihir waktu bukan sekedar nama, kekuatan sihirnya luar biasa. Hingga Pipe fox meluncur kebawah ketika retina menangkap sosok pemuda pirang berdiri angkuh. Mata emasnya mengedar pandang dengan seringai puas seperti memenangkan undian. Vinschent D'Leviantha, orang itu benar-benar rusak. Aion mengangkat tangannya, mengisyaratkan Pipe fox untuk pergi—membasmi makhluk Another World—agar tak mengganggu ketika berhadapan dengan dalang masalah.
"Orchis, bantu Pipe fox," Aion mendesis pelan dan sang Automaton bermata ruby seketika muncul. Berbeda dengan Pipe fox, Orchis langsung mengangguk paham. Mungkin ini sebabnya dia mudah dikendalikan untuk menghancurkan. Tak peduli siapa tuannya, langsung menurut jika sudah di bawah kendali.
Cahaya kuning benderang menyelimuti tubuh Aion. Ia melayang. Sampai wanita ini menjejak sempurna di tanah seraya menatap pemuda bengis. Si rambut merah muda tak menyangka akan bertemu—mantan—temannya dulu di tempat ini. Daratan serba hijau dengan aksen merah, putih, atau kuning di beberapa titik. Aion—Apple Luchifen—menilik, mengalihkan atensi dari sosok bermata emas. Menghilang dan muncul tepat di depan. Alih-alih takut atau terkejut, Vinschent justru menyeringai.
"Wah-wah, lihat siapa yang datang ... nona cantik? Aku merasa tersanjung." Suara hangat penuh sarkastik mengoyak udara dingin.
Bibir merah terkatup rapat, tak merapal kalimat ibarat tunawicara. Aion juga enggan mengubah ekspresi, dingin. "Sepertinya kau tidak mengenaliku, tak masalah ... wajar saja. Tapi aku benci ... kau, tukang tipu!" Aion memekik, menepis suasana mati yang mulai merambat.
Suara debam menggema, salah satu raga makhluk Another World jatuh dekat mereka, menumbangkan satu pohon cemara. Para familiar melaksanakan tugas mereka dengan baik, memancing raut tak suka Vinschent. Tak ada senyum dari kedua makhluk. Malah saling melempar tatapan dingin nan intens.
"Orang lainnya yang ingin menghentikanku? Bodoh! Aku sudah sukses sampai sejauh ini! Tak lama lagi aku berhasil menjatuhkan mereka, manusia sombong."
"Kau hanya iri, Vinschet!"
"Diam! Tahu apa kau?! Ketidak tulusan yang murni ... bahagia dan tenang, betapa hebatnya kalian! Menipu tanpa mengakibatkan luka, bahkan tampak tidak menyadari menipu satu sama lain. Jika aku hanya mengetahui satu hal bahwa tidak harus merasa takut berada di posisi yang berbeda dengan kehidupan kalian. Orang-orang tak henti mengatakan padaku, 'betapa beruntungnya kamu', tapi aku selalu merasa seperti tersiksa di neraka! Bagiku, orang yang menyebutku beruntung sesungguhnya adalah orang yang lebih beruntung. Apa sebenarnya konsep menjadi manusia?! Aku hanya ingin hidup normal tanpa beban ini ... dasar kalian, bulus! Mati!"
Memang pengetahuan adalah segalanya namun mental tetaplah penguasa, jika tidak ... pemahaman mendalam justru akan menjadi belati bagi pemegangnya.
...-oOo-...
"Akh!"
Pertarungan berlangsung sengit, Aion berkali-kali berhasil disudutkan. Sebuah tombak semu kini menancap sempurna tepat di dada kanan sang penyihir, luput beberapa senti dari organ vital. Darah berbaur dengan udara. Si wanita menggeliat, melepaskan diri dari tikaman menyakitkan tadi.
"Uhuk uhuk! Ugh," darah tak henti dibatukkan Aion, mata biru ia kerjapkan berkali-kali demi mengenyahkan pandangan buram.
"Kalah! Kau mati! Hahaha!" gelak puas terdengar mencebik dari bibir Vinschent. Tentakel transparan muncul, membelit ke sana-kemari. Salah satunya membebat tubuh semampai Aion. Ditarik paksa sang wanita hingga darah lagi-lagi memancar, membuat ia memekik kesakitan. Luka yang masih basah dan berdenyut hebat, kembali dihunus oleh tentakel berujung sama tajam dengan pedang.
Mencoba melawan, ia mencengkeram tentakel penyerang, berusaha melepaskan diri dan yang didapat tikaman tadi kian diperdalam. Satu tentakel menembus bahu kiri Aion. Si wanita berteriak marah. Mata biru Aion gemerling, bersinar bak komet menari atas matahari. keadaan berbalik.
Aion baru saja melibas dengan kekuatan sihir salah satu tentakel yang betah terbenam dalam tubuhnya. Tersenyum di antara warna merah dari darahnya sendiri, "Sekarang giliranku."
Tongkat mandala emas kembali di genggaman. Bibir merah tipis merapal mantra dengan memutar mandala. Seketika cahaya mirip pisau menghunjam, mengoyak dalam pada tentakel semu sang pemilik Envy. Vinschent tak tinggal diam, menghadang serangan sang penyihir. Kaki jenjangnya melompat ke atas, mengeluarkan pedang entah dari mana, kemudian menukik lagi untuk menyerang.
Gagal, wanita ini berhasil mematahkan tebasan beruntun dari si rambut pirang. Tangan putih susu itu merentang ke atas, dihentikannya Vinscent dengan mudah menggunakan sihir waktu.
"Sihirku ... kuat, Vinschent!" Sebuah cahaya berkedip sekali dan selanjutnya bunyi debam terdengar keras. Disusul gemerutuk bebatuan yang saling bertumbukan mencumbu gravitasi. Partikel debu menutup penglihatan.
Sunyi mengudara.
"Apa ini, mana semangatmu tadi? Hanya segini kemampuan orang yang menghancurkan tujuh kerajaan? Payah!" bibir cherry tipis tersebut mencebik. Tak ada jawaban.
Cahaya kuning benderang kembali menyelimuti tubuh Aion. Luka-luka di tubuhnya sirna, menyisakan berkas darah dan gaun hitam yang terkoyak oleh sergapan benda tajam penoreh luka. Tubuh kembali bugar dengan menggunakan sihir penarik durasi.
Debu reda, nampak Vischent menunduk dalam. Bersandar pada dinding batu cekung ulah hempasan Aion tadi. Pedang dalam kuasa lepas dan hilang menjadi bulir cahaya. Darah nampak di sudut bibir sang pemuda. Aion merungut jijik menatap Visnchent.
"Selamat tinggal, Vins---"
"Hah! Kau, tak bisa bercanda ya?" Vincschent melesat, menghilang dari hadapan. Belum sempat menengok, pemuda ini sudah ada di belakang Aion. Mencengkeram rambut pink sang hawa lalu menariknya ke belakang untuk membanting tubuhnya.
Aion lengah.
"Aakh!" memekik tertahan. Tangan pualam sang hawa ikut mencengkeram helai-helai merah muda kepunyaan, mengurangi ngilu yang mendera kulit kepala. Kemudian mengentak tapak sekali dan es-es runcing muncul dari tanah, berusaha menghunus tubuh berbalut jubah hitam di belakang.
Vischent menyeret rambut yang masih ia cengkeram dan melemparkannya menjauh. Membuat tubuh wanita itu terpelanting beberapa kaki darinya. Si penyihir mendarat dengan kaki kanan. Tak lama kemudian ia meringis, mengusap kepalanya yang ngilu luar biasa. Puas mengusap puncak pink susu, si wanita menyentak tangan ke depan. Barrier dengan ratusan bilah runcing di sisi dalam mengungkung Vinschent. Aion kembali menggenggam tongkat mandala, antisipasi jika pemuda pirang berhasil lolos.
"Kau seperti keledai. Mengulang-ulang kesalahan yang sama." Vinschent memanipulasi bebatuan di depannya untuk melindungi dari hantaman pasak-pasak tajam. Namun, belum sempat berkomentar lagi si penyihir telah merobek jubah hitamnya sebagai jawaban. Ternyata ia memadukan sihir waktu hingga luncuran pisau semu kecil menjadi luar biasa cepat, tak terlihat. Gesit Vinschent berteleportasi ke puncak kubah, menyeringai.
"Mengulangi kesalahan yang sama?" Aion membeo. Mata langit sang hawa melihat sobekan panjang di jubah Vinschent. "Lalu, itu apa?" katanya tengil. Ia merubah pijakan, kuda-kuda menyerang berubah bertahan.
"Oh," jawabnya. Pemuda pirang tersenyum meledek, tangannya menggaruk-garuk rambut. "Ini untuk menghiburmu sedikit."
Detik kemudian Vinschet melompat ke arah Aion. Kepalanya mengedik sedikit. Seolah diperintah, sebongkah batu seukuran gajah melesat ke arah sang hawa.
Decih sarat akan kesan mencibir lolos dari bibir si penyihir. Ekor mata Aion menangkap batu besar melesat dari arah barat. Alis sang hawa naik sebelah, menatap Vinschent remeh. Bilah emas dalam rengkuh jemari bergerak cepat, sontak batu tadi menjadi beberapa bagian kecil. Debam menggaung riuh kala puing tadi menghunjam tanah.
"Menghibur katamu?" Pendar nampak samar di mata langit gemerlap, Aion tersenyum sinis.
Mendengus, Vinschet yang masih dalam jatuhannya berpindah ke samping Aion sekejap, siap menyerang. Mandala bergerak horizontal tepat saat Vinschent muncul di samping si wanita gaun hitam. Sejurus kemudian sulur-sulur biru menyembul dari tengkuk Aion dan langsung menjerat tubuh Vinschent, tapi lengkung sabit belum enyah dari wajah. Setelah membiarkan tubuhnya terjerat sulur air Aion, pemuda pirang menatap langit yang menghitam. Suara guntur terdengar. Halilintar menyambar tubuhnya dan menghantar listrik tegangan tinggi ke Aion yang sedang mengontrol air. Vinschent? Ia tak apa, tak mungkin terkena efek sihirnya sendiri.
"Sial!" umpat Aion pelan. Ia langsung berkelit ke belakang sepersekian detik sebelum petir menyambar, beruntung dia memiliki sihir waktu. Teleportasi; kemampuan dispell; elemen petir, Aion merangkai tiap-tiap kuasa si jubah hitam dalam benak. Sudah cukup main-mainnya.
Menjentikkan jari, membiarkan tombak es bermunculan dari tanah.
"Aku mulai bosan dengan mainan bocah ini," desis pemuda itu dingin. Ditinjunya bilah duri es yang muncul di depannya jadi kepingan. "Ayolah, nona. Kenapa kau nyantai? Kurang motivasi, hah?!"
Aura merah mulai berpendar di sekitar tubuh terselimut Envy itu. Sedikit demi sedikit di tanah mulai terbakar api. Rerumputan menjadi abu. Tanah kering kerontang pertanda suhu tengah dipacu naik. Neraka telah hadir di sini, terima kasih atas 7 Deadly Sins yang ia genggam. Aion melayang menjauh, menunjukkan seringai samar. Tongkat mandala berganti tali-tali baja tipis, bermaksud menjebak sang pemuda dengan taktik sederhana. Musuh mulai meremehkan, pasti jauh lebih ceroboh.
Baja pertama sudah direntangkan dan bisa dipastikan Vinschent tak melihat hal itu.
Bara disembur brutal, si penyihir hanya melompat ke sana-kemari. Alam terbuka dengan pepohonan yang solid, menguntungkan untuk berlindung. Peluru api hampir mencumbu tubuh ramping Aion kalau saja si wanita tak menjatuhkan diri dan berguling. Pohon di belakang hangus seketika, menyisakan asap kebul.
"Berhenti menghindar! Dasar pengecut!" sentak Vinschent marah, kembali menyemburkan api untuk ke sekian kali.
Wanita ini menyeringai lebar. Berkelit kemudian menggerakkan jemari, membuat tali-tali baja yang tadi dipasang bereaksi, "Coba lihat ke bawah."
Vinschent terkejut, tak percaya atas apa yang dilihatnya. Ternyata Aion memancingnya bertarung dalam pola silang ganda. Sulur-sulur perak membentuk pola yang memang sudah direncanakan si wanita sejak awal, Vinschent serta Aion berada tepat ditengah. Tali baja mengelilingi mereka, membentang apik.
"Sejak kapan---"
Aion melebarkan senyum. Sejurus kemudian listrik tegangan tinggi mengalir pada tali baja tadi, menyengat Vinschent hingga bau hangus tercium. Kali ini, serangan petir bukan miliknya.
Menggertakkan gigi, jelas sekali emosi membara dalam jiwa. Tetapi dia sudah mulai melemah, menggunakan banyak sihir dan terkena serangan semacam tadi---
"Quod anima, quae mortua est. Surge!" Vischent merapal, mendongakkan kepala. Monster bermacam bentuk muncul dari udara, berselimut aura hitam pekat dan tatapan hampa. Sang pemuda pirang menyeringai sarat akan kesan mencibir, "Coba saja jika bisa mengalahkan mereka!"
Sontak Aion mengentak kaki, di saat bersamaan cahaya putih menyilaukan dan membawa mereka kembali ke alam baka. Cepat dalam hitungan detik, tanpa sempat melakukan perlawanan.
"A-apa yang kamu lakukan?!"
"Membuat mereka mati lebih cepat. Sudah kukatakan, sihirku lebih kuat."
Rasa takut benar-benar mengekang Vinschent, ia tak percaya atas pemandangan di depan mata. Dengan begitu mudahnya wanita ini melenyapkan makhluk yang ia panggil. Terlebih badannya utuh, tak peduli berapa kali si pemuda menyerang.
Sepertinya tidak akan ada pertarungan kali ini. Tidak akan ada lagi.
Memberontak, berusaha membebaskan diri. Namun, malah tersiksa dengan sengatan listrik dari sulur tipis kungkungan baja tersebut. Tubuhnya mengejang, kemudian mulai lemas terlilit kuat dalam tali baja. Tidak, Vinschent tak pingsan. Jelas sekali kedua lensa emas tersebut terbuka meski sayu. Tidak disangka ... matanya mengelam.
"Butuh bantuan?"
"I-iya, aku---akkkhh!" Samar nampak tulang rusuk dan punggung si pemuda patah, mencuat hingga koyak sudah organ dalam rangka. Memamerkan tulang pelindung yang telah terbelah kasar, tentu darah tak luput terlihat. Bahkan jika kau berada dalam jarak dekat, kau bisa membaui aroma amis karat menguar tanpa ampun. Sebuah cakar besar menerobos tubuhnya. Memuntahkan banyak cairan merah. Mulut Vinschent terbuka, tetapi hanya nada parau yang terdengar mengerikan.
Aion terdiam, menatap tubuh di depan mengejang dan perlahan lemas. Ia yakin pemuda tersebut telah mati. Apa-apaan itu ....
"Ku gunakan jiwamu untuk memperkuat Leviathan, bagaimana?"
Aion menatap tak percaya sosok bermata merah menyala yang muncul dari temaram. Ia menatap garang, mengepal kuat di sisi tubuh, menumpu amarah pada tiap buku jemari. Memang sungguh sia-sia jikalau meminta tolong pada iblis, mereka hanya mengajukan kebahagiaan semu dalam kehancuran.
"Lucifer."
Enam sayap yang penuh ragam dikepakkan, membuat angin menderu liar, meluluhlantakkan sekitar seperti topan. Kekehan mengudara, cakar hitam obsidian terhias darah terangkat. Seketika gemuruh petir menggila seperti sambutan kematian.
"Drama yang menyedihkan, 'kan ... penyihir?!"