
Hunus mata pedang tepat di perut rampingnya, cairan merah kental dimuntahkan dalam jumlah sedikit. Dengan tenggorok tercekak, pun perih luar biasa melanda sekitar otot perut. Benda runcing dalam kuasa REDstar menembus si gadis kecil hingga wajahnya mengeras. Apple erat menggenggam bilah runcing katana, buku jarinya mengalirkan cairan merah dalam mata pedang berlumur darah menghitam milik Yukio sebab kontak oksigen. Pedangnya sungguh tajam, lancar menghunus perut dan mungkin jemari Apple bisa putus jika sedikit lagi bergerak.
"He-hentikannn," lafaz pelan Apple yang larut dalam nyeri, menunduk menahan sakit teramat sangat. Gadis ini tidak sekuat pemuda serba hitam di depan atau sang Paladin.
"Ahh, ahh ...," suara rendah si pemuda tatkala rasa bersalah mulai menggerogoti batin, mungkin dalam waktu singkat berubah merongrong.
Apple tidak memberontak, jikalau ingin pun tak mampu. Tercekik, ia merasakan getaran pada tubuh REDstar menjalar pada pedang, kontras dengan ekspresinya. Setiap getaran yang dirasa selalu berhasil mengundang perih, napas pemuda itu tak teratur. Cepat-cepat REDstar menghentakkan tangannya, melepas kuasa atas katana setelah melihat si gadis pirang amat kesakitan. Seketika pedang itu berakhir eksistensinya, berubah menjadi serpihan pasir hijau tua tertiup angin.
Mimik seolah tidak percaya dengan apa yang diperbuat bahkan mulai menitikkan air mata. Tak lama berselang, debuman menyapa pendengaran. Pemuda itu ambruk laksana kaki tak kuat menyanggah, pun si gadis kecil. Apple tergeletak di atas bumi. Darah merembes, memberi warna pada gaun merah muda kepunyaannya. Darah yang mengalir kembali mengotori karpet hijau alam, bau karat darah mulai mendominasi.
Mata terbuka lebar sementara mata kelam bergetar dahsyat, menyaksikan raga berdarah Apple. "T-tidak, lagi ...? Arrghh!" Genggaman tangan REDstar kuat bukan main pada puncak kepalanya sendiri, sukar dilepaskan pertanda lara luar biasa. Entah apa yang terjadi pada pemuda ini, tapi ia nampak benar-benar kesakitan ... sedang serangan bertubi-tubi dari Yukio bukan apa-apa baginya.
Sekarang REDstar mencengkeram ceruk leher hingga ia sendiri mendongak. Kornea sarat akan awan kelabu, seakan bisa menoreh kedukaan pada siapa saja yang melihat. Cekik makin kuat hingga tubuh bergetar hebat, pun isak tangisnya. Ada satu kejanggalan.
Kenapa Apple bisa mendadak di depan REDstar? Sejak kapan? Bukankah dia terkurung dalam barrier milik Yukio? Barrier itu sungguh kuat bahkan dapat menahan sihir hitam sekali pun, perwujudan pedang Yukianesa dan Honjo Masamune tidak mudah untuk diruntuhkan. Tetapi kenapa dia di situ? Dan merelakan diri? Apa karena Yukio telah takluk? Tapi ... tapi tapi tapi---
"Rhaaaaagh!" gaung bahana si pemuda memecah telinga, membuat bumi bergetar beriringan dengan guntur langit menyambar-nyambar udara dalam bercak magenta cakrawala. Teramat kuat hingga desir angin melanglang, menumbangkan dan mendorong tumbuhan hidup laksana topan menerjang.
Debu berkebat-kebit membutakan sekitar, membuat penutup gumpalan asap bagi mereka. Tak lama suara sumbang mengiris udara, sesuatu menyusup masuk dalam kumpulan asap bak meteor.
Bum!
Cekung lain kembali tercetak di tempat kejadian. Dengan jongkok bertongkat lutut, Jin kuat mengepak-ngepakkan sayapnya demi mengusir debu penghalang. Pelan-pelan angin berubah normal kemudian menenang seiring jelasnya pandangan.
Bibir pemuda Vermilliom tertutup, tak merapal kalimat seperti tunawicara. Hanya mendengus kala sasaran sudah tidak ada di tempat. Mata hijau mengedar pandang terhadap celah pohon yang nampak renggang lagi rubuh, sedangkan para semak begitu berantakan.
Bulu-bulu legam penyusun sayap kembali terbentang. Ketika Jin hendak mengirai guna melesat lagi, ia mendengar suara rintih bariton lembut, begitu pelan lebih-lebih tenggelam. Helai-helai bulu hitam terombang-ambing di udara sebab hentian paksa pada sayap. Pemuda rambut pirang itu kembali mengawasi sekitar, mencari asal suara itu. Hingga bertemu---
"Oh, astaga!"
...-oOo-...
Kepak sayap di punggungnya kian gesit—melawan aliran udara—membuat helai kelamnya bersicepat riuh. Ia menggantung kala hampir di akhir saat mata menatap gerombolan manusia di bawah, mereka benar-benar menunggu kedatangan Jin. Pemuda Vermillion mendarat tenang di depan kerumunan tersebut. Sayap lenyap tatkala kaki jenjangnya menapak, menyisakan pecahan helai bulu-bulu hitam di udara.
Kaki berbalut heels hitam berderap, menyaruk langkah cepat di bawah gegap gempita kilat suram cakrawala. Perempuan berpakaian bak boneka dengan bando manis, bertengger kokoh menghias rambut jelaga. "Ah ... Mizu," panggil si pemuda pada perempuan yang menghadap terlebih dahulu.
Mizu menatap tanpa gurat ekspresi barang secuil pada pemuda sulung keluarga Vermillion. "Bodoh." Lengan perempuan Shikurai terangkat, melayangkan satu tamparan keras di pipi cakap Jin hingga merah. Suara perih menyeruak, membuat siswa lain yang melihat memalingkan wajah. Pasti sakit.
Wajah perempuan lolita memerah, merebak panas pemicu gumpalan bening bersarang di pelupuk. Setengah mati ia menahan air mata yang mendesak untuk diluncurkan.
"Dasar bodoh." Tak lagi Mizu mampu menahan isakannya lebih lama. Ia menggigit bibir bagian bawah, berusaha meredam isak pilu tersebut.
"Maaf." Ketika tamparan lain hendak di layangkan, Jin menggenggam pergelangan si pemilik kulit putih susu. "Maaf sudah membuatmu khawatir." Didekaplah sang kekasih ketika ia meronta membuat aroma vanilla menyusup samar, diiringi membelai lembut rambut hitam laksana jelaga si perempuan. Tangis Mizu amat pelan, tak bersuara dan membasahi dada lapang milik Jin.
"Tapi kita tidak punya waktu! Aku butuh bantuan Doctor, segera!" seru si pemuda ketika memandang murid dan guru yang ada di sana. Mizu menengadahkan kepala, menatap lurus pada mata hijau mint milik Jin nan kemerlap seolah penuh tanya dengan air mengalir di pipi meronanya.
Bergegas Xavier menghampiri Jin sampai-sampai menubruk seluruh murid yang menghalangi, menatap tegas pada mata hijaunya. Sepertinya guru satu ini paham betul dengan gerak-gerik si pemuda, hingga kedua adam ini saling tatap.
"Aku ada firasat buruk sejak tadi dan ...."
Detik kemudian deru langkah terdengar, dari kejauhan sosok serupa Yamantaka muncul di balik rimbunan pohon. Dua dari delapan tangannya membawa hati-hati raga manusia. Sontak seluruh atensi menghadap Vajrayana, mata mereka membelalak melihat badan berlumuran darah milik Yukio dan Apple.
"Ck! Apa yang kalian lakukan?! Cepat!" Xavier naik pitan hingga satu tungkai berbalut boots kelam terhias banyak rantai menyentak bumi, membuat para guru dan murid kocar-kacir memenuhi titah.
"Aku tahu ini akan terjadi, ada yang harus kita bicarakan," ucap pilu si guru bermata kucing, kali ini raut gusar terukir jelas di wajahnya. "Sebenarnya Yukio ... dia adalah Fallen Angel."
...-oOo-...
Aroma obat dan herbal membaur dalam ruangan putih ini. Semilir angin menerpa lembut gorden tetapi langit tak tersenyum. Perkakas alumunium yang tersebar nampak mengkilap, sibuk bertautan antar jemari lentik Mizu dan luka di tubuh Yukio. Juga guru lain, telapak mereka bercahaya sebab lingkaran sihir kecil demi menyembuhkan luka.
Tampang gusar menghias tiap manusia dalam ruang rawat, bahkan kondisi ini mempergundah pemuda pirang yang duduk di samping kasur empuk berkaki besi. Shikurai muda sesekali memandang kekasih di depannya yang terus menunduk seperti enggan melihatkan wajah.
"Aku lihat ...," Jin angkat bicara, menepis suasana mati yang mulai merambat, "... tubuh terkoyak dekat tumpukan daging."
Mata emas membalas ucap si pemuda pirang dengan tatapan tegas, Xavier beranjak dari bangku kecil di dekat pintu setelah mendengar hal tersebut. Mengikis jarak atas Jin yang masih terdiam dekat Yukio.
"Mayat ... kalau tidak salah teman Apple, Exons. Sempat bertemu satu kali dekat Ark. Saat melihat dia aku merasa kejanggalan ... sekarang aku tahu. Dia memiliki aura aneh dan tidak pernah ku melihatnya menjalankan tugas. Dulu aku suka mengawasinya tapi sejak sibuk .... Mungkin dia juga yang menghancurkan Ark, andai saja saat itu aku sadar kalau dia---"
"Sial!" Murka sampai-sampai menendang meja besi di dekatnya dengan tangan masih bersarang di kedua saku celana jeans. Sekarang Xavier yang berganti naik pitan, Jin pun bungkam mengetahuinya.
Lantas seorang siswi berwajah manis berdiri di balik sosok teguh Xavier, mengelus lembut pundak sang adam demi mereda emosi. Pria itu pun mengambil napas panjang selaras dengan decit besi bangku yang tengah diseret paksa. Lengan baju biru muda samar putih berjuntai, bertengger di kedua bahu Xavier ketika pria itu kembali duduk. Sepertinya siswi ini ketua kelas Esquire tepat di bawah Jin, guru penanggung jawab mereka adalah Xavier sedang guru Jin dan Mizu adalah Yukio.
"Orang bodoh itu juga melarang untuk mengikutinya tadi pagi."
"Jadi Bapak sempat berkumpul dengan Tuan Yukio?" Mengerti, siswi itu buka suara. Suaranya terdengar ramah.
"Ya. Dia mengumpulkan seluruh guru, di situ juga dia cerita semuanya," ujar Xavier sembari memegang rambutnya yang pirang kecokelatan, mengisyaratkan siswi itu tuk membelai. Bisa-bisanya dia bersikap genit di saat seperti ini, kenapa siswi itu juga menurutinya?
"Nah ginikan jadi tenang." Xavier menyengir lebar, sepertinya dia punya cara sendiri untuk meluluhkan suasana. Kekehan sang siswi mengudara, tetapi yang lain mengukir senyum masam. "Haah. Dulu, ketika Adam diciptakan banyak malaikat yang tak terima. Yang menentang itulah di turunkan ke bumi, dijadikan manusia ... salah satunya Yukio. Banyak dari malaikat menyesal dan bertaubat, mereka ingin kembali ke surga dan Yukio dibantu oleh Ramiel, Archangel of Hope and Kindness."
"Ramiel? Maksudnya ...."
"Apa Yukio bisa selamat? Dia malaikat bukan?" Cepat Jin menyela perkataan Xavier, walau masih enggan melihatkan wajah.
"Aku tak tahu. Dia sudah berumur ribuan, terlebih ... sebagian kekuatannya sudah di berikan padamu, Vermillion. Kau mempunyai sayapnya."
"Kenapa aku? Andai saja ...." Kemudian bungkam. Suaranya bergetar, jelas sekali kalau dia menahan isak. Mizu memandang melas kekasihnya tersebut.
"Andai saja Yukio tidak memberikan kekuatannya lalu dia bisa selamat dari ini, begitu pikirmu? Hargai keputusannya. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia tahu hal seperti ini akan terjadi, apalagi sejak dulu malaikat dan iblis perang dingin. Yukio percaya padamu Vermillion, kalian seperti ayah dan anak, 'kan? Terlebih, The Hope sudah kembali." Jin mendengus, kalah argumen dan makin membisu.
"Yukio selalu punya keputusan bijak," lanjut si guru bertubuh kekar pemilik tato di lengan.
Sunyi sempat menemani, meski tak lama.
"Siapa, The Hope? Apa dia yang membuat Yukio seperti ini?" Suara ramah kembali mengusik, mencoba mencairkan suasana. Sedikit, hanya sedikit.
"Mungkin ... entahlah. Orang memanggilnya REDstar. Harusnya dia sudah lama mati karena mengorbankan jiwa untuk membangun Yggdrasil dan membuat bumi layak huni untuk manusia. Hah, bodohkan. Dia sendiri yang menghancurkan tapi dia juga yang membenahi."
Sesuatu terbesit dalam kepala Jin kala Xavier masih berujar. Dia ingat percakapan si gadis pirang dengan Yukio jauh-jauh hari. Menguntit di balik pintu, mendengar kisahnya. "... Apple."
"Itu! Iya, Yukio mulai merasa aneh semenjak bocah itu masuk akademi. Entah bagaimana The Hope bisa ada lagi, yang jelas eksistensinya berbahaya untuk dunia ini. Terlebih jika dia mendapatkan 7 Deadly Sins. Dia menggunakan 7 Deadly Sins untuk menghancurkan dunia dan 7 Holly Virtue untuk membenahinya."
Seketika Jin berdiri hingga gesek bangku besinya nyaring memenuhi ruang. "Aku akan membunuhnya!" sopran berang si rambut pirang memecah hening, tersemat begitu apik di udara guna menyelap pada setiap cuping telinga.
"Jin! Apa-apaan ...."
"Wow wow wow, tenang dulu kawan. Membunuh siapa? Muridmu sendiri? Kamu jangan menyalahkan dia, mungkin Apple juga tidak mengerti akan hal seperti ini. Bisa apa sih bocah itu. Dan kalau membunuh RedStar ... apa mau berakhir seperti Yukio? Tenangkan dirimu."
"Tapi ... akh!" Dentam tubuh Jin pada bangku terdengar jelas, dia kembali duduk dengan tangan bersedekap di dekat Yukio. Menenggelamkan wajah pada kasur, mungkin dia menangis. Yukio benar-benar sudah ia anggap ayah sendiri.
Masih berkutat dengan luka-luka di tubuh Yukio dan memandang Xavier dengan serius. "Jadi apa yang harus kita lakukan?" imbuh Mizu dingin.
"Masa tidak tahu ... Meister," jawab Xavier sarkastik tetapi Mizu tak merespons. "Halangi monster itu untuk mendapatkan 7 Deadly Sins. Menurut perkiraan Yukio juga ... sepertinya REDstar mengincar si bocah newbie. Tahu apa nama kerajaannya? Dan tujuh kerajaan besar yang lain?"
"Maksud Bapak---ah, The Great 7 Demons of Hell."
"Nah, itu dia yang kumaksud dari siswi terbaik se-akademi. Luchifenian; Levianthans; Mammorlon; Sathnael; Asmodean; Beelzenian; Elephgort, mereka dari nama para iblis Deadly Sins." Xavier bersandar pada bangku. "Setelah The Hope membangun Yggdrasil, dia menyebar Vessel Sin keseluruh dunia dan sekarang mencarinya lagi ... mungkin."
"Untuk apa?" Pertanyaan itu diucap Mizu dengan aksen jengah yang begitu kentara. Tak sabar akan ejekan desir pemanas ruangan.
"Entah, tak ada yang tahu. Kenapa dia bisa muncul kembali, apa yang dia inginkan, tujuannya apa ... entah. Hanya itu kesimpulan yang bisa kita ambil dan mungkin juga dia mengincar Apple untuk Vessel Pride."
"Lucifer ...."
"Hanya dia satu-satunya Luchifenian yang selamat, 'kan?"
Hening mengudara, tak ada yang buka suara. Matahari tak memancarkan sinarnya, tertutup pusar awan magenta nan berlimpah di seluruh ufuk dirgantara. Udara dingin terasa menusuk di setiap detik. Raut setiap Doctor yang menangani sang Paladin makin gusar, pun suara detak jam menjadi irama kekecutan di ruang serba putih ini.
Gelegar petir menyeruak memekakkan telinga, menyembur kilat putih penusuk mata pada tiap-tiap celah dan relung.
Rintik berubah menajam. Kering menghangatkan cuaca terasa basah pun beku pada akhirnya. Tirai hujan bak barikade air memburamkan pandangan, menabrak-nabrak beling jendela hingga membuat anakan sungai. Begitu deras. Bahkan dalam waktu singkat, genangan tercipta di sana-sini. Liar angin menderu, menerpa kasar pucuk para pepohan pun tumbuhan lainnya.
"Guru!" Jin memandang sang wajah lembut yang kini mulai melipat sedikit kelopak pucat.
Jemari lemas berbalut kulit kering bergetar, susah payah menyentuh rambut pirang si pemuda. Lirih dan dingin seperti salju yang jatuh di rerumputan kemudian meleleh. "Oh, Vermillion ...."
"Guru jangan banyak bergerak istriahat nan---"
"Jin!" Kalimat tanpa jedanya terputus oleh senggak sang kekasih, atensi pun teralih pada Mizu. Perempuan Shikurai itu menggelengkan kepala dengan gusar tak kunjung pudar. "... Blood Loss."
Pemuda Vermillion terkejut. Nampak buku jarinya memucat sebab kepal teramat sangat, pupil mengecil seiringan dengan getaran mata yang melebar. Seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tak mampu. Leher tercekik, sia-sia menelan saliva di tenggorokan. Air mata mengalir deras dalam kelu.
"Maaf tidak bisa berbuat jauh. Ah, tidak ada penerus aku minta maaf," ucap lirih Yukio bak bola besar menghadang lekum.
"Dengan ini ... E.A. dibubarkan." Itu kalimat akhirnya dan napas pun putus. Kalimat sebelum ajal. Kalimat penutup sebelum dia pulang ke tempat asalnya, bertemu pada Tuhan. Pada Sang Pencipta, yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.
Semuanya diam; semuanya tunduk; semuanya menyimpan duka. Tidak tahu harus berkata apa; tidak tahu harus berekspresi apa; semua tenggelam dalam isak. Sunyi; diam; hening, semua menyimpan raut tak percaya tapi dalam hati sudah mengetahui kejadian ini pasti datang.
Hujan ini, petir itu, memperkeruh keadaan.
Pemuda pirang—Jin Vermillion—mematung. Kalimat demi kalimat itu disapu dengan teliti, berusaha menyerap makna yang tersirat dengan gamblang. Efek yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Sudut bibir Jin tertarik samar, membentuk lengkung sabit penuh pilu. Pandangan dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik. Sesuatu bergolak dalam batin. Rasa kesal, kecewa bahkan putus asa berpadu di alam sadarnya.
Jin memiringkan kepala dengan mata hijau yang menghitam. Tak lagi bersinar; tak lagi cerah; tak lagi gemerlap; gundah gurana. Pandangannya mengukir sesuatu yang membuat denyut nyeri di balik tulang rusuk. Hanya melihat saja membuat leher tercekak. Sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang, seperti jantung diremas kuat hingga terasa tercekik. Ini pertama kalinya Mizu melihat ekspresi Jin seperti itu. Rasanya sesak, degup jantung si Shikurai tak lagi sama. Emosi meluap hingga wajah terasa panas. Mizu mulai mengusap sudut mata jelaga yang berair memandang kekasih bermandikan duka. Ia melengos, tak tega.
Tak lama suara desau terdengar. Apple sudah sadarkan diri, duduk di atas kasur pojok ruang; tak jauh dari mereka. Lukanya tak seberapa dibandingkan orang yang baru saja berpulang. Xavier—yang masih waras di tempat ini—mendekati gadis pirang itu, mencengkeram erat kedua pundak putih susu nan mungil. Apple terkejut, memandang mata emas seperti kucing tersebut.
"Bocah, ceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ini."
"Ma-maksudnya? Ini di mana?"
"Ceritakan tentang REDstar."